Langsung ke konten utama

PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP KARAKTER RELIGIUS SISWA KELAS III DI SDIT IQRA’ 2 KOTA BENGKULU

 

PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP KARAKTER RELIGIUS SISWA KELAS III DI SDIT IQRA’ 2 KOTA BENGKULU

 

 


                                                          SKRIPSI            

 

Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah dan Tadris

Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana

Dalam Bidang Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah

 

 

 

Oleh:

PUTRI WAHYUNI

NIM. 1811240130

 

 

 

 

 

11

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

FAKULTAS TARBIYAH DAN TADRIS (FTT)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERIFATMAWATI SUKARNO BENGKULU

TAHUN 2023

 

Abstrak

 

Nama : Putri Wahyuni, Maret 2023 Judul Skripsi : Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Karakter Religius Siswa Di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu.  Skripsi: Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Tarbiyah dan Tadris, UIN Fatmawati Soekarno Bengkulu

Pembimbing :

1.      Prof. Dr. KH. Zulkarnain Dali,M.Pd.

2.      Hamdan Efendi,M.Pd.I

 

Kata Kunci: Pengaruh Pola asuh Orang Tua, Karakter Religius Siswa

 

Penelitian ini dilatar belakangi oleh peran orang tua dalam membentuk karakter religius anak melalui pengasuhan atau sering disebut pola asuh yang disesuaikan dengan karakter atau kepribadian anak. Pola asuh inilah nantinya akan digunakan sebagai tolak ukur tingkat keberhasilan orang tua dalam membentuk karakter religius Siswa usia 9-10 tahun di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu. Rumusan Masalah dalam penulisan skripsi ini adalah  Adakah pengaruh pola asuh Orang Tua terhadap karakter religius Siswa di di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu? Dan Bagaimana pengaruh pola asuh orang tua terhadap karakter religius siswa kelas III di Di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu? Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola asuh orang tua terhadap karakter religius Siswa di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu. Untuk mengetahui pengaruh pola asuh orang tua karakter religius Siswa usia 9-10 tahun dan untuk mengetahui pengaruh pola asuh otoriter dan demokratis bersama-sama terhadap karakter religius siswa usia 9-10 tahun di di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu.

 

Dalam penelitian ini digunakan 1) Metode penelitian kuantitatif korelasi. 2) Lokasi penelitian di Di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu.

3) Sumber data yaitu responden terdiri dari orang tua dan siswa kelas III usia 9-10 tahun di Di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu dan dokumentasi. 4) Tehnik pengumpulan data menggunaka angket dan dokumentasi. 5) analisis data dilakukan dengan uji validitas instrument, uji realibilitas, uji asumsi klasik dan uji hipotesis dengan uji-T (parsial), uji F dan uji koefisien diterminasi.

Hasil Penelitian : 1). Terdapat pengaruh yang positif mengingat tipe anak di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu sendiri cenderung berani terhadap orang yang lebih tua, Di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu ini sendiri yang ditunjukkan dengan prosentase R square sebesar 31,6%. Artinya sebanyak 31 % lebih orang tua di SD IT IQRA’2 Kota Bengkulu menerapkan pola asuh yang dominan sifatnya memaksakan dalam pengasuhan anak. 2) Terdapat pengaruh yang Positif dan sgnifikan yakni dengan nilai Thitung 2,349>2,048 yang berarti Ha diterima. Dannilai sig sebesar 0,41 dan nilai R square sebesar 31,6 % sisanya 68,4% dijelaskan oleh sebab - sebab yang lain diluar variabel.


 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan pengembangan pembangunan. Oleh karena itu, pemerintah berusaha untuk mewujudkan dunia pendidikan di Indonesia dengan memberikan perhatian khusus dalam dunia pendidikan. Hal ini dilatarbelakangi karena pendidikan merupakan ujung tombak untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas disegala bidang kehidupan yang dapat membawa kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Menurut pasal 1 Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan rencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan  negara. [1]

1

Hubungan pendidikan dan keluarga adalah dapat direalisasikan dalam bentuk perhatian dan keperdulian terhadap anak yaitu dengan menyediakan sarana belajar siswa, memberikan motivasi, memberikan bimbingan, mengingatkan anak-anak terhadap kewajibannya, mengingatkan anak-anak terhadap kebutuhan mereka dan sebagainya.  Interaksi itu sendiri sangat berperan dalam menumbuh-kembangkan potensi fitrah yang ada dalam dirinya. Hal ini sejalan dengan yang dikemukan oleh Siddik bahwa pendidikan Islam mengkonsepsikan keluarga sebagai sekolah pertama. Dalam Al_quran diisyaratkan bahwa tanggung jawab pendidikan sangat besar dalam keluarga. Disinyalir dalam surah al-Tahrim ayat 6:[2]

 

 

 

 

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah

dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Dengan adanya perhatian dan keperdulian dari orang tua maka akan mempengaruhi tingkah laku anak yang akan berpengaruh pula terhadap hasil belajar yang diharapkan. Seharusnya orang tua dapat berperan dalam menciptakan suasana yang mendorong anak senang belajar, yaitu dengan memberikan keamanan dan kebebasan psikologis pada anak yang akan mendorong terciptanya komunikasi yang aktif antara orang tua dengan anaknya. Komunikasi dan koordinasi antara orang tua dan pihak sekolah juga perlu dibina dan dijaga agar keduanya terlibat dalam pendidikan siswa dan diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.[3]

Lingkungan pertama dalam pendidikan yang dikenal oleh anak adalah keluarga. Keluarga adalah sekelompok orang yang menyatu dalam ikatan pernikahan, sedarah atau adopsi, mendirikan suatu rumah tangga, melakukan interaksi dan komunikasi berkelanjutan dalam respektif pada aturan sosial dari suami dan istri, ayah dan ibu, anak laki-laki dan anak perempuan, menghasilkan dan memelihara suatu budaya umum. Artinya, bahwa keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terbentuk akibat adanya perkawinan berdasarkan agama dan hukum yang sah. Pengaruh dalam keluarga terutama peran orang tua sangat penting karena keluarga merupakan awal pembelajaraan bagi seorang anak.[4]

Karakteristik anak adalah meniru apa yang dilihat, didengar, dirasa dan dialami, maka karakter mereka akan terbentuk sesuai dengan pola asuh orang tuanya. Dengan kata lain anak akan belajar apa saja termasuk karakter, melalui pola asuh yang dilakukan orang tua. Pendidikan karakter adalah pendidikan sepanjang hayat, sebagai proses perkembangan ke arah manusia sempurna. Oleh karena itu, pendidikan karakter memerlukan keteladanan dan sentuhan mulai sejak dini sampai dewasa.[5]

Pendidikan karakter akan berjalan efektif dan utuh jika melibatkan tiga institusi, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Pendidikan karakter tidak akan berjalan dengan baik jika mengabaikan salah satu institusi, terutama keluarga. Pendidikan informal dalam keluarga memiliki peran penting dalam proses pembentukan karakter seseorang. Salah satu upaya untuk mewujudkan kebijakan tersebut adalah dengan menekankan pentingnya pendidikan karakter untuk diimplementasikan dalam setiap institusi pendidikan, baik formal (sekolah), informal (keluarga) dan non formal (masyarakat).[6]

Berdasarkan hasil dari observasi dan wawancara yang dilaksanakan di SDIT IQRA’ 2 Kota Bengkulu. Wali kelas III mengatakan pengaruh pola asuh orang tua terhadap karakter religius siswa sangatlah penting. Di kelas III peran pola asuh orang tua sudah cukup baik, namun  peran pola asuh orang tua setiap anak pasti berbeda-beda. Terdapat peran pola asuh orang tua yang cenderung keguru dan adapula yang cenderung ke orang tua. Tetapi, sebagian orang tua memberikan tanggung jawabnya cenderung ke guru. Pada saat peneliti melakukan pengamatan juga terlihat anak-anak yang suka menjahili temannya dan tidak serius dalam melaksanakan sholat.

Dalam pola asuh orang tua terhadap pembentukan karakter religius tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui suatu proses yakni dengan pola asuh orang tua yang demokratis. Melalui orang tua, anak mengembangkan seluruh potensi dirinya. Konsep orang tua di sini bukan hanya orang tua yang melahirkan anak, melainkan orang tua yang mengasuh, melindungi dan memberikan kasih sayang kepada anak seperti guru yang ada di sekolah. Orang tua yang baik adalah mereka yang mampu mendidik anaknya sesuai dengan tuntunan islam karena setiap anak terlahir keadaan fitrah yang kemudian orang tuanya memiliki tanggung jawab penuh dalam mengarahkan anak-anaknya kepada hal-hal yang baik.

Karakter religius ini dapat meminimalisir akibat buruk dari arus perkembangan pola asuh orang tua yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan karakter religius anak. Karakter religius yang ditanamkan sejak dini oleh orang tua dapat mempermudah perjalanan hidupnya kelak. Agar tercapainya hal tersebut diperlukan orang tua yang sadar tentang pentingnya Pendidikan keagamaan di dalam keluarga. Dengan kata lain, melalui Pendidikan di dalam keluarga merupakan salah satu jalan yang efektif membangun karakter religius anak.

Dari uraian di atas peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana pola asuh orang tua dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap karakter religius anak dan melakukan penelitian yang berjudul Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Karakter Religius Siswa Kelas III di SDIT IQRA 2 Kota Bengkulu.

 

B.     Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian yang ada di latar belakang timbul permasalahan yaitu:

1.      Siswa suka menjahili teman

2.      Siswa tidak khusyuk atau bermain-main dalam pelaksanaan shalat

3.      Penerapan pola asuh orang tua yang baik belum tentu membentuk karakter religius anak yang baik.

C.    Batasan Masalah

1.      Pengaruh pola asuh orang tua terhadap karakter religius siswa

2.      Siswa pada penelitian ini adalah siswa kelas III di SDIT IQRA 2 Kota Bengkulu

 

D.     Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas, maka peneliti menemukan 2 rumusan masalah yang akan menjadi bahan penelitian adalah:

1.      Adakah  pengaruh  pola asuh orang tua terhadap karakter religius siswa kelas III di SDIT IQRA’ 2 Kota Bengkulu?

2.      Bagaimana pengaruh pola asuh orang tua terhadap karakter religius siswa kelas III di Di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu?

 

E.     Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah: Untuk mengetahui tentang apakah ada pengaruh  pola asuh orang tua terhadap karakter religius siswa kelas III di SDIT IQRA’ 2 Kota Bengkulu.

 

F.     Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah:

1.      Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memeberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya mengenai pengaruh pola asuh orang tua terhadap karakter religius siswa.

2.      Manfaat Praktis

Manfaat penelitian secara praktis dibagi kepada pihak perguruan tinggi, orang tua, masyarakat dan peneliti lain.

a.       Pihak Perguruan Tinggi. Diharapkan dapat dijadikan acuan sebagai salah satu acuan untuk penelitian-penelitian selanjutnya.

b.      Pihak Orang Tua. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan masukan sebagai refleksi dalam strategi pemberian bimbingan dn pengasuhan bagi putra-putrinya di lingkungan keluarga, sehingga dapat mencegah secara dini kemungkinan-kemungkinan perilaku negatif yang dapat menyebabkan rendahnya prestasi belajar anak.

c.       Pihak Masyarakat. Khususnya masyarakat yang ada di lingkungan sekolah dan masyarakat pada umunya, diharapkan sebagai bahan masukan dan tindak lanjut kepedulian akan pembinaan dan pencegahan kemungkinan munculnya kesalahan dalam pola asuh anak terhadap karakter religius siswa.

 

 

 


 

BAB II

LANDASAN TEORI

A.    Kajian Teori

1.      Pengertian Pola Asuh Orang Tua

Pola asuh terdiri dari dua kata yaitu pola dan asuh. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pola berarti corak, model, sistem, cara kerja, bentuk  strukur yang tetap. Sedangkan kata asuh dapat berarti menjaga (merawat dan mendidik) anak kecil, membimbing (membantu, melatih dan sebagainya) dan memimpin (mengepalai dan menyelenggarakan) suatu badan atau lembaga.[7]

Secara epistimologi kata pola diartikan sebagai cara kerja dan kata asuh berarti merawat dan mengasuh anak kecil, membimbing dan melatih supaya dapat berdiri sendiri, atau dalam bahasa populernya adalah cara mendidik. Secara terminologi pola asuh orang tua adalah cara terbaik yang ditempuh oleh orang tua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari tanggung jawab kepada anak.[8]

8

Pola asuh atau sering disebut parenting merupakan pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relatif dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak, dari segi positif dan negatif. Secara sederhana pengasuhan adalah proses pendidikan, pembelajaran dan pembentukan anak-anak kita menuju masa depan sehingga penting untuk dipahami dan dikuasai dengan sebaik-baiknya.[9]

Pengertian pola asuh orang tua secara harfiah mempunyai maksud pola interaksi antara orang tua dan anak. Pola interaksi ini merupakan bagaimana sikap atau perilaku orang tua saat berhubungan dengan anak. Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan pada anak yang relatif, konsisten dari waktu ke waktu yang dapat dirasakan oleh anak baik dari segi positif maupun negatif.[10]

Pola asuh orang tua merupakan suatu keseluruhan dimana orang tua yang memberikan dorongan bagi anak dengan mengubah tingkah laku, pengetahuan dan nilai-nilai yang dianggap paling tepat bagi orang tua agar anak bisa mandiri, tumbuh serta berkembang secara sehat dan optimal, memiliki rasa percaya diri, memiliki sifat rasa ingin tahu, bersahabat dan berorientasi untuk sukses.[11]

Pola asuh orang tua ini juga akan menentukan terhadap tingkah laku seorang anak. Ketika orang tua menerapkan pola asuh yang benar dan tepat, maka akan menghasilkan generasi yang baik. Begitupun sebaliknya ketika orang tua menerapkan pola asuh yang salah dalam mendidik seorang anak, maka hasilnya pun tidak sesuai dengan yang diharapkan. [12]

Pola asuh orang tua adalah sikap dan cara orang tua dalam mempersiapkan anggota keluarga yang lebih mudah termasuk anak supaya dapat mengambil keputusan sendiri dan bertindak sendiri sehingga mengalami perubahan dari keadaan bergantung kepada orang tua menjadi berdiri sendiri dan bertanggung jawab sendiri.[13]

a.       Jenis-jenis pola asuh orang tua dalam mendidik anak ada tiga macam, yaitu :

1)      Pola Asuh Demokratis yaitu ditandai dengan adanya pengakuan orang tua terhadap kemampuan anak, anak diberi kesempatan untuk tidak selalu tergantung kepada orang tua. Pola asuh demokratis ini memiliki sisi positif dari anak, terdapat juga sisi negatifnya. Dimana anak cenderung merongrong kewibawaan otoritas orang tua karena segala segala sesuatu itu harus dipertimbangkan oleh anak kepada orang tua.

Orang tua yang mendidik anaknya dengan sikap demokrasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a)      Komunikasi orang tua dan anak

Sikap demokrasi itu berkembang dari kebiasaan komunikasi di dalam rumah tangga, komunikasi berperan sebagai sarana pembentukan moral anak. Melalui interaksi dengan orang tuanya, anak mengetahui tentang apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Dalam membangu komunikasi dengan anak harus memperhatikan prinsip-prinsip di bawah ini:

a.       Menyediakan waktu

Dewasa ini orang tua yang berkerja di luar rumah banyak waktunya untuk menjalankan pekerjaannya, sehingga waktu untuk anak-anaknya berkurang dan minim sekali bisa komunikasi dengan anaknya.

Dalam hal ini orang tua yang rela mengorbankan waktunya untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya berarti orang tua tersebut sudah mengasihi dan memperhatikan anaknya.

b.      Berkomunikasi secara pribadi

Berkomunikasi secara pribadi berarti komunikasi diadakan secara khusus dengan anak, sehingga akan dapat mengetahui perasaan yang sedang dialami oleh anaknya, baik perasaan Ketika anak senang, marah dan gembira.

c.       Menghargai anak

Orang dewasa sering meremehkan anak, baik dalam keadaan sadar atau tidak sadar. Padahal seiring dengan kemajuan IPTEK besar kemungkinan kemampuan seorang anak dapat melebihi orang dewasa, maka usahakanlah orang tua untuk menhargai anak dan menerima pendapat anak.

d.      Mempertahankan hubungan

Komunikasi yang baik selalu didasarkan pada hubungan yang baik, orang tua yang selalu menjaga hubungan yang baik dengan anak dan menganggap anaknya sebagai teman, sehingga berkait kedekatan mereka, anaknya dapat mengutarakan isi hatinya dengan terbuka.[14]

 

b)      Menerima Kritik

Sikap demokrasi juga ditandai dengan adanya perilaku positif orang tua untuk memberikan contoh atau keteladanan kepada anak sangat penting, karena pendidikan dengan suri tauladan akan lebih efektif dari pada orang tua hanya sekedar memerintah tanpa memberikan contoh. Jika orang tua mampu memberikan contoh-contoh positif, anak akan mengikuti dan kebiasaan seprti ini akan membuat anak cepat meraih sukses. Begitu juga sebaliknya, jika anda sebagai orang tua tidak dapat memberikan contoh perilaku buruk, maka anak anda juga akan melakukan hal yang sama. Oleh sebab itu, sebagai orang tua kita harus menerima kritik dari anak jika kritikan tersebut bersifat positif.[15]Pola asuh demokratis memiliki ciri-ciri sebagai beriku:

a.       Orang tua memberi aturan yang jelas

b.      Orang tua memberikan penjelasan akibat yang terjadi apabila melanggar peraturan

c.       Orang tua memberi kesempatan untu berpendapat

d.      Orang tua memberikan kebebasan kepada anak dalam memilih atau berperilaku

Pola asuh demokratis akan berpengaruh pada sifat dan kepribadian anak, diantaranya:

a.       Bersikap bersahabat

b.      Percaya kepada diri sendiri

c.       Mampu mengendalikan diri

d.      Memiliki rasa sopan

e.       Mau bekerja sama

f.       Memiliki rasa ingin tahu tang tinggi

g.      Mempunyai tujuan dan arah hidup yang jelas

h.      Berorientasi terhadap prestasi

Anak merupakan sumber kebahagiaan keluarga. Oleh karena itu, orang tua hendaklah menyadari kewajiban dan tanggung jawabnya terhadap anak. Anak sangatlah memerlukan perawatan, asuhan, bimbingan dan pendidikan yang benar demi kelangsungan hidupnya, anak juga akan berhasil secara intelektual dan sosial, menikmati kehidupan dan memiliki motivasi yang kuat untuk maju.[16]

 

2)      Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang ditandai dengan cara mengasuh anak-anak dengan aturan yang ketat, sering kali memaksa anak untuk berperilaku seperti orang tua.

Pola asuh otoriter ini juga dapat diartikan sebagai pola asuh di mana orang tua menerapkan aturan dan batasan yang mutlak harus ditaati tanpa memberi kesempatan pada anak untuk berpendapat jika anak tidak mematuhi akan diancam dan dihukum. Pola asuh otoriter ini dapat menimbulkan akibat hilangnya kebebasan pada anak, inisiatif dan aktivitasnya menjadi kurang, sehingga anak menjadi tidak percaya diri pada kemampuannya.

Ciri-ciri pola asuh otoriter di antaranya :[17]

a)      Orang tua berupaya untuk membentuk, mengontrol dan mengevaluasi sikap dan tingkah laku anaknya secara mutlak sesuai dengan aturan orang tua.

b)      Orang tua menerapkan kepatuhan/ketaatan kepada nilai-nila yang terbaik menuntut perintah, bekerja dan menjaga tradisi.

c)      Orang tua senang memberi tekanan secara verbal dan kurang memperhatikan masalah saling menerima dan memberi di anatara orang tua dan anak.

d)     Orang tua menekan kebebasan (independent) atau kemandirian (otonomi) secara individual kepada anak.

Akibatnya anak cenderung memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a)      Mudah tersinggung

b)      Penakut

c)      Pemurung tidak bahagia

d)     Mudah terpengaruh dan mudah stress

e)      Tidak mempunyai masa depan yang jelas

f)       Tidak bersahabat

g)      Gagap (rendah diri)

Orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter akan memberikan pengontrolan terhadap perilaku anaknya. Hal ini akan berdampak untuk meminimalisir gangguan dari luar berupa pergaulan bebas, narkoba dan tindak kriminal lainnya. Disiplin yang diterapkan dengan fungsi sebagai pedoman dalam melakukan penilaian terhadap tingkah laku anak. Peraturan dan hukuman yang mendidik untuk penanaman dasar moral dan kebiasaan yang baik sebelum anak memasuki usia dewasa.[18]

Pola asuh ini diterapkan oleh orang tua terhadap anak dalam hal pilihan nilai hidup atau hal-hal yang bersifat prinsip. Dan para orang tua dituntut untuk mengenalkan, membimbing, memberi teladan dan melibatkan seluruh anggota keluarga untuk mengenal akidah-akidah agama dan perilaku beragama.[19]

 

3)      Pola Asuh Permisif adalah membiarkan anak bertindak sesuai dengan keinginannya, orang tua tidak memberikan hukuman dan pengendalian. Pola asuh permisif dapat diartikan sebagai pola perilaku orang tua dalam berinteraksi dengan anak yang membebaskan anak untuk melakukan apa yang ingin dilakukan tanpa mempertanyakan. Pola asuh ini tidak menggunkan aturan-aturan yang ketat bahkan bimbingan pun kurang diberikan, sehingga tidak ada pengendalian atau pengontrolan serta tuntutan kepada anak. Ciri-ciri pola asuh permisif yaitu :

a)      Kontrol orang tua terhadap anak sangat lemah.

b)      Memberikan kebebasan kepada anak untuk dorongan atau keinginannya.

c)      Anak diperbolehkan melakukan sesuatu yang dianggap benar oleh anak.

d)     Hukuman tidak diberikan karena tidak ada aturan yang mengikat.

e)      Kurang membimbing.

f)       Anak lebih berperan dari pada orang tua.

g)      Kurang tegas dan kurang komunikasi.

 Sebagai akibat dari pola asuh ini terhadap kepribadian anak adalah akibatnya banyak orang wali maupun wali tempat
anak dititipkan yang tidak mampu menjalankan pola asuh kepada anak dengan baik. Banyak anak tidak
mendapatkan perhatian penuh dari orang
tua maupun walinya sehingga kepribadian anak tidak terbentuk dengan
baik dan tidak banyak juga akibat kurangnya pola asuh orantua ini membuat prestasi anak menjadi kurang
bahkan menurun.[20]

 

b.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh Orang Tua

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pola asuh orang tua, yaitu karakteristik orang tua yang berupa:[21]

a)      Kepribadian Orang Tua

Setiap orang berbeda dalam tingkat energi, kesabaran, intelengensi, sikap dan kemalangannya. Karakteristik tersebut akan mempengaruhi kemampuan orang tua untuk memenuhi tuntutan peran sebagai orang tua dan bagaimana tingkat sensitifitas orang tua terhadap kebutuhan anak-anaknya.

b)      Keyakinan

Keyakinan yang dimiliki orang tua mengenai pengasuhan akan mempengaruhi nilai dari pola asuh dan akan mempengaruhi tingkah laku dalam mengasuh anak-anaknya.

c)      Persamaan dengan pola asuh yang diterima orang tua

Bila orang tua merasa bahwa orang tua mereka dahulu berhasil menerapkan pola asuhnya pada anak dengan baik, maka orang tua akan menggunakan teknik yang serupa.

Adapun faktor pendorong pola asuh orang tua dalam mendidik anak adalah sebagai berikut:[22]

a.       Faktor Pendidikan

Pendidikan yang baik merupakan wahana untuk membangun sumber daya manusia dan sumber daya manusia itu terbukti menjadi faktor terpenting bagi keberhasilan seseorang yang akan mempengaruhi pembangunan dan kemajuan suatu bangsa. Seseorang dengan tingkat pendidikan yang baik bisa bersaing secara jujur, lebih bijak dalam berpikir atau memutuskan suatu masalah, karena wawasannnya luas sehingga kepandaiannya sangat bermanfaat untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Pendidikan adalah kunci utama untuk dapat mengajarkan anak bagaimana bersikap dan berperilaku dalam kehidupannya. Oleh sebab itu, orang tua harus memahami sedari dini bahwa pendidikan orang tua ikut mewarnai karakter anak di masa depannya.

b.      Faktor Keagamaan

Aqidah, akhlak dan iman merupakan faktor terpenting yang harus dikenalkan sejak dini pada anak-anak. Dalam rangka mencapai keselamatan anak, agama memegang peranan penting. Maka orang tua yang mempunyai dasar agama kuat, akan kaya berbagai cara untuk melaksanakan upaya terbaik bagi psikis maupun fisik terhadap anak. Pengajaran, bimbingan dan arahan orang tua kepada anak-anaknya akan mengacu pada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan aturan yang berlaku dalam agama.[23]

Banyak orang tua yang bermimpi agar anak-anak mereka memiliki ilmu agama meskipun mereka sendiri tidak memilikinya. Motivasi mereka tergolong baik karena mereka tidak ingin membuat sengsara kehidupan anak-anaknya di dunia dan akhirat kelak.

 

c.       Faktor Lingkungan

Lingkungan juga menjadi faktor yang sangat kuat mempengaruhi upaya orang tua secara psikis dan fisik terhadap anak. Pengaruh lingkungan ada yang baik dan ada yang buruk. Wajib bagi orang tua menjauhkan anaknya dari lingkungan yang buruk. Jangan sampai anak yang sudah dibentengi dengan pendidikan yang baik.

Maka dapat diketahui pola asuh orang tua adalah pola yang diberikan orang tua dalam mendidik atau mengasuh anak baik secara langsung maupun tidak secara langsung. Cara mendidik secara langsung artinya bentuk asuhan orang tua yang berkaitan dengan pembentukan kepribadian, kecerdasan dan ketrampilan yang dilakukan secara sengaja, baik berupa perintah, larangan, hukuman, penciptaan situasi maupun pemberian hadiah sebagai alat pendidikan. Sedangkan mendidik secara tidak langsung adalah merupakan contoh kehidupan sehari-hari mulai dari tutur kata sampai kepada adat kebiasaan dan pola hidup, hubungan orang tua, keluarga, masyarakat dan hubungan suami istri.

Pola asuh orang tua terhadap anak merupakan bentuk interaksi antar anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan yang berarti orang tua mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma yang berlaku dalam lingkungan setempat dan masyarakat. Hal tersebut merupakan perlakuan dari orang tua dalam rangka memberikan perlindungan dan pendidikan anak dalam kehidupan sehari-hari serta bagaimana sikap orang tua dalam berhubungan dengan anak-anaknya. Orang tua mempunyai peran yang sangat penting dalam menjaga, mengajar, mendidik, serta memberi contoh bimbingan kepada anak-anak untuk mengetahui, mengenal, mengerti dan akhirnya dapat menerapkan tingkah laku yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Peran ayah dan ibu dalam membimbing anaknya sangatlah penting karena pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama yang memiliki peran sentral dalam pembentukan dan pertumbuhan kepribadiannya.

Di dalam keluarga, anak mendapatkan kesempatan yang banyak untuk memperoleh pengaruh bagi perkembangannya, yang diterimanya dengan jalan meniru, menurut, mengikuti dan mengindahkan apa yang dilakukan dan dikatakan oleh seluruh keluarga.

 

2.    Pengertian Karakter Religius Siswa

Secara teoritis karakter terdiri atas nilai-nilai operatif, nilai-nilai yang berfungsi dalam keseharian. Karakter terbentuk dari tiga macam bagian yang saling berkaitan, yaitu pengetahuan moral, perasaan moral dan perilaku moral. Artinya untuk mampu memahami karakter yang baik terlebih dahulu harus mengetahui kebaikan, menginginkan kebaikan dan melakukan kebaikan.[24]

Pencanangan pendidikan karakter oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada peringatan hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2010 terkesan tidak bergaung luas. Hal ini karena saat itu memang belum ada tindak lanjut kebijakan mengenai pendidikan karakter. Namun demikian, tren pendidikan karakter yang diawali melalui peringatan Hari Pendidikan Nasional tersebut sekarang ini mulai mendapat respon berbagai pihak, khususnya para pelaku pendidikan yang concern terhadap pendidikan karakter.[25]

Karakter merupakan sifat kejiwaan atau tabiat seseorang yang membedakannya dengan orang lain. Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki undang-undang yang mengatur segala hal yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Salah satunya adalah Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Pasal (3) dari Undang-Undang tersebut disebutkan bahwa: “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.[26]

Karakter juga merupakan nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan yang membedakan dengan orang lain serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Karakter itu sama dengan akhlak dalam pandangan islam. Akhlak dalam islam adalah kepribadian. Kepribadian itu komponennya ada tiga yaitu pengetahuan, sikap dan perilaku.[27]

Karakter ini juga dapat merupakan pembentuk sikap dan perilaku seseorang dalam bertindak. Karakter mencerminkan bagaimana orang tersebut menjalani kehidupan sehari-hari. Karakter seseorang muncul apabila terjadi interaksi dalam sebuah entitas sosial, baik pada masyarakat perkotaan maupun masyarakat pedesaan. Karakter mengandung nilai-nilai yang khas (nilai baik, nilai berbudaya, nilai yang berdampak baik dalam lingkungan) dan terpatri dalam diri sehingga akan terwujud dalam perilaku sehari-hari. Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir (intellectual development), olah hati (spiritual and emotional development), olahraga (physical development), serta olahrasa (affective development) dan karsa(creativity development) seseorang atau suatu kelompok masyarakat.[28]

Dalam upaya pembentukan karakter ini dimulai dari keluarga sebagai awal pembangunan karakter anak. Tempat lain yang menjadi sangat krusial adalah lembaga pendidikan tempat anak-anak bersekolah dan mencetak generasi muda yang berintelektual tinggi dan berperilaku terpuji. Berkaitan dengan hal tersebut pendidikan karakter dianggap sebagai solusi penting untuk menyelesaikan berbagai fenomena kerapuhan moral yang terjadi. Pendidikan karakter mempunyai kekhususan yang sangat umum serta beraspek multikasus karena termasuk aspek-aspek yang sampai sekarang dilakukan dan dibangun yang meliputi: [29]

a)      Pembangunan karakter merupakan sesuatu yang sangat esensi sebagai upaya menumbuhkan dan membangun perilaku generasi muda.

b)      Pendidikan karakter berfungsi sebagai nahkoda dalam pembentukan perilaku dan norma agar sesuai dengan ciri khas bangsa.

Kata religius berasal dari kata religi yang artinya kepercayaan atau keyakinan pada sesuatu kekuatan kodrati diatas kemampuan manusia. Kemudian religius dapat diartikan sebagai keshalihan atau pengabdian yang besar terhadap agama. Keshalihan tersebut dibuktikan dengan melaksanakan segala perintah agama dan menjauhi apa yang dilarang oleh agama. Tanpa keduanya seseorang tidak pantas menyandang perilaku predikat religius. Dan karakter religius secara umum diartikan sebagai sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran  terhadap pelaksanaan ibadah  agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Dalam pengertian ini jelas bawasannya karakter religius merupakan pokok pangkal terwujudnya kehidupan yang damai.[30]

Religius merupakan suatu pemahaman nilai yang berkaitan dengan sesuatu yang bersifat ketuhanan atau keagamaan. Nilai religius dapat dikatakan sebagai pengamalan internalisasi dan aktualisasi seseorang terhadap nilai-nilai kepercayaan yang di yakini. Pada dasarnya nilai ini akan menuntun dan menjadikan setiap individu memiliki karakter yang baik karena setiap kepercayaan akan mengajarkan nilai-nilai kebajikan baik dalam hubungan vertikal terhadap pencipta maupun horizontal terhadap sesama manusia.[31] Pendidikan agama dan pendidikan karakter adalah dua hal yang saling berhubungan, nilai-nilai yang dikembangkan dalam Pendidikan karakter di Indonesia didentifikasikan berasal dari empat sumber, yaitu agama, pancasila, budaya dan tujuan Pendidikan nasional.[32]

Secara spesifik, pendidikan karakter yang berbasis nilai religius mengacu pada nilai-nilai dasar yang terdapat dalam agama (Islam). Nilai-nilai karakter yang menjadi prinsip   dasar   pendidikan   karakter   banyak ditemukan   dari   beberapa   sumber, di antaranya  nilai-nilai  yang  bersumber  dari  keteladanan  Rasulullah Muhammad  SAW yang terjewantahkan dalam  sikap  dan  perilaku  sehari-hari  beliau,  yakni:[33]

a.       Shiddiq adalah  sebuah  kenyataan  yang  benar  yang  tercermin  dalam  perkataan, perbuatan atau tindakan dan keadaan batin. Pengertian shiddiq dijabarkan ke dalam butir-butir:

1)      Memiliki  sistem  keyakinan  untuk  merealisasikan  visi,  misi  dan tujuan

2)      Memiliki kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, jujur, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia.

b.      Amanah adalah  sebuah  kepercayaan  yang  harus  diemban  dalam  mewujudkan sesuatu  yang  dilakukan  dengan  penuh  komitmen,  kompeten, kerja  keras  dan konsisten. Pengertian amanah dijabarkan ke dalam butir-butir:

1)      Rasa memiliki dan tanggung  jawab  yang  tinggi

2)      Memiliki  kemampuan  mengembangkan  potensi secara optimal

3)      Memiliki kemampuan mengamankan dan menjaga kelangsungan hidup

4)      Memiliki kemampuan membangun kemitraan dan jaringan

c.       Tabligh adalah   sebuah   upaya   merealisasikan   pesan   atau   misi   tertentu   yang dilakukan   dengan   pendekatan   atau   metode   tertentu.   Jabaran   pengertian   ini diarahkan  pada:

1)      Memiliki  kemampuan  merealisasikan  pesan  atau  misi

2)      Memiliki  kemampuan  berinteraksi  secara  efektif;  dan

3)      Memiliki  kemampuan menerapkan pendekatan dan metodik yang tepat.

d.      Fathanah adalah  sebuah  kecerdasan,  kemahiran,  atau  penguasaan  bidang  tertentu yang mencakup kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Karakteristik jiwa fathanah meliputi  arif  dan  bijak,  integritas  tinggi,  kesadaran  untuk  belajar,  sikap proaktif,  orientasi  kepada  Tuhan,  terpercaya  dan  ternama,  menjadi  yang  terbaik, empati  dan  perasaan  terharu,  kematangan  emosi,  keseimbangan,  jiwa  penyampai misi,  dan  jiwa  kompetisi. Sifat fathanah  dijabarkan  ke  dalam  butir-butir:

1)      Memiliki  kemampuan  adaptif  terhadap  perkembangan  dan  perubahan  zaman

2)      Memiliki  kompetensi  yang  unggul,  bermutu  dan  berdaya  saing

3)      Memiliki kecerdasan intelektual, emosi, dan spiritual

Pembentukan karakter religius dapat dilakukan dengan menumbuhkan kebiasaan religius  dalam  kehidupan  sehari-hari. Salah  satu  metode  yang  tepat  dalam  proses pembentukan  karakter  religius  adalah  dengan  membangun  kebiasaan  yang  baik  dan meninggalkan kebiasaaan yang buruk dengan dasar bimbingan, latihan dan upaya  yang keras. Karakter  religius  dapat  terbentuk  dengan  baik  apabila mendapat dukungan yang baik dari semua ruang lingkup pendidikan termasuk orang tua sebagai  lembaga  pendidik  utama. Pendidikan karakter  religius dilakukan dengan membentuk pikiran, perkataan dan perilaku yang berlandaskan nilai-nilai agama. Nilai-nila agama  dalam  kehidupan  sehari-hari dapat ditanamkan oleh orang tua melalui kegiatan persembahyangan, perilaku jujur, rasa bersyukur dan kemampuan menghargai budaya serta keyakinan orang lain.[34]

Jadi, yang dimaksud dengan istilah karakter religius ini adalah watak, tabiat, akhlak atau kepribadian, sikap, perilaku seseorang yang terbentuk dan internalisasi berbagai kebijakan yang berlandaskan ajaran-ajaran agama. Kebijakan tersebut dibuktikan dengan melaksanakan perintah agama dan menjauhi larangan agama. Sumber karakter religius ini merupakan ajaran agama islam yang di dalamnya terdapat dua sumber nilai, yaitu nilai illahiyah yang berhubungan dengan Allah SWT dan nilai insaniyah yang berhubungan dengan manusia. Jadi melalui internalisasi tersebut siswa nantinya akan memiliki karakter religius yang sesuai dengan perintah agama.

Karakter religius adalah suatu penghayatan ajaran agama yang dianutnya dan telah melekat pada diri seseorang dan memunculkan sikap atau perilaku dalam kehidupan sehari-hari baik dalam bersikap maupun dalam bertindak yang dapat membedakan dengan karakter orang lain.

Pendidikan agama dan pendidikan karakter adalah dua hal yang saling berhubungan, nilai-nilai yang dikembangkan dalam Pendidikan karakter di Indonesia didentifikasikan berasal dari empat sumber, yaitu agama, pancasila, budaya dan tujuan Pendidikan nasional.[35]

 

B.     Kajian Hasil Penelitian Yang Relevan

Secara umum penelitian ini membahas tentang pengaruh pola asuh orang tua untuk mengetahui kenyataan dari penelitian ini, diperlukan adanya pencarian dan penelusuran terhadap penelit yang sudah ada. Dan terkait dengan permasalahan dari penelitian ini, maka telah dijumpai beberapa hasil penelitian tersebut sebagai berikut:

1)      Penelitian ini dilakukan oleh Fitri Alfani, skripsi tahun 2016 dengan judul: Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Karakter Religius Anak Di Dusun Tegal Sari Desa Pasir Jaya Kecamatan Rambah Hilir Kabupaten Rokan Hulu, hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Penelitian ini dilatarbelakangi dengan adanya kemerosotan karakter-karakter anak bangsa. Terutama karakter religius generasi muda saat ini. Tempat pertama dan paling utama untuk pembentukan karakter religius anak yang paling tepat adalah keluarga. Oleh karena itu, rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana pengaruh pola asuh orang tua terhadap pembentukan karakter religius anak di Dusun Tegal Sari Desa Pasir Jaya Kecamatan Rambah Hilir Kabupaten Rokan Hulu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pola asuh orang tua terhadap pembentukan karakter religius anak di Dusun Tegal Sari Desa Pasir Jaya Kecamatan Rambah Hilir Kabupaten Rokan Hulu. Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Instrumen pengumpulan data yang digunakan yaitu angket yang terdiri dari 25 pertanyaan tentang pola asuh orang tua (variabel X) dan 43 pertanyaan pembentukan karakter religius anak (variabel Y) yang disebarkan kepada 34 responden muslim. Analisis data dengan menggunakan regresi linear berganda. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan “terdapat pengaruh ola asuh orang tua terhadap pembentukan karakter religius anak di Dusun Tegal Sari Desa Pasir Jaya Kecamatan Rambah Hilir Kabupaten Rokan Hulu” diterima. Hal ini dibuktikan dengan serangkaian uji regresi linear berganda antara variabel X dan Variabel Y, diperoleh Fhitung 4,744 dan Ftabel 2,92 didapat dari daftar distribusi Ftabel  dengan N=34, pada taraf signifikan 5%, dengan demikian Fhitung   Ftabel atau 4,744 2,92. Berdasarkan taraf signifikan, pola asuh otoriter tidak signifikan yaitu 0,496    0,05, pola asuh permisif tidak signifikan yaitu 0,130  0,05 dan pola asuh demokratis signifikan yaitu 0,043  0,05.[36]

2)      Penelitian ini dilakukan oleh Lela Siti Nurlaela, skripsi tahun 2020 dengan judul: Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Pembentukan Karater Anak Pada Siswa Kelas III Mandrah Ibtidaiyah Tahfizhul Qur’an Asasul Huda Ranjikulon, hasil penelitian menunjukkan Lingkungan keluarga memiliki kaitan yang sangat erat dalam membentuk karakter seorang anak. Oleh karena itu, hendaknya orang tua lebih berhati-hati lagi dalam mendidik seorang anak, agar anak memiliki karakter yang baik. Penelitian ini dilaksanakan dengan maksud untuk menganalisis secara ilmiah mengenai Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Pembentukan Karakter Anak pada Siswa Kelas III MI Tahfizhul Qur’an Asasul Huda Ranjikulon Kecamatan Kasokandel Kabupaten Majalengka Tahun Pelajaran 2019/2020. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di MI Tahfizhul Qur‟an Asasul Huda Ranjikulon Kecamatan Kasokandel Kabupaten Majalengka menunjukkan bahwa adanya perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anak-anak di sekolah diantaranya: 1) Kurangnya sikap-sikap religius yang ditanamkan dalam diri anak-anak seperti berbicara kasar; 2) Saling mengejek antar sesama teman, bahkan sampai kepada perkelahian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif verifikatif yaitu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel lain. Populasi dalam penelitian ini siswa kelas III MI Tahfizhul Qur‟an Asasul Huda Ranjikulon Kecamatan Kasokandel Kabupaten Majalengka yang berjumlah 22 siswa. Dari populasi tersebut diambil sampel penelitian dengan menggunakan metode total sampling. Dengan demikian jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 22 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes dan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh orang tua berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembentukan karakter anak. Yang dibuktikan dengan perolehan koefisien korelasi sebesar 0,389 dan tingkat signifikan sebesar 0,073. Hal ini berarti nilai t hitung lebih besar dari t tabel. Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima yaitu terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara pola asuh orang tua terhadap pembentukan karakter anak.[37]

3)      Penelitian ini dilakukan oleh Rindi Antika Ritma Ratri, skripsi tahun 2018 dengan judul: Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap religiusitas Anak Dalam Ibadah shalat Berjamaah Di Masjid Baitul Makmur Grendeng Purwokerto. Kesimpulan: Keluarga adalah sebuah institusi pendidikan yang utama dan bersifat kodrati. Kehidupan keluarga yang harmonis perlu dibangun di atas dasar sistem interaksi yang kondusif sehingga pendidikan dapat berlangsung dengan baik. Pendidikan dasar yang baik harus diberikan kepada anggota keluarga sedini mungkin dalam upaya memerankan fungsi pendidikan dalam keluarga. Untuk terjalin hubungan baik salah satu faktor yang mempengaruhinya yaitu pemahaman terhadap norma agama. Hubungan antara orang tua dan anak tidak hanya diukur dengan pemenuhan kebutuhan materiil saja, tetapi kebutuhan spiritual merupakan ukuran keberhasilan dalam menciptakan hubungan tersebut. Keluarga yang dipimpin oleh orang tua yang otoriter akan melahirkan kehidupan keluarga yang berbeda dengan orang tua yang demokratis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pola asuh orang tua dalam mendidik religiusitas anak mengenai shalat berjamaahnya di Masjid Baitul Makmur Grendeng Purwokerto. Peneliti mengambil responden sebanyak 42 anak usia sekolah. Variabel independen yang terdapat dalam penelitian ini adalah pola asuh orang tua (X) sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini adalah religiusitas anak dalam ibadah shalat berjamaah (Y). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner atau angket yang disebar kepada 42 responden. Metode analisis data dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif untuk mengetahui distribusi frekuensi hasil temuan data dari lapangan. Selanjutnya menggunakan

4)      analisis regresi linier sederhana yang berfungsi untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pola asuh orangtua terhadap religiusitas anak dalam ibadah shalat berjamaah di Masjid Baitul Makmur Grendeng Purwokerto. Hasil Penelitian yang diperoleh yaitu ada pengaruh yang signifikan pola asuh orang tua terhadap religiusitas anak dalam ibadah shalat berjamaah di Masjid Baitul Makmur Grendeng Purwokerto yaitu sebesar 33,8%. Hal ini menunjukkan bahwa sebesar 33,8% variasi variabel dependen (Y) dapat dijelaskan oleh variabel independen (X), artinya terdapat pengaruh pola asuh orang tua terhadap religiusitas anak sebesar 33,8% sedangkan sisanya 66,2% dipengaruhi oleh variabel lain selain independen (X) seperti lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat dan faktor internal (pembawaan).[38]

 

Tabel 2.1 Matrik Penelitian Relevan

No.

Penulis

Judul

Persamaan

Perbedaan

1.       

Fitri Alfiani

Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Karakter Religius Anak Di Dusun Tegal Sari Desa Pasir Jaya Kecamatan Rambah Hilir Kabupaten Rokan Hulu

Persamaan dari penelitian ini adalah membahas tentang pengaruh pola asuh orang tua terhadap karakter religius anak  dengan metode kuantitatif

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah dari segi rancangan penelitian, subyek dan  teknik pengumpulan data

2.       

Lela Siti Nur Laela

Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Pembentukan Karater Anak Pada Siswa Kelas III Mandrah Ibtidaiyah Tahfizhul Qur’an Asasul Huda Ranjikulon

Penelitian ini adalah sama-sama membahas tentang pengaruh pola asuh orang tua terhadap pembentukan karakter anak dengan metode kuantitatif

Perbedaan penelitian dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah dari segi jenis penelitian, subyek dan  teknik pengumpulan data

3.       

Rindi Antika Ritma Ratri

 

Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap religiusitas Anak Dalam Ibadah Shalat Berjamaah Di Masjid Baitul Makmur Grendeng Purwokerto

Penelitian ini sama-sama membahas tentang pengaruh pola asuh orang tua terhadap religiusitas anak dalam ibadah dengan metode kuantitaif

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah dari segi metode, rancangan penelitian, subyek dan  teknik pengumpulan data

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C.    Kerangka Berpikir

Dalam penelitian ini dikembangkanlah suatu konsep atau kerangka pikir dengan tujuan untuk mempermudah peneliti dalam melakukan penelitiannya. Adanya kerangka pikir ini, maka tujuan yang akan dilakukan oleh peneliti akan semakin jelas karena telah terkonsep terlebih dahulu.

Melatarbelakangi masalah tersebut terjadi di dalam sebuah keluarga. Pengaruh pola asuh orang tua terkhususnya ibu dan ayah dalam mendampingi perkembangan anak sangatlah diperlukan untuk membentuk anak yang mempunyai motivasi belajar yang baik. Jika anak mempunyai motivasi belajar yang baik maka akan berdampak pada minat dan hasil belajar. Secara skematis, kerangka berpikir dalam penelitian ini akan digambarkan sebagai berikut:

                                                   

 

POLA ASUH ORANG TUA

VARIABEL X

 

KARAKTER RELIGIUS SISWA

VARIABEL Y

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 2.1 Kerangka Berfikir

 

D.    Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang kebenarannya masih harus diuji secara empirik.[39] Jadi hipotesis adalah kebenaran yang berada di bawah (belum tentu benar) dan baru dapat diangkat menjadi suatu kebenaran jika memang telah disertai dengan bukti-bukti.

Hipotesis yang peneliti ambil dari penelitian ini ialah “Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Karakter Religius Siswa Kelas III di SDIT IQRA 2 Kota Bengkulu”.

Adapun hipotesis yang peneliti gunakan yaitu:

1)      Alternatif (Ha), terdapat pengaruh pola asuh orang tua terhadap karakter religius siswa kelas III di SDIT IQRA 2 Kota Bengkulu.

2)      Hipotesis Nol (H0), tidak terdapat pengaruh pola asuh orang tua terhadap karakter religius siswa kelas III di SDIT IQRA 2 Kota Bengkulu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

A.    Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang sudah cukup lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian. Metode ini disebut juga metode positivik karena berlandaskan pada filsafat positivisme. Metode ini sebagai metode ilmiah/scientific karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah, yaitu konkrit/empiris, obyektif, terukur, rasional, dan sistematis. Metode ini juga disebut dengan metode discovery, karena dengan metode ini dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai iptek baru. Metode ini disebut metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik.[40]

Berdasarkan dari tujuan penelitian, desain dalam penelitian ini adalah korelasional yang menggunakan model hubungan sederhana terdiri atas satu variabel independen dan satu variabel dependen. Maka untuk mencari besarnya hubungan antara X (pola asuh orang tua) dengan Y (karakter relegius) digunakan teknik korelasi.

 

B.     Tempat  dan Waktu Penelitian

54

Lokasi penelitian adalah tempat atau letak di mana penelitian akan dilakukan untuk memperoleh data atau informasi yang diperlukan dan berkaitan dengan permasalahan penelitian. Lokasi penelitian ini adalah berada di SDIT IQRA’ 2 Kota Bengkulu. Waktu penelitian adalah menunggu surat penelitian dikeluarkan dan penelitian sudah dilakukan.

C.    Populasi dan Sampel

1.    Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi bukan hanya orang tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain, dan juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek yang diteliti itu.[41] Populasi adalah kelompok yang dipilih dan digunakan oleh peneliti karena kelompok itu akan memberikan hasil penelitian yang dapat digeneralisasikan.[42]

Dengan demikian, populasi adalah kelompok yang dipilih yang terdiri dari obyek/subyek dan digunakan oleh peneliti untuk dipelajari yang kemudian ditarik kesimpulannya. Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa kelas  III di SDIT IQRA’ 2 Kota Bengkulu sebanyak 124 siswa dan 124 orang tua.

 

 

 

 

Tabel 3.1

Populasi Penelitian

 

No.

Kelas

Laki-laki

Perempuan

Jumlah Populasi

Jumlah Populasi Orang Tua

1

III A

15

14

29

29

2

III B

14

17

31

31

3

III C

15

17

32

32

4

III D

14

18

32

32

JUMLAH

58

66

124

124

 

2.    Sampel

Dalam penelitian kuantitatif, sampel penelitian adalah bagian yang memberikan gambaran secara umum dari populasi. Sampel penelitian memiliki karakteristik yang sama atau hampir sama dengan karakteristik populasi, sehingga sampel yang digunakan dapat mewakili populasi yang diamati.[43]

Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang akan diteliti dengan maksud dan tujuan untuk megeneralisasikan hasil penelitian atau mengangkat kesimpulan penelitian sebagai suatu yang berlaku bagi populasi.[44] Penelitian ini menggunakan rumus Slovin untuk menghitung besarnya sampel dari populasi, yaitu :

Keterangan:

n = Jumlah sampel

N = Jumlah populasi

e = Nilai kritis (bebas ketelitian) yang diinginkan dan persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih bisa ditolirir, tingkat signifikasi (0,05).

Teknik pengambilan sampel adalah probability sampling yang menggunakan simple random sampling. Teknik ini merupakan teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap anggota populasi yang dipilih untuk menjadi sampel. Dengan kata lain, sampling merupakan teknik mengambil sampel yang dapat mewakili atau menggambarkan populasi. Dalam penelitian ini teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling. Simple random sampling digunakan tanpa memperhatikan strata karena populasi dianggap homogen (sejenis). Dalam hal ini peneliti akan mengambil sampel secara acak karena tiap individu dapat di ambil sebagai sampel dengan alasan tiap individu memiliki kualitas dan kemampuan yang sama. Dengan kata lain, populasinya adalah sama di mana setiap orang memiliki karakteristik yang serupa. Teknik random samplingnya (sampel acak), yaitu peneliti memilih sampel tiap kelas sebesar 25 % dari jumlah populasi per kelas. Di dalam populasi subyek-subyeknya dianggap sama. Dengan demikian peneliti memberi hak yang sama kepada setiap subjek untuk memperoleh kesempatan dipilih menjadi sampel. Sedangkan cara yang digunakan adalah dengan cara undian, karena bagi peneliti cukup sederhana dan kemungkinan kesalahan dapat dihindari. Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 31 siswa kelas III di SDIT IQRA’ 2 Kota Bengkulu.

Suharsimi rikunto menjelaskan, apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik di ambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar maka dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih tergantung kepada. Kemampuan peneliti dilihat dari segi waktu, tenaga dan dana, sempit atau luasnya wilayah penelitian dilihat dari subyeknya, karena hal itu bergantung banyak sedikitnya data, besar kecilnya resiko yang ditanggung peneliti. Dari uraian diatas maka penelitii menetapkan jumlah sampelnya sebanyak 31 orang dari 124 siswa. Jumlah sampel tesebut diambil dengan cara, jumlah siswa: 124 x 25% = 31 siswa. Penentuan sampel tersebut dengan anggapan bahwa cukup mewakili populasi yang ada.

D.    Variabel dan Indikator Penelitian

Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat nilai dari orang, objek kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untuk dipelajari  dan kemudian ditarik kesimpulannya.[45] Dalam  penelitian  ini  terdapat  dua  variabel  yaitu  variabel  bebas (independent)  yaitu  variabel  yang  mempengaruhi  (X)  dan  variabel  terikat (dependent) yaitu variabel yang dipengaruhi (Y).

a.  Variabel Bebas (Independent)

      Variabel ini sering disebut pengaruh atau yang mempengaruhi variabel yang lain. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah “pola asuh orang tua” yang merupakan variabel X.

Adapun indikator pola asuh orang tua, meliputi:

b)      Cara orang tua  mendidik dan membimbing anak

c)      Perhatian dan kasih sayang

d)     Suasana atau keadaan

b. Variabel Terikat (Dependent)

            Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat adanya variabel bebas, maka berdasarkan landasan teori dan  perumusan masalah yang menjadi variabel terikat (dependent) dalam penelitian  ini adalah karakter religius siswa yang merupakan variabel Y.  [46]Adapun indikator karakter religius, meliputi:

a.       Adanya pengaruh dari orang lain

b.      Keinginan berhasil dalam belajar

c.       Adanya semangat dalam belajar

E.     Teknik Pengumpulan Data

Dalam rangka mengumpulkan data dari lapangan penelitian, maka penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data. Adapun teknik yang digunakan adalah sebagai berikut:

1.    Observasi

Pengamatan atau observasi adalah proses pengambilan data dalam penelitian dimana peneliti atau pengamat melihat situasi penelitian. Teknik ini digunakan untuk mengamati dari dekat dalam upaya mencari dan menggali data melalui pengamatan secara langsung dan mendalam terhadap subjek dan objek yang diteliti. Dengan observasi di lapangan peneliti akan lebih mampu memahami konteks data dalam keseluruhan situasi social, jadi akan dapat diperoleh pandangan holistic atau menyeluruh.[47] Tujuan penggunaan metode ini adalah untuk mengamati pengaruh pola asuh orang tua terhadap karakter religius siswa kelas III.

2.      Angket

Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada sampel/responden untuk dijawabnya. [48]Angket yang akan digunakan pada penelitian ini adalah angket tertutup dalam pengumpulan data. Angket tertutup merupakan angket yang disediakan sedemikian rupa sehingga responden diminta untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan karakteristik dirinya dengan menggunakan tanda silang. Angket akan dibagikan kepada anak usia sekolah dasar. Skala pengukuran dalam penelitian ini adalah menggunakan skala likert.

Menurut Gunarsa Singgih dalam buku psikologi remaja, Pola asuh orang tua adalah sikap dan cara orang tua dalam mempersiapkan anggota keluarga yang lebih muda termasuk anak supaya dapat mengambil keputusan sendiri dan bertindak sendiri sehingga mengalami perubahan dari keadaan bergantung kepada orang tua menjadi berdiri sendiri dan bertanggung jawab sendiri. Monks dkk memberikan pengertian pola asuh sebagai cara, yaitu ayah dan ibu dalam memberikan kasih sayang dan cara mengasuh yang mempunyai pengaruh besar bagaimana anak melihat dirinya dan lingkungannya. Penelitian menunjukkan bahwa pola asuh adalah penting dalam upaya menyediakan suatu model perilaku yang lebih lengkap bagi anak. Peran orang tua dalam mengasuh anak bukan saja penting menjaga perkembangan jiwa anak dari hal-hal yang negatif, melainkan juga untuk membentuk karakter dan kepribadiannya agar jadi insan spiritual yang selalu taat menjalankan agamanya.[49]

Dengan menggunakan skala likert, maka variabel yang akan di ukur dijabarkan menjadi indicator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrument yang dapat berupa pernyataan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala likert dengan 4 kemungkinan jawaban. Bentuk skala Likert yang digunakan pada penelitian ini yaitu :      

 

Tabel 3.2

Skor Alternatif Jawaban

Alternatif Jawaban

Skor untuk pertanyaan

Positif

Negatiif

Selalu

4

1

Sering

3

2

Kadang-kadang

2

3

Tidak pernah

1

4

 

3.      Dokumentasi

Dokumentasi merupakan metode pengumpulan data dengan mempelajari barang-barang tertulis berbagai jenis dokumen yang berkaitan dengan penelitian seperti foto-foto saat penelitian, angket anak dan profil.

4.      Instrumen Penelitian

Instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data dan informasi agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Instrumen merupakan alat ukur yang digunakan untuk mendapat informasi kuantitatif tentang variasi karakteristik variabel secara obyektif. Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah sebagi berikut:

-          Instrumen Angket

Instrumen angket merupakan suatu alat untuk membantu dan memudahkan peneliti dalam mengumpulkan data. Skala pengukuran yang akan digunakan dalam angket ini adalah skala likert. Skala likert digunakan peneliti untuk mengetahui pola asuh orang tua terhadap  karakter religius siswa. Untuk mengetahui pola asuh orang tua, peneliti mengajukan beberapa pernyataan (dalam angket) yang harus dijawab oleh responden. Dari skor yang diperoleh, maka peneliti dapat mengetahui bagaimana pola asuh orangtua berpengaruh pada pembentukan karakter religius anak. Setiap item dalam angket pola asuh orang tua dan karakter religius siswa ditetapkan empat pilihan jawaban (option) dengan skor terendah dan tertinggi antara satu sampai empat.  Angket juga harus memenuhi syarat validitas dan reliabilitas.Instrument atau alat ukur yang digunakan harus tepat dan terpercaya sebelum digunakan untuk mengambil data. Oleh sebab sebelum angket digunakan dalam penelitian untuk memperoleh data, maka sebaiknya angket harus memenuhi dua syarat yaitu valid dan reliabel.

-          Instrumen Dokumentasi

Instrumen dokumentasi merupakan suatu alat untuk membantu dan memudahkan peneliti dalam mengumpulkan data berupa arsip-arsip maupun dokumen yang berkaitan dengan penelitian.

-           Kisi-kisi Instrumen

Kisi-kisi instrument merupakan pedoman atau panduan dalam merumuskan pertanyaan-pertanyaan instrument yang diturunkan dari variable yang akan diamati. Instumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket pola asuh orang tua dan karakter religius anak yang terdiri dari 5 indikator pernyataan dengan jumlah soal sebanyak 34 butir. Adapun kisi-kisinya sebagai berikut:

Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrumen

No

Variabel

Sub.Variabel

Indikator

Deskriptor

No item soal

 

Pola asuh Orang tua

Pola asuh Orang tua (X)

·         Tidak ada toleransi

·         Peraturan

·         Pemaksaan

·         Hukuman

 

·         Kontrol terhadap anak bersifat kaku

·         Komunikasi bersifat memerintah

·         Penekanan pada pemberian hukuman

·         Disiplin pada orang tua bersifat kaku

1,2,3,4,5

 

 

 

·         Tidak ada paksaan

·         Menghargai pendapat

·         Komunikasi yang baik

·         Bebas untuk melakukan sesuatu dengan

·         tidak melanggar

·         Kontrol terhadap anak relative longgar

·         Komunikasi dua arah

·         Hukuman diberikan sesuai dengan tingkat kesalahan anak.

·         Disiplin terbentuk atas komitmen bersama.

6,5,7,8,9,10

2

Karakter Religius Siswa

Karakter Religius Siswa (Y)

·         Disiplin mengaplikasi kan akidah

·         Merasa bahawa Allah selalu mengawasi

·         Tidak menyekutukan Allah dan mempercai pada hal yang ghaib

11,12,13,14,15,16,17,18,19,20

 

 

 

·         Disiplin mengaplikasi kan ibadah

·         Menjalankan ibadah wajib tepat pada waktunya (shalat lima waktu , puasa Ramadhan)

·         Rutin membaca Al- Qur’an dan shalat berjamaah

·         Melakukan shalat dan puasa Sunnah dan mengeluarkan infaq

·         Berdoa sebulum dan sesudah beraktifitas

21,22,23,24,25,2627,28

 

 

 

·         Disiplin mengaplikasi kan perilaku akhlakul Karimah

·         berperilaku akhlakul karimah kepada orang lain

29,30,31,32,33,34

F.     Teknik Analisis Data

Dalam penelitian kuantitatif, analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis data adalah : mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah dianjurkan.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis data kuantitatif. Adapun data kuantitatif ini di analisis menggunakan analisis statistik. Analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial.

Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi sederhana. Analisis regresi sederhana bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari suatu variabel terhadap variabel lainnya. Pada analisis regresi suatu variabel yang mempengaruhi disebut variabel bebas atau independent variabel, sedangkan variabel yang dipengaruhi disebut variabel terkait atau dependent variabel. Rumus regresi linear sederhana sebagai berikut:

 Y = a + bX

Keterangan:

Y     = Variabel dependen (variabel terikat)

X     = Variabel independent (variabel bebas)

a      = Konstanta (nilai dari Y apabila X = 0)

b      = Koefisien regresi (pengaruh positif atau negatif)

1)      Analisis Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif adalah statistik yang berkenaan dengan metode atau cara mendeskripsikan, menggambarkan,menjabarkan, atau menguraikan data sehingga mudah dipahami. Statistik deskriptif menggambarkan kegiatan berupa pengumpulan data, penyusunan data, pengolahan data, dan penyajian data dalam bentuk table, grafik, ataupun diagram, agar memberikan gambaran yang teratur, ringkas, dan jelas mengenai suatu keadaan atau peristiwa. Analisis statistik deskriptif digunakan peneliti untuk mengolah data yang diperoleh. Pengolahan data bertujuan mengubah data mentah dari hasil pengukuran menjadi data yang lebih halus sehingga memberikan arah untuk pengkajian lebih lanjut. Data yang diperoleh secara langsung dari hasil penelitian atau sumber-sumber lain (data sekunder) biasanya masih dalam bentuk kasar dan mentah (raw data) dan tidak tersusun secara sistematis. Agar dapat dibaca dengan mudah dan cepat, data dapat disajikan dalam bentuk daftar atau table dan grafik atau diagram.25 Pengelolaan data dalam penelitian ini digunakan untuk memberikan gambaran (deskripsi) mengenai pola asuh otoriter, pola asuh demokratis karakter religius siswa usia 9-10 tahun. Adapun cara yang digunakan adalah sebagai berikut:

1.      Distribusi Frekuensis

Distribusi frekuensi adalah suatu susunan data mulai dari data terkecil sampai data terbesar yang membagi banyaknya data ke dalam beberapa kelas.26

2.      Histogram

Histogram ialah grafik yang menggambarkan suatu distribusi frekuensi dengan bentuk beberapa segi empat. Selanjutnya dapat ditentukan kualitas pola asuh terhadap pembentukan karakter religius dengan kategori sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah dengan mengubah skor mentah menjadi skor standar 5 dengan acuan sebagai berikut:27

A                                                             (Sangat Tinggi)

M + 1,5 SD

B                                                             (Tinggi)

M + 0,5 SD

C                                                             (Sedang)

M – 1,5 SD

D                                                             (Rendah)

M + 1,5 SD

E                                                             (Sangat Rendah)

 

Keterangan :

M : Mean (Rata-Rata Hitung)

SD: Standar Deviasi

2)      Analisis Statistik Inferensial

Statistik Inferensial adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. Statistik ini akan cocok digunakan bila sampel diambil dari populasi yang jelas, dan teknik pengambilan sampel dari populasi itu dilakukan secara random.28

G.    Teknik  Validitas dan Realibilitas Data

1.    Uji Validitas

Validitas/kesahihan adalah keadaan yang menggambarkan tingkat instrumen yang bersangkutan mampu mengukur apa yang akan diukur.[50] Validitas ini menyangkut akurasi instrument yaitu tes. Untuk mengetahui apakah tes yang disusun tersebut itu valid/shahih, maka perlu diuji dengan korelasi antara skor (nilai) tiap-tiap butir pertanyaan dengan skor total tes tersebut. Teknik korelasi yang dipakai adalah teknik korelasi product moment untuk mengetahui apakah nilai korelasi tiap-tiap item signifikan. Adapun rumus yang digunakan sebagai berikut:

rxy =        N∑XY – (∑X) (∑Y)

      √{N∑X2 – (∑Y)2}{N∑Y2 – (∑Y)2}

Keterangan:

rxy           : Angka indeks korelasi “r” Product Moment (X.Y)

N         : Jumlah Subyek (banyaknya siswa)

∑XY   : Jumlah hasil perkalian antara skor X dan skor Y

∑X      : Jumlah seluruh skor X

∑Y      : Jumlah seluruh skor Y

2.      Uji Reliabilitas

Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang apabila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama akan menghasilkan data yang sama.[51] Untuk mengukur reliabilitas instrumen maka digunakan rumus Alpha, dengan bantuan program SPSS  versi 16. Aadapun rumus Alpha adalah sebagai berikut:

            r11 = 

r11           : reabilitas instrument

k          : banyaknya butir pertanyaan

  : jumlah variens butir

     : variens total

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

BAB IV

HASIL PENELITIAN

 

 

A.  Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1.      Sejarah Berdirinya SDIT IQRA 2 Kota Bengkulu

SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu dan SDIT IQRA’1 Kota Bengkulu dahulunya bernama SDIT IQRA’ digagas oleh para pendiri Yayasan Al Fida ( yaitu M.Syhfan Badri. Dani Hamdani, Hamdani Nasution,M. Syamlan dan Dede Kusyana) di Kota Bengkulu pada tahun 1999. Pendiri Sekolah ini digerakkan oleh keperihatinan terhadap anak anak mereka yang akan memasuki  usia Sekolah Dasar yang kesulitan untuk menemukan Sekolah yang berkualitas, baik dari sisi pembinaan wawasan keilmuan maupun pembinaan mental, moral dan agama pada saat itu telah ada TKIT Auladuna yang juga di bawah naungan Yayasan Al Fida.

Melihat dari kondisi tersebut beberapa orang bersepakat untuk mengembangkan sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu, yang akhirnya di beri nama SDIT IQRA’. Belajar dari beberapa Sekolah yang menggunakan konsep Sekolah Islam Terpadu yang lebih dahulu tumbuh di Sumatera ( Adzki-Padang), Jawa (Nurul Fikir-Depok) dan sekitarnya, adapun profil sekolah sebagai berikut :

a.      Identitas Sekolah

Nama Sekolah                               SDIT IQRA 2 KOTA BENGKULU

Nomor Pokok Sekolah Nasional   10702568

54

Jenjang Pendidikan                       : SD

Status Sekolah                              : Swasta

Alamat Sekolah                             : Jl. Merawan 19 RT.25 RW.07

                                                        RT/RW : 25 / 7 Dosun

Desa Kelurahan                             : Sawah Lebar

Kecamatan                                                : Kec. Ratu Agung

Kabupaten                                     : Kota Bengkulu

Provinsi                                         : Prov. Bengkulu

Kode Pos                                      : 38228

Lokasi Geografis                           : Lintang -3 Bujur 102

 

b.      Izin dan Pendirian

SK Pendirian Sekolah                   : 421.2/2111/IV.DIKNAS

Tanggal SK Pendirian                   : 2007-07-16

Akreditasi                                     : A

Status Kepemilikan                       : Swasta

SK Izin Operasional                      : 421.2/2111/IV.Diknas

Tgl SK Izin Operasional               : 2007-09-04

Kebutuhan Khusus Dilayani         : Tidak ada

Luas Tanah Milik (m2)                  : 1

Luas Tanah Bukan Milik (m2)      : 450000

 

2.      Visi dan Misi SD IT IQRA’2 Kota Bengkulu

Adapun visi dan misi SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu adalah sebagai berikut :

a.       Visi

Visi merupakan gambaran masa depan terhadap suatu lembaga. Menentukan visi berarti menentukan tujuan dan cita-cita yang ingin dicapai oleh suatu Sekolah. Adapun Visi SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu adalah terwujudnya Generasi Islami, Berpretasi, Mandiri dan Berwawasan  Lingkungan, indikator :

-          Terinternalisasinya peserta didik yang mampu mengimplentasikan nilai-nilai imtaq.

-          Terciptanya kultur Sekolah yang memiliki kepedulian terhadap nilai – nilai kehidupan bermasyarakat yang islami.

-          Terakomodirnya peserta didik yang berpretasi baik dalam bidang akademi maupun non akademik.

-          Terlahirnya generasi Islam yang cerdas dan berakhlak mulia.

-          Terwujudnya pengelolaan Sekolah sesuai dengan konsep manajemen berbasis sekolah.

-          Terselenggaranya system penilaian hasil belajar secara efektif, objektif dan sistematis.

-          Optimalnya sumber dana dan daya dukung pendanaan sekolah.

-          Unggul dalam pretasi akademik

-          Unggul prestasi non akademik.

-          Unggul dalam etika, budi pekerti dan disiplin menuju kualitas iman dan taqwa.

b.      Misi

Misi merupakan langkah-langkah dan strategi yang dilakukan untuk mencapai visi. Sebagai lembaga pendidikan SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu memiliki misi tertulis dan disesuaikan dengan kondisi sekolah. Adapun Misi Sekolah SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu sebagai berikut :

-          Membimbing pembentukan Aqidah yang lurus, Ibadah yang benar dan akhlak yang mulia.

-          Menyelenggarakan pendidikan siswa yang berpretasi, mandiri dan berwawasan lingkungan.

 

3.      Struktur Organisasi

Setiap lembaga pendidikan atau sekolah organisasi yang disusun secara sistematis. Hal ini berfungsi untuk mengarahkan kegiatan – kegiatan kinerja sesuai dengan bidang masing-masing adapun struktur organiasasi SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI

SEKOLAH DASAR ISLAM TERPADU (SDIT) IQRA' 2 KOTA BENGKULU TAHUN PELAJARAN : 2022/2023

 

Dr. H. Dani Hamdani, M.Pd

KETUA YAYASAN

 

Gurniman Sutarno, M.Pd. Gr

KEPALA SEKOLAH

KOMITE SEKOLAH

WAKA KURIKULUM

Kustiningsih, S.Pd.SD

WAKA KESISWAAN

Reno Hendriyadi, S.Pd.I

WAKA SAR. PRAS.

Saepudin, S.Pd.I

Suryanta PA, S.Pd

WAKA HUMAS

 

Yogi Trianto, S.T

TATA USAHA & OPERATOR SEKOLAH

BENDAHARA

Solihati, A.Md

BENDAHARA BOS

Zazili Mustopa, S.Si

KELOMPOK JABATAN KOORDINATOR

Co. PAI

Co. IBADAH

Adi Susanto, S.Pd.I

Co. PERPUSTAKAAN

Naura Asyifah, S.I.Kom

Co. LABORATORIUM

Apni Marcholis, S.Kom

Co. UKS

Melissa Ria Nanda, S.Kep.Ners

Co. PRAMUKA SIT

Muhamad Solihin, S.Pd.I

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL/GURU

WALAS I A

Mery Meilina Herawati, M.TPd

WALAS I B

WALAS I C

Diwanti Bioti, S.Pd.Gr

Asmaini, S.Pd

WALAS I D

Retnoning Tiyas, A.Ma

WALAS IV D

Suriyani, S.Pd.I

Endah Mardiana,

S.Pd.Gr

Rini Winingsih, S.Pd.Gr

Liza Hidayati, S.Pd

WALAS IV C

WALAS IV B

WALAS IV A

WALAS II A

WALAS II B

WALAS II C

WALAS II D

Desi Astuti, S.Pd

Eva Yulianti, S.Pd

Sutiani Hujri, S.Pd

Mustariani, S.Pd.I

WALAS V A

Achmad Sukran Dinata, M.Pd

WALAS V B

Efriyanti, S.Pd.I

WALAS V C

Nurlusia Dewi, S.Sos

WALAS V D

Lina Kusumadita, S.Pd


 

 

 

 

 

 

 

 

 

WALAS III A

Panoma Kristoper, S.Pd

WALAS III B

Wijie Agnesia YR, S.Pd.I.Gr

WALAS III C

Nirda Usteti, S.Pd.I.Gr

WALAS III D

Rosdiana, S.Pd

WALAS VI A

Nurhafidzah, S.Pd.Gr

WALAS VI B

Nopiyanti, S.Si

WALAS VI C

Mega Ambarita, S.Pd

WALAS VI D

WALAS VI E

Mega Herawati, S.Pd      Rima Maylestari, S.Pd

 

Gambar 4.1 Struktur Oraganisasi Sekolah

MASYARAKAT SEKITAR

SISWA

PENJAGA SEKOLAH



B.  Gambaran  Umum  Responden

Hasil penelitian yang akan dipaparkan mengenai tahapan-tahapan penelitian dari awal sampai akhir. Tahapan awal dalam penelitian ini menjelaskan tentang metode pengumpulan data sedangkan, tahapan akhir dari penelitian ini akan memaparkan tentang hasil pengujian hipotesis. Adapun distribusi responden pada penelitian ini berdasarkan jenis kelamin responden dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.1 Distribusi Jenis Kelamin Responden Siswa

No

Jenis Kelamin

N

%

1

Laki-laki

15

48, %

2

Permpuan

16

52 %

 

Jumlah

31

100 %

Sumber: Hasil Penyebaran Angket SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu

Jumlah Responden

 

 

 

 

 

157mber: Program Chart Microsoft Word 2010

Gambar 4.2

 

 

Grafik responden berdasarkan jenis kelamin

Berdasarkan gambar di atas, dapat diketahui bahwa jumlah responden yang laki-laki sebanyak 15 orang dengan presentase sebesar 48 % angka tersebut lebih sedikit dari pada jumlah responden perempuan dengan jumlah 16 orang atau dengan presentase sebesar 52 %.

 

C.  Data Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu, dengan subyek orang tua yang memiliki anak usia 9-10 tahun. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 31 orang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola asuh orang tua terhadap pembentukan karakter Religius anak  di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu. Penelitian ini merupakan penelitian korelasi yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antar variabel serta seberapa besar hubungan antar variabel tersebut. Penelitian ini terdiri dari dua variabel bebas dan satu variabel terikat.Variabel bebas terdiri dari pola asuh (X) dan  sedangkan variabel terikatnya adalah pembentukan karakter religius (Y).

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner berupa angket yang disebar langsung kepada responden dan dokumentasi. Selanjutnya terkait dengan penyebaran angket kepada responden yang berjumlah 31 orang, dengan jumlah pertanyaan sebanyak 10 untuk variabel X dan 24 pertanyaan untuk variabel Y. Berikut akan diuraikan lebih lanjut mengenai hasil penelitian masing-masing variabel setelah diolah dengan statistik :

Tabel 4.2 Hasil Angket Variabel X ,Dan Y

No

Nama Responden

Pola Asuh Orang Tua (X)

Pembentukan Karakter Religus (Y)

1

Perempuan

19

47

2

Laki-Laki

17

58

3

Perempuan

23

60

4

Laki-Laki

29

54

5

Perempuan

25

54

6

Laki-Laki

28

56

7

Perempuan

22

50

8

Laki-Laki

29

60

9

Perempuan

27

55

10

Laki-Laki

28

56

11

Perempuan

21

54

12

Laki-Laki

29

58

13

Perempuan

25

51

14

Laki-Laki

17

50

15

Perempuan

23

50

16

Laki-Laki

21

52

17

Perempuan

25

53

18

Laki-Laki

23

48

19

Perempuan

20

55

20

Laki-Laki

28

54

21

Perempuan

25

51

22

Laki-Laki

22

57

23

Perempuan

22

49

24

Laki-Laki

27

53

25

Perempuan

27

57

26

Laki-Laki

23

53

27

Perempuan

30

51

28

Laki-Laki

24

52

29

Perempuan

21

42

30

Laki-Laki

22

58

31

Perempuan

21

48

 

D.  Analisis Data Deskriptif

a.      Hasil Angket Pola Asuh Orang Tua  (X)

         Data pola asuh  dikumpulkan dari responden sebanyak 31 dari 124 responden yang diambil. Dengan jumlah 10 pertanyaan dan kriteria jawaban dengan skor 1-4. Hasil jawaban angket dari para responden disajikan dalam tabel 4.3 di atas. Untuk lebih jelasnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Pola Asuh Orang Tua (X)

Statistics

 

 

N

Valid

31

Missing

0

Mean

23.97

Median

23.00

Std. Deviation

3.582

Variance

12.832

Range

13

Minimum

17

Maximum

30

Sum

743

 

 

 

 

 

 

Total_X

 

 

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid

17

2

6.5

6.5

6.5

19

1

3.2

3.2

9.7

20

1

3.2

3.2

12.9

21

4

12.9

12.9

25.8

22

4

12.9

12.9

38.7

23

4

12.9

12.9

51.6

24

1

3.2

3.2

54.8

25

4

12.9

12.9

67.7

27

3

9.7

9.7

77.4

28

3

9.7

9.7

87.1

29

3

9.7

9.7

96.8

30

1

3.2

3.2

100.0

Total

31

100.0

100.0

 

 

Gambar 4.3 Histogram Pola Asuh Orang Tua  (X)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari data statistik dan histogram 4.3 di atas diperoleh skor tertinggi sebesar 30 dan skor terendah 17 dengan mean 23.97 dibulatkan menjadi 24, median 23.00 dan standar deviasi 3.582. Sedangkan perbedaan skor tertinggi dan terendah adalah 13 dengan jumlah keseluruhan dari angket pola asuh adalah 743. Langkah selanjutnya yaitu menentukan kualitas pola asuh dengan kategori sangat baik, baik, sedang, kurang baik, dan tidak baik dengan perhitungan sebagai berikut:

M + 1,5 SD = 24 + (1,5 x 3,5) = 24 + 5 = 29   

M + 0,5 SD = 24 + (0,5 x 3,5) = 24 + 4  = 28

M - 0,5 SD = 24  - (0,5 x 3,5) = 24- 1,75 = 22,25 dibulakan menjadi 22

M - 1,5 SD = 24  - (1,5 x 3,5) = 24- 5,25 = 18,75 dibulatkan menjadi 19

Dari perhitungan data di atas diperoleh data interval dan data kualifikasi sebagai berikut:

Tabel 4.4 Kategorisasi Tingkat Pola Asuh Orang Tua (X)

Kategori

Interval Nilai

F

Persentase

Sangat Baik

>30

1

3,2%

Baik

28-29

6

19,3%

Sedang

22-27

16

51,6%

Kurang Baik

19-21

6

19,3%

Tidak Baik

<18

2

6,5%

Jumlah

31

100%

 

 

 

Berdasarkan Tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa orang tua  tidak berada dalam kategori sangat baik yang memiliki nilai 3,2 % dengan frekuensi 1 orang pada interval nilai 30 ke atas, Sedang orang tua yang memiliki kategori baik mendapatkan persentase nilai yang tinggi yaitu sebanyak 19,3% dengan frekuensi 6 orang pada interval 28-29, orang tua yang memiliki kategori sedang sebanyak 51,6% dengan frekuensi 16 orang pada interval 22-27, Orang tua yang memiliki kategori kurang baik sebanyak 19,3%  dengan frekuensi 6 orang pada interval 19-21 sedangkan orang tua pada kategori nilai yang tidak baik sebanyak 6,5% dengan frekuensi 2 orang pada interval kurang dari <18.

Berdasarkan tabel 4.4 di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pola asuh orang tua di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu  tergolong dalam hasil kata gori baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

b.      Hasil Angket  Karakter Religius Siswa (Y)

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Karakter Religius Siswa (Y)

Statistics

 

 

N

Valid

31

Missing

0

Mean

53.10

Median

53.00

Std. Deviation

4.077

Variance

16.624

Range

18

Minimum

42

Maximum

60

Sum

1646

 

Total_Y

 

 

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid

42

1

3.2

3.2

3.2

47

1

3.2

3.2

6.5

48

2

6.5

6.5

12.9

49

1

3.2

3.2

16.1

50

3

9.7

9.7

25.8

51

3

9.7

9.7

35.5

52

2

6.5

6.5

41.9

53

3

9.7

9.7

51.6

54

4

12.9

12.9

64.5

55

2

6.5

6.5

71.0

56

2

6.5

6.5

77.4

57

2

6.5

6.5

83.9

58

3

9.7

9.7

93.5

60

2

6.5

6.5

100.0

Total

31

100.0

100.0

 

 

Gambar 4.4 Histogram Karakter Religius Siswa (Y)

 

Dari data statistik dan histogram 4.4 di atas diperoleh skor tertinggi sebesar 60 dan skor terendah 42 dengan mean 53.1 dibulatkan menjadi 53, median 53. dan standar deviasi 4.077.Sedangkan perbedaan skor tertinggi dan terendah adalah 18 dengan jumlah keseluruhan dari angket karakter religius Siswa adalah 1646.

Langkah selanjutnya yaitu menentukan kualitas karakter religius dengan kategori sangat baik, baik, sedang, kurang baik, dan tidak baik             dengan perhitungan sebagai berikut:

M + 1,5 SD = 53 + (1,5 x 4,0) = 53 + 6  = 59

M + 0,5 SD = 53 + (0,5 x 4,0) = 53 + 2 = 55

M - 0,5 SD = 53  - (0,5 x 4,0) = 53  - 2 = 51

M - 1,5 SD = 53 - (1,5 x 4,0) = 53 – 6  = 47

Dari perhitungan data di atas diperoleh data interval dan data kualifikasi sebagai berikut:

Tabel 4.6 Kategori Tingkat karakter religius Siswa (Y)

Kategori

Interval Nilai

F

Persentase

Sangat Baik

>59

2

6,4%

Baik

55-58

9

29,03 %

Sedang

51-54

12

38,7 %

Kurang Baik

47-50

7

22,5%

Tidak Baik

<46

1

3,2 %

Jumlah

31

100%

 

Berdasarkan tabel 4.7 di atas menunjukkan bahwa pembentukan karakter religius berada dalam kategori sangat baik yang memiliki nilai 6,4% dengan frekuensi 2 orang pada interval nilai 59 ke atas, Karakter religius yang memiliki kategori baik mendapatkan persentase nilai sebanyak 29,03 % dengan frekuensi 9 orang pada interval 55-58, yang memiliki kategori sedang sebanyak 38,7 % dengan frekuensi 12 orang pada interval 51-54, yang memiliki kategori kurang baik sebanyak 22,5% dengan frekuensi 7 orang pada interval 47-50 sedangkan pada kategori nilai yang tidak baik  sebanyak 3,2 % dengan frekuensi 1 orang pada interval kurang dari 47. Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa pembentukan karakter religius di SDIT IQRA ‘2 Kota Bengkulu  masuk dalam kategori baik.

 

1.      Uji Prasyarat Analisis

Uji persyaratan dilakukan agar data penelitian mempunyai kualitas yang cukup tinggi, maka alat pengambilan data harus memenuhi syarat-syarat sebagai alat pengukur yang baik. Perhitungan variabel-variabel dilakukan dengan menggunakan aplikasi SPSS16.0 for Windows.

2.      Uji Validitas

Uji validitas instrumen dilakukan untuk mengetahui valid/layak tidaknya instrumen yang digunakan penulis dalam penelitian ini. Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan analisis korelasi Product Moment dengan ketentuan apabila korelasi (Corrected Item-Total Correlation) tiap faktor positif dan besarnya 0,3 keatas maka instrument tersebut valid. Uji validitas instrumen pola asuh orang tua terhadap pembentukan karakter religius anak berupa angket dengan jumlah 34 butir soal (10 butir soal untuk tiap variabel uji instrumen pola asuh orang tua dan 24 butir soal untuk uji instrumen pembentukan karakter religius anak) yang disebar ke  orang tua. Pengujian validitas dalam penelitian ini menggunakan program SPSS for Windows 16.0. Sedangkan hasil uji validasi disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 4.7 Hasil Uji Validitas Instrumen Pola Asuh  (X)

No

Soal

Keterangan

1

Soal 1

Valid

2

Soal 2

Valid

3

Soal 3

Valid

4

Soal 4

Valid

5

Soal 5

Valid

6

Soal 6

Valid

7

Soal 7

Valid

8

Soal 8

Valid

9

Soal 9

Valid

10

Soal 10

Valid

 

Dari tabel 4.7 dan 4.8 tersebut menunjukkan bahwa 10 soal valid. Data di atas diperoleh dari persetujuan dari 2 dosen ahli konsultasi kepada dosen ahli tersebut dan ada beberapa perbaikan dari beberapa soal, baik itu dari segi kalimat maupun dari indikator soal. Maka soal tersebut bisa dikatan valid menurut dosen ahli.

Tabel 4.8 Hasil Uji Validitas Instrumen

Pola Asuh Orang Tua ( X )

No

Soal

Perason Correlation

R Tabel (N=31), Taraf

Signifikasi 5%

Keterangan

1

Soal 1

0,419

0,355

Valid

2

Soal 2

0,621

0,355

Valid

3

Soal 3

0,536

0,355

Valid

4

Soal 4

0,470

0,355

Valid

5

Soal 5

0,665

0,355

Valid

6

Soal 6

0,708

0,355

Valid

7

Soal 7

0,635

0,355

Valid

8

Soal 8

0,759

0,355

Valid

9

Soal 9

0,636

0,355

Valid

10

Soal 10

0,542

0,355

Valid

 

Tabel 4.8 di atas menunjukkan bahwa dari 10 soal uji instrumen di nyatakan valid. Selanjutnya, soal dinyatakan valid dijadikan instrumen untuk mengukur variabel karakter religius, 10 soal tersebut mempunyai nilai r hitung (Pearson Correlation) lebih besar dari r tabel dengan jumlah sampel 31 dan taraf signifikansi 5 % yaitu 0,355. Dengan demikian, semua soal dapat dikatakan valid.

 

 

 

Tabel 4.9 Hasil Uji Validitas Instrumen Karakter Religius Siswa  (Y)

No

Soal

Perason Correlation

R Tabel (N=31), Taraf

Signifikasi 5%

Keterangan

1

Soal 1

0,484

0,355

Valid

2

Soal 2

0,548

0,355

Valid

3

Soal 3

0,471

0,355

Valid

4

Soal 4

0,617

0,355

Valid

5

Soal 5

0,403

0,355

Valid

6

Soal 6

0,625

0,355

Valid

7

Soal 7

0,604

0,355

Valid

8

Soal 8

0,553

0,355

Valid

9

Soal 9

0,510

0,355

Valid

10

Soal 10

0,610

0,355

Valid

11

Soal 11

0,733

0,355

Valid

12

Soal 12

0,501

0,355

Valid

13

Soal 13

0,638

0,355

Valid

14

Soal 14

0,555

0,355

Valid

15

Soal 15

0,423

0,355

Valid

16

Soal 16

0,592

0,355

Valid

17

Soal 17

0,727

0,355

Valid

18

Soal 18

0,319

0,355

Tidak Valid

19

Soal 19

0,573

0,355

Valid

20

Soal 20

0,582

0,355

Valid

21

Soal 21

0,626

0,355

Valid

22

Soal 22

0,513

0,355

Valid

23

Soal 23

0,583

0,355

Valid

24

Soal 24

0,688

0,355

Valid

1.      Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui apakah indikator yang digunakan dapat dipercaya sebagai alat ukur variabel, indikator dinyatakan reliabel apabila nilai cronbach’s alpha (α) yang didapat ≥ 0,60. Hasil uji reliabilitas yang dilakukan dengan menggunakan program SPSS 16.0 for Windows. Jika skala itu dikelompokkan ke dalam lima kelompok dengan rentang yang sama, maka ukuran kemantapan alpha dapat diinterpretasikan sebagai berikut:1

a.    Nilai Alpha Cronbach’s 0,00 0,20 = kurang reliabel

b.    Nilai Alpha Cronbach’s 0,21 0,40 = agak reliabel

c.    Nilai Alpha Cronbach’s 0,41 0,60 = cukup reliabel

d.   Nilai Alpha Cronbach’s 0,61 0,80 = reliabel

e.    Nilai Alpha Cronbach’s 0,81 1,00 = sangat reliabel

Pengujian instrument dilakukan pada item-item yang valid dari setiap variabel penelitian. Pada variabel pola asuh terdapat 10 soal valid. Dari hasil uji reliabilitas terhadap instrumen penelitian diperoleh               hasil sebagai berikut:

 

 

 

 

 

Tabel 4.10 Hasil Uji Reliabilitas Soal Pola Asuh (X)

Case Processing Summary

 

 

N

%

Cases

Valid

31

100.0

Excludeda

0

.0

Total

31

100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

 

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha

N of Items

.704

11

 

Dari gambar output 4.10 di atas, diketahui bahwa Alpha Cronbach’s sebesar 0,704, kemudian nilai ini dibandingkan dengan nilai rtabel dengan nilai N=31 dicari pada distribusi nilai rtabel signifikansi 5% diperoleh nilai rtabel sebesar 0,355. Berdasarkan hasil uji reliabilitas nilai Alpha Cronbach’s = 0,704 > rtabel = 0,355 sehingga tergolong di nilai antara 0,61– 0,80 maka hasil uji tersebut dikatakan reliable atau terpercaya sebagai alat pengumpul data dalam penelitian.

 

 

 

 

 

. Tabel 4.11 Hasil Uji Reliabilitas Soal pembentukan karakter religius (Y)

Reliability Statistics

Case Processing Summary

 

 

 

N

%

 

Cases

Valid

31

100.0

 

Excludeda

0

.0

 

Total

31

100.0

 

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

 

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha

N of Items

.525

25

Dari gambar output 4.11 di atas, diketahui bahwa Alpha Cronbach’s sebesar 0,525, kemudian nilai ini dibandingkan dengan nilai rtabel dengan nilai N=31 dicari pada distribusi nilai rtabel signifikansi 5% diperoleh nilai rtabel sebesar 0,355. Berdasarkan hasil uji reliabilitas nilai Alpha Cronbach’s = 0,525 > rtabel = 0,355 sehingga tergolong di nilai antara 0,41 0,60 maka hasil uji tersebut dikatakan reliable atau terpercaya sebagai alat pengumpul data dalam penelitian.

2.              Uji Normalitas

Tujuan dilakukannya uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah data populasi berdistribusi normal atau tidak. Untuk menguji normalitas data, peneliti menggunakan Uji Normalitas One Sample Kolmogrov- Smirnov Test. Dengan metode pengambilan keputusan sebagai berikut :

a.       Jika sig 0,05 maka data tidak berdistribusi normal.

b.      Jika sig > 0,05 maka data berdistribusi normal.

Berikut ini        adalah  hasil     uji        normalitas        variabel            data     dengan menggunakan bantuan program SPSS 16.0 Statistic for Windows.

 

Tabel 4.12 Hasil Uji Normalitas Variabel X-Y

 

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

 

 

Unstandardized Residual

N

31

Normal Parametersa

Mean

.0000000

Std. Deviation

3.83390564

Most Extreme Differences

Absolute

.077

Positive

.073

Negative

-.077

Kolmogorov-Smirnov Z

.428

Asymp. Sig. (2-tailed)

.993

Test distribution is Normal.

 

 

 

 

 

Berdasarkan tabel 4.12 di atas dapat diketahui bahwa nilai signifikasi Asymp. Sig (2-Tailed) berdistribusi normal dengan nilai signifikasi X-Y sebesar 0,993 lebih besar dari 0,05. Hal ini dapat dibuktikan dengan dasar pengambilan keputusan jika sig 0,05 maka data tidak berdistribusi normal.Sebaliknya jika sig. >0,05 maka data berdistribusi normal.

3.        Uji Linearitas

Tujuan dilakukannya uji linearitas adalah untuk mengetahui status linear tidaknya suatu distribusi data penelitian. Pada uji linearitas, distribusi data memiliki bentuk yang linear jika:

a.    Sig 0,05 maka hubungan antara dua variabel tidak linear.

b.    Sig > 0,05 maka hubungan antara dua variabel linear.

Berikut ini adalah hasil uji linearitas variabel data dengan menggunakan bantuan program SPSS 16.0 Statistic for Windows.

Tabel 4.13 Hasil Uji Linearitas Variabel X-Y

 

ANOVA with Tukey's Test for Nonadditivity

 

 

 

Sum of Squares

Df

Mean Square

F

Sig

Between People

590.935

30

19.698

 

 

Within People

Between Items

13151.758

1

13151.758

1.3483

.000

Residual

Nonadditivity

5.473a

1

5.473

.553

.563

Balance

287.269

30

9.906

 

 

Total

292.742

30

9.758

 

 

Total

13444.500

31

433.694

 

 

Total

14035.435

61

230.089

 

 

Grand Mean = 38,53

 

 

 

 

 

a. Tukey's estimate of power to which observations must be raised to achieve additivity = ,745.

 

 

 

Dari tabel output 4.13 di atas, diketahui bahwa hasil uji linearitas variabel pola asuh terhadap pembentukan karakter religius sebesar 0,563 lebih besar dari 0,05 hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan linear yang signifikan antara variabel X (pola asuh) terhadap Y(pembentukan karakter religius).

3.      Uji Asumsi Klasik

a.       Multikolinearitas

Uji asumsi klasik dalam penelitian ini menggunkan uji multikolinearitas yang bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi yang tinggi atau sempurna antar variabel independen. Berikut ini adalah hasil uji multikolinearitas variabel data dengan menggunakan bantuan program SPSS 16.0 Statistic for Windows.

Tabel 4.14 Hasil Uji Multikolinearitas Variabel X-Y

 

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

Collinearity Statistics

B

Std. Error

Beta

Tolerance

VIF

1

(Constant)

43.814

4.815

 

9.100

.000

 

 

Pola Asuh X

.387

.199

.340

1.949

.041

1.000

1.000

a. Dependent Variable: Karakter Religius Y

 

 

 

 

 

Dari tabel 4.14 di atas menunjukkan bahwa nilai dari tolerance dan VIF sama dengan variabel X-Y yaitu 1,000 dan 1,000. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam variabel X-Y tidak ada masalah multikolinearitas. Artinya dalam model regresi ini ditemukan adanya korelasi yang tinggi antar variabel.

b.      Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas dalam penelitian ini menggunakan gambar scatterplots, tujuan dari pada uji ini yaitu untuk menguji terjadinya perbedaan variabel residual suatu periode pengamatan ke periode pengamatan lain. Adapun pedoman yang digunakan untuk memprediksi ada tidaknya gejala heteroskedastisitas dalam penelitian ini yaitu; tidak terjadi heteroskedastisitas apabila titik-titik data penyebar di atas dan dibawahatau di sekitar angka 0, titik-titik tidak mengumpul hanya diatas atau di bawah saja, penyebaran titik-titik data tidak boleh membentuk pola bergelombang melebar kemudian menyempit dan melebar kembali. Berikut hasil gambar scatterplots dengan menggunakan bantuan program Spss 16.0 Statistic for Windows :

Gambar 4.5 Karakter Religius Siswa

 

Dari gambar scatterplot 4.5 di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa titik data penyebar di atas dan dibawah atau disekitar angka 0, titik- titik tidak mengumpul hanya di atas atau dibawah saja kemudian penyebaran titik-titik data tidak membentuk pola bergelombang melebar kemudian menyempit dan melebar kembali. Hal ini menjelaskan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas dalam variabel X terhadap Y.

 

 

4.      Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis untuk rumusan masalah pertama sampai kedua menggunakan analisis regresi sederhana, sedangkan rumusan masalah ketiga dengan melihat perbedaan nilai Uji T (parsial) masing-masing variabel. Untuk lebih jelasnya sebagai berikut :

1.    Pengaruh pola asuh  (X) terhadap karakter religius Siswa (Y)

Untuk menguji pengaruh X terhadap Y menggunan uji regresi sederhana. Berikut hasil perhitungan dengan menggunakan bantuan program Spss 16.0 Statistic for Windows:

a.       Regresi Sederhana

Model pengujian melalui regresi sederhana dilakukan dengan cara menganalisis pola asuh  (X) terhadap karakter religius siswa (Y). Mengenai hasil persamaan regresi dapat dilihat sebagai berikut.

Tabel 4.15 Hasil Regresi Sederhana Pola Asuh X terhadap Y

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

43.814

4.815

 

9.100

.000

Pola Asuh

.387

.199

.340

2.349

.041

Dependent Variable: Karakter Religius

 

 

 

Berdasarkan pada tabel 4.15 di atas, maka dapat diperoleh hasil persamaan regresi sebagai berikut:

1)   Y = a + b1X

Pembentukan Karakter religius (Y) = 43.814 + (0,387)X

Dari persamaan regresi di atas dapat diinterpretasikan sebagai berikut:

a.       Nilai konstanta = 43,814. Hal ini menunjukkan apabila nilai pola asuh orang tua (X) di obyek penelitian sama  dengan nol, maka besarnya pembentukan karakter religius anak (Y) sebesar 43,814

b.       Nilai koefisien b1 = (0,387). Hal ini menunjukkan apabila nilai pola asuh orang tua (X) mengalami kenaikan satu poin, maka karakter religius anak meningkat 0,387

2)   Uji T. Untuk menguji apakah secara parsial signifikan atau tidak.

a.       Dalam penelitian ini menggunakan perbandingan thitung dan ttabel dengan taraf signifikan 5% dan N 31, sedangan tabel distribusi t dicapai pada α = 5% : 2 = 2,5% (uji 2 sisi) dengan derajat kebebasan (df) n-k-1 = 31– 2 – 1 = 28 (n jumlah responden dan k adalah jumlah variabel independen). Hasil diperoleh dari t tabel adalah = 2,36. Dari tabel diatas diperoleh nilai thitung =2.349. Sementara itu, untuk ttabel dengan taraf signifikansi 0,05 diperoleh nilai ttabel = 2,048. Perbandingan antara keduanya menghasilkan: thitung > ttabel (2,349>2,048). Nilai signifikansi t untuk variabel pola asuh orang tua terhadap pembentukan karakter religius anak adalah                 0,041 dan nilai tersebut lebih kecil dari pada probabilitas 0.05 (0,041<0,05). Sehingga dalam pengujian ini menunjukkan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak. Hal ini berarti bahwa ada pengaruh yang positif dan  signifikan antara pola asuh orang tua terhadap  karakter religius Siswa di SD IT IQRA’2 Kota Bengkulu

b.    Uji Koefisien Diterminasi

Setelah pengujian hipotesis, selanjutnya dilakukan uji koefisien diterminasi untuk mengetahui seberapa besar prosentse pengaruh X terhadap Y yang diperoleh dari output regresi sederhana sebagai berikut:

Tabel 4.16 Hasil Koefisien Diterminasi X

Model Summaryb

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

.340a

.316

.085

3.89945

a. Predictors: (Constant), Pola Asuh X

 

b. Dependent Variable: Karakter Religius Y

 

 

Hasil analisis korelasi sederhana dapat dilihat pada Output Model Summary. Dari hasil analisis di atas R square adalah 0,340, R square dapat disebut koefisien diterminasi yang dalam hal ini berarti 31,6 % terdapat kontribusi atau pengaruh pola asuh  terhadap pembentukan karakter religius anak. Sedangkan sisanya 68,4 % dapat dijelaskan oleh sebab-sebab yang lain di luar variabel penelitian.

Tabel 4.17 Hasil Uji Hipotesis X dan terhadap Y

No

Hipotesis Nol (Ho) dan Hipotesis alternative (Ha)

T

Hitung

T Tabel

Hasil Signifikansi

Kesimpulan

1.

Ha: Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara      pola asuh terhadap  karakter religius siswa di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu.

Ho: Tidak ada pengaruh yang        positif  dan signifikan antara pola asuh terhadap karakter religius siswa di SD IT IQRA’2 Kota Bengkulu.

2,349

2,048

2,349>2,048 = 0,05

sig = 0,041

Ha diterima Ho

Ditolak

Untuk mengetahui perbedaan X terhadap Y dengan cara  membandingkan hasil uji T (parsial) dari masing-masing variabel. Berdasarkan tabel 4.18, hasil uji T variabel X terhadap Y menunjukkan nilai Thitung>Ttabel dengan nilai 2,349>2,048 dengan sig 0,041.

E.  Pembahasan

a.        Rekapitulasi Data Hasil Penelitian

Rekapitulasi hasil penelitian dilakukan untuk memberi gambaran secara utuh dan menyeluruh mengenai hasil penelitian, sehingga dapat ditentukan langkah- langkah tentang aspek-aspek mana yang memerlukan pembahasan lebih lanjut. Rekapitulasi data Hasil penelitian adalah sebagai berikut:

 

Tabel 4.18 Data Hasil Penelitian Variabel X dan Y

No

Variabel Penelitian

Nilai THitung

Tabel Pada tarap 5%

Interprestasi

Rsquare prosentase pengaruh

Hasil Penelitian (Kesimpulan)

 

Pengaruh pola asuh orang terhadap karakter religius siswa usia 9-10 tahun

2,349

>2,048

Ha diterima

31,6% sisanya 68,4%

dijelaskan oleh sebab-

sebab yang

lain diluar variabel.

Ada pengaruh pola     asuh

orang   tua terhadap karakter religius siswa

 

b.        Pembahasan Hasil Penelitian

Pengaruh pola asuh orang tua terhadap  karakter religius siswa usia 9-10 tahun di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu hasil penelitian menunjukkan nilai Thitung 2,349, dengan nilai Ttabel 2,048 sehingga 2,349>2,048 yang berarti Ha diterima. Dan nilai R square sebesar 31,6 % sisanya 68,4% dijelaskan oleh sebab-sebab yang lain diluar variabel. Dari penjelasan diatas menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara pola asuh orang tua terhadap karakter religius siswa.

Hal ini mengungkapkan bahwa lingkungan keluarga akan sangat berpengaruh terhadap kepribadian atau karakter seorang anak terutama dari cara para orang tua mendidik dan membesarkan anaknya. Jadi cara orang tua mendidik atau mengasuh anak juga merupakan faktor utama dalam karakter religius anak, karena lingkungan keluarga merupakan lingkungan utama dan pertama bagi anak dalam proses tumbuh dan berkembang. Pola asuh merupakan pola asuh yang menuntut anak untuk memenuhi standar mutlak yang ditentukan sepihak oleh orang tua. Hal ini ditunjukkan dengan sikap orang tua yang selalu menuntut kepatuhan dari anak, mendikte, hubungan dengan anak terasa kurang hangat, kaku keras dan komunikasi yang bersifat satu arah. Daan kurangnya kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi dan bereksperimen sendiri.

Pola asuh  hanya mengenal hukuman dan pujian dalam berinteraksi dengan anak. Hukuman akan diberikan manakala anak tidak melakukan sesuai dengan keinginan orang tua. Sedangkan pujian akan diberikan manakala anak melaksanakan apa yang diinginkan oleh orang tuanya. Di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu ini sendiri yang ditunjukkan dengan prosentase R square sebesar 31,6%. Artinya sebanyak 31 % lebih orang tua di SD IT IQRA’2 Kota Bengkulu menerapkan pola asuh yang dominan sifatnya memaksakan dalam pengasuhan anak. Pola asuh  sangat efektif dalam meningkatkan karakter religius anak usia 9-10 tahun di SD IT IQRA’2 Kota Bengkulu, mengingat tipe anak di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu sendiri cenderung berani terhadap orang yang lebih tua. Sikap keras inilah yang nantinya, anak menjadi takut untuk melakukan hal-hal yang buruk. Karena anak-anak tipe pengasuhan ini cenderung   memikirkan   konsekuensi   yang   akan   didapatkannya   apabila melanggar peraturan atau arahan orang tuanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

BAB V PENUTUP

KESIMPULAN DAN SARAN

 

A.    KESIMPULAN

Dari uraian yang telah peneliti kemukakan di bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Terdapat pengaruh yang positif mengingat tipe anak di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu sendiri cenderung berani terhadap orang yang lebih tua, Di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu ini sendiri yang ditunjukkan dengan prosentase R square sebesar 31,6%. Artinya sebanyak 31 % lebih orang tua di SD IT IQRA’2 Kota Bengkulu menerapkan pola asuh yang dominan sifatnya memaksakan dalam pengasuhan anak.

Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara pola asuh orang tua  terhadap  karakter religius anak usia 9-10 tahun di SD IT IQRA’2 Kota Bengkulu yakni dengan nilai Thitung 2,349>2,048 yang berarti Ha diterima. Dannilai sig sebesar 0,41 dan nilai R square sebesar 31,6 % sisanya 68,4% dijelaskan oleh sebab-sebab yang lain diluar variabel.

 

B.     SARAN

1.      Bagi Orang tua

88

Bagi orang tua penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai gambaran dan bahan pertimbangan khususnya terhadap pembentukan karakter religius pada anak. Sehingga mereka dapat memilah-milah mana sekiranya pola asuh yang hendaknya mereka terapkan untuk mengasuh anak-anak mereka. Karena lingkungan keluarga akan sangat berpengaruh terhadap kepribadian atau karakter seorang anak terutama dari cara para orang tua mendidik dan membesarkan anaknya.

2.      Tokoh Masyarakat

Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi tokoh masyarakat sebagai bahan acuan dalam pembinaan masyarakat.

3.      Kepada Peneliti yang akan datang

Hasil penelitian ini kepada peneliti yang akan datang diharapkan bermanfaat sebagai petunjuk, arahan, maupun acuan serta bahan pertimbangan dalam penyusunan rancangan penelitian yang lebih baik lagi relevan dengan hasil penelitian ini.

 

 

                                                                                           

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abidin Zaenal,dkk.2022.Pola pembentukan karakter religius pada anak dalam Pendidikan Agama Islam Di Sekolah menengah pertama taiyatul Falah ciampea Bogor.Jurnal Pendidikan Islam.

 

Adawiah, Rabiatul.2017.Pola Asuh Orang Tua dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Anak.Jurnal Dosen Program PPKn FKIP ULM Banjarmasin.

 

Alfiani Fitri  dkk. 2016.Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Karakter Religius Anak Di Dusun Tegal Sari Desa Pasir Jaya Kecamatan Rambah Hilir Kabupaten Rokan Hulu.Jurnal Universitas Riau.

 

Ahsanu, Khaq Moh.2019.Membentuk Karakter Religius Peserta Didik Melalui Metode Pembiasaan. Jurnal Prakarsa Paedagogia.

 

Anisah, Ani Siti.Pola Asuh Orang Tua Dan Implikasinya Terhadap Pembentukan Karakter Anak.Jurnal Pendidikan Universitas Garut.

 

Ardi Irawan dan Arip Nurrahman. Analisis Karakter Religius Siswa Sekolah Menengah Pertama.Al-Tadib:Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan.

 

Ayun,Qurrotu.2017.Pola Asuh Orang Tua Dan Metode Pengasuhan Dalam Membentuk Kepribadian Anak.Jawa Tengah: IAIN Salatiga.

 

Burhanuddin Ahmad dan Ahmad Atabik.Prinsip dan Metode Pendidikan Anak Usia Dini.Jurnal Tarbiyah STAIN Kudus.

 

Depag.2010.Al Qur’an dan Terjemahnya.

Depdikbud.1988.Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta: Balai Pustaka.

 

Dewi Putu Ayu Septiari dan Ni Made Sukerni.2022.Peran Orang tua Dalam Pembentukan karakter Religius Anak Usia 5-6 Tahun Melalui Pengenalan Mantram Puja Trisandyadi Masa Belajar Dari Rumah.Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar:Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini.

 

Gunarso dan Gunarso Y.S.1995.Psikologi Praktis:Anak, Remaja dan Keluarga.

Jakarta:Gunung Mulia.

 

Harbeng, Masni.Peran Pola Asuh Demokrasi Orang Tua Terhadap Pengembangamn Potensi Diri dan Kreativitas Siswa.

 

Ismail.Pendidikan Karakter Berbasis Religius (Suatu Tinjauan Teoritis).Jurnal Kajian Islam & Pendidikan.

 

Mary, Go Setiawan.2000.Menerobos Dunia Anak.Bandung:Yayasan Kalam Hidup.

 

Muallifah dan Ilhamuddin.2011.Psikologi Anak Sukses Cara Orang Tua Memandu Anak Meraih Sukses.Malang:Universitas Brawijaya Press.

 

Muhammad Ilyas dan Alif Achadah.2020.Aktulasi Pendidikan Karakter Religus Untuk Membentuk Perilaku Baik Peserta Didik Di Madrasah Tsanawiyah Ash Sholihudin Dampit.Jurnal Pendidikan Dan Pemikiran Islam.

 

Nurlaela, Lela siti dkk.2020.Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Karakter Anak Pada Siswa Kelas III Mandrasah Ibtidaiyah Tahfizhul qur’an Assul Huda Ranjikulon.Jurnal Universitas Majalengka.

 

Ny.Y.Singgih D,Gunarsa dan Gunarsa D.2007.Psikologi Remaja.Jakarta:Gunung Mulya.

 

Pardede, Dewi Lestari.2021.Hubungan Pendidikan Dalam Keluarga Dengan Hasil Belajar Pkn Siswa Kelas Xi Sma Negeri Sipahutar Taput I T.P 2021/2022.Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Medan.

 

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 2

Rakhamawati, Istina.2015.Peran Keluarga Dalam Pengasuhan Anak.Jawa Tengah:SMP 1 Undaan Kudus.

 

Rahayu, Sripuji.2020.Pola Asuh Orang Tua Dalam Pendidikan Karakter Religius Pada Remaja Di Dusun Nobowetan Kelurahan Noborojo Kec.Argomulyo Kota Salatiga.

 

Ratri, Rindi Antika Ritma.2018.Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap religiusitas Anak Dalam Ibadah shalat Berjamaah Di Masjid Baitul Makmur Grendeng Purwokert. Program Studi Pendidikan Agama Islam IAIN Purwokerto.

 

Roflin, Eddy,dkk.2022.Metode Menghitung Besar Sampel Pada Penelitian,Kesehatan.Pekalongan Jawa Tengah:PT.Nasya Ekpanding Management.

 

Saputra, Nofrans Eka,Yun,Nina Eka Wati,Ramadani,Islamiyah.2020.Skala Karakter Religius Siswa SMA Implementasi Nilai Utama Karakter Kemendikbud.Universitas Jambi: Jurnal Pengukuran Psikologi dan Pendidikan Indonesia.

 

Slamet, Riyanto dan Aglis Andihta Hatmawan.2020.Metode Riset Penelitian Kuantitatif Penelitian di Bidang Menejemen,Teknik,Pendidikan dan Eksperimen.Yogyakarta: Grup Penerbitan CV Budi Utama.

 

Su’adah, Uky Syauqiyyatus.2021.Pendidikan Karakter Religius Strategi Tepat Pendidikan Agama Islam Dengan Optimalisasi Masjid.Jawa Timur: CV.Global Aksara Press.

 

Subagia, I Nyoman.2021.Pola Asuh Orang Tua:Faktor, Implikasi Terhadap Perkembangan Anak.Bandung: Nilacakra.

 

Sugiyono.2018.Metode Penelitian Pendidikan pendekatan Kuantitati  Kualitatif  dan R&D.Bandung: Alfabeta.

 

Suharsimi Arikunto.2013.Manajemen Penelitian.Jakarta: Rineka Cipta.

Sukiyat.2020.Strategi Implementasi Pendidikan Karakter.Surabaya: CV.Jakad Media Publishing.

 

Siti Muhayati dan Diana Ariswanti Triningtyas.2014.Pengaruh Pola Asuh Orang Tua dan Interaksi Teman Sebaya Terhadap Remaja Akhir Wajib Shaung Kifarat.Madiun:Jurnal Bimbingan Dan Konseling.

 

Sri, Sugrastuti.2013.Seni Mendidik Anak Sesuai Tuntunan Islam.Jakarta:Mitra Wacana Media.

 

Wandari LA. 2018.Pengaruh Pola asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Karakter Religius Anak Usia 9-10 Tahun Di Desa Watuagung Kecamatan watulimo Kabupaten Trenggalek.IAIN Tulungagung.

 

 

 

 

 

   



[1] Sipayung Regina, Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Dan Disiplin Belajar Terhadap Hasil belajar Siswa SD Kelas V Di SD Negeri Muara Bolak 4 Kec. Sosorgadong,(Dosen Universitas Katolik ST Thomas Medan, 2018).

[2] Depag, Al Qur’an dan Terjemahnya, 2010

[3] Pardede Dewi Lestari, Hubungan Pendidikan Dalam Keluarga Dengan Hasil Belajar Pkn Siswa Kelas Xi Sma Negeri Sipahutar Taput I T.P 2021/2022,(Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Medan,2021),hal.2.

[4] Harbeng Masni, Peran Pola Asuh Demokratis Orang Tua Terhadap Pengembangan Potensi Diri Dan Kreativitas Siswa.

[5] Subagia I Nyoman, Pola Asuh Orang Tua:Faktor, Implikasi Terhadap Perkembangan Anak, (Bandung: Nilacakra, 2021), hal.3.

[6] Syarbini Amirulloh, Model Pendidikan Karakter Dalam Keluarga, (Jakarta: PT. Gramedia, 2014), hal.3.

[7] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), hal. 54.

[8] Wandari LA, Pengaruh Pola asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Karakter Religius Anak Usia 9-10 Tahun Di Desa Watuagung Kecamatan watulimo Kabupaten Trenggalek, (IAIN Tulungagung:2018).

[9] Subagia I Nyoman, Pola Asuh Orang Tua:Faktor, Implikasi Terhadap Perkembangan Anak, (Bandung: Nilacakra, 2021), hal.20.

 

[10] Tringningtyas Diana Ariswanti dan Siti Muhayati, Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Dan Interaksi Teman Sebaya Terhadap Remaja Akhir Wajib Shaum Kifarat, (Madiun:Jurnal Bimbingan dan Konseling,2014), hal.4.

[11] Alfiani Fitri  dkk, Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Karakter Religius Anak Di Dusun Tegal Sari Desa Pasir Jaya Kecamatan Rambah Hilir Kabupaten Rokan Hulu, (Universitas Riau:2016).

[12] Nurlaela Lela siti dkk, Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Karakter Anak Pada Siswa Kelas III Mandrasah Ibtidaiyah Tahfizhul qur’an Assul Huda Ranjikulon, (Universitas Majalengka: 2020).

[13] Ny.Y.Singgih D.Gurnarsa dan Gurnarsa,Singgih D, Psikologi Remaja,(Jakarta:Gunung Mulia,2007), hal.109.

[14] Mary Go Setiawan, Menerobos Dunia Anak, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2000), hal. 69-71.

[15] Muallifah dan Ilhamuddin, Psikologi Anak Sukses Cara Orang Tua Memandu Anak Meraih Sukses, (Malang:Universitas Brawijaya Malang,2011), hal.6

[16] Burhanuddin Ahmad dan Ahmad Atabik, Prinsip Dan Metode Pendidikan Anak Usia Dini, (Jurusan Tarbiyah STAIN Kudus)

[17] Anisah Ani Siti, Pola Asuh Orang Tua Dan Implikasinya Terhadap Pembentukan Karakter Anak, (Fakultas Pendidikan Islam dan Keguruan Universitas Garut: Jurnal Pendidikan Universitas Garut), hal.73

[18] Gunarso dan Gunarso Y.S, Psikologi Praktis: Anak, Remaja dan Keluarga, (Jakarta:Gunung Mulia, 1995), hal.112.

[19] Rakhamawati Istina, Peran Keluarga Dalam Pengasuhan Anak, (Jawa Tengah: SMP 1 Undaan Kudus,2015), hal.7.

[20] Sitanggang Fitri Sandora,dkk, Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kepribadian Siswa Pada Siswa Sekolah Dasar, (Universitas Katolik Santo Thomas: Jurnal Basicedu,2021).

[21] Adawiah  Rabiatul, Pola Asuh Orang Tua dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Anak, (Dosen Program PPKn FKIP ULM Banjarmasin:2017).

[22] Sri Sugiastuti, Seni Mendidik Anak sesuai Tuntunan Islam, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2013), hal. 37.

[23] Sri Sugiastuti, Seni Mendidik Anak sesuai Tuntunan Islam, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2013), hal. 37.

[24]Subagia I Nyoman, Pola Asuh Orang Tua:Faktor, Implikasi Terhadap Perkembangan Anak, (Bandung: Nilacakra,  2021),hal. 2.

[25]Sukiyat, Strategi Implementasi Pendidikan Karakter, (Surabaya: CV.Jakad Media Publishing, 2020).

[26] Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003 pasal 1 ayat (2)

[27] Wandari LA, Pengaruh Pola asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Karakter Religius Anak Usia 9-10 Tahun Di Desa Watuagung Kecamatan watulimo Kabupaten Trenggalek, (IAIN Tulungagung: 2018).

[28] Ardi Irawan dan  Arip Nurrahman, Analisis Karakter Religius Siswa Sekolah Menegah Pertama, (Al-Tadib:Jurnal Kajian Ilmu Kependidikan), Hal. 176-177.

[29] Muhammad Ilyas dan Alif Achadah.Aktulasi Pendidikan Karakter Religius Untuk Membentuk Perilaku Baik Peserta Didik Di Madrasah Tsanawiyah Ash Sholihudin Dampit.(Jurnal Pendidikan Dan pemikiran Islam.2020), Hal.126-127.

[30]Abidin Zaenal,dkk, Pola pembentukan karakter religius pada anak dalam Pendidikan Agama Islam Di Sekolah menengah pertama taiyatul Falah ciampea Bogor,(Jurnal Pendidikan Islam:2022),hal.18.

[31] Saputra Nofrans Eka,dkk, Skala Karakter Religius Siswa SMA Impelemtasi Nilai Utama Karakter Kemendikbud, (Universitas Jambi: Jurnal Pengukuran Psikologi dan Pendidikan Indonesia,2020), hal.58.

[32] Su’adah Uky Syauqiyyatus, Pendidikan Karakter Religius Startegi Tepat Pendidikan Agama Islam Dengan Optimalisasi Masjid, (Jawa Timur: CV. Global Aksara Pres, 2021) ,hal.2-3.

[33] Ismail,Pendidikan Karakter Berbasis Religius (Suatu Tinjauan Teoritis),(Jurnal Kajian Islam & Pendidikan),hal.6.

 

 

[34] Dewi Putu Ayu Septiari dan Ni Made Sukerni, Peran Orang tua Dalam Pembentukan karakter Religius Anak Usia 5-6 Tahun Melalui Pengenalan Mantram Puja Trisandyadi Masa Belajar Dari Rumah,(Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar:Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini,2022),hal.83.

[35] Su’adah Uky Syauqiyyatus, Pendidikan Karakter Religius Startegi Tepat Pendidikan Agama Islam Dengan Optimalisasi Masjid, (Jawa Timur: CV. Global Aksara Pres, 2021) ,hal.2-3.

[36] Alfiani Fitri, dkk,Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Karakter Religius Anak Di Dusun Tegal Sari Desa Pasir Jaya Kecamatan Rambah Hilir Kabupaten Rokan Hulu, (Universitas Riau:2016).

[37] Nurlaela Lela siti,dkk, Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Karakter Anak Pada Siswa Kelas III Mandrasah Ibtidaiyah Tahfizhul qur’an Assul Huda Ranjikulon, (Universitas Majalengka: 2020).

 

 

[38] Ratri Rindi Antika Ritma, Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap religiusitas Anak Dalam Ibadah shalat Berjamaah Di Masjid Baitul Makmur Grendeng Purwokert, (Program Studi Pendidikan Agama Islam IAIN Purwokerto: 2018).

[39] Cholid Narbuko Dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, hal.29.

[40] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif,  Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2018), hal.7.

 

[41]Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2018), hal. 80.

[42]Sutanto Leo, Kiat Jitu Menulis Skripsi, Tesis, dan  Desertasi, (Jakarta: Erlangga, 2013), hal.102.

[43] Slamet Riyanto dan Aglis Andhita Hatmawan, Metode Riset Penelitian Kuantitatif Penelitian di Bidang Manajemen,Teknik,Pendidikan dan Eksperimen, (Yogyakarta:Grup Penerbitan CV Budi Utama,2020), hal.12.

[44] Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta:Renika Cipta,2013),hal.174.

[45] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2018), hal. 39.

[46] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2018, hal. 39.

[47] Ibid, hal.228.

[48] Ibid, hal.142.

[49] Ayun,Qurrotu,Pola Asuh Orang Tua Dan Metode Pengasuhan Dalam Membentuk Kepribadian Anak,(Jawa Tengah: IAIN Salatiga,2017),hal.5.

25 Subana, et. All. Statistik Pendidikan, (Bandung : Pustaka Setia, 2005), hal. 37

26 Ibid., hal. 37

27 Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2012), hal.91

28 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan…., hal. 207

[50] Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), hal. 167.

 

[51] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif (Bandung: Alfabeta, 2018), hal. 193.                   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SK Sekolah

PEMERINTAH KABUPATEN BENGKULU TENGAH DINAS PENDIDIKAN   DAN KEBUDAYAAN SEKOLAH DASAR NEGERI 0 1 MERIGI SAKTI Alamat : Desa Bajak III, Kecamatan Merigi Sakti Kode Pos 38383   KEPUTUSAN KEPALA SEKOLAH DASAR NEGERI 01 MERIGI SAKTI Nomor :421.2/SK/SDN01/2014 TENTANG PENGANGKATAN BENDAHARA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH TAHUN PELAJARAN : 2013-2014                                              Menimbang : a. Bahwa untuk kelancaran tugas penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah(BOS) padaSD Negeri 01 Merigi Sakti maka dipandang perlu mengangkat seorang bendahara b. Bahwa yan...

Artikel Prisma Segitiga

 Rumus Prisma Segitiga (Volume dan Luas Permukaan) serta Contoh soal Menghitung Prisma Segitiga - Di artikel ini, kami membahas tentang prisma segitiga sama kaki, luas permukaan prisma segitiga, volume prisma segitiga, cara menghitung rumus luas permukaan prisma segitiga, cara menghitung volume prisma segitiga, contoh soal menghitung luas permukaan prisma segitiga, contoh soal menghitung volume prisma segitiga, dan lain-lain. Di kehidupan sehari-hari sering di lihat benda yang menyerupai prisma segitiga diantaranya atap kandang hewan pliharaan, atap rumah, dan lain-lain. Seomoga dengan adanya artikel ini, anda semakin paham mengenai prisma segitiga. Di sini kami hanya membahas mengenai prisma segitiga dan rumus-rumus pada prisma segitiga itu sendiri, di antaranya rumus Luas permukaan dan volume. Prisma Segitiga Prisma segitiga merupakan bangun ruang tiga (3) dimensi yang terbentuk atas alas, penutup atau topi, dan selimut. Jika di perhatikan alas prism...

SK Pembagian Tugas Guru Piket SDN 19 Bengkulu Tengah

  PEMERINTAH KABUPATEN BENGKULU TENGAH DINAS PENDIDIKA N DAN KEBUDAYAAN SEKOLAH DASAR NEGERI 19 BENGKULU TENGAH Alamat : Desa Bajak   I II, Kecamatan Merigi Sakti Kode Pos 38383   SURAT KEPUTUSAN KEPALA SD NEGERI 19 BENGKULU TENGAH NOMOR: 421/ /SDN19BT/2024 TENTANG Pembagian Tugas Guru Piket Tahun Pelajaran : 2023 / 2024 Pada Sekolah Sd Negeri 19 Bengkulu Tengah Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Bengkulu Tengah Kepala Sekolah Sd Negeri 19 Bengkulu Tengah   Menimbang : Untuk memperlancar pelaksanaan tugas Kepala Sekolah di dalam pengelolaan Administrasi dan kependidikan di SDN 19 Bengkulu Tengah Kecamatan Merigi Sakti Kabupaten Bengkulu Tengah sehingga dapat berjalan dengan tertib, aman dan teratur maka dipandang perlu menunjuk guru untuk menjadi Guru Piket tahun pelajaran : 2023 / 2024 Mengingat      1. UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2. ...