UPAYA GURU KELAS DALAM MENGATASI KESULITAN BELAJAR MEMBACA PERMULAAN SISWA DI KELAS 1 SD NEGERI 66 KOTA BENGKULU
UPAYA GURU KELAS DALAM
MENGATASI KESULITAN BELAJAR MEMBACA PERMULAAN SISWA DI KELAS 1 SD NEGERI 66
KOTA BENGKULU
PROPOSAL
Diajukan
Kepada Fakultas Tarbiyah dan Tadris
Universitas Islam Negeri Fatmawati Bengkulu Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Dalam
Bidang Pendidikan Guru
Madrasah Ibtidiyah (PGMI)

OLEH:
Intan Melia Sari
NIM:1811240196
FAKULTAS TARBIYAH DAN TADRIS
PRODI PENDIDIKAN
GURU MADRASAH IBTIDIYAH (PGMI)
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
FATMAWATI SUKARNO BENGKULU
2022
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Swt. yang telah
memberikan nikmat kesehatan kepada penulis
sehingga dapat
menyelesaikan
penelitian
dengan judul “Upaya Guru Kelas dalam Mengatasi
Kesulitan Belajar Membaca Permulaan Siswa di Kelas 1 SD Negeri 66 Kota Bengkulu”, selawat dan
salam semoga selalu tercurahkan kepada tauladan bagi
kita,
Nabi Muhammad
Saw. keluarga
dan
sahabatnya.
Ucapan
terima kasih penulis
sampaikan kepada
pihak yang telah banyak membantu,
membimbing, dan memotivasi dalam
penyelesaian proposal skripsi ini terutama dosen pembimbing, semoga
semua bantuan menjadi
amal yang baik serta
iringan do’a dari penulis agar semua
pihak diatas mendapat imbalan dari
Allah Swt.
1. Bapak
Dr. KH. Zulkarnain, M.Pd. selaku Rektor
UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu yang telah memfasilitasi penulis dalam
menimba ilmu dan menyelesaikan
skripsi ini.
2. Bapak
Dr. Mus Mulyadi, M.Pd selaku Dekan Fakultas
Tarbiyah dan
Tadris
UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu yang telah memberikan dukungan
kepada
penulis dalam
menyelesaikan
studi dan penulisan skripsi ini.
3. Bapak Adi Saputra, M.Pd
selaku sekretaris jurusan Fakultas Tarbiyah Dan Tadris yang telah memberikan
fasilitas dalam menimba ilmu pengetahuan.
4. Bapak Abdul Aziz Mustamin
M.Pd.I selaku Koordinator Prodi PGMI UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu sekaligus
pembimbing akademik yang selalu memberikan motivasi, petunjuk, arahan dan
bimbingan demi keberhasilan penulis selama penulis menempuh pendidikan di UIN
Fatmawati Sukarno Bengkulu.
5. Bapak
Dr.Mindani.M.Ag selaku
pembimbing I yang senantiasa sabar dan telah meluangkan waktu, tenaga, dan
pemikiran dalam memberikan bimbingan, dan petunjuk serta motivasinya kepada
penulis dalam menyelesaikan proposal skripsi ini.
6. Ibu Dra. Aam
Amaliyah M.Pd selaku
pembimbing II yang senantiasa sabar dan telah meluangkan waktu, tenaga, dan
pemikiran dalam memberikan bimbingan, dan petunjuk serta motivasinya kepada
penulis dalam menyelesaikan proposal skripsi ini.
7. Bapak Syahril, S.Sos.I, M.Ag.
selaku kepala perpustakaan dan stafnya yang telah memberikan fasilitas
buku-buku sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal ini.
8. Seluruh dosen dan staf yang khususnya
di Fakultas Tarbiyah dan Tadris yang telah mendidik, memberikan nasehat serta
mengajarkan ilmu-ilmu yang bermafaat kepada mahasiswa.
Penulis menyadari bahwa penulisan proposal ini jauh dari kesempurnaan.
Untuk itu penulis mengharapkan saran
dan
kritik yang bersifat membangun demi
kesempurnaan penulisan yang akan datang. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya dan umumnya bagi khazanah ilmu
pengetahuan. Amin.
|
|
Bengkulu,
Juni 2022 Peneliti Intan Melia Sari NIM. 1811240196 |
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL........................................................................................
i
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI..................................................................................................... iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah................................................................................... 5
C. Tujuan
Penelitian..................................................................................... 5
D. Manfaat
Penelitian.................................................................................. 5
BAB II LANDASAN
TEORI
A. Kajian Teori............................................................................................. 7
1.
Kesulitan Belajar.............................................................................. 7
a.
Pengertian Kesulitan Belajar...................................................... 7
b.
Macam-Macam Kesulitan Belajar.............................................. 9
c.
Faktor Penyebab Kesulitan Belajar............................................ 10
d.
Cara Mengatasi Kesulitan Belajar.............................................. 11
2.
Membaca Permulaan........................................................................ 13
a.
Pengertian Membaca Permulaan................................................ 13
b.
Tujuan Membaca Permulaan...................................................... 14
c.
Metode Membaca Permulaan..................................................... 15
3.
Guru Kelas....................................................................................... 18
a.
Pengertian Guru Kelas............................................................... 18
b.
Peran Guru Kelas....................................................................... 18
c.
Syarat Menjadi Guru Kelas........................................................ 21
4.
Upaya............................................................................................... 23
B.
Kajian Penelitian yang Relevan.............................................................. 24
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.
Jenis dan Desain Penelitian .................................................................... 27
B.
Tempat dan Waktu Penelitian ................................................................ 28
C.
Sumber Data .......................................................................................... 28
D.
Teknik Pengumpulan Data ..................................................................... 28
E.
Teknik Analisis Data .............................................................................. 30
F.
Teknik Uji Keabsahan Data ................................................................... 31
BAB IV DESKRIPSI DATA DAN ANALISIS PENELITIAN
A.
Deskripsi Data
Penelitian........................................................................ 44
B.
Analisis Data
Penelitian.......................................................................... 71
BAB V PENUTUP
A.
Kesimpulan............................................................................................. 80
B.
Saran....................................................................................................... 81
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan
berperan sangat strategis dalam kehidupan manusia dan pendidikan diakui sebagai
wahana utama meningkatkan harkat dan martabat serta kesejahteraan manusia.
Semakin tinggi tingkat pendidikannya, semakin tinggi pula tingkat
kesejahteraannya. “Pendidikan menjadi salah satu hal penting baik bagi diri
sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara karena pendidikan
merupakan sarana menumbuh-kembangkan potensi-potensi kemanusiaan untuk
bermasyarakat dan menjadi manusia sempurna”[1]
Pendidikan ialah setiap usaha,
pengaruh, perlindungan, dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada
pendewasaan anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap
melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Pengaruh itu datangnya dari orang dewasa
(atau orang yang diciptakan oleh orang dewasa seperti sekolah, buku, putaran
hidup sehari-hari, dan sebagainya) dan ditujukan kepada orang yang belum
dewasa. Hal ini berarti pendidikan merupakan salah satu usaha untuk menjadikan
manusia yang lebih baik dan berkualitas. Demikian pula anak yang mengalami
kesulitan belajar juga berhak mendapatkan pendidikan agar hidupnya lebih baik
dan berkualitas
Sekolah sebagai salah satu lembaga
pendidikan yang memiliki fungsi dan tujuan yang selaras dengan tujuan
pendidikan nasional seperti yang telah tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun
2003 Bab II Pasal 3, yaitu: “Pendidikan nasioanal berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab”.[2]
Dunia pendidikan erat kaitannya dengan
kegiatan pembelajaran. pembelajaran adalah upaya membelajarkan siswa untuk
belajar. Proses belajar mengajar merupakan kegiatan untuk membentuk perubahan
tingkah laku dalam diri siswa di dalam mencapai tujuan. Proses pembelajaran,
sebagai proses implementasi kurikulum, menuntut peran guru untuk
mengartikulasikan kurikulum atau bahan pelajaran serta mengembangkan dan
mengimplementasikan program-program pembelajaran dalam suatu tindakan yang
akurat. Selain itu pembelajaran sebagai suatu upaya menciptakan kondisi yang
memungkinkan siswa dapat belajar, secara menyeluruh terlihat bahwa ada kegiatan
memilih, menetapkan dan mengembangkan metode untuk mencapai tujuan.
Dalam pendidikan memerlukan unsur-unsur
yang dapat membantu mencapai tujuan. Guru adalah salah satu komponen manusia
dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan
sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan. Oleh karena itu, guru
merupakan salah satu unsur di bidang pendidikan harus berperan aktif dan
menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional.
Guru wajib bertanggung jawab atas
terselenggarangya proses belejar mengajar. Disamping itu, ia diharapkan ikut
bertanggung jawab dalam mencapai tujuan nasional. Adapun tujuan nasional yang
tertuang dalam UU. NO. 20 tahun 2003, yaitu: pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak dan peradaban yang martabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi
warga yang demokratif serta bertanggung jawab.
Selain itu, guru harus dapat menerima
kenyataan bahkan harus mampu mendalami keberadaan individu siswa, baik ditinjau
dari segi perkembangan fisik maupun intelektualnya serta karakteristik lain
yang mencerminkan kepribadiannya, sehingga guru dapat memberikan suatu
rangsangan yang tepat bagi para siswa untuk menumbuhkan semangat belajar yang
kuat. Semangat belajar merupakan hal yang besar peranannya dalam kegiatan
belajar seseorang dan dorongan ini akan senantiasa berubah dari satu tingkat
ketigkat berikutnya, sesuai dengan perkembangan yang dialaminya.
Upaya guru dalam pendidikan yaitu
mendidik yang merupakan tugas
yang amat luas mendidik itu sebagian dilakukan dalam bentuk mengejar, sebagian
dalam bentuk memberikan dorongan, mamuji, menghukum, memberi contoh, membiasakan,
dan lain-lain. Jadi sangatlah jelas tugas dan peran guru sangatlah komplek
dalam hal ini, seperti upaya guru dalam mengatasi kesulitan membaca pada siswa. Upaya guru sangatlah
dibutuhkan dalam hal mendidik dan megajarkan tentang baca tulis pada siswa.
Upaya guru di sini yaitu membantu siswa untuk membaca dangan cara atau metode
yang ada dan sering digunakan dalam pembelajaran.
Problematika yang ada pada saat
pembelajaran sangatlah banyak seperti, waktu yang sangat sedikit, jumlah siswa
yang banyak dan setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda sehingga outcome yang berbeda pula. Upaya guru
diharapkan mampu untuk membantu mengatasi masalah kesulitan membaca dan
menjadikan tujuan khusus mereka untuk mengatasi kesulitan membaca siswa. Guru adalah pendidik
setelah orang tua sehingga guru memiliki peran yang penting membentuk karakter.
Dalam mendidik anak tidak hanya di
lingkup sekolah saja, tetapi peran utama yang di dapat seorang anak adalah dari
kedua orang tuanya, akan tetapi tidak semua orang tua ada waktu untuk anaknya
sehingga anak terabaikan dalam pindidikan, hanya saja mereka mampu
menyekolahkan anaknya sesuai dengan keinginan anaknya, sebagian besar orang tua
tidak mengetahui sejauh mana penguasaan anak terhadap materi yang diperoleh dan
dikuasai anaknya.
Berdasarkan observasi awal yang
peneliti lakukan pada siswa kelas I di SD Negeri 66 Kota Bengkulu, peneliti
menemukan beberapa permasalahan yang dialami oleh siswa terutama pada
pembelajaran membaca permulaan. Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti
lakukan dengan Ibu Apreda Neti, S.Pd selaku guru mata pelajaran Bahasa
Indonesia sekaligus wali kelas I, menyatakan bahwa kelas I berjumlah 29 siswa.
Dari total 29 siswa tersebut, terdapat 15 siswa yang mengalami kesulitan
membaca permulaan. Salah satu kesulitan yang banyak dialami oleh siswa kelas I
yaitu dalam mengenali huruf. Ibu Apreda Neti, S.Pd mengatakan bahwa kesulitan
siswa dalam mengenali huruf diantaranya ada beberapa siswa yang sama sekali
belum mengenal huruf, ada siswa yang baru mengenal sebagian besar huruf, da
nada siswa yang mengalami kesulitan dalam
membedakan huruf yang bentuknya mirip
seperti huruf “b” dengan “d”, huruf “p” dengan “q”, huruf “m” dengan “w” dan
sebagainya. Siswa yang kesulitan
merangkai huruf dikarenakan susunan hurufnya lebih kompleks seperti huruf
konsonan, misalnya kata “mengeong”, “mengambil”
dan lain-lain. Hal
ini kemungkinan terjadi karena anak tidak mengenal huruf. Siswa ketika mengeja
ada yang menghilangkan beberapa huruf. Misalnya tulisan “menyanyikan” dibaca
“menyanyi”, hal tersebut karena anak menganggap huruf atau kata yang
dihilangkan tersebut tidak diperlukan. Dan karena memang anak belum bisa
mengenali huruf. Penyebab lain adalah karena siswa membaca terlalu cepat, sehingga terjadi
penghilangan beberapa huruf. Siswa juga masih terbata-bata dalam mengeja
ketika membaca rangkaian kalimat. Selain itu ada juga siswa yang membaca dengan
menggunakan alat bantu seperti jari tangan, hal itu karena anak kesulitan
konsentrasi.[3]jumlah keseluruhan anak kelas 1 Di SD Negeri 66 Kota
Bengkulu ada 81 siswa 38 laki – laki dan 43 perempuan,yang mengalami kesulitan
belajar membaca permulaan ada 12 orang dalam 3 ruangan.
Berdasarkan kesulitan yang dialami
siswa kelas I tersebut, maka guru perlu melakukan upaya untuk meminimalisir
kesulitan yang dialami oleh para siswa. Guru perlu mengetahui
pada bagian mana letak kesulitan membaca yang dialami siswa terutama pada
membaca permulaan, karena kesulitan yang dialami siswa bermacam-macam dan satu
siswa kemungkinan akan mengalami kesulitan yang berbeda dengan siswa yang lain.
Akan lebih baik jika kesulitan membaca siswa terdeteksi sejak dini. Guru perlu berupaya mengatasi
kesulitan belajar membaca, Guru tersebut memiliki beberapa upaya seperti menambah
jam pembelajaran untuk belajar membaca. Selain itu, adanya bimbingan dan
pelatihan yang diberikan kepada siswa dengan beberapa tahapan yang disesuaikan
atau dikelompokan sesuai dengan bentuk kesulitan yang dialami siswa yaitu dalam
kegiatan tersebut meliputi pelatihan dalam penulisan, pelatihan mengenal huruf,
pelatihan dalam membaca dan menganal tanda baca yang sesuai dengan kaidahnya. Guru dalam rangka
pengajaran dituntut untuk melakukan kegiatan yang bersifat edukatif dan ilmiah.
Guru tidak hanya sebagai pengajar tetapi sekaligus sebagai pembimbing yaitu
sebagai wali yang membantu siswa mengatasi kesulitan dalam studinya dan pemecahan
bagi permasalahan lainnya.
Berdasarkan uraian diatas peneliti
merasa tertarik untuk melakukan suatu penelitian sehubungan dengan kenakalan
siswa dengan judul “Upaya Guru Kelas
dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Membaca Permulaan Siswa di Kelas 1 SD Negeri 66
Kota Bengkulu”
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah
diatas, dapat dirumuskan masalahnya adalah׃
Bagaimana upaya guru kelas dalam mengatasi kesulitan belajar membaca
permulaan siswa di kelas 1 SD Negeri 66 Kota Bengkulu?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas,
maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan upaya guru kelas
dalam mengatasi kesulitan belajar membaca permulaan siswa di kelas 1 SD Negeri
66 Kota Bengkulu.
D. Manfaat Penelitian
1.
Secara Teoritis
Penelitian
ini diharapkan dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan di bidang pendidikan
dasar, utamanya hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan rujukan
dalam upaya mengatasi kesulitan belajar membaca permulaan siswa dengan
mengetahui apa penyebab anak mengalami kesulitan sehingga dapat memilih solusi
yang tepat untuk siswa agar tercapai tujuan belajar secara optimal
2.
Secara Praktis
a.
Bagi Siswa
Penelitian ini dapat memberikan informasi dan pemahaman tentang kesulitan belajar
membaca permulaan yang dialami siswa, agar dapat memahami dan mengatasi kesulitan tersebut.
b.
Bagi Guru
Penelitian ini dapat memberikan gambaran tentang kesulitan-kesulitan membaca
permulaan yang dialami oleh siswa, sehingga guru dapat mengambil tindakan yang
tepat guna mengatasi masalah dalam kesulitan belajar membaca permulaan siswa.
c.
Bagi Kepala Sekolah
Penelitian ini dapat memberikan gambaran kemampuan membaca permulaan siswa,
sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan penentuan kebijakan bagi sekolah
untuk mendukung proses perbaikan pembelajaran maupun rencana kegiatan sekolah.
d.
Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat menjadi referensi untuk meningkatkan pengalaman peneliti
tentang membaca permulaan siswa sekolah dasar. Selain itu juga dapat menambah
kemampuan serta ketrampilan yang ada dalam diri peneliti dan mampu
mengaplikasikan ilmu yang telah didapat selama perkuliahan.
![]()
BAB II
LANDASAN
TEORI
A. Kajian Teori
1)
Upaya guru
dalam kamus
besar bahsa Indonesia, upaya adalah usaha, ikhtiar untuk mencapai suatu maksud,
memecahkan persoalan, memcari jalan keluar, daya upaya.[4] Menurut Tim Penyusunan
Departemen Pendidikan Nasional. Peter salim dan yeni salim mengatakan upaya
adalah bagian yang dimainkan oleh guru atau bagian tugas utama yang harus
dilaksanakan.Berdasarkan pengertian tersebut dapat diperjelas bahwa upaya
adalah bagian dari peranan yang harus dilaksanakan oleh seseorang untuk
mencapai tujuan tertentu.
Guru
adalah orang yang sangat berpengaruh dalam ptoses belajar mengajar.oleh karena
itu, guru harus bersungguh-sungguh menjalankan tugas nya sebagai seorang
pendidik, memiliki keilmuan,kepribadian agar dapat memberikan perubahan
terhadap peserta didiknya dan membawa peserta didiknya kepada tujuan yang ingin
dicapai. Guru merupakan ujung tombak pendidikan. Keberadaan guru menjadi aspek
penting bagi keberhasilan sekolah, terutama bagi guru yang melaksanakan fungsi
mengajarnya dengan penuh makna,artinya guru sangat kompeten dengan bidang
nya,kinerja professional, menjadi seorang yang bisa dan memiliki harapan tinggi
terhadap siswanya. Dalam mengajar guru bergelut dengan pengetahuan. Jadi upaya guru dimaksud oleh peneliti disini
adalah usaha yang dilakukan guru untuk melakukan suatu hal atau kegiatan yang
bertujuan. Tujuan guru disini adalah mengatasi kesulitan belajar membaca
permulaan siswa kelas 1 SD Negeri 66 Kota Bengkulu.
2) Guru
kelas
a.
Pengertian
guru kelas
Guru merupakan
seseorang yang memiliki gagasan yang harus diwujudkan, Syafruddin Nurdin
menyatakan bahwa gagasan tersebut ditujukan untuk kepentingan anak didik,
menunjang hubungan yang baik, dalam kerangka untuk dapat menjunjung tinggi,
mengembangkan dan menerapkan keutamaan yang bersangkutan dengan agama,
kebudayaan dan keilmuan. Guru kelas adalah orang yang pekerjaannya mengajar
atau memberikan pelajaran disekolah atau didalam kelas. Sedangkan dalam kamus
besar bahasa Indonesia ,guru adalah orang yang pekerjaannya (mata pencariannya,
profesinya) mengajar.
Jadi
seorang guru kelas adalah penagajar pada suatu kelas disekolah dimana ia harus
dapat mengajarkan berbagai mata pelajaran.selain itu tidak hanya dituntut untuk
menyelesaikan bahan pelajaran yang telah ditetapkan,tetapi guru harus menguasai
dan menghayati secara mendalam semua materi pelajaran.
b.
Peran guru
kelas
Guru
bagi siswa adalah resi spiritual yang menyenyangkan diri dengan ilmu. Guru
adalah pribadi yang mengagungkan akhlak siswanya. guru merupakan pribadi penuh cinta terhadap anak-anaknya (siswanya). Hidup dan matinya
pembelajaran bergantung sepenuhnya kepada guru. Guru merupakan pemimpin bagi
murid – muridnya. Guru adalah
orang terdepan dalam member contoh sekaligus juga memberi motivasi atau
dorongan kepada murid –
muridnya. Di sinilah peran dan fungsi guru juga begitu mulia yang kedudukannya
menyamai rasul Allah SWT yang diutus
pada suatu kaum (umat manusia ).
3) Mulyasa, dengan mengutip pullias dan Young,
Manan, serta Yelon, mengidentifikasi peran guru kelas, yakni :
a)
Guru sebagai pendidik, yang menjadi tokoh, panutan,dan
idetifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru
harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu,yang mencakup tanggung
jawab,wibawa,mandiri,dan disiplin.
b)
Guru sebaagai pengajar
Guru membantu peserta didik
yang masih berkembang untuk mempelajari sesuatu yang belum
didiketahuinya,membentuk kompetensi,dan memahami materi standar yang
dipelajari.
c)
Guru sebagai pembimbing
Sebagai pembimbing, guru harus
merumuskan tujuan secara jelas,menetapkan jalan yang harus ditempuh,menggunakan
petunjuk perjalanan,serta menilai kelancarannya sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuan peserta didik.
d)
Guru sebagai pelatih
Proses pendidikan dan pembelajaran
memerlukan latihan keterampilan,baik intelektual maupun motorik, sehingga
menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih.
e)
Guru sebagai penasehat
Guru adalah sebagai penasehat bagi
peserta didik, bahkan bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan
khusus sebagai penasehat dan dala, bebarapa hal tidak dapat berharap untuk
menasehati orang .
f)
Guru sebagai pembaharu ( innovator)
Guru menerjemahkan pengalaman yang
telah lalu kedalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik.
g)
Guru sebagai
model dan teladan
Guru merupakan model atau
teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang menganggap dia sebagai
guru akan memdapat sorotan peserta didik serta orang disekitar lingkungannya
yang mengagapnya sebagai guru.
h)
Guru sebagai pendorong kreativitas
Kreativitas merupakan hal yang sangat
penting dalam pembelajaran, dan guru di tuntut untuk mendemostrasikan dan
menunjukan proses kreativitas tersebut.
i)
Guru sebagai
evaluator
Seorang guru hendaknya menjadi
seorang elevator yang baik. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah
tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau belum, dan apakah materi yang
diajarkan sudah cukup tepat.
Guru
memiliki perananan yang Sangat sentral baik sebagai perencana,pelaksana,maupun
evaluator pembelajaran .hal ini berarti bahwa kemampuan kemampuan guru dalam
menciptakan pembelajaran yang berkualitas sangat menentukan keberhasilan
pendidikan secara keseluruhan .
4)
Syarat menjadi guru
kelas
Menjadi guru berdasarkan
tuntutan hati nurani tidaklah semua orang dapat melakukkannya,karena orang
harus merelakan sebagai besar dari seluruh hidup dan kehidupannya mengabdi
kepada Negara dan bangsa guna mendidik anak didik menjadi manusia susila yang
cakap dan domokratis,dan bertanggung jawab atas pembangunan dirinya dan pembengunan
bangsa Negara . Menjadi guru menurut
zakiah daradjat dan kawan –kawan tidak
sembarangan , tetapi harus memenuhi beberapa persyaratan seperti dibawah ini :
-
Takwa kepada allah swt
Taqwa artinya seorang guru harus
bertaqwa dulu kepada Allah SWT Tuhan yang Maha Esa agar bisa ditiru oleh
peserta didik, bersikap dan bertutur kata sesuai dengan tuntunan ajaran agama
yang dianut.
-
Berilmu
Berilmu artinya seorang guru haruslah
memiliki ijazah dan memiliki sertifikasi sebagai seorang guru sesuai dengan UU
No 30 Tahun 2003 (pasal I ayat 1). Dalam hal ini meskipun ijazah dan sertifikat
pendidik telah dikantongi namun seorang guru harus tetap meningkatkan
kompetensinya secara terus menerus agar dapat mewujudkan tujuan pendidikan
nasional misalnya diskusi-diskusi kecil di sekolah, kelompok kerja guru,
pelatihan, workshop, menibgkatkan kualifikasi pendidikan ke jenjang lebih
tinggi, dan sebagainya.
-
Sehat jasmani
Sehat jasmani artinya kesehatan
jasmani seseorang guru adalah syarat penting, orang yang mempunyai penyakit
menular atau sering sakit-sakitan tentu akan mengganggu proses prmbelajaran di
suatu kelas/sekolah.
-
Berkelakuan baik
Berkelakuan baik artinya seorang guru
haruslah mempunyai kepribadian terpuji agar menjadi suri tauladan bagi peserta
didik, berbuat adil, mampu bekerjasama dengan teman-teman seprofesi dan atau
kepala sekolah serta menjadi panutan bagi masyarakat di lingkungan tempat
tinggalnya.
-
Kesederhanaan
Kesederhanaan bukan berarti
seorang guru datang ke sekolah dengan pakaian lusuh, sepatu robek, motor butut,
tetapi harus proposional tidak mencolok, ke sekolah dengan kemewahan lengkap
dengan pernak/pernik berlebihan juga suatu sikap yang kurang pantas bagi
seorang guru te tunya.
5)
tugas dan tanggung jawab guru kelas
Guru SD merupakan seorang
pengajar yang ditugaskan di SD/sederajat sebagai guru kelas. Ketika bertindak
sebagai guru kelas, kamu akan mengajar berbagai mata pelajaran mulai dari
Bahasa Indonesia, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Matematika, bahkan
semua mata pelajaran.
Meskipun demikian, ada juga
sekolah yang memiliki guru khusus untuk mengampu mata pelajaran tertentu
seperti Agama, Olahraga, dan Bahasa Inggris. Sebagai guru SD, bisanya nanti
Quipperian juga bisa mendapat tugas tambahan sebagai wali kelas.Di samping itu,
guru SD menjalankan tugas dengan membuat rencana pengajaran, mengajar, dan
memberikan panduan hidup. Tugas guru SD cukup bervariasi seperti pengamatan
pelajaran, pembuatan bahan ajar, penilaian terhadap hasil ujian, dan
pembimbingan acara sekolah.
Adapun kewajiban yang harus
dilakukan guru menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 yang tercantum dalam
Pasal 39 hingga Pasal 44 antara lain:
1)
Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas
merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran,
dan melakukan pembimbingan dan pelatihan.
2)
Harus memiliki
kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar,
sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan
pendidikan nasional.
3)
Menciptakan
suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis
4)
Mempunyai komitmen secara profesional untuk
meningkatkan mutu pendidikan.
5)
Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga,
profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Kewajiban guru juga tercantum dalam
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Pasal 20, antara lain:
1)
Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses
pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran.
2)
Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik
dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni.
3)
Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar
pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau
latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam
pembelajaran.
4)
Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum,
dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika.
5)
Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa
sasaran sikap professional keguruan.
kompetensi kepribadian yang harus dipenuhi guru
profesional dan sangat mendukung karya-karya profesi mereka sebagai seorang
guru. Sifat-sifat tersebut antara lain adalah sebagai berikut.
1.
Adaptability in instructional interaction, mudah
menyesuaikan diri dengan situasi kelas, guru bisa dengan mudah mengubah suasana
belajar dengan sesuai dengan kebutuhan psikologis siswa, daripada
mempertahankan skenario pembelajaran yang sudah dirancang tapi kurang sesuai
dengan situasi kelas.
2.
Humor, guru yang humoris, periang dan dapat
membangkitkan suasana belajar kembali segar, akan lebih berpeluang untuk dapat menyampaikan materi ajar dengan
baik, dan akan lebih membuat para siswa senang belajar, nyaman dan terhindar
dari kelelahan.
3.
Memiliki tanggung jawab profesional yang baik, guru
mempersiapkan program pembelajaran, disain, skenario, alat dan berbagai
kepentingan proses pembelajaran dipersiapkan sebelum kelas dimulai. Dan semua
persiapan tersebut mereka dedikasikan untuk kemajuan siswa, dengan penilaian
yang fair, dan selalu terbuka untuk melakukan perbaikan dengan mengeksplorasi
saran serta masukan pada para siswanya.
4.
Enthusiasm, guru yang sangat antusias dalam
membelajarkan para siswanya, atau mehyampaikan pelajaran kepada para siswanya,
akan sangat membantu dalam membangun dan menghidupkan serta meningkatkan
motivasi siswa dalam partisipasi proses pembelajaran di dalam kelas atau di
luar kelas.
5.
Argreeableness, ini merupakan sifat atau karakter yang
harus terus dibina pada semua guru dan calon guru, yakni sifat mudah atau bisa
menerima perbedaan, dan mudah memahami pendapat orang lain, dan bisa menikmati
relasi kolegial, dalam keadaan sependapat atau tidak sependapat tentang
sesuatu. Sifat-sifat yang harus dikembangkan untuk kepribadian ini antara lain
adalah, sifat rendah hati, memiliki belas kasih kepada sesama, kooperatif,
dapat menerima keluhan, sederhana, gampang memaafkan dan bisa dipercaya.
6.
Caring, yakni memiliki kepedulian yang baik kepada
siswa, sejawat, orang tua siswa dan seluruh kelompok sosial yang dilayaninya.
Seorang guru yang memiliki perhatian pada para siswanya akan membuka akses bagi
mereka di setiap saat, dan akan selalu membantu untuk kemajuan para siswanya.
Guru yang memiliki kepedulian akan selalu mengembangkan pedagogi yang dapat
mendorong para siswa belajar, dia akan memahami perasaan para siswanya, dan dia
akan mampu mengetahuai apa kebutuhan para siswanya. Dan guru yang peduli akan tetap
menjaga hubungan dengan para siswanya dalam situasi apapun juga.
6)
Kesulitan
Belajar
a.
Pengertian
Kesulitan Belajar
Kesulitan
belajar merupakan suatu kondisi tertentu yang ditandai dengan adanya
hambatan-hambatan dalam kegiatan mencapai tujuan dan dibutuhkan usaha yang
lebih giat untuk mengatasinya. Aktivitas belajar merupakan salah satu pokok
kegiatan pendidikan di sekolah. Berhasil tidaknya proses pendidikan sangat
ditentukan oleh hasil belajar yang dicapai oleh siswa. untuk mencapai hasil
belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, guru berupaya sekuat tenaga dalam
menciptakan situasi belajar yang sebaik-baiknya. Namun kenyataannya ada
beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam belajarnya.
Menurut
Sugihartono, kesulitan belajar merupakan suatu gejala yang ada pada peserta
didik yang ditandai adanya prestasi belajar yang rendah maupun dibawah norma
yang telah ditetapkan. Menurut Mulyadi,
kesulitan belajar adalah suatu kondisi dalam suatu proses belajar yang ditandai
adanya hambatan-hambatan tententu untuk mencapai hasil belajar.
Hambatan-hambatan ini mungkin disadari dan mungkin juga tidak disadari oleh
orang-orang yang mengalaminya, dan bersifat sosiologis, psikologis, ataupun
fisiologis dalam keseluruhan proses belajarnya.
Kesulitan
belajar ialah suatu keadaan dimana peserta didik kurang mampu menghadapi
tuntutan-tuntutan yang harus dilakukan dalam proses pembelajaran. Sehingga
proses dan hasilnya kurang memuaskan. Kesulitan belajar ini dimana kondisi
peserta didik mengalami hambatan atau gangguan dalam proses pembelajaran,
penyebabnya bisa berasal dari faktor internal dan eksternal siswa.
Setiap individu
memang tidak ada yang sama. Perbedaan individual ini juga yang menyebabkan
perbedaan tingkah laku belajar di kalangan siswa. Supriyono dan Ahmadi,
menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah keadaan di mana anak didik tidak
dapat belajar sebagaimana mestinya. Supriyono dan Ahmadi, juga menyatakan bahwa kesulitan belajar ini
tidak selalu disebabkan karena faktor intelegensi yang rendah (kelainan mental),
akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non intelegensi. Selain itu, Syah, mengemukakan bahwa
kesulitan belajar juga dapat dialami oleh siswa yang berkemampuan rata-rata
(normal) disebabkan oleh faktor-faktor tertentu yang menghambat tercapainya
kinerja akademik yang sesuai dengan harapan. Anak dengan IQ yang tinggi belum
tentu menjamin keberhasilan belajar dan belum tentu anak dengan IQ rendah pasti
akan mengalami kesulitan belajar.
Abdurrahman
mengklasifikasikan kesulitan belajar ke dalam dua kelompok, yaitu kesulitan
belajar yang berhubungan dengan perkembangan (developmental learning
disabilities) dan kesulitan belajar akademik (academic learning disabilities).
Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan (developmental learning
disabilities) mencakup gangguan motorik dan persepsi, kesulitan belajar bahasa
dan komunikasi dan kesulitan belajar yang disebabkan oleh tidak dikuasainya
keterampilan prasyarat, yaitu keterampilan yang harus dikuasai lebih dahulu
agar dapat menguasai bentuk keterampilan berikutnya. Kesulitan belajar yang
bersifat perkembangan biasanya sukar diketahui karena tidak ada
pengukuran-pengukuran yang sistematik seperti halnya dalam bidang akademik.
Kesulitan belajar akademik mengarah pada adanya kegagalan-kegagalan dalam
mencapai prestasi akademik yang sesuai dengan kapasitas yang diharapkan.
Kegagalan tersebut mencakup penguasaan keterampilan dalam membaca, menulis
ataupun matematika. Kesulitan ini dapat diketahui ketika siswa gagal
menampilkan salah satu atau beberapa kemampuan akademik.
Berdasarkan
uraian di atas dapat disimpulkan kesulitan belajar adalah ketidak sesuaian
kemampuan peserta didik dalam memperoleh prestasi belajar yang diharapkan,
sehingga nilai yang diperoleh di bawah kriteria atau aturan yang telah
ditetapkan. Selain itu, kesulitan belajar dapat diartikan juga suatu kondisi
dimana anak didik tidak dapat belajar dikarenakan adanya hambatan, kendala atau
gangguan dalam belajarnya yang disebabkan faktorfaktor yang ada dalam dirinya
sendiri maupun diluar diri peserta didik.
7)
Macam-Macam Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar dikelompokkan
dalam menjadi dua jenis yaitu kesulitan belajar prakademik dan kesulitan
belajar akademik. Kesulitan praakademik yang meliputi:
-
Ganggunan
motorik dan persepsi yaitu gangguan
intelengensia auditori memori, sedangkan gangguan persepsi adalah
mencakup penglihatan (visual).
-
Gangguan
belajar kognitif yaitu mencakup berbagai aspek struktur intelektual
-
Gangguan
belajar pekembangan bahasa (disfasia) yaitu ketidakmampan dalam menggunakan
symbol linguistic dalam rangka berkomunikasi secara verbal
-
Gangguan
penyesuaian presepsi sosial
8)
Kesulitan belajar akademik
Kesulitan belajar akademik meliputi
kesulitan dalam membaca, menulis dan berhitung Kesulitan belajar akademik ini
selalu dihadapi oleh siswa terutama bagi siswa di sekolah dasar khusunya pada
siswa di kelas 1 yang nota benenya adalah siswa yang masih penyesuaian dengan
lingkungan baru di sekolahnya. Dan hal inilah yang kemudian siswa sering sekali
mendapat kesulitan dalam belajar di kelas yang berkaitan dengan materi-materi
dasar seperti, munis membaca dan berhitung (CALISTUNG).
9)
Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Faktor kesulitan belajar siswa dapat
dilihat dari hasil belajar sehingga berpengaruh pada prestasi belajarnya.
Kesulitan belajar seorang murid dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling
berkaitan yakni faktor internal dan eksternal. Menurut Rusman, ada dua macam
faktor akibat timbulnya kesulitan belajar yang mempengaruhi hasil belajar
antara lain:
-
Faktor
internal
Faktor yang mempengaruhi kesulitan
belajar siswa yang berasal dari dalam diri (psikologis) murid adalah: Sikap
,Motivasi ,Minat ,Bakat Konsentrasi ,Intelegensi ,Kebiasaan belajar ,Kemampuan
berprestasi Ulangan.
-
Faktor
eksternal
Faktor
eksternal murid yakni hal atau keadaan yang datang dari luar diri siswa terdiri
atas Guru, Cara mengajar guru ,Alat peraga/media yang digunakan guru ,Kebijakan
penilaian guru ,Orang tua ,Cara orang tua mendidik ,Suasana rumah ,Ekonomi
orang tua.
Berdasrakan
pendapat diatas, maka orang tua, guru dan masyarakat bisa menjadi penyebab
terjadinya kesulitan belajar bagi murid, Karenanya peran orang tua dan guru dalam
membetengi para murid dari pengaruh negatif masyarakat sekitar , di samping
perannya dalam memotivasi para murid untuk tetap belajar menjadi sangat
menentukan prestasi murid dalam belajar .
10)
Cara Mengatasi Kesulitan Belajar
Terkadang guru
terlalu berharap pada hasil prestasi siswa yang tinggi namun dalam kenyatanya
justru mengecewakan. Oleh karena itu guru harus mengenali, mengevaluasi dan
mengidentifikasi penyebab terjadi penurunan hasil belajar siswa. guru perlu
melakukan identifikasi potensi siswa ditelusuri dari prestasi sebelumnya dengan
melakukan observasi atau tes psikologi. Apabila dari hasil observasi dan
identifikasi, ada indikasi bahwa siswa mengalami kesulitan belajar maka perlu
ada tindakan segera untuk mengatasinya. Bantuan akan efektif dilakukukan jika
guru secara teliti mampu mengidentifikasi kesulitan siswa ditinjau dari sfita
kesulitannya, faktor penyebabnya dan cara mengatasi yang relevan dengan faktor
penyebabnya.
Beberapa
langkah yang dilakukan untuk menidentifikasi dan menyelesaikan kesulitan
belajar akademik siswa di sekolah dasar dalam pembelajaran:
-
Mengidentifikasi
kasus
Mengidentifikasi kasus yaitu dengan
menandai siswa yang mengalami kesulitan belajar secara acak dilihat dari
tingkat prestasinya adapun teknik yang dilakukan adalah meneliti hasil ujian
semester atau ujian akhir yang tercantum dalam laoran nilai dengan
membandingkan nilai rata-rata kelompok sesuai criteria yang ditentukan atau
berdasarkan KKM (Kriterian Ketuntasan Minimal) yang sudah ditetapkan.
Mengobservasi kegiatan belajar siswa dengan mengamati kemungkinan kesulitan
belajar yang dialami siswa.
-
Mengidentifikasi
Masalah
hal ini dapat
dilakukan dengan melibatkan orang tua. pada tindakan ini diterapkan pada mata
pelajaran yang sesuai. Karena kesulitan belajar akademik lebih difokuskan pada
materi membaca,menulis dan berhitung maka bisa diterapkan untuk mata pelajaran
bahasa Indonesia dan matematika dasar untuk kelas 1. Adapun cara yang dilakukan
adalah sebagai berikut:
-
Tes
diagnostik diterapkan untuk mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas satu.
Tujuannya adalah untuk menemukan kesulitan membaca dan menulis siswa kelas
1sehingga ditemukan karakteristik kesulitan yang dialami siswa
-
Bila
langkah pertama belum ada dapat dilakukan dengan menggunakan hasil ujian yang
telah dilakukan jika ujian tersebut memiliki validitas yang tinggi sehingga
hasil tes tersebut dapat untuk menganalisis kesulitan siswa
-
Dapat
dilakukan dengan memeriksa buku atau pekerjaan siswa (portofolio) untuk
menganalisis kesulitan belajar siswa
11)
Mengidentifikasi faktor penyebab
kesulitan belajar
Ada dua faktor
dalam penyebab kesulitan belajar, yaitu factor internal yang meliputi:
a) Kelemahan fisik, syaraf, cacat dan
lain-lain
b) Kelemahan mental; kecerdasan ,
intelegensia
c) Gangguan yang bersifat emosional
d) Sikap yang salah dalam mempelajari materi
pelajaran
e) Belum meiliki pengetahuan dan kecakapan
dasar yang dibutuhkan untuk memahami mata pelajaran.
Sedangkan untuk faktor eksternalnya
adalah:
-
Situasi
atau proses belajar yang tidak memberikan rangsangan bagi siswa untuk aktif dan
antisipatif dalam pembelajaran
-
Kurikulumyang
tidak fleksibel
-
Beban
belajar yang terlalu berat
-
Metode
pembeajaran yang tidak menarik
-
Minimnya
alat atau sumber belajar
-
Situasi
rumah yang tidak kondusif.
Dengan teknik
pengidentifikasian yang berkaitan dengan kesulitan belajar siswa, maka untuk
langkah selanjutnya bagi guru akan lebih mudah. Guru dapat mengelompokkan siswa
dengan tingkat kesulitasn yang beragam. Tentunya guru dapat mengelompokkan
secara homogen sehingga penyelesaian untuk mengatasi kesulitan belajar yang
dihadapi siswa mudah untuk diselesaikan.
12)
Membaca Permulaan
a.
Pengertian Membaca Permulaan
Membaca
merupakan proses berfikir untuk memahami isi teks yang dibaca, sehingga membaca
lebih berupa kegiatan memahami dan menginterpretasikan lambang/ tanda/ tulisan
yang bermakna sehingga pesan yang disampaikan penulis dapat diterima oleh
pembaca. Jadi menurut Dalman membaca lebih merupakan kegiatan memahami
interpretasi lambang tulisan
bermakna sehingga pembaca dapat menerima pesan yang terkandung di dalamnya.[5]
Pembelajaran
membaca di sekolah dasar terdiri dari dua bagian, yakni membaca permulaan dan
membaca lanjut. Membaca permulaan berada di kelas 1 dan 2, membaca lanjut mulai
dari kelas 3 dan seterusnya. Membaca permulaan mempunyai kedudukan yang sangat
penting. Keterampilan membaca permulaan akan sangat berpengaruh terhadap
keterampilan membaca selanjutnya. Sebagai keterampilan yang mendasari
keterampilan berikutnya, membaca benar-benar memerlukan perhatian guru. Jika
dasar itu tidak kuat, maka pada tahap membaca permulaan siswa akan mengalami
kesulitan untuk dapat memiliki keterampilan membaca yang memadai.[6]
Membaca
permulaan ini dimulai dengan pengenalan huruf vokal dan huruf konsonan. Setelah
siswa mengenal huruf vokal dan huruf konsonan, siswa dikenalkan untuk merangkai
huruf-huruf tersebut menjadi sebuah suku kata. Selanjutnya, suku kata yang
telah dikenalkan kemudian dirangkai menjadi sebuah kata dan kalimat sederhana.
Membaca permulaan merupakan tahap awal dalam belajar membaca yang difokuskan
kepada mengenal simbol-simbol atau tanda-tanda yang berkaitan dengan
huruf-huruf sehingga menjadi pondasi agar anak dapat melanjutkan ketahap
membaca permulaan.[7]
b.
Tujuan Membaca Permulaan
Farida Rahim,
mengemukakan bahwa tujuan umum membaca adalah pemahaman, menghasilkan siswa
yang lancar membaca. Tujuan khusus dalam membaca bergantung pada kegiatan atau
jenis membaca yang dilakukan seperti membaca permulaan.[8]
Menurut Zubaedah, pembelajaran membaca tingkat permulaan merupakan tingkatan
proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem tulisan sebagai representasi
visual bahasa.[9]
Tujuan utama
dari membaca permulaan adalah agar anak dapat mengenal tulisan sebagai lambang
atau simbol bahasa sehingga anak-anak dapat menyuarakan tulisan tersebut. Di
samping tujuan tersebut, pembentukan sikap positif serta kebiasaan rapi dan
bersih dalam membaca juga perlu diperhatikan. Jadi dapat disimpulkan bahwa
tujuan dari membaca permulaan yaitu agar siswa dapat mengenal tulisan sebagai
lambang atau simbol bahasa serta dapat menyuarakan tulisan tersebut.
c.
Metode Membaca Permulaan
Membaca
permulaan merupakan langkah awal bagi siswa untuk mulai belajar membaca. Dalam
mengajarkan membaca permulaan pada siswa, guru perlu melaksanakan metode yang
efektif. Sabarti Akhadiah, menjelaskan beberapa metode yang dapat digunakan
dalam pembelajaran membaca permulaan. Adapun metodemetode tersebut adalah
sebagai berikut :
1)
Metode Abjad
Guru melakukan
pembelajaran membaca permulaan dengan mengenalkan abjad terlebih dahulu kepada
siswa. Guru dapat menggunakan nyanyian untuk menghafal abjad atau mengeja
seperti biasa. Guru merangkai huruf konsonan dan vokal sehingga menjadi suku
kata. Kemudian suku kata dirangkai menjadi kata dan kata dirangkai menjadi
kalimat.
Contohnya:
sa - ya ___ saya
2)
Metode Bunyi
Sama halnya
dengan metode abjad, namun lebih diutamakan pengucapan atau bunyi hurufnya.
Dalam metode abjad pengucapan hurufnya diucapkapkan sebagai abjad “a”, “be”,
“ce”, “de”, “e” dan seterusnya. Dalam metode bunyi, huruf diucapkan sesuai
dengan bunyinya [a], [b], [c], [d], dan seterusnya.
Contohnya:
pa – pa ___ papa
3)
Metode Kupas Rangkai Suku Kata
Dimulai dengan
pengenalan beberapa suku kata kemudian dirangkai menjadi kata-kata dengan
menggunakan tanda penghubung. Metode ini juga sering disebut metode suku kata.
Contohnya:
ma ta ___ ma – ta
ni na ___ni – na
4)
Metode Kata Lembaga
Dimulai dengan
pengenalan kata-kata. Kata diuraikan menjadi suku kata; suku kata diuraikan
menjadi huruf. Setelah siswa mengenali hurufhurufnya, guru merangkai kembali
menjadi suku kata dan kemudian kata.
Contohnya:
saku
sa – ku
s – a – k – u
sa – ku
saku
5)
Metode Global
Mula-mula siswa diperkenalkan dengan
beberapa kalimat. Saat mereka sudah mampu membacanya, satu kalimat diambil dan
diuraikan menjadi kata; kata diuraikan menjadi suku kata, suku kata diuraikan
menjadi huruf dan siswa dapat mengenal serta membaca huruf.
Contohnya:
nina makan roti
nina
makan roti
ni – na ma –
kan ro – ti
n – i – n – a m
– a – k – a – n r – o – t – i
6)
Metode Struktur Analitik Sintetik
(SAS)
Metode SAS
dilaksanakan dalam dua periode, yaitu periode tanpa buku dan periode dengan
buku. Periode tanpa buku berlangsung dengan urutan sebagai berikut:
a)
Merekam bahasa anak
b)
Bercerita dengan gambar
c)
Membaca gambar
d)
Membaca gambar dengan kartu kata
e)
Proses structural
f)
Proses analitik
g)
Proses sintetik.
Periode membaca
dengan buku bertujuan untuk melancarkan dan memantapkan siswa dalam membaca.
Contohnya:
saya suka jeruk
saya suka
jeruk
sa – ya su – ka
je – ruk
s – a – y – a s – u – k – a j – e – r – u – k
sa – ya su – ka
je – ruk
saya suka
jeruk
saya suka jeruk.[10]
Metode dalam
membaca permulaan yang sering digunakan adalah metode SAS. Metode SAS membantu
siswa menganalisis struktur kalimat. Siswa dapat mengetahui rangkaian suku kata
sehingga akan lebih lancar dalam membaca. Metode
SAS biasanya digunakan untuk kelas rendah sebagai metode dalam mengajarkan
membaca permulaan.
.
B. Kajian pustaka
1. Penelitian Mitra Rahma dan Febrina Dafit (2021)
dengan judul “Analisis
Kesulitan Membaca Permulaan Siswa Kelas 1 Sekolah Dasar”
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa 47,6% siswa yang mengalami kesulitan-kesulitan membaca permulaan yaitu,
(1) siswa belum mengenal huruf, (2) belum bisa membaca suku kata, (3) belum
bisa membaca kata demi kata, (4) belum bisa membaca huruf diftong, kluster, dan
diagraf, (5) belum bisa membaca huruf konsonan, (6) belum mampu membaca huruf
vokal, (7) pengulangan, (8) pemprafase yang salah, (9) belum mengenal makna
kata. Solusi yang diberikan guru untuk mengatasi kesulitan membaca permulaan
adalah memberikan jam tambahan, memberikan perhatian lebih kepada siswa yang
memiliki kesulitan membaca permulaan, dan mengajari siswa mengenal huruf dengan
teknik yang kreatif seperti huruf dijadikan nyanyian, siswa diminta menulis
kalimat, dan membacanya dengan keras dan sebagainya.[11]
2. Penelitian Ma’ruf Bin Husein (2020)
dengan judul “Kesulitan
Belajar Pada Siswa Sekolah Dasar: Studi Kasus Di Sekolah Dasar Muhammadiyah
Karangwaru Yogyakarta”
Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa Kesulitan belajar pada usia sekolah dasar pada umumnya
meliputi kesulitan yang berkaitan dengan kemampuan membaca, menulis dan
berhitung. Permasalahan yang dialami oleh FI adalah rendahnya konsentrasi saat
belajar di dalam kelas yang mengakibatkan rendahnya prestasi akademik dan hasil
belajar ananda FI akibat proses pemahaman pembelajaran yang lebih lambat
dibandingkan teman-teman seusianya. Dalam hal ini guru perlu memahami perbedaan
ragam kesulitan belajar siswa serta melakukan asesmen yang sesuai pada tingkat
kesulitan belajar siswaseperti tes Draw a Person-IQ dan tes Skala Kesulitan
Belajar V.1.1. Setelah melakukan asesmen guru diharuskan melakukan intervensi
yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa dan selanjutnya melakukan
evaluasiuntuk melihat kemajuan siswa.[12]
3. Penelitian Sri Wulan Anggraeni, dkk (2021)
dengan judul “Analısıs
Kesulıtan Belajar Membaca Sıswa Sekolah Dasar”
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kesulitan belajar membaca pada siswa dipengaruhi oleh faktor internal dan
eksternal yaitu siswa belum hapal huruf AZ, sulit membedakan huruf yang hampir
sama, dan sulit mengeja huruf, dalam Selain itu aspek suasana belajar yang
kurang mendukung dan faktor keluarga siswa yang membuat motivasi belajar siswa
rendah. Pembinaan dilakukan dalam enam tahapan, yaitu identifikasi kasus,
identifikasi masalah, analisis masalah (diagnosis), estimasi alternatif
pemecahan masalah (prognosis), tindakan pemecahan masalah, dan evaluasi hasil
penyelesaian. Hasil dari pelaksanaan bimbingan belajar mengalami peningkatan
yaitu siswa dapat mengeja dan percaya diri saat pembelajaran berlangsung.[13]
4. Penelitian Bella Oktadiana (2019)
dengan judul “Analisis
Kesulitan Belajar Membaca Permulaan Siswa Kelas II Pada Mata Pelajaran Bahasa
Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah Munawariyah Palembang”
Hasil penelitian ini adalah
pertama, analisis kesulitan belajar membaca permulaan yang dialami siswa kelas
II.B pada mata pelajaran bahasa Indonesia adalah analisis kesulitan siswa
mengeja huruf menjadi suku kata, analisis kesulitan siswa mengeja suku kata menjadi
kata, dan analisis kesulitan siswa membedakan huruf b-d, p-q. Dan yang kedua
faktorfakor penyebab kesulitan belajar membaca permulaan siswa di kelas II.B
pada mata pelajaran bahasa Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah Munawariyah
Palembang yaitu yang pertama faktor dari peserta didik itu sendiri yaitu faktor
fisik, inteligensi, minat, motivasi, yang kedua faktor dari guru yaitu
pengelolaan kelas yang kurang efektif, dan yang ketiga faktor dari keluarga
yaitu kurangnya dukungan kepada anak di rumah.[14]
5. Penelitian Riga Zahara Nurani, dkk (2021)
dengan judul “Analisis
Kesulitan Membaca Permulaan Pada Anak Usia Sekolah Dasar”
Berdasarkan hasil penelitian,
kemampuan siswa membaca huruf vokal sebagian besar sudah pada kategori sangat
mampu yaitu sebesar 43%. Kemampuan siswa dalam membaca huruf konsonan sebagian
besar sudah pada kategori cukup mampu yaitu sebesar 35%. Kemampuan siswa dalam
membaca suku kata sebagian besar sudah pada kategori cukup mampu yaitu sebesar
46%. Kemampuan siswa dalam membaca kata sebagian besar pada kategori mampu
yaitu sebesar 32%. Kelancaran siswa dalam membaca sebagian besar pada kategori
cukup lancar yaitu sebesar 43%. Kesulitan siswa yang paling banyak ditemukan
dalam penelitian ini adalah kemampuan dalam membaca suku kata, terutama suku
kata yang terdiri dari 3 huruf atau lebih. [15]
BAB
III
METODE
PENELITIAN
A.
Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan
pendekatan penelitian deskriptif. Penelitian kualitatif menurut pendapat
Sugiono disebutkan bahwa metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian
yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada
kondisi obyek yang alamiah dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci.[16]
Pendapat lain menurut Moleong,
penelitian kualitatif ini merupakan data yang dikumpulkan berupa kata-kata,
gambar, dan bukan angka-angka. Laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan
data untuk memberi gambaran penyajian laporan berupa naskah wawancara, catatan lapangan, foto,
videotape, dokumen pribadi, catatan atau memo, dan dokumen resmi lainnya.[17]
Jenis penelitian
kualitatif ini menggunakan studi kasus yang merupakan penelitian tentang suatu
“kesatuan sistem.” Kesatuan ini dapat berupa program, kegiatan, peristiwa, atau
sekelompok individu yang terkait oleh tempat, waktu, atau ikatan tertentu.
Penelitian studi kasus adalah penelitian yang diarahkan untuk menghimpun data,
mengambil data, mengambil makna, dan memperoleh pemahaman dari kasus tersebut.
Kasus sama sekali tidak mewakili populasi dan tidak dimaksudkan untuk
memperoleh kesimpulan dari populasi. Kesimpulan studi kasus hanya berlaku untuk
kasus tersebut. Tiap kasus bersifat unik atau memiliki karakteristik sendiri
yang berbeda dengan kasus lainnya.[18]
Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif bertujuan agar dapat menggambarkan bagaimana upaya guru kelas dalam
mengatasi kesulitan belajar membaca permulaan siswa di Kelas 1 SD negeri 66
Kota Bengkulu.
B.
Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat
Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di SD Negeri 66 Kota Bengkulu, yang beralamat di Jl.
Pancur Mas 2 Sukarami, Sukarami, Kec. Selebar, Kota Bengkulu.
2. Waktu
Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai dari tanggal 12 September – 24
Oktober 2022.
C.
Sumber Data
Sumber data adalah tempat, orang atau benda
dimana peneliti dapat mengamati, bertanya, membaca tentang hal-hal yang
berkenaan dengan variabelyang diteliti.[19]
Bila dilihat dari sumber datanya, maka pengumpulan data dapat menggunakan
sumber primer dan sumber sekunder.
1.
Data Primer
Sumber data primer adalah sumber data yang
langsung memberikan data primer diperoleh secara langsung melalui wawancara
dengan guru kelas I dan kepala sekolah SD
Negeri 66 Kota Bengkulu.
2.
Data Sekunder
Data sekunder adalah sumber yang tidak
langsung atau diperoleh melalui media perantara memberikan data pada pengumpul
data. Dalam penelitian ini data sekunder didapat dari buku dan kepala sekolah PAUD
SD Negeri 66 Kota Bengkulu.
D. Teknik Pengumpulan Data
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan
teknik pengumpulan data dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi.
Dalam pengambilan data, peneliti berbaur dan berinteraksi secara intensif
dengan responden. Dokumentasi dan pengumpulan data pendukung dalam penelitian
ini peneliti gunakan untuk melengkapi peleniltian dan untuk memaksimalkan hasil
peneltian.
1.
Observasi
Observasi merupakan teknik pengumpulan data melaalui pengamatan, menurut
Sugiyono, observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang
tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua di antara yang
terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.[20]
Observasi merupakan suatu
kegiatan dengan menggunakan pancaindra, bisa penglihatan, pendengaran, dan
penciuman untuk memperoleh informasi yang diperlukan oleh peneliti. Dengan
melakukan observasi peneliti akan mendapatkan data yang lebih banyak di SD
Negeri 66 Kota
Bengkulu.
Sebelum melakukan wawancara dengan responden, terlebih dahulu peneliti
melakukan observasi agar saat peneliti melakukan wawancara tidak kurang
informasi yang peneliti perlukan.
2.
Wawancara
Metode wawancara atau interview adalah proses
memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil
bertatap muka dengan pihak yang bersangkutan.[21]
Dalam penelitian ini, wawancara yang digunakan peneliti adalah wawancara yang
bebas terpimpin sehingga persoalan yang diteliti dapat didekati dengan cara
yang lebih efisien, tetapi prinsip komprabilitas dan rehabilitasnya tetap
terpenuhi. Wawancara dilakukan pada sumber data primer, data-data yang
diharapkan dari wawancara tersebut adalah data yang mengungkapkan tentang upaya guru kelas dalam mengatasi kesulitan belajar
membaca permulaan siswa di Kelas 1 SD negeri 66 Kota Bengkulu.
3.
Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah metode yang
digunakan untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa
catatan, transkip, buku, surat kabar, agenda atau lain sebagainya.[22]
Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumentasi yang
dapat diperoleh dalam penelitian adalah foto, gambar, bagan, struktur dan
catatan yang diperoleh dari subjek peneliti. Hasil penelitian melalui observasi
atau wawancara akan lebih dapat dipercaya jika didukung oleh sejarah pribadi,
sekolah, masyarakat, dan autobiografi.
E. Uji Keabsahan Data
Untuk uji
keabsahan data penulis menggunakan trianggulasi sumber. Karena yang dicari adalah kata-kata, maka tidak
mustahil ada kata-kata yang keliru yang tidak sesuai antara yang dibicarakan
dengan kenyataan sesungguhnya. Hal ini bisa dipengaruhi oleh kredibilitas
informannya, waktu pengungkapan, kondisi yang dialami sebagainya. Maka peneliti
perlu melakukan Trianggulasi yaitu pengecekan data dari berbagai sumber dengan
berbagai cara dan waktu. Sehingga ada Trianggulasi dari sumber/informan,
trianggulasi dari teknik pengumpulan data, dan trianggulasi waktu. Langkah-langkah
dalam menerapkan trianggulasi:
1.
Peneliti
bertanya pada informan A dan mengklarifikan dengan informan B serta
mengekplorasinya pada informan C. Misalnya, wawancara dengan guru A tentang
tipe kepemimpinan Kepala Sekolah, dikonfirmasi kepada Kepala Sekolah atau guru
lain lalu ke guru lainnya lagi atau ke tata usaha, siswa, ke masyarakat
sehingga diperoleh data yang relative sama atau tidak ada lagi data/informasi
baru yang diperoleh.
2.
Peneliti
melakukan pengumpulan data yang sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu
mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai
sumber data.
3.
Mencari
kebenaran tentang beberapa fenomena, tetapi lebih pada peningkatan pemahaman
peneliti terhadap apa yang telah ditemukan.[23]
F. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses
penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan
diimplementasikan, analisis data dilakukan dengan tujuan agara informasi yang
dihimpun akan menjadi jelas dan eksplesit.
Teknik analisis data dalam suatu
penelitian ini dilakukan menggunakan model analisis data kualitiatif
deskriptif, sehingga peneliti menggambarkan keadaan atau fenomena yang
diperoleh kemudian menganalisisnya dengan bentuk-bentuk kata untuk memperoleh
kesimpulan. Proses analisa data Menurut Miles dan Huberman dilakukan melalui 4
tahap, yakni: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan
kesimpulan.[24]
1.
Pengumpulan Data
Data yang diperoleh dari hasil
observasi, wawancara dan dokumentasi dicatat dalam catatan lapangan terdiri
dari 2 aspek yaitu deskripsi dan refleksi. Catatan deskripsi merupakan data
yang berisi tentang apa yang dilihat, didengar, dirasakan, disaksikan, dialami,
sendiri oelh peneliti tanpa adanya pendapat dan penafsiran dari peneliti
tentang fenomena yang ditemukan.
Sedangkan catatan refleksi yaitu
catatan yang memuat kesan, komentar dan tafsiran peneliti tentang temuan yang
dijumpai dan merupakan bahan rencana pengumpulan data untuk tahap berikutnya.
Catatan lapangan dibuat selengkap mungkin oleh peneliti.
2.
Reduksi Data
Reduksi data diartikan sebagai proses
dimana peneliti melakukan pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan,
pengabstrakan data hasil penelitian. Proses ini juga dinamakan sebagai proses
transformasi data, yaitu perubahan dari data yang bersifat “kasar” yang muncul
dari catatan-catatan tertulis dilapangan menjadi data yang bersifat “halus” dan
siap pakai setelah dilakukan penyeleksian, membuat ringkasan,
menggolong-golongkan ke dalam pola-pola dengan membuat transkip penelitian
untuk mempertegas, memperpendek, membuat focus dan kemudian membuang data yang
tidak diperlukan. Data yang sudah direduksi juga akan memberikan gambaran yang
dapat mempermudah peneliti untuk mencari kembali data yang diperlukan nantinya.
3.
Penyajian Data
Penyajian data yaitu sekumpulan
informasi tersusun sehingga memberikan kemungkinan penarikan kesimpulan dan
pengambilan tindakan. Agar sajian data tidak menyimpang dari pokok permasalahan
maka sajian data dapat diwujudkan dalam bentuk matriks, grafiks, jaringan atau
bagan sebagai wadah paduan informasi tentang apa yang terjadi.
Penyajian data dimaksudkan untuk
mempermudah peneliti dalam melihat hasil penelitian. Banyaknya data yang
diperoleh menyulitkan peneliti untuk melihat hubungan anatara detail yang ada,
sehingga peneliti mengalami kesulitan dalam melihat gambaran hasil penelitian
maupun proses pengambilan kesimpulan, karena hasil penelitian masih berupa
data-data yang berdiri sendiri.
4.
Penarikan Kesimpulan
Tahap penarikan kesimpulan ini
menyangkut interpretasi peneliti, yaitu penggambaran makna dari data yang
ditampilkan. Peneliti berupaya mencari makna dibalik data yang dihasilkan dalam
penelitian, serta menganalisa data dan kemudian membuat kesimpulan. Sebelum
membuat kesimpulan, peneliti harus mencari pola, hubungan, persamaan, dan
sebagainya antar detail yang ada untuk kemudian dipelajari, dianalisis dan
kemudian disimpulkan.
Proses penyimpulan merupakan proses
yang membutuhkan pertimbangan matang, jangan sampai peneliti salah menafsirkan
atau menyimpulkan data, sehingga peneliti harus berkaca kembali pada penyajian
data yang telah dibuatnya. Mencari dan menemukan data-data yang diperolehnya
dari lapangan dan sekitarnya akan menguatkan kesimpulan yang diambilnya.
Model analisis interaktif dari Miles
dan Huberman ini dapat digambarkan pada skema berikut:

BAB IV
DESKRIPSI DATA PENELITIAN
A. Deskripsi Data Penelitian
1.
Upaya guru kelas dalam mengatasi kesulitan belajar
membaca permulaan siswa di kelas 1 SD
Negeri 66 kota Bengkulu.
Fokus pertama yang dibahas dalam
penelitian ini yaitu untuk mengetahui upaya guru kelas dalam mengatasi
kesulitan belajar membaca permulaan siswa dikelas 1SD Negeri 66 kota Bengkulu
.Berdasarkan hasil penelitian, bahwa upaya guru kelas dalam mengatasi kesulitan
belajar membaca permulaan siswa dikelas 1 sebagai berikut :
Perencanaan
pembelajaran membaca
a)
Memberikan jam tambahan belajar membaca
Penulis
menanyakan tentang upaya guru kelas dalam mengatasi kesulitan belajar membaca
permulaan siswa dikelas1 SD Negeri 66 kota Bengkulu yaitu dengan memberikan jam
tambahan membaca ,sebagaimana hasil wawancara dengan guru kelas 1C Berikut ini
:
"salah satu strategi yang
dilakukan guru untuk mengatasi kesulitan dalam membaca permulaan siswa
disekolah ini yaitu guru harus lebih memprioritaskan membimbing anak-anak yang
mengalami kesulitan dalam membaca permulaan seperti memberi waktu tambahan
untuk mengajari siswa membaca".50(ratna ningsih guru kelas 1c sd negeri 66
kota Bengkulu ,wawancara ,tanggal 13 september 2022)
Hal diatas sejalan dengan pernyataan
Guru kelas 1A yang menyatakan :
"Langkah yang dilakukan oleh guru
untuk mengatasi kesulitan membaca
permulaan siswa kelas 1 adalah mengadaka les membaca baik sebelum KBM
dimulai,juga les baca selesai untuk
siswa yang belum lancar membaca".5 (afridaneti,guru 1a sd negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara
,tanggal 14 september 2022)
Hal ini juga sebagaimana pernyataan
guru kelas 1B yang menyatakan :
"upaya yang telah dilakukan
guru untuk mengatasi kesulitan- kesulitan membaca permulaan pada siswa diantaranya
yaitu mengadakan jam tambahan belajar
kepada siswa yang kesulitan dalam
membaca permulaan.guru juga sebaiknya membangun kerjasama yang baik dengan
orang tua untuk membimbing siswa yang belum lancar membaca serta meminta orang
tua agar lebih memperhatikan anaknya dirumah untuk belajar membaca karena minat
membaca siswa harus dikembangkan dan dilatih terus- menerus baik oleh guru
maupun orang tua nya ".5 (risma zuhada,guru kelas 1b sd negeri 66 kota Bengkulu
,wawancara ,tanggal 14 september 2022) pernyataan para informan diatas
sebagaimana hasil observasi penulis bahwa para guru kelas 1 memberikan waktu
tambahan setelah pulang sekolah yang dilakukan selama satu jam untuk mengajari
siswa yang belum lancar membaca .5 (observasi ,tanggal 13 -14 september 2022)
b)
Menyiapkan sumber belajar buku penunjang lancar
membaca
Penulis menanyakan tentang upaya
guru kelas dalam mengatasi kesulitan belajar membaca permulaan siswa dikelas 1
SD negeri 66 kota Bengkulu yaitu
dengan menyiapkan sumber belajar dengan buku penunjang lancar membaca
,sebagaimana hasil wawancara dengan guru kelas 1A,yang menyatakan :
"guru menyiapkan sumber belajar
yang menunjang seperti buku penunjang
seperti buku penunjang anak yaitu buku bacaan siswa kelas 1 SD untuk membantu siswa berlatih
dalam membaca ".5 (afridanet,guru kelas 1a sd negeri 66 kota Bengkulu
,wawancara ,tanggal 14 september 2022) Hal diatas sejalan dengan pernyataan
guru kelas 1C,yang menyatakan :
"guru yang mewajibkan siswa
membawa buku bacaan untuk disimpan didalam kelas .buku – buku tersebut dapat
digunakan untuk memotivasi siswa agar rajin membaca buku". 5(ratna ningsih
,guru kelas 1c sd negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara ,tanggal 13 september
2022)
Hal ini juga sebagaimana pernyataan
guru kelas 1B,yang menyatakan :
"Anak –anak dirumah memiliki
buku bacaan yang memang diminta Guru untuk dimiliki siswa .nereka boleh membeli
buku bacaan tersebut ditoko buku mana saja .guru seminggu sekali memberikan
tugas membaca kepada semua siswa akan semakin lancar dan memiliki hobi membaca
"56.(risma zuhada, guru kelas 1b sd negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara
,tanggal 14 september 2022) pernyataan
para informan diatas sebagaimana hasil observasi penulis bahwa para guru kelas
1 menyiapkan buku khusus untuk siswa yang belum lancar membaca
.57(observasi,tanggal 13 – 14 september 2022)
c)
Menyiapkan karton penunjang lancar membaca
Penulis menanyakan tentang upaya guru kelas dalam mengatasi kesulitan
belajar membaca permulaan siswa dikelas 1 SD 66 Kota Bengkulu yaitu dengan
menyiapkan media karton penunjang lancar membaca ,sebagaimana hasil wawancara
dengan guru kelas 1A ,yang menyatakan :
"Kami guru-guru kelas 1 membuat
persentasi di 3 lembar kertas karton berupa :pertama ,potongan huruf abjad
,kedua,potongan suku kata dan ketiga
potongan satu kata ,yang digunakan untuk mengajar anak – anak yang belum lancar membaca".58(afridaneti,guru
kelas 1 a sd negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara ,tanggal 14 september 2022)
Hal diatas sejalan dengan pernyataan
guru kelas 1C ,yang menyatakan :
"Salah satu media yang kami
buat sendiri yaitu potongan-potongan kertas yang berisi potongan huruf abjad
,suku kata,dan kata –kata yang mudah ,potongan kertas tersebut ,kami tempel di
3 lembar kertas karton ,semacam persentasi lah untuk mengajar beberapa anak
yang belum lancar membaca".59(ratna ningsih,guru kelas 1c sd negeri 66
kota Bengkulu ,wawancara ,tanggal 13 september 2022)
Hal ini juga sebagaimana penyataan
guru kelas 1B ,yang menyatakan :
"kertas karton yang berisi
potongan – potongan kertas hurup abjad suku kata dan suku kata ,yang dibuat
oleh guru – guru kelas 1 dimanfaatkan untuk mengajar beberapa anak yang belum
lancar membaca ".60(risma zuhada,guru kelas 1b sd negeri 66 kota Bengkulu
,wawancara ,tanggal 14 september 2022)
Pernyataan para informan diatas sebagaimana hasil observasi penulis
bahwa para guru kelas 1 membuat media persentasi berupa 3 buah kertas karton yang
ditempel potongan – potongan huruf abjad ,suku kata dan satu kata yang
dimanfaatkan untuk mengajar siswa yang belum lanvcar membaca
.61(observasi,tanggal 13-14 september 2022)
d)
Memilih media puzzle penunjang lancar membaca
Penulis menanyakan tentang upaya
guru mengatasi kesulitan belajar membaca permulaan siswa dikelas 1 SD 66 Kota
Bengkulu yaitu dengan memilih media puzzle penunjang lancar membaca
,sebagaimana hasil wawancara dengan guru kelas 1A ,yang menyatakan :
"Kami juga menyiapkan media
yang bisa digunakan untuk membantu
anak dalam belajar membaca yaitu puzzle huruf abjad, puzzle suku kata,dan puzzle satu kata
".62(afridaneti,guru kelas 1a sd negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara
,tanggal 14 september 2022)
Hal diatas sejalan dengan pernyataan
guru kelas 1C ,yang menyatakan :
"puzzle juga bisa digunakan
untuk membantu anak untuk belajar membaca .untuk itu sekolah menyediakan media
puzzle yang jenis nya ada tiga macam
yaitu puzzle huruf abjad ,puzzle suku kata ,dan puzzle satu kata
".63(ratna ningsih,guru kelas 1c sd negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara
,tanggal 13 september 2022)
Hal ini juga sebagaimana pernyataan
guru 1B,yang menyatakan : "media puzzle digunakan untuk belajar anak per
anak ,untuk anak Kelas 1 belajar membaca dengan media puzzle cukup menyenangkan
bagi mereka ".64(risma zuhada,guru kelas 1b sd negeri 66 kota Bengkulu
,wawancara ,tanggal 14 september 2022)
Pernyataan para informan diatas
sebagaimana hasil observasi penulis bahwa para guru kelas 1 menyiapkan tiga
jenis media puzzle yaitu puzzle huruf abjad ,puzzle suku kata , dan puzzle satu
kata,yang juga dimanfaatkan guru untuk mengajar siswa yang belum lancar membaca
.65(observasi,tanggal 13-14 september 2022)
e)
Menyiapkan media video penunjang lancar membaca
Penulis menanyakan tentang upaya
guru kelas dalam mengatasikesulitan belajar membaca permulaan siswa dikelas 1
SD Negeri 66 Kota Bengkulu yaitu dengan menyiapkan media video penunjang lancar
membaca ,sebagaimana hasil wawancara deangan guru kelas 1A ,yang menyatakan :
"sebenarnya di youtube banyak
video yang dapat digunakan untuk Membantu anak belajar membaca .salah satunya
video animasi kartun yang berisi film dan lagu –lagu tentang belajar mengenal
huruf,suku kata dan kata –kata .kadang –kadang
guru kelas 1 disini juga menggunakan video tersebut
".66(afridaneti,guru kelas 1a sd negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara
,tanggal 14 september 2022)
Hal diatas sejalan dengsn penyataan
guru kelas 1C,yang menyatakan :
"Kadang –kadang kami
men-download video lagu –lagu tentang
mengenal huruf abjad atau animasi tentang bejlajar suku kata. Tetapi
guru hanya bisa menunjukan video itu keanak lewat hp aja untuk membantu anak
yang kurang semangat belajar membaca ".67(ratna ningsih,guru kelas 1c sd
negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara ,tanggal 13 september 2022)
Hal ini juga sebagaimana pernyataan
guru kelas 1B,yang menyatakan :
"video animasi di youtube
tentang belajar huruf ,suku kata dan kata
cukup membantu kami mengajar anak-anak kelas 1 yang kurang semangat
belajar membaca ".68(risma zuhada,guru kelas 1b sd negeri 66 kota Bengkulu
,wawancara ,tanggal 14 september 2022)
Pernyataan para informan diatas
diatas sebagaimana hasil observasi penulis bahwa para guru kelas 1 menyiapkan
video animasi yang di –download dari youtube yang juga dimanfaatkan guru untuk
mengajar siswa yang belum lancar membaca .69(observasi,tanggal 13-14 september
2022)
f)
Pelaksanaan pembelajaran membaca
-
Melaksanakan les membaca dengan jam tambahan belajar.
Penulis
menanyakan tentang upaya guru kelas dalam mengatasi kesulitan belajar membaca
permulaan siswa dikelas 1 SD Negeri 66 Kota Bengkulu yaitu melaksanakan les
baca pada jam tambahan belajar membaca, sebagaimana hasil wawancara dengan guru
kelas 1A yaitu :
"pelaksanaan
les membaca yang dilakukkan oleh guru kelas 1 ,baik dilaksanakan sebelum KBM
dimulai yaitu di pagi hari ,juga les baca setelah KBM selesai yaitu disiang
hari yang dilaksanakan setiap hari selama satu jam untuk beberapa orang anak
yang mengalami kesulitan membaca permulaan ".70 (ratna ningsih,guru kelas
1c sd negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara ,tanggal 13 september 2022)
Hal
diatas sejalan dengan pernyataan guru kelas 1A,yang menyatakan :
"pemberian
waktu tambahan untuk mengajari siswa yang belum
lancar membaca itu seperti guru yang memberikan les baca untuk anak
,yang dilaksanakan baik pada waktu sebelum KBM dimulai atau les baca sesudah
KBM selesai ".71 (afridaneti,guru kelas 1a sd negeri 66 kota Bengkulu
,wawancara ,tanggal 14 september 2022)
Hal
ini juga sebagaimana pernyataan guru kelas 1B ,yang menyatakan :
"pelaksanaan
jam tambahan membaca kepada siswa yang
mengalami kesulitan dalam membaca disebut les membaca dilakukkan dengan
memanggil anak satu per satu setiap harinya selama 1 jam ".72(risma
zuhada,guru kelas 1b sd negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara ,tanggal 14
september 2022)
Pernyataan
para informan diatas sebagaimana hasil observasi penulis bahwa para guru kelas
satu melaksanakan les membaca pada
waktu sebelum KBM dimulai dan setelah pulang sekolah yang
dilaksanakan selama satu jam untuk
mengajari siswa yang belum lancar membaca .73 (observasi,tanggal 13-14
september 2022)
-
Menerapkan metode yang tepat untuk kelancaran membaca
Penulis
menanyakan tentang upaya guru kelas dalam mengatasi kesulitan belajar membaca permulaan siswa di kelas 1
SD Negeri 66 Kota Bengkulu yaitu menerapkan metode yang tepat untuk kelancaran
membaca ,sebagaimana hasil wawancara dengan guru kelas 1A yaitu:
"metode
yang diterapkan untuk lancar membaca dikelas 1 yaitu dimulai dengan mengenalkan
huruf ,mengenalkan suku kata .belajar membaca dengan metode mengeja yang
dilakukan kepada setiap siswa ".74 (afridaneti,guru kelas 1a sd negeri 66
kota Bengkulu ,wawancara ,tanggal 14 september 2022)
Hal
diatas sejalan dengan pernyataan guru kelas 1C , yang menyatak
"Dalam
belajar membaca ,guru dapat menerapkan metode yang disesuaikan dengan buku panduan membaca
siswa seperti mengeja suku kata dan
mengeja setiap kata ".75(ratna ningsih,guru kelas 1c sd negeri 66 kota
Bengkulu ,wawancara ,tanggal 13 september 2022)
Hal
ini juga sebagaimana pernyataan guru kelas 1B, yang menyatakan :
"metode
yang diterapkan dalam pembelajaran membaca permulaan dikelas 1 yaitu dengan
metode mengeja ,mengenalkan huruf, mengenalkan suku kata dan bantuan buku
bacaan siswa ".76(risma zuhada,guru kelas 1b sd negeri 66 kota Bengkulu
,wawancara ,tanggal 14 september 2022)
Pernyataan
para informan diatas sebagaimana hasil
observasi penulis bahwa para guru kelas 1 dalam melaksanakan pembelajaran
membaca dan menerapkan metode seperti pemgenalan huruf ,mengeja suku kata ,lalu
mengeja setiap kata .77 (observasi,tanggal 13-14 september 2022)
-
Memanfaatkan sumber belajar buku penunjang untuk
kelancaran membaca.
Penulis
menanyakan tentang upaya guru kelas dalam mengatasi upaya guru dalam mengatasi
kesulitan belajar membaca permulaan siswa dikelas 1 SD 66 Kota Bengkulu yaitu
memanfaatkan sumber belajar buku penunjang untuk kelancaran membaca ,sebagaimana
hasil wawancara dengan guru kelas 1A ,yaitu:
“guru
jugs mewajibkan siswa membawa buku bacaan untuk disimpan dalam kelas .buku-buku
tersebut juga digunakan untuk siswa agar semakin lancar membaca sekaligus
meningkatkan kecintaan siswa akan kegiatan membaca buku "78
(afridaneti,guru kelas 1a sd negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara ,tanggal 14
september 2022)
Hal
diatas sejalan dengan pernyataan guru kelas 1C, yang menyatakan :
“dengan
bantuan buku khusus bacaan siswa ,guru menarapkan metode membaca permulaan
dikelas 1 yaitu dengan metode mengeja ,mengenalkan huruf dan mengenalkan suku
kata ".79 (ratna ningsih,guru kelas 1c sd negeri 66 kota Bengkulu
,wawancara ,tanggal 13 september 2022).
Hal
ini juga sebagaimana pernyataan guru kelas 1B ,yang menyatakan:
“guru
menggunakan sumber belajar seperti buku khusus bacaan siswa kelas 1 sd untuk
membantu siswa berlatih dalam membaca permulaan ".80 (risma zuhada,guru
kelas 1b sd negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara ,tanggal 14 september 2022).
Pernyataan
para informan diatas sebagaimana hasil obsevasi penulis bahwa para guru kelas 1
dalam melaksanakan pembelajaran membaca dengan menggunakan sumber belajar
penunjang yaitu buku khusus untuk siswa berlatih membaca .81 (observasi,tanggal
13-14 september 2022).
-
Memanfaatkan media penunjang untuk kelancaran membaca
Penulis
menanyakan tentang upaya guru kelas dalam mengatasi kesulitan belajar membaca
permulaan siswa dikelas 1 sd Negeri 66 Kota Bengkulu yaitu memanfaatkan media
penunjang untuk kelancaran membaca ,sebagaimana hasil wawancara dengan guru
kelas 1A yaitu :
“kami
guru – guru kelas 1 menggunakan media penunjang untuk mengejar anak – anak yang
belum lancar membaca ,seperti puzzle huruf abjad ,puzzle suku kata,dan puzzle satu
kata yang digunakan untuk anak per anak
.bagi anak yang belum mengenal huruf abjad maka menggunakan puzzle huruf ,bagi
anak yang masih belajar mengeja suku kata maka menggunakan puzzle suku kata
,dan bagi anak yang sedang belajar mengeja kata per kata maka menggunakan puzzle kata –kata ".82
(afridaneti,guru kelas 1a sd negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara ,tanggal 14
september 2022).
Hal
diatas sejalan dengan pernyataan guru kelas 1C, yang menyatakan :
"salah
satu media penunjang belajar membaca yang kami gunakan yaitu media karton yang
dibuat sendiri oleh guru- guru kelas 1. Media karton berisikan potongan kertas
yang ditempel dikarton yaitu potongan
huruf abjad ,suku kata ,dan kata –kata yang mudah dibaca siswa ,media karton
digunakan untuk semua anak yang sedang belajar membaca ".83(ratna
ningsih,guru kelas 1c sd negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara ,tanggal 13
september 2022)
Hal
ini juga sebagaimana pernyataan guru kelas 1B , yang menyatakan :
"kadang
–kadang kami menggunakan video lagu mengenal huruf abjad atau video animasi
belajar membaca .tetapi guru hanya bisa
menunjukan video itu ke anak – anak lewat hp saja .itu dilakukan apabila
anak- anak mulai kurang semangat belajar membaca ".84 (risma zuhada,guru
kelas 1b sd negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara ,tanggal 14 september 2022)
Pernyatan
para informan diatas sebagaimana hasil observasi penulis bahwa para guru kelas
1 memanfaatkan media penunjang untuk kelancaran membaca seperti puzzle huruf
,media karton ,dan video animasi tentang berlatih membaca .85
(observasi,tanggal 13-14 september 2022)
-
Menggunakan buku LKS untuk kelancaran membaca.
Penulis
menanyakan tentangt upaya guru kelas dalam mengatasi kesulitan belajar membaca
permulaan siswa dikelas 1 SD Negeri Bengkulu yaitu menggunakan buku lembar
kerja siswa (LKS) untuk kelancaran membaca ,sebagaimana hasil wawancara dengan
guru kelas 1A yaitu:
"Buku
LKS juga sebagai buku penunjang untuk kelancaran membaca siswa ,buku LKS
digunakan setiap seminggu sekali dimana anak diminta untuk membaca kata –kata
yang ada dalam LKS tersebut ".86 (afridaneti,guru kelas 1a sd negeri 66
kota Bengkulu ,wawancara ,tanggal 14 september 2022)
Hal
diatas sejalan dengan pernyataan guru kelas 1C , yang menyatakan :
"seminggu
sekali anak di tes membaca dengan menggunakan buku LKS sehingga target membaca
dapat dicapai guru ".87(ratna ningsih,guru kelas 1c sd negeri 66 kota
Bengkulu ,wawancara ,tanggal 13 september 2022)
“
buku LKS digunakan seminggu sekali .anak –anak diminta untuk membaca setiap
kata yang ada dalam buku tersebut .”88(risma zuhada,guru kelas 1b sd negeri 66
kota Bengkulu ,wawancara ,tanggal 14 september 2022)
Pernyataan
para informan diatas sebagaimana hasil observasi penulis bahwa para guru kelas
1 dalam melaksanakan pembelajaran membaca dengan menerapkan metode seperti mengenalkan huruf
,mengeja suku kata ,lalu mengeja setiap kata.89 (observasi,tanggal 13 -14
september 2022)
g)
Memanfaatkan sumber belajar buku penunjang untuk
kelancaran membaca
Penulis menanyakan tentang upaya guru kelas dalam mengatasi kesulitan belajar membaca permulaan siswa di
kelas 1 SD Negeri 66 Kota Bengkulu yaitu memanfaatkan sumber belajar buku
penunjang untuk kelancaran membaca ,sebagaimana hasil wawancara dengan guru
kelas 1A,yaitu:
“guru juga mewajibkan siswa membawa buku bacaan untuk disimpan didalam
kelas.Buku- buku tersebut juga dugunakan untuk siswa agar semakin lancar membaca sekaligus meningkatkan
kecintaan siswa akan kegiatan membaca buku " 90 (afridaneti,guru kelas 1a
sd negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara ,tanggal 14 september 2022)
Hal diatas sejalan dengan pernyataan guru kelas 1C, yaitu menyatakan :
“Dengan bantuan buku khusus bacaan siswa,guru menerapkan metode membaca permulaan dikelas 1 yaitu
dengan metode mengeja ,mengenalakan huruf dan mengenalkan suku kata". 91
(ratna ningsih,guru kelas 1c sd negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara ,tanggal 13
september 2022)
Hal ini juga sebagaimana pernyataan guru kelas 1B ,yaitu menyatakan :
“Guru menggunakan sumber belajar seperti buku khusus bacaan siswa kelas
1 SD untuk membantu siswa berlatih dalam membaca permulaan "92 (risma
zuhada,guru kelas 1b sd negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara ,tanggal 14
september 2022)
Pernyataan para informan diatas sebagaimana hasil observasi penulis
bahwa para guru kelas 1 dalam melaksanakan pembelajaran membaca dengan
menggunakan sumber belajar penunjang yaitu buku khusus untuk siswa berlatih
membaca .
h)
Memanfaatkan media penunjang untuk kelancaran membaca
Penulis menanyakan tentang upaya guru kelas dalam mengatasi kesulitan
belajar membaca permulaan siswa di kelas 1 SD Negeri 66 Kota Bengkulu yaitu
memanfaatkan media penunjang untuk kelancaran membaca,sebagaimana hasil
wawancara dengan guru kelas 1A yaitu:
“kami guru –guru kelas 1 menggunakan media penunjang untuk mengajar
anak-anak yang belun lancar membaca ,seperti puzzle huruf abjad ,puzzle suku
kata dan puzzle satu kata yang digunakan untuk anak per anak. bagi anak yang
belum mengenal huruf abjad maka menggunakan puzzle huruf ,bagi anak yang masih
belajar mengeja suku kata maka menggunakan puzzle suku kata dan bagi anak yang
sedang belajar mengeja kata per kata maka menggunakan puzzle kata-kata .”93 (afridaneti, guru kelas
1a sd negeri 66 kota Bengkulu , wawancara , tanggal 14 september 2022)
Hal diatas sejalan dengan pernyataan guru kelas 1C, yang menyatakan :
“salah satu media penunjang belajar membaca yang kami gunakan yaitu
media karton yang dibuat sendiri oleh guru-guru kelas 1. media karton berisikan
potongan kertas yang ditempel dikarton yaitu potongan huruf abjad ,suku kata
dan kata-kata yang mudah dibaca siswa .media karton digunakan untuk semua anak
yang sedang belajar membaca.”94( ratna ningsih,guru kelas 1c sd negeri 66 kota
Bengkulu ,wawancara ,tanggal 13 september 2022)
Hal ini juga sebagaimana pernyataan guru kelas 1B,yang menyatakan:
“kadang –kadang kami menggunakan video lagu mengenal huruf abjad atau
video animasi belajar membaca .tetapi guru hanya menunjukan video itu ke
anak-anak lewat hp saja ,itu dilakukkan apabila anak-anak mulai kurang semangat
belajar membaca .” 95(risma zuhada,guru kelas 1b sd negeri 66 kota Bengkulu
,wawancara ,tanggal 14 september 2022)
Pernyataan para informan diatas sebagaimana hasil observasi penulis bahwa
para guru kelas 1 memanfaatkan media penunjang untu kelancaran membaca seperti
puzzle huruf ,media karton ,dan video animasi tentang berlatih membaca .96
(observasi,tanggal 13 -14 september 2022)
i)
Menggunakan buku
LKS untuk kelancaran membaca
Penulis menanyakan tentang upaya guru kelas dalam mengatasi kesulitan
belajar membaca permulaan siswa dikelas 1 SD Negeri 66 Kota Bengkulu
yaitumenggunakan buku lembar kerja siswa (LKS) untuk kelancaran membaca
,sebagaimana hasil wawancara dengan guru kelas 1A yaitu :
“Buku LKS juga sebagai buku penunjang untuk kelancaran membaca siswa
,buku LKS digunakan setiap seminggu sekali dimana anak diminta untuk membaca
kata –kata yang ada dalam LKS tersebut .”97(afridaneti,guru kelas 1a sd negeri
66 kota Bengkulu ,wawancara ,tanggal 14 september 2022)
Hal diatas sejalan dengan pernyataan guru kelas 1C ,yaitu menyatakan :
“Seminggu sekali anak dites membaca dengan menggunakan buku LKS sehingga
target membaca dapat dicapai guru .”98( ratna ningsih,guru kelas 1c sd negeri
66 kota Bengkulu ,wawancara ,tanggal 13 september 2022)
Hal ini juga sebagaimana pernyataan guru kelas 1B,yang menyatakan :
“Buku LKS digunakan seminggu sekali .anak-anak diminta untuk membaca
setiap kata yang ada dalam buku tersebut .”99 (risma zuhada,guru kelas 1b sd
negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara ,tanggal 14 september 2022)
Pernyataan para informan diatas sebagaimana hasil observasi penulis
bahwa para guru kelas 1 menggunakan buku LKS untuk kelancaran membaca yang
dilaksanakan setiap seminggu sekali.100 (observasi,tanggal 13 -14 september
2022)
2.
Evaluasi Pembelajaran Membaca
Pengelompokan siswa yang belum
lancar membaca penulis menanyakan tentang upaya guru kelas dalam mengatasi kesulitan
belajar membaca permulaan siswa dikelas 1 SD Negeri 66 Kota Bengkulu yaitu
melakukan evaluasi dengan mengelompokkan siswa yang belum lancar membaca
,sebagaimana hasil wawancara dengan guru kelas 1A yaitu :
“Pada awal semester awal tahun
ajaran baru ,seluruh siswa kelas 1 dikelompokkan menjadi dua yaitu kelompok yang
sudah lancar membaca dan kelompok siswa yang belum atau tidak bisa membaca .Hal
ini dilakukan agar siswa yang belum atau tidak bisa membaca akan diberikan
pelajaran tambahan membaca .”101 (afridaneti,guru kelas 1a sd negeri 66 kota
Bengkulu ,wawancara ,tanggal 14 september 2022)
Hal diatas sejalan dengan pernyataan
guru kelas 1C, yaitu menyatakan
“Awal pembelajaran tahun ajaran baru
,guru melakukan tes membaca untuk mengelompokkan siswa yang sudah bisa membaca
dengan kelompok siswa yang belum atau tidak bisa membaca.”102 ( ratna
ningsih,guru kelas 1c sd negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara ,tanggal 13
september 2022)
Hal ini juga sebagaimana pernytaan
guru kelas 1B ,yang menyatakan : “pengelompokkan siswa yang sudah bisa membaca
dengan siswa yang belum bisa membaca dilakukkan pada awal tahun ajaran .apalagi
ini masih dikelas 1 ,dengan begini para siswa yang tidak atau belum bisa
membaca akan diberikan pelajaran tambahan untuk membuat mereka menjadi pandai
membaca”.103 (risma zuhada,guru kelas 1b sd negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara
,tanggal 14 september 2022)
3.
Ujian membaca untuk evaluasi bulanan
Penulis menanyakan tentang upaya
guru kelas dalam mengatasi kesulitan belajar membaca permulaan kelas 1 di SD
Negeri 66 Kota Bengkulu yaitu melakukan evaluasi dengan melaksanakan ujian
membaca yang diadakan satu bulan sekali,sebagaiamana hasil wawancara dengan
guru kelas 1A yaitu:
“evaluasi yang dilakukan guru terhadap
pembelajaran membaca bagi siswa yang belum lancar membaca dengan cara melakukan
ujian tes membaca yang diadakan satu bulan sekali .”
Hal diatas sejalan dengan pernyataan
guru kelas 1C,yang menyatakan “Evalusi dilakukan satu bulan sekali dengan
melakukan tes kepada siswa yang belum lancar membaca sehingga guru bisa tahu
apakah pemberian jam tambahan belajar itu berjalan dengan efektif atau tidak
.”104 ( ratna ningsih,guru kelas 1c sd negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara
,tanggal 13 september 2022)
Hal ini juga sebagaimana pernyataan
guru kelas 1B,yang menyatakan “Melakukan tes membaca yang dilaksanakan satu
bulan sekali merupakan bentuk evaluasi yang guru lakukkan untuk mengukur sejauh
mana kelancaran membaca siswa .”
Pernyataan informan diatas
sebagaimana hasil observasi penulis bahwa para guru kelas 1 melakukan evaluasi
dalam pembelajaran membaca dengan melaksanakan ujian tes membaca satu bulan
sekali.
4.
Ujian Membaca Untuk Evaluasi Akhir Semester
Penulis menanyakan tentang upaya
guru dalam mengatasi kesulitan belajar membaca permulaan siswa dikelas 1 SD
Negeri 66 Kota Bengkulu yaitu melakukkan evaluasi dalam melaksanakan ujian
membaca yang diadakan pada akhir semester ,sebagaimana hasil wawancara dengan
guru kelas 1A yaitu :
“Ujian tes membaca bukan hanya
dilakukan satu bulan sekali .tetapi pada akhir semester juga diadakan tes
membaca ,setelah tes dilakukan ,siswa dikelompokkan lagi menjadi kelompok siswa yang belum lancar
membaca dengan siswa yang belum bisa membaca .Dengan demikian pada semester
berikutnya siswa yang belum bisa membaca akan lebih diperhatikan .
Hal diatas sejalan dengan pernyataan
guru kela 1C,yaitu menyatakan :
“Ujian tes membaca yang dilakukan
pada akhir semester,tujuan nya sama dengan ujian tes membaca yang dialkukan
setiap bulan agar guru bisa melihat perkembangan membaca siswa .”
Hal ini juga sebagaimana pernyataan guru
kelas 1B,yang menyatakan
“Selain ujian membaca yang
dilaksakan setiap satu buklan sekali ,pada setiap akhir semester guru kelas 1
juga melakukan ujian tes membaca pada setiap akhir semester .”
Pernyataan para informan diatas
sebagaimana hasil observasi penulis bahwa para guru kelas 1 melakukan evaluasi
dalam pembelajaran membaca dengan melaksanakan ujian tes membaca pada akhir
semester.
5.
Program remedial membaca
Penulis menanyakan tentang upaya
guru kelas dalam mengatasi kesulitan belajar membaca permulaan siswa dikelas 1
SD Negeri 66 Kota Bengkulu yaitu melakukan evaluasi dengan melaksanakan program
remedial membaca ,sebagaimana hasil wawancara dengan guru kelas 1A yaitu :
“setelah ujian tes membaca pada
akhir semester dilakukan ,siswa dikelompokan lagi menjadi kelompok siswa yang
belum lancar membaca dengan siswa yang belum bisa membaca .bagi siswa yang
belum lancar membaca dilakukkan program remedial .dengan demikian pada semester
berikutnya siswa yang belum bisa membaca akan lebih diperhatikan.”
Hal diatas sejalan dengan pernyataan
guru kelas 1C,yaitu menyatakan setiap akhir semester dilaksanakan ujian tes
membaca.bagi siswa yang belum lancar membaca akan diadakan program remedial
.sedangkan siswa yang belum bisa membaca hanya mengalami sedikit kemajuan ,maka
pada semester berikutnya akan diperhatikan guru.”
Hal ini juga sebagaimana pernyataan
guru kelas 1B,yaitu menyatakan
“program remedial membaca
dilaksanakan setelah ujian tes membaca pada akhir semester ,program ini
diberikan kepada siswa yang belum lancar membaca.”
Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa upaya guru kelas dalam mengatasi kesulitan belajar membaca permulaan
siswa dikelas 1 SD Negeri 66 Kota Bengkulu ,terdiri dari:
a)
melakukan perencaan pembelajaran membaca yaitu dengan
memberikan jam tambahan belajar membaca,menyiapkan buku penunjang lancar
membaca ,serta menyiapkan buku penunjang lancar membaca ,serta menyiapkan media
karton ,puzzle dan video sebagai media penunjang lancar membaca ;
b)
melaksanakan pembelajaran membaca yaitu mengadakan les
membaca pada waktu jam tambahan belajar ,menerapkan metode yang tepat,serta
menerapkan metode yang tepat ,serta memanfaatkan buku khusus ,buku LKS dan
media penunjang untuk kelancaran membaca ;
c)
melakukan evaluasi pembelajaran membaca yaitu dengan
mengelompokkan siswa yng belum lancar membaca ,mengadakan ujian membaca setiap
satu bulan sekali dan pada akhir semester ,serta mengadakan program remedial
bagi siswa yang belum lancar membaca .
6.
Hambatan dalam mengatasi kesulitan belajar membaca
permulaan siswa dikelas 1 SD Negeri 66 Kota Bengkulu
Fokus kedua pada penelitian ini
yaitu untuk mengetahui hambatan dalam mengatasi kesulitan belajar membaca
permulaan siswa dikelas 1 SD Negeri 66 Kota Bengkulu .Berdasarkan hasil
penelitian ,bahwa hambatan dalam mengatasi kesulitan belajar membaca permulaan
siswa dikelas 1 adalah sebagai berikut:
a.
Kurangnya minat belajar membaca siswa
Penulis menanyakan tentang hambatan dalam mengatasi kesulitan belajar
membaca permulaan siswa dikelas 1 SD Negeri 66 Kota Bengkulu yaitu kurangnya
minat belajar siswa dalam belajar membaca ,sebagaimana hasil wawancara dengan
guru kelas 1C sebagai berikut :
“Faktor – factor yang menghambat siswa kelas 1 dalam membaca permulaan
yaitu dianataranya siswa malas belajar dan siswa susah berkonsentrasi saat
belajar .”
Hal diatas sejalan dengan pernyataan guru kelas 1A,yang menyatakan :
“Ada beberapa faktor yang menghambat anak lancar dalam membaca.faktor
tersebut seperti kurangnya minat membaca siswa yang rendah menyebabkan tingkat
keberhasilan anak dalam membaca sulit tercapai .tingkat kecerdasan anak yang
berbeda –beda menjadi hambatan karena kemampuan siswa yang rendah juga menyebabkan
lamban dalam membaca .”105 (afridaneti,guru kelas 1a sd negeri 66 kota Bengkulu
,waewancara,tanggal 14 september 2022)
Hal ini juga sebagaimana pernyataan guru kelas1B,yang menyatakan : “Faktor – faktor penghambat dalam kelancaran
anak membaca biasanya yaitu kurang minatnya belajar dan anak tidak suka membaca
.hal inilah yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan membaca permulaan .”106
(risma zuhada ,guru kela 1b sd negeri 66 kota Bengkulu ,waewancara,tanggal 14
september 2022)
Pernyataan para informan diatas sebagaimana hasil observasi penulis
bahwa ada beberapa anak yang ikut les membaca setelah pulang sekolah terlihat
kurang semangat sewaktu diajari guru membaca buku.107 (obsersevasi,tanggal 13
-14 september 2022)
b.
Kurangnya dukungan dari dari keluarga dalam mengajar
siswa belajar membaca
Penulis menanyakan tentang hambatan dalam mengatasi kesulitan belajar
membaca permulaan siswa di kelas 1 SD Negeri 66 Kota Bengkulu yaitu kurangnya
dukungan dari keluarga dalam mengajar siswa belajar membaca ,sebagaimana hasil
wawancara dengan guru kelas 1C sebagai berikut :
“pembelajaran yang dilakukan oleh ibunya atau ayahnya siswa dirumah
sangat kurang dalam membaca permulaan siswa .hal inilah juga yang menyebabakan
siswa mengalami kesulitan membaca permulaan .” 108 (ratna ningsih ,guru kelas 1
c sd negeri 66 kota Bengkulu ,waewancara,tanggal 13 september 2022)
Hal diatas sejalan dengan pernyataan guru kelas 1A ,yang menyatakan :
“Lingkungan keluarga juga menjadi salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi kemampuan membaca siswa mencakup latar belakang dan pengalaman
siswa yang kurang mendapatkan keteladanan dalam membaca .keteladanan tersebut
harus ditunjukkan orang tua sesering mungkin .orang tua juga kurang memberikan
motivasi untuk memdorong dan memberi semangat untuk anaknya dalam membaca .”109
(afridaneti,guru kelas 1a sd negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara,tanggal 14
september 2022)
Hal ini juga sebagaimana pernyataan guru kelas 1B, yang menyatakan :
“kurangnya perhatian orang tua dalam mengajarkan amembaca pada anak juga
menjadi penyebab siswa mengalami kesulitan membaca .”110 (risma zuhada ,guru
kela 1b sd negeri 66 kota Bengkulu ,wawancara,tanggal 14 september 2022)
Ada siswa yang tidak sekolah ditaman kanak –kanak penulis menanyakan
tentang hambatan dalam mengatasi kesulitan belajar membaca permulaan siswa
dikelas 1 SD Negeri 66 Kota Bengkulu
yaitu ada siswa yang tidak sekolah ditaman kanak-kanak , sebagaimana hasil
wawancara dengan guru kelas 1C sebagai berikut:
“tingkat kecerdasan siswa berbeda –beda karena ada kemampuan siswa yang
rendah dibanding dengan teman –temannya sehingga sehingga siswa tersebut lamban
dalam membaca dan mengalami kesulitan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran
.karena itulah saat ini menjadi penting bagi anak usia dini sebelum masuk
sekolah dasar ,untuk menempuh pendidikan di TK terlebih dahulu .karena anak
–anak TK sudah memperkenalkan dengan huruf-huruf bahkan banyak juga TK yang
sudah mengajarkan anak TK untuk membaca
.”111 (ratna ningsih ,guru kelas 1 c sd negeri 66 kota Bengkulu
,wawancara,tanggal 13 september 2022)
Hal diatas sejalan dengan pernyataan guru kelas 1A ,yang menyatakan :
“ Ada beberapa siswa disekolah ini yang tidak pernah memdapatkan
pendidikan taman kanak –kanak .munurut saya ,hal ini juga menyebabkan siswa
mengalami kesulitan membaca permulaan .”112 (afridaneti,guru kelas 1a sd negeri
66 kota Bengkulu ,wawancara,tanggal 14 september 2022)
Dengan demikian ,dapat disimpulkan bahwa hambatan Dalam mengatasi
kesulitan belajar membaca permulaan siswa dikelas 1 SD Negeri 66 Kota Bengkulu
yaitu : a) kurangnya minat belajar membaca siswa ; b) kurangnya dukungan dari
keluarga dalam mengajar siswa belajar membaca ;dan c) ada siswa yang tidak
sekolah ditaman kanak-kanak .
B. Analisis Data Penelitian
1.
Upaya guru kelas dalam mengatasi kesulitan belajar
membaca permulaan siswa dikelas 1 SD Negeri 66 Kota Bengkulu.
a.
Perencanaan pembelajaran membaca
Pembelajaran membaca disekolah dasar dilaksanakan sesuai dengan
pembedaan anatara kelas awal dan kelas tinggi .pembelajaran membaca dikelas
awal disebut membaca permulaan dan dikelas tinggi disebut membaca lanjut .pada
siswa kelas 1 sekolah dasar ,membaca permulaan merupakan proses tahapan awal
.siswa memperoleh kemampuan dan menguasai teknik –teknik membaca dan menangkap
isi bacaan dengan baik .kesiapan membaca individu melibatkan dirinya dan
penaglaman belajar disekolah ,dan faktor dari kesiapan membaca yaitu kesiapan
fisik ,kesiapan psikologis ,kesiapan pendidikan dan kesiapan IQ. 113 ( kusno,
dkk ,analisis kesulitan membaca permulaan pada siswa sekolah dasar,journal for
lesson and learning studies vol.3,2020,h .443) kemampuan membaca merupakan
salah satu kunci keberhasilan sisa dalam meraih kemajuan karena dengan
kemampuan membaca siswa akan lebih mudah menggali informasi dari berbagai
sumber tertulis.
Kemampuan membaca adalah modal utama anak dalam melanjutkan pendidikan
pada jenjang yang lebih tinggi ,hal ini dikarenakan sumber belajar yang
tersedia sebagian besar terdapat pada buku yang mengharuskan anak untuk
membacanya dengan baik untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan .kegiatan
membaca memiliki peran penting untuk menyerap informasi – informasi ataupun
ilmu pengetahuan yang disampaikan lewat bahasa tulis .membaca merupakan salah
satu kemampuan dasar yang mempunyai sifat strategis sebagai aktivitas yang
kompleks dengan menggerahkan sejumlah besar tindakan .114 (kusno,dkk,analisis
kesulitan membaca ….,h.434) Oleh karena itu ,guru perlu merancang pembelajaran
membaca dengan baik sehingga menumbuhkan kebiasaan membaca siswa sebagai siswa
yang menyenangkan .keterampilan membaca siswa diharapkan harus segera dikuasai
oleh siswa tingkat SD karena keterampilan ini secara langsung berkaitan dengsn
seluruh proses belajar siswa .khususnya dikelas rendah,keberasilan siswa dalam
mengikuti proses kegiatan belajar mengajar disekolah sangant ditentukan oleh
penguasaan kemempuan membaca permulaan mereka .
Untuk itu berdasarkan hasil penelitian ,upaya guru kelas dalam mengatasi
kesulitan belajar membaca permulaan siswa dikelas 1SD Negeri 66 Kota Bengkulu
yaitu dengan merancang perencanaan pembelajaran seperti memberikan jam tambahan
belajar membaca ,menyiapkan buku penunjang lancar membaca ,serta menyiapkan
media karton ,puzzle dan video sebagai media penunjang lancar membaca .
b.
Pelaksanan pembelajaran membaca
kesulitan belajar bagi setiap individu ,tidak selamanya dapat
berlangsung secara wajar. Kadang –kadang lancar ,kadang –kadang tidak ,kadang
–kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari , kadang –kadang terasa amat
sulit .Dalam hal semangat terkadang semangatnya tinggi ,tetapi terkadang juga
sulit untuk mengadakan konsentrasi .Dengan kenyataan yang sering kita jumpai
pada setiap anak didik dalam kehidupan sehari – hari dalam kaitannya dengan
aktivitas belajar .Untuk masalah –masalah seperti kesulitan membaca ini kurang
mendapat perhatian dari guru kelas 1 .pendidik atau guru memiliki tugas untuk
mendorong ,membimbing dan memberikan fasilitas belajar bagi murid –murid untuk
mencapai tujuan .guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu
yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan anak .115
(kusno,dkk,analisis kesulitan membaca ….,h.434)
Dalam pelaksanan pembelajaran membaca, berdasarkan hasil penelitian
,upaya guru kelas dalam mengatasi kesulitan belajar membaca permulaan siswa
dikelas 1 SD Negeri 66 Kota Bengkulu diantaranya yaitu :
-
Guru memberikan jam tambahan belajar membaca bagi siswa
yang masih kesulitan membaca permulaan .
-
Guru menyiapkan sumber belajar dan media penunjang
lancar membaca untuk siswa yang masih tidak bisa membaca permulaan.
Jika kesulitan membaca disebabkan oleh kurangnya penguasaan kosakata
,maka perlu pengayaan kosakata .Bagi siswa yang mengalami kesulitan kurang
mengenali huruf ,guru menerapkan metode yang tepat untuk kelancaran membaca
siswa ,yaitu:
Salah satunya dengan metode
nyanyian dimana huruf dijadikan bahan nyanyian . Menampilkan huruf dan
mendiskusikan karakteristik (bentuknya ), khususnya huruf –huruf yang memiliki
kemiripan bentuk misalnya huruf p,b,dan d . Menggunakan bacaan yang tingkat
kesulitannya rendah. Siswa disuruh menulis kalimat dan membacanya dengan keras. Jika siswa tidak menyadari bahwa dia membaca
kata demi kata ,rekamlah kegiatan siswa membaca dan putarlah hasil rekaman
tersebut kepada siswa.
c.
Evaluasi pembelajaran membaca
Kesulitan belajar merupakan persoalan yang umum dan lumrah terjadi pada
peserta didik dalam akademisnya .meskipun begitu masalah kesulitan belajar pada
peserta didik tidak boleh dipandang remeh .masalah tersebut hendaknya sesegera
mungkin dilakukkan tindakan atau penanganan khusus ,agar anak didik mampu
berhasil menyelesaikan studinya disekolah .pelanan yang diberikan bagi anak
kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik disekolah ,mengingat
kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik disekolah ,mengingat
kesulitan belajar itu sendiri sangat bervariasi jenisnya .
untuk masalah –masalah seperti kesulitan membaca pada siswa sering kali
mendapat perhatian guru .pendidik atau guru setiap harinya berkecimpung dalam
proses pendidikan ,cenderung belum memahami benar siswa yang mengalami
kesulitan belajar.siswa akan berkembang secara optimal melalui perhatian guru
yang positif ,begitupun sebaliknya .salah satu dari tujuh kesalahan yang sering
dilakukan guru salah satunya yaitu menunggu siswa yang berperilaku negatif.
Tidak sedikit guru yang mengabaikan perkembangan siswanya.guru baru memberikan
perhatian kepada siswa ketika mereka ribut, tidak memperhatikan, atau membuat
masalah. Guru akan turun tangan ketika siswa mengalami kesulitan dalam belajar.
Gejala –gejala awal siswamengalami kesulitan tidak diperhatikan oleh
guru,sehingga kesulitan belajar itu semakin parah dan menggagu proses
belajarnya, untuk itu guru perlu untuk senantiasa memperhatikan siswanya.
Berdasarkan hasil penelitian,upaya guru kelas dalam mengatasi kesulitan
belajar permulaan siswa dikelas 1 SD Negeri 66 Kota Bengkulu yaitu melakukkan
evaluasi pembelajaran membaca dengan mengelompokan siswa yang belum lancar
membaca, mengadakan ujian membaca setiap satu bulan sekali dan pada akhir
semester ,serta mengadakan program remedial bagis siswa yang belum lancar
membaca.
2.
Hambatan dalam mengatasi kesulitan belajar membaca
permulaan siswa dikelas 1 SD Negeri 66 Kota Bengkulu
Menurut teori perkembangan teori perkembangan kognitif piaget, siswa
kelas 1 sekolah dasae termasuk dalam tahap operasiaonal konkret (concrete operational
stage ) yang berlangsung dari usia 7 sampai 11 tahun.pada tahap ini sebagian
besar anak memperlihatkan kemajuan yang dramatis dalam mempertahankan dan
mengendalikan atensi. Atensi atau perhatian merupakan salah satu fungsi
kognitif yang terlibat saat proses membaca. Selain itu,pada usia 7 tahun anak
mengalami peningkatan memori jangka pendek (short term memory) meskipun tidak
berlangsung sebanyak ketika anak usia pra operasional (usia 2-7
tahun).116(masykuri, analisi kesulitan membaca permulaan pada siswa kelas 1 mi
pesantren pembangunan cibeunying kecamatan majenang kabupaten cilacap tahun
2017/ 2018, skripsi,(semarang :uin walisongo semarang,2019),h 4
Keterlambatan membaca permulaan terjadi disebabkan adanya kesulitan
dalam belajar membaca yang dialami siswa .kesulitan belajar membaca disebut
juga disleksia (dyslexia) yang artinya
kesulitan membaca. Disleksia merupakan istilah yang umum digunakan dalam dunia
kedokteran yang berkaitan dengan gangguan fungsi neurofisiologis. Menurut Bryan
mendefinisikan disleksia sebagai suatu sindroma kesulitan dalam mempelajari
komponen –komponen kata dan kalimat ,dalam belajar segala sesuatu yang
berkenaan dengan waktu,arah,dan masa. Sementara itu menurut Hornsby
mendefinisikan disleksia tidak hanya kesilitan belajar membaca tetapi juga
menulis .117 (masykuri, analisis kesulitan membaca…..,h.25.)
Keterlambatan membaca dapat dipengaruhi oleh faktor internal yang dapat
dilihat oleh aspek psikologis yaitu kesehatan fisik dari siswa. Fisik yang
lemah juga mempengaruhi belajar siswa ,selain itu peran fungsi –fungsi
fisiologis pada tubuh siswa yang sangat mempengaruhi belajar siswa yang sangat
mempengaruhi belajar siswa yang sangat mempengaruhi yaitu panca indera. Panca
indera sangat penting dalam proses pembelajaran. Juga dipengaruhi oleh faktor
eksternal yang dapat dilihat dari lingkungan sosial. Lingkungan sosial siswa
yaitu keluarga dan lingkungan sekitar siswa. Faktor lingkungan yang paling
berpengaruh pada kesulitan belajar membaca siswa adalah peran orang tua yang
sudah seharusnya memperhatikan perkembangan anaknya,mendampingi,mengarakan dan
memberikan nasehat –nasehat kepada anaknya. Siswa yang dalam kegiatan
belajarnya dirumah didampingi oleh orang tuanya akan mengurangi kesulitan
belajar,karena orang tua ikut serta dalam proses pembelajaran dirumah,selain
itu siswa akan lebih semangat karena orang tua sering mendampingi anaknya saat
belajar .118 masykuri, analisis kesulitan membaca…..,h.25.)
Berdasarkan hasil penelitian,hambatan dalam mengatasi kesulitan belajar
membaca permulaan siswa dikelas 1 SD Negeri 66 Kota Bengkulu diantaranya yaitu:
-
kurangnya minat belajar membaca siswa pada
hakikatnya,siswa kelas 1 SD lebih cenderung menyukai belajar sambil
bermain ,sehingga pihak sekolah terutama guru harus bisa menciptakan
suasana kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan untuk belajar membaca,dan
menyediakan berbagai media yang tepat untuk membantu anak membaca permulaan.
Metode belajar yang diterapkan guru kelas 1 SD Negeri 66 Kota Bengkulu dinilai
belum bervariasi dan ketersediaan media belajar yang dapat digunakan guru masih
terbatas sehingga anak kurang tertarik dan kurang bersemangat dalam kegiatan
belajar membaca permulaan .
-
kurangnya dukungan dari keluarga dalam mengajar siswa
belajar membaca keluarga adalah faktor pendukung utama dalam keberhasilan anak
membaca permulaan ,terutama orang tua yang merupakan guru pertama bagi anak.
Dalam hal ini banyak orang tua yang kurang memberikan perhatian terhadap
anaknya secara maksimal karena banyak orang tua yang sibuk bekerja,menyerahkan
tanggung jawab sepenuhnya kepihak sekolah ,dan juga karena pendidikan orang tua
yang masih rendah ,sehingga pembejaran membaca yang diperoleh anak dirumah
kurang maksimal.
Berdasarkan informasi dari kepala
sekolah dan guru SD Negeri 66 Kota Bengkulu bahwa kesulitan membaca yang
dialami oleh beberapa orang siswa kelas 1 yang menyebabkan terjadinya
keterlambatan siswa dalam membaca permulaan ,salah satunya disebabkan oleh
kurangnya dukungan dari keluarga khusus nya orang tua dalam mengajar siswa
belajar membaca dikarenakan kesibukan orang tua dalam bekerja ,sehingga rang
tua menyerakan sepenuhnya kepada pihak guru untuk mengajar anak –anak mereka
belajar membaca. Padahal mengulang bacaan yang diajarkan disekolah untuk
diulang dirumah baik oleh orang tuanya atau anggota keluarga keluarga yang lain
itu sangat penting dilakukan setiap harinya demi kelancaran anak dalam membaca.
3.
Ada siswa yang tidak sekolah di Taman Kanak-Kanak
sekarang ini taman Kanak-Kanak dirasa sangat perlu
ditempuh oleh anak usia dini,karena sebelum masuk ke sekolah Dasar anak
terlebig dulu harus memiliki kemampuan dasar yaitu membaca dan berhitung yang
diperoleh di taman Kanak-Kanak. Ada beberapa orang siswa SD Negeri 66 Kota
Bengkulu teridentifikasi tidak mengikuti sekolah tingkat Taman Kanak-Kanak
segingga mereka belum memiliki kemampuan mengenal suku kata dan pengalaman
belajar disekolah. Siswa yang tidak sekolah Taman Kanak-Kanak lebih sulit dalam
membaca permulaan daripada anak yang sebelumnya sudah sekolah di Taman
Kanak-kanak.
BAB V PENUTUP
KESIMPULAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang
telah penulis uraikan pada bab sebelumnya,maka penulis membuat kesimpulan
yaitu:
1. upaya guru kelas dalam mengatasi
kesulitan belajar membaca permulaan siswa dikelas 1 SD Negeri 66 Kota
Bengkulu,terdiri dari: a) melakukkan perencanaan pembelajaran membaca yaitu
dengan memberikan jam tambahan belajar membaca, menyiapkan buku penunjang
lancar membaca,serta menyiapkan media karton ,puzzle dan video sebagai media
penunjang lancar membaca; b) melaksanakan pembelajaran membaca yaitu mengadakan
les membaca pada waktu jam tambahan belajar,menerapkan metode yang tepat,serta
memanfaatkan buku khusus,buku LKS dan media penunjang untuk kelancaran membaca
;dan c) melakukkan evaluasi pembelajaran memabaca yaitu dengan mengelompokan
siswa yang belum lancar membaca,mengadakan ujian membaca setiap satu sekali dan
pada akhir semester ,serta mengadakan program remedial bagi siswa yang belum
lancar membaca .
2. hambatan dalam mengatasi kesulitan belajar membaca
permulaan siswa dikelas 1 SD Negeri 66 Kota Bengkulu yaitu: a) kurangnya minat
belajar membaca siswa ; b) kurangnya dukungan dari keluarga dalam menagajar
siswa belajar membaca ; dab c) ada siswa yang tidak sekolah ditaman
kanak-kanak.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang
telah dilakukkan di SD Negeri 66 Kota Bengkulu,maka penulis memberikan saran
sebagai berikut :
1.
Bagi guru
Guru hendaknya dapat memilih dan menggunakan strategi pemebelajaran
membaca permulaan yang sesuai dengan tingkat
kemampuan siswa. Sebelum menentukan strategi pembelajaran yang dapat
digunakan ,ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan yaitu yang
berkaitan dengan tujuan,materi,dan siswa .
2.
Bagi siswa
Pihak sekolah hendaknya melengkapi sumber belajar dan buku yang
berkaitan dengan pembelajaran membaca permulaan yang ketersediaannya masih
tidak sesuai dengan jumlah siswa
3.
Bagi orang tua siswa
Orang tua siswa hendaknya lebih memperhatikan anaknya
dirumah saat anak belajar membaca. Selain itu kebutuhan –kebutuhan belajar
siswa hendaknya dapat dipenuhi dengan baik.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmadi,
Abu dan Widodo Supriyono, 2013.Psikologi
Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Almanshur,
Fauzan Dan Ghony Djunaidi. 2012.Metodologi
Penelitian Kualitatif. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Arikunto,
Suharsimi. 2020. Manajemen Penelitian.
Jakarta: Rineka Cipta
Bella
Oktadian. 2019. “Analisias Kesulitan Belajar Membaca Permulaan Siswa Kelas Ll
Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Di Madrasah Ibtidaiyah Munawariyah
Palembang ". Jip (Jurnal Ilmiah PGMI
)5(2):143-146.
Dalman.
2014. Keterampilan Membaca. Jakarta:
Raja Grafindo
Daradjat,
Zakiyah, dkk, 1992. Ilmu Pendidikan Islam.
Jakarta: Bumi Askara
Departemen
Agama RI. 2003. Undang-Undang Republic Indonesia No 20 Tahun 2003 Tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama
Islam.
Fadila,
nawang, utami, 2020."peranan guru
dalam mengatasi kesulitan belajar siswa SD". Jurnal ilmu pendidikan .2(1):94.
Febrina,
dafit dan rahma mitra. 2021."analisis kesulitan belajar membaca permulaan
siswa kelas 1 sekolah dasar ". qalamuna
jurnal pendidikan,sosial dan agama.13(2):398.
Huberman,Michael
A.and milles B Matthew.2005. qualitative
data analysis.(terjemahan ). Jakarta :UI press.
Husein,
bin Ma`ruf.2020."kesulitan belajar pada siswa sekolah dasar:studi kasus di
sekolah dasar muhammadiyah karangwaru
Yogyakarta ". jurnal cahaya
pendidikan 6 (1):56-67.
Moleong,
J lexy. 2010. Metode penelitian
kualitatif. Bandung: Remaja Rosdayakarya.
Muhammad,
idris dan barizi ahmad. 2010. Menjadi
Guru Unggul. jogjakarta:Ar –Ruzz Media.
Muhibbin,
Syah.2008. Psikologi Pendidikan.
Bandung, Pt Remaja Rosdakarya.
Mulyadi,
2010. Diagnosis Kesulitan Belajar &
Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar Khusus, Yoyakarta: Nuha Litera.
Mulyasa,
E. Dkk. 2011. Menjadi Guru Profesional
Menciptakan Pembelajaran Kreatif Dan Menyenangkan. Bandung: Rosdayakarya.
Mulyono,
Abdurrahman. 2012. Pendidikan Bagi Anak
Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Nasution.
2002. Metodologi Research Penelitian
Ilmiah. Jakarta: Budi Aksara.
Nurdin
Syafruddin. 2003. Guru Professional Dan Implementasi
Kurikulum. Jakarta: Ciputat Press.
Rahim
Farida, 2008. Pengajaran Membaca
Disekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
Riga,
Nurani Zahara Dkk, 2021. "Analisis Kesulitan Membaca Permulaan Pada Anak
Usia Sekolah Dasar". Jurnal Basicedu5(3):1462-1270.
Rini,
Susanti Dwi. 2018. "Strategi Guru Kelas Dalam Mengatasi Dalam Mengatasi
Kesulitan Belajar Akademik Siswa Dalam Pembelajaran Disekolah Dasar". Koseling Edukasi: Journal Of Guidance And
Counceling2(2):147.
Rusman,
Utami Putra Kharisma. 2017. Belajar Dan
Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka
Cipta.
Sabarti,
Akhadiah, Dkk, 1993. Bahasa Indonesia 1.
Jakarta: Departemen Pendidikan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi
Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.
Salim,
Yeni Dan Salim Peter. 2005. Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Jakarta: Modern English Press.
Sri,
Angraeni Wulan, Dkk. 2010. "Analisis Kesulitan Belajar Membaca Siswa
Sekolah Dasar". Jurnal Elementaria
Edukasia4(1):42-54.
Sugihartono,
dkk.2007. psikologi pendidikan.
Yogyakarta: UNY press.
Sugiyono.
2007. Metode penetilian kuantitatif dan
R&D. Bandung: Alfabeta.
Sugiono.
2016.Metode Penelitian Kualitatif,Kualitatif Dan R&D. Bandung : Pt
Alfabeta.
Ulfiatul,
aprilia inka dkk.2021."analisis kesulitan membaca permulaan siswa kelas 1".jurnal penelitian dan pengembangan
pendidikan.5(2):228
Undang-undang
nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional lembar Negara republic
Indonesia.
Usman,
Uzer Moh. 2011. Menjadi Guru Profesional.
Bandung: Remaja Rosdakarya
WS,
indrawan.kamus lengkap bahasa Indonesia.
Jombang:lintas media.
Zubaidah,
E .2013.Kesulitan Membaca Permulan Pada
Anak Diagnosa Dan Cara Mengatasinya. Yogyakarta: Universitas Negeri
Yogyakarta.
[1] Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional,Lembar Negara Republik Indonesia, Jakarta, 2003, h.6
[2] Depatemen Agama RI, (2003), Undang-undang
republik Indonesia No 20 Tahun 2003 Tetang Sistem Pendidikan Nasioanl, Jakarta ׃ Direktorat Jenderal
Kelembagaan Agama Islam, hal, 19
[3] Hasil Wawancara dengan Ibu Apreda
Neti, S.Pd selaku guru Bahasa Indonesia dan Wali Kelas I SD Negeri 66 Kota
Bengkulu.
[4] Indrawan WS, kamus
lengkap bahasa Indonesia ,(jombang :lintas media),h.568.
[5] Dalman, Keterampilan Membaca, (Jakarta: Raja Grafindo, 2014), h.5.
[6] Mitra Rahma dan Febrina Dafit, “Analisis Kesulitan Membaca Permulaan
Siswa Kelas 1 Sekolah Dasar”, Qalamuna -
Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama Vol.13 No.2 (2021), h.398.
[7] Ulfiatul Inka Aprilia, dkk, “Analisis Kesulitan Membaca Permulaan Siswa
Kelas I”, Jurnal Penelitian dan
Pengembangan Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2021), h.228.
[8] Farida Rahim, Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar,
(Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h.124.
[9] E. Zubaidah, Kesulitan Membaca
Permulaan Pada Anak Diagnosa dan Cara Mengatasinya, (Yogyakarta:
Universitas Negeri Yogyakarta, 2013), h.45.
[10] Akhadiah Sabarti.dkk, Bahasa
Indonesia 1, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat
Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan, 1993), h.32-36.
[11]
Mitra Rahma dan Febrina Dafit, “Analisis Kesulitan Membaca Permulaan Siswa Kelas 1 Sekolah Dasar”, Qalamuna - Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama Vol.13 No.2 (2021), h.397-410.
[12]
Ma’ruf Bin Husein, “Kesulitan Belajar Pada Siswa Sekolah Dasar: Studi Kasus Di Sekolah
Dasar Muhammadiyah Karangwaru Yogyakarta”, Jurnal Cahaya Pendidikan Vol.6 No.1 (2020), h.56-67.
[13] Sri
Wulan Anggraeni, dkk, “Analısıs Kesulıtan Belajar Membaca Sıswa Sekolah Dasar”, Jurnal Elementaria Edukasia Vol.4 No.1 (2021), h.42-54.
[14]
Bella Oktadiana, “Analisis Kesulitan Belajar Membaca Permulaan Siswa Kelas II Pada Mata
Pelajaran Bahasa Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah Munawariyah Palembang”, JIP (Jurnal Ilmiah PGMI)
Vol.5 No.2 (2019), h.143-164.
[15] Riga
Zahara Nurani, dkk, “Analisis Kesulitan Membaca Permulaan Pada Anak Usia Sekolah Dasar”, Jurnal Basicedu Vol.5
No.3 (2021), h. 1462 – 1470.
[16] Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Bandung: PT Alfabeta, 2016), h.
[17] Lexy J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010),
h.11.
[18] M.
Djunaidi Ghony dan Fauzan Almanshur, Metodologi
Penelitian Kualitatif, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), h.62.
[19] Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2010), h. 99.
[20] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan
R&D, (Bandung: Alfabeta, 2007), h.226.
[21] Nasution, Metodologi Research Penelitian Ilmiah,
(Jakarta: Budi Aksara, 2002), h.113.
[22] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik…”, h.20.
[23] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan
R&D…”, h. 241
[24] Matthew B Milles and
A. Michael Huberman, Qualitative Data Analysis. (terjemahan), (Jakarta : UI Press, 2005),
h.15-21.
Komentar