PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP KARAKTER RELIGIUS SISWA KELAS III DI SDIT IQRA’ 2 KOTA BENGKULU
PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP KARAKTER RELIGIUS SISWA KELAS III
DI SDIT IQRA’ 2 KOTA BENGKULU

SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah dan Tadris
Universitas Islam Negeri Fatmawati
Sukarno Bengkulu
Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana
Dalam Bidang Pendidikan
Guru Madrasah Ibtidaiyah
Oleh:
PUTRI WAHYUNI
NIM.
1811240130
11
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN TADRIS (FTT)
UNIVERSITAS ISLAM NEGERIFATMAWATI
SUKARNO BENGKULU
TAHUN 2023
Abstrak
Nama
: Putri Wahyuni, Maret 2023 Judul Skripsi : Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap
Karakter Religius Siswa Di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu. Skripsi: Program Studi Pendidikan Guru
Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Tarbiyah dan Tadris, UIN Fatmawati Soekarno
Bengkulu
Pembimbing :
1.
Prof. Dr. KH. Zulkarnain Dali,M.Pd.
2.
Hamdan Efendi,M.Pd.I
Kata Kunci: Pengaruh Pola asuh Orang Tua, Karakter Religius Siswa
Penelitian ini dilatar
belakangi oleh peran orang tua dalam membentuk
karakter religius anak melalui pengasuhan atau sering disebut
pola asuh yang disesuaikan
dengan karakter atau kepribadian anak. Pola asuh inilah nantinya akan digunakan
sebagai tolak ukur tingkat keberhasilan orang tua dalam membentuk karakter
religius Siswa usia 9-10 tahun di
SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu. Rumusan Masalah dalam penulisan skripsi
ini adalah Adakah
pengaruh pola asuh Orang Tua
terhadap karakter religius Siswa di di
SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu? Dan Bagaimana pengaruh pola asuh orang tua terhadap
karakter religius siswa kelas III di Di SDIT IQRA’2 Kota
Bengkulu? Skripsi
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola asuh orang tua terhadap karakter
religius Siswa di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu. Untuk mengetahui pengaruh pola
asuh orang tua karakter religius
Siswa usia 9-10 tahun dan untuk mengetahui
pengaruh pola asuh otoriter dan demokratis bersama-sama terhadap karakter religius siswa usia 9-10
tahun di di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu.
Dalam penelitian ini digunakan 1) Metode penelitian
kuantitatif korelasi. 2) Lokasi penelitian di Di SDIT IQRA’2
Kota Bengkulu.
3)
Sumber data yaitu responden terdiri dari orang tua dan siswa kelas III usia
9-10 tahun di Di SDIT IQRA’2 Kota
Bengkulu dan dokumentasi. 4) Tehnik pengumpulan data menggunaka
angket dan dokumentasi. 5) analisis data dilakukan dengan uji validitas instrument, uji realibilitas, uji asumsi
klasik dan uji hipotesis dengan uji-T (parsial), uji F dan uji koefisien diterminasi.
Hasil Penelitian : 1). Terdapat pengaruh yang positif mengingat
tipe anak di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu sendiri cenderung berani terhadap orang
yang lebih tua, Di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu ini sendiri yang ditunjukkan
dengan prosentase R square sebesar 31,6%. Artinya sebanyak 31 % lebih orang tua
di SD IT IQRA’2 Kota Bengkulu menerapkan pola asuh yang dominan sifatnya
memaksakan dalam pengasuhan anak. 2) Terdapat pengaruh yang Positif dan
sgnifikan yakni dengan nilai Thitung 2,349>2,048 yang berarti Ha diterima.
Dannilai sig sebesar 0,41 dan nilai R square sebesar 31,6 % sisanya 68,4%
dijelaskan oleh sebab - sebab yang lain diluar variabel.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk
mewujudkan pengembangan pembangunan. Oleh karena itu, pemerintah berusaha untuk
mewujudkan dunia pendidikan di Indonesia dengan memberikan perhatian khusus
dalam dunia pendidikan. Hal ini dilatarbelakangi karena pendidikan merupakan
ujung tombak untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas disegala
bidang kehidupan yang dapat membawa kemajuan dan kesejahteraan bangsa.
Menurut pasal 1 Undang-Undang RI No. 20 Tahun
2003 tentang sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan adalah
usaha sadar dan rencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara. [1]
1
Artinya : Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah
dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan.
Dengan adanya perhatian dan keperdulian dari orang tua maka akan
mempengaruhi tingkah laku anak yang akan berpengaruh pula terhadap hasil belajar
yang diharapkan. Seharusnya orang tua dapat berperan dalam menciptakan suasana
yang mendorong anak senang belajar, yaitu dengan memberikan keamanan dan
kebebasan psikologis pada anak yang akan mendorong terciptanya komunikasi yang
aktif antara orang tua dengan anaknya. Komunikasi dan koordinasi antara orang
tua dan pihak sekolah juga perlu dibina dan dijaga agar keduanya terlibat dalam
pendidikan siswa dan diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.[3]
Lingkungan pertama dalam pendidikan yang dikenal oleh anak adalah
keluarga. Keluarga adalah sekelompok
orang yang menyatu dalam ikatan pernikahan, sedarah atau adopsi, mendirikan suatu rumah tangga,
melakukan interaksi dan komunikasi berkelanjutan dalam respektif pada aturan
sosial dari suami dan istri, ayah dan ibu, anak laki-laki dan anak perempuan,
menghasilkan dan memelihara suatu budaya umum. Artinya, bahwa keluarga
merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terbentuk akibat adanya
perkawinan berdasarkan agama dan hukum yang sah. Pengaruh dalam keluarga terutama
peran orang tua sangat penting karena keluarga merupakan awal pembelajaraan bagi
seorang anak.[4]
Karakteristik anak adalah meniru apa yang
dilihat, didengar, dirasa dan dialami, maka karakter mereka akan terbentuk
sesuai dengan pola asuh orang tuanya. Dengan kata lain anak akan belajar apa
saja termasuk karakter, melalui pola asuh yang dilakukan orang tua. Pendidikan
karakter adalah pendidikan sepanjang hayat, sebagai proses perkembangan ke arah
manusia sempurna. Oleh karena itu, pendidikan karakter memerlukan keteladanan
dan sentuhan mulai sejak dini sampai dewasa.[5]
Pendidikan karakter akan berjalan efektif dan
utuh jika melibatkan tiga institusi, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.
Pendidikan karakter tidak akan berjalan dengan baik jika mengabaikan salah satu
institusi, terutama keluarga. Pendidikan informal dalam keluarga memiliki peran
penting dalam proses pembentukan karakter seseorang. Salah satu upaya untuk
mewujudkan kebijakan tersebut adalah dengan menekankan pentingnya pendidikan
karakter untuk diimplementasikan dalam setiap institusi pendidikan, baik formal
(sekolah), informal (keluarga) dan non formal (masyarakat).[6]
Berdasarkan hasil dari observasi dan wawancara
yang dilaksanakan di SDIT IQRA’ 2 Kota Bengkulu. Wali kelas III
mengatakan pengaruh pola asuh orang tua terhadap karakter religius siswa
sangatlah penting. Di kelas III peran pola asuh orang tua
sudah cukup baik, namun peran pola
asuh orang tua setiap anak pasti berbeda-beda. Terdapat peran pola asuh
orang tua yang cenderung keguru dan adapula yang cenderung ke
orang tua. Tetapi, sebagian orang tua memberikan tanggung
jawabnya cenderung ke guru. Pada saat peneliti melakukan pengamatan juga
terlihat anak-anak yang suka menjahili temannya dan tidak serius dalam
melaksanakan sholat.
Dalam pola asuh orang tua terhadap
pembentukan karakter religius tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui
suatu proses yakni dengan pola asuh orang tua yang demokratis. Melalui orang
tua, anak mengembangkan seluruh potensi dirinya. Konsep orang tua di sini bukan
hanya orang tua yang melahirkan anak, melainkan orang tua yang mengasuh,
melindungi dan memberikan kasih sayang kepada anak seperti guru yang ada di
sekolah. Orang tua yang baik adalah mereka yang mampu mendidik anaknya sesuai
dengan tuntunan islam karena setiap anak terlahir keadaan fitrah yang kemudian
orang tuanya memiliki tanggung jawab penuh dalam mengarahkan anak-anaknya
kepada hal-hal yang baik.
Karakter religius ini dapat
meminimalisir akibat buruk dari arus perkembangan pola asuh orang tua yang
sangat berpengaruh terhadap perkembangan karakter religius anak. Karakter
religius yang ditanamkan sejak dini oleh orang tua dapat mempermudah perjalanan
hidupnya kelak. Agar tercapainya hal tersebut diperlukan orang tua yang sadar
tentang pentingnya Pendidikan keagamaan di dalam keluarga. Dengan kata lain,
melalui Pendidikan di dalam keluarga merupakan salah satu jalan yang efektif
membangun karakter religius anak.
Dari uraian di atas peneliti tertarik untuk
mengetahui bagaimana pola asuh orang tua dapat memberikan kontribusi yang
signifikan terhadap karakter religius anak dan melakukan penelitian yang
berjudul “Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Karakter Religius Siswa
Kelas III di SDIT IQRA’ 2 Kota Bengkulu”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan
uraian yang ada di latar belakang timbul permasalahan yaitu:
1. Siswa suka
menjahili teman
2. Siswa tidak
khusyuk atau bermain-main dalam pelaksanaan shalat
3. Penerapan
pola asuh orang tua yang baik belum tentu membentuk karakter religius anak yang
baik.
C. Batasan Masalah
1. Pengaruh pola
asuh orang tua terhadap karakter religius siswa
2. Siswa
pada penelitian ini adalah siswa kelas III di SDIT IQRA’ 2 Kota Bengkulu
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas, maka peneliti menemukan 2 rumusan masalah
yang akan menjadi bahan penelitian adalah:
1.
Adakah
pengaruh pola asuh orang tua
terhadap karakter religius siswa kelas III di SDIT IQRA’ 2 Kota Bengkulu?
2.
Bagaimana pengaruh pola asuh orang tua terhadap
karakter religius siswa kelas III di Di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah: Untuk mengetahui tentang
apakah ada pengaruh pola asuh orang tua
terhadap karakter religius siswa kelas III di SDIT IQRA’ 2 Kota Bengkulu.
F. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dalam
penelitian ini adalah:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memeberikan kontribusi bagi
perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya mengenai pengaruh pola asuh orang tua
terhadap karakter religius siswa.
2. Manfaat Praktis
Manfaat penelitian secara praktis dibagi kepada pihak
perguruan tinggi, orang tua, masyarakat dan peneliti lain.
a. Pihak Perguruan Tinggi.
Diharapkan dapat dijadikan acuan sebagai salah satu acuan untuk
penelitian-penelitian selanjutnya.
b. Pihak Orang Tua. Diharapkan
hasil penelitian ini dapat memberikan masukan sebagai refleksi dalam strategi
pemberian bimbingan dn pengasuhan bagi putra-putrinya di lingkungan keluarga,
sehingga dapat mencegah secara dini kemungkinan-kemungkinan perilaku negatif
yang dapat menyebabkan rendahnya prestasi belajar anak.
c. Pihak Masyarakat. Khususnya
masyarakat yang ada di lingkungan sekolah dan masyarakat pada umunya,
diharapkan sebagai bahan masukan dan tindak lanjut kepedulian akan pembinaan
dan pencegahan kemungkinan munculnya kesalahan dalam pola asuh anak terhadap
karakter religius siswa.
LANDASAN TEORI
A.
Kajian Teori
1.
Pengertian Pola Asuh Orang Tua
Pola asuh terdiri dari dua kata yaitu pola dan asuh.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pola berarti corak, model, sistem, cara
kerja, bentuk strukur yang tetap. Sedangkan kata asuh dapat
berarti menjaga (merawat dan mendidik) anak kecil, membimbing (membantu,
melatih dan sebagainya) dan memimpin (mengepalai dan menyelenggarakan) suatu
badan atau lembaga.[7]
Secara epistimologi kata pola diartikan sebagai cara
kerja dan kata asuh berarti merawat dan mengasuh anak kecil, membimbing dan melatih supaya dapat berdiri
sendiri, atau dalam bahasa populernya adalah cara mendidik. Secara terminologi
pola asuh orang tua adalah cara terbaik yang ditempuh oleh orang tua dalam mendidik
anak sebagai perwujudan dari tanggung jawab kepada anak.[8]
8
Pengertian pola asuh orang tua secara harfiah mempunyai
maksud pola interaksi antara orang tua dan anak. Pola interaksi ini merupakan bagaimana sikap atau
perilaku orang tua saat berhubungan dengan anak. Pola asuh orang tua adalah
pola perilaku yang diterapkan pada anak yang relatif, konsisten dari waktu ke
waktu yang dapat dirasakan oleh anak baik dari segi positif maupun negatif.[10]
Pola asuh orang tua merupakan suatu keseluruhan dimana orang tua
yang memberikan dorongan bagi anak dengan mengubah tingkah laku, pengetahuan
dan nilai-nilai yang dianggap paling tepat bagi orang tua agar anak bisa
mandiri, tumbuh serta berkembang secara sehat dan optimal, memiliki rasa
percaya diri, memiliki sifat rasa ingin tahu, bersahabat dan berorientasi untuk
sukses.[11]
Pola asuh orang tua ini juga akan menentukan terhadap tingkah
laku seorang anak. Ketika orang tua menerapkan pola asuh yang benar dan tepat,
maka akan menghasilkan generasi yang baik. Begitupun sebaliknya ketika orang
tua menerapkan pola asuh yang salah dalam mendidik seorang anak, maka hasilnya
pun tidak sesuai dengan yang diharapkan. [12]
Pola asuh orang tua adalah sikap dan cara orang
tua dalam mempersiapkan anggota keluarga yang lebih mudah termasuk anak supaya
dapat mengambil keputusan sendiri dan bertindak sendiri sehingga mengalami
perubahan dari keadaan bergantung kepada orang tua menjadi berdiri sendiri dan
bertanggung jawab sendiri.[13]
a.
Jenis-jenis pola asuh orang tua dalam mendidik anak
ada tiga macam, yaitu :
1) Pola Asuh
Demokratis yaitu ditandai dengan adanya pengakuan orang tua terhadap kemampuan
anak, anak diberi kesempatan untuk tidak selalu tergantung kepada orang tua. Pola
asuh demokratis ini memiliki sisi positif dari anak, terdapat juga sisi
negatifnya. Dimana anak cenderung merongrong kewibawaan otoritas orang tua
karena segala segala sesuatu itu harus dipertimbangkan oleh anak kepada orang
tua.
Orang tua
yang mendidik anaknya dengan sikap demokrasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut
:
a) Komunikasi
orang tua dan anak
Sikap
demokrasi itu berkembang dari kebiasaan komunikasi di dalam rumah tangga,
komunikasi berperan sebagai sarana pembentukan moral anak. Melalui interaksi
dengan orang tuanya, anak mengetahui tentang apa yang baik dan apa yang buruk,
apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.
Dalam
membangu komunikasi dengan anak harus memperhatikan prinsip-prinsip di bawah
ini:
a. Menyediakan
waktu
Dewasa ini
orang tua yang berkerja di luar rumah banyak waktunya untuk menjalankan
pekerjaannya, sehingga waktu untuk anak-anaknya berkurang dan minim sekali bisa
komunikasi dengan anaknya.
Dalam hal ini
orang tua yang rela mengorbankan waktunya untuk berkomunikasi dengan
anak-anaknya berarti orang tua tersebut sudah mengasihi dan memperhatikan
anaknya.
b. Berkomunikasi
secara pribadi
Berkomunikasi
secara pribadi berarti komunikasi diadakan secara khusus dengan anak, sehingga
akan dapat mengetahui perasaan yang sedang dialami oleh anaknya, baik perasaan
Ketika anak senang, marah dan gembira.
c. Menghargai
anak
Orang dewasa
sering meremehkan anak, baik dalam keadaan sadar atau tidak sadar. Padahal
seiring dengan kemajuan IPTEK besar kemungkinan kemampuan seorang anak dapat
melebihi orang dewasa, maka usahakanlah orang tua untuk menhargai anak dan
menerima pendapat anak.
d. Mempertahankan
hubungan
Komunikasi
yang baik selalu didasarkan pada hubungan yang baik, orang tua yang selalu
menjaga hubungan yang baik dengan anak dan menganggap anaknya sebagai teman,
sehingga berkait kedekatan mereka, anaknya dapat mengutarakan isi hatinya
dengan terbuka.[14]
b) Menerima
Kritik
Sikap
demokrasi juga ditandai dengan adanya perilaku positif orang tua untuk
memberikan contoh atau keteladanan kepada anak sangat penting, karena
pendidikan dengan suri tauladan akan lebih efektif dari pada orang tua hanya
sekedar memerintah tanpa memberikan contoh. Jika orang tua mampu memberikan
contoh-contoh positif, anak akan mengikuti dan kebiasaan seprti ini akan
membuat anak cepat meraih sukses. Begitu juga sebaliknya, jika anda sebagai
orang tua tidak dapat memberikan contoh perilaku buruk, maka anak anda juga
akan melakukan hal yang sama. Oleh sebab itu, sebagai orang tua kita harus
menerima kritik dari anak jika kritikan tersebut bersifat positif.[15]Pola asuh demokratis memiliki ciri-ciri sebagai
beriku:
a. Orang tua
memberi aturan yang jelas
b. Orang tua
memberikan penjelasan akibat yang terjadi apabila melanggar peraturan
c. Orang tua
memberi kesempatan untu berpendapat
d. Orang tua
memberikan kebebasan kepada anak dalam memilih atau berperilaku
Pola asuh
demokratis akan berpengaruh pada sifat dan kepribadian anak, diantaranya:
a. Bersikap
bersahabat
b. Percaya
kepada diri sendiri
c. Mampu
mengendalikan diri
d. Memiliki rasa
sopan
e. Mau bekerja
sama
f. Memiliki rasa
ingin tahu tang tinggi
g. Mempunyai
tujuan dan arah hidup yang jelas
h. Berorientasi
terhadap prestasi
Anak
merupakan sumber kebahagiaan keluarga. Oleh karena itu, orang tua hendaklah
menyadari kewajiban dan tanggung jawabnya terhadap anak. Anak sangatlah
memerlukan perawatan, asuhan, bimbingan dan pendidikan yang benar demi
kelangsungan hidupnya, anak juga akan berhasil secara intelektual dan sosial,
menikmati kehidupan dan memiliki motivasi yang kuat untuk maju.[16]
2) Pola asuh
otoriter adalah pola asuh yang ditandai dengan cara mengasuh anak-anak dengan
aturan yang ketat, sering kali memaksa anak untuk berperilaku seperti orang
tua.
Pola asuh otoriter ini juga dapat diartikan sebagai pola asuh di mana orang tua menerapkan aturan dan batasan
yang mutlak harus ditaati tanpa memberi kesempatan pada anak untuk berpendapat
jika anak tidak mematuhi akan diancam dan dihukum. Pola asuh otoriter ini dapat
menimbulkan akibat hilangnya kebebasan pada anak, inisiatif dan aktivitasnya
menjadi kurang, sehingga anak menjadi tidak percaya diri pada
kemampuannya.
Ciri-ciri pola asuh otoriter
di antaranya :[17]
a)
Orang tua berupaya untuk membentuk,
mengontrol dan mengevaluasi
sikap dan tingkah laku anaknya secara mutlak sesuai dengan
aturan orang tua.
b)
Orang tua menerapkan
kepatuhan/ketaatan kepada nilai-nila yang terbaik menuntut perintah, bekerja dan menjaga tradisi.
c)
Orang tua senang memberi tekanan
secara verbal dan kurang memperhatikan masalah saling menerima dan memberi di anatara orang tua dan anak.
d) Orang
tua menekan kebebasan (independent) atau kemandirian (otonomi) secara
individual kepada anak.
Akibatnya anak cenderung
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a) Mudah tersinggung
b) Penakut
c) Pemurung tidak bahagia
d) Mudah terpengaruh dan mudah
stress
e) Tidak mempunyai masa depan
yang jelas
f) Tidak bersahabat
g) Gagap (rendah diri)
Orang tua yang menerapkan
pola asuh otoriter akan memberikan pengontrolan terhadap perilaku anaknya. Hal
ini akan berdampak untuk meminimalisir gangguan dari luar berupa pergaulan
bebas, narkoba dan tindak kriminal lainnya. Disiplin yang diterapkan dengan fungsi
sebagai pedoman dalam melakukan penilaian terhadap tingkah laku anak. Peraturan
dan hukuman yang mendidik untuk penanaman dasar moral dan kebiasaan yang baik
sebelum anak memasuki usia dewasa.[18]
Pola asuh ini diterapkan oleh
orang tua terhadap anak dalam hal pilihan nilai hidup atau hal-hal yang
bersifat prinsip. Dan para
orang tua dituntut untuk mengenalkan, membimbing, memberi teladan dan
melibatkan seluruh anggota keluarga untuk mengenal akidah-akidah agama dan
perilaku beragama.[19]
3) Pola Asuh
Permisif adalah membiarkan anak bertindak sesuai dengan keinginannya, orang tua
tidak memberikan hukuman dan pengendalian. Pola asuh permisif dapat diartikan sebagai pola perilaku
orang tua dalam berinteraksi dengan anak yang membebaskan anak untuk melakukan
apa yang ingin dilakukan tanpa mempertanyakan. Pola asuh ini tidak menggunkan
aturan-aturan yang ketat bahkan bimbingan pun kurang diberikan, sehingga tidak
ada pengendalian atau pengontrolan serta tuntutan kepada anak. Ciri-ciri pola asuh permisif yaitu :
a) Kontrol orang tua terhadap
anak sangat lemah.
b) Memberikan kebebasan kepada
anak untuk dorongan atau keinginannya.
c) Anak diperbolehkan melakukan
sesuatu yang dianggap benar oleh anak.
d) Hukuman tidak diberikan
karena tidak ada aturan yang mengikat.
e) Kurang membimbing.
f) Anak lebih berperan dari pada
orang tua.
g) Kurang tegas dan kurang
komunikasi.
Sebagai akibat dari pola asuh ini terhadap
kepribadian anak adalah akibatnya
banyak orang wali maupun wali tempat
anak dititipkan yang tidak mampu menjalankan pola
asuh kepada anak dengan baik. Banyak anak tidak
mendapatkan perhatian penuh dari orang tua maupun walinya sehingga
kepribadian anak tidak terbentuk dengan
baik dan tidak banyak juga akibat kurangnya pola asuh
orantua ini membuat prestasi anak menjadi kurang bahkan menurun.[20]
b. Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Pola Asuh Orang Tua
Ada beberapa faktor yang
dapat mempengaruhi pola asuh orang tua, yaitu karakteristik orang tua yang
berupa:[21]
a) Kepribadian Orang Tua
Setiap orang berbeda dalam
tingkat energi, kesabaran, intelengensi, sikap dan kemalangannya. Karakteristik
tersebut akan mempengaruhi kemampuan orang tua untuk memenuhi tuntutan peran
sebagai orang tua dan bagaimana tingkat sensitifitas orang tua terhadap
kebutuhan anak-anaknya.
b) Keyakinan
Keyakinan yang dimiliki orang
tua mengenai pengasuhan akan mempengaruhi nilai dari pola asuh dan akan
mempengaruhi tingkah laku dalam mengasuh anak-anaknya.
c) Persamaan dengan pola asuh
yang diterima orang tua
Bila orang tua merasa bahwa orang tua
mereka dahulu berhasil menerapkan pola asuhnya pada anak dengan baik, maka
orang tua akan menggunakan teknik yang serupa.
Adapun faktor
pendorong pola asuh orang tua dalam mendidik anak adalah sebagai berikut:[22]
a. Faktor Pendidikan
Pendidikan yang baik
merupakan wahana untuk membangun sumber daya manusia dan sumber daya manusia
itu terbukti menjadi faktor terpenting bagi keberhasilan seseorang yang akan
mempengaruhi pembangunan dan kemajuan suatu bangsa. Seseorang dengan tingkat
pendidikan yang baik bisa bersaing secara jujur, lebih bijak dalam berpikir
atau memutuskan suatu masalah, karena wawasannnya luas sehingga kepandaiannya
sangat bermanfaat untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Pendidikan adalah
kunci utama untuk dapat mengajarkan anak bagaimana bersikap dan berperilaku
dalam kehidupannya. Oleh sebab itu, orang tua harus memahami sedari dini bahwa
pendidikan orang tua ikut mewarnai karakter anak di masa depannya.
b. Faktor Keagamaan
Aqidah, akhlak dan iman merupakan faktor terpenting yang harus
dikenalkan sejak dini pada anak-anak. Dalam rangka mencapai keselamatan anak,
agama memegang peranan penting. Maka orang tua yang mempunyai dasar agama kuat,
akan kaya berbagai cara untuk melaksanakan upaya terbaik bagi psikis maupun
fisik terhadap anak. Pengajaran, bimbingan dan arahan orang tua kepada anak-anaknya akan mengacu pada
Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai
dengan aturan yang berlaku dalam agama.[23]
Banyak orang tua yang
bermimpi agar anak-anak mereka memiliki ilmu agama meskipun mereka sendiri tidak
memilikinya. Motivasi mereka tergolong baik karena mereka tidak ingin membuat
sengsara kehidupan anak-anaknya di dunia dan akhirat kelak.
c. Faktor Lingkungan
Lingkungan juga menjadi
faktor yang sangat kuat mempengaruhi upaya orang tua secara psikis dan fisik
terhadap anak. Pengaruh lingkungan ada yang baik dan ada yang buruk. Wajib bagi
orang tua menjauhkan anaknya dari lingkungan yang buruk. Jangan sampai anak
yang sudah dibentengi dengan pendidikan yang baik.
Maka dapat
diketahui pola asuh orang tua adalah pola yang
diberikan orang tua dalam mendidik atau mengasuh anak baik secara langsung
maupun tidak secara langsung. Cara mendidik secara langsung artinya bentuk
asuhan orang tua yang berkaitan dengan pembentukan kepribadian, kecerdasan dan
ketrampilan yang dilakukan secara sengaja, baik berupa perintah, larangan,
hukuman, penciptaan situasi maupun pemberian hadiah sebagai alat pendidikan.
Sedangkan mendidik secara tidak langsung adalah merupakan contoh kehidupan
sehari-hari mulai dari tutur kata sampai kepada adat kebiasaan dan pola hidup,
hubungan orang tua, keluarga, masyarakat dan hubungan suami istri.
Pola asuh orang tua terhadap
anak merupakan bentuk interaksi antar anak dan orang tua selama mengadakan
kegiatan pengasuhan yang berarti orang tua mendidik, membimbing, dan
mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan
norma yang berlaku dalam lingkungan setempat dan masyarakat. Hal tersebut
merupakan perlakuan dari orang tua dalam rangka memberikan perlindungan dan pendidikan
anak dalam kehidupan sehari-hari serta bagaimana sikap orang tua dalam
berhubungan dengan anak-anaknya. Orang tua mempunyai peran yang sangat penting
dalam menjaga, mengajar, mendidik, serta memberi contoh bimbingan kepada
anak-anak untuk mengetahui, mengenal, mengerti dan akhirnya dapat menerapkan
tingkah laku yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam
masyarakat. Peran ayah dan ibu dalam membimbing anaknya sangatlah penting
karena pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama yang
memiliki peran sentral dalam pembentukan dan pertumbuhan kepribadiannya.
Di dalam keluarga, anak
mendapatkan kesempatan yang banyak untuk memperoleh pengaruh bagi
perkembangannya, yang diterimanya dengan jalan meniru, menurut, mengikuti dan
mengindahkan apa yang dilakukan dan dikatakan oleh seluruh keluarga.
2. Pengertian Karakter Religius Siswa
Secara
teoritis karakter terdiri atas nilai-nilai operatif, nilai-nilai yang berfungsi
dalam keseharian. Karakter terbentuk dari tiga macam bagian yang saling
berkaitan, yaitu pengetahuan moral, perasaan moral dan perilaku moral. Artinya
untuk mampu memahami karakter yang baik terlebih dahulu harus mengetahui
kebaikan, menginginkan kebaikan dan melakukan kebaikan.[24]
Pencanangan pendidikan karakter
oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada peringatan hari Pendidikan Nasional
2 Mei 2010 terkesan tidak bergaung luas. Hal ini karena saat itu
memang belum ada tindak lanjut kebijakan mengenai pendidikan karakter. Namun
demikian, tren pendidikan karakter yang diawali melalui peringatan Hari
Pendidikan Nasional tersebut sekarang ini mulai mendapat respon berbagai pihak,
khususnya para pelaku pendidikan yang concern terhadap pendidikan karakter.[25]
Karakter merupakan sifat
kejiwaan atau tabiat seseorang yang membedakannya dengan orang lain. Negara
Kesatuan Republik Indonesia memiliki undang-undang yang mengatur segala
hal yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Salah satunya adalah Undang-undang
No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Pasal (3) dari
Undang-Undang tersebut disebutkan bahwa: “Pendidikan Nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab”.[26]
Karakter juga merupakan nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik
karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan yang membedakan dengan
orang lain serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan
sehari-hari. Karakter itu sama dengan akhlak dalam pandangan islam. Akhlak
dalam islam adalah kepribadian. Kepribadian itu komponennya ada tiga yaitu
pengetahuan, sikap dan perilaku.[27]
Karakter ini juga
dapat merupakan pembentuk sikap dan perilaku seseorang dalam bertindak.
Karakter mencerminkan bagaimana orang tersebut menjalani kehidupan sehari-hari.
Karakter seseorang muncul apabila terjadi interaksi dalam sebuah entitas sosial, baik pada masyarakat perkotaan maupun
masyarakat pedesaan. Karakter mengandung nilai-nilai yang khas (nilai baik,
nilai berbudaya, nilai yang berdampak baik dalam lingkungan) dan terpatri dalam
diri sehingga akan terwujud dalam perilaku sehari-hari. Karakter secara koheren
memancar dari hasil olah pikir (intellectual development), olah
hati (spiritual and
emotional development), olahraga (physical development), serta
olahrasa (affective development) dan karsa(creativity development) seseorang atau
suatu kelompok masyarakat.[28]
Dalam upaya
pembentukan karakter ini dimulai dari keluarga sebagai awal pembangunan
karakter anak. Tempat lain yang menjadi sangat krusial adalah lembaga
pendidikan tempat anak-anak bersekolah dan mencetak generasi muda yang
berintelektual tinggi dan berperilaku terpuji. Berkaitan dengan hal tersebut
pendidikan karakter dianggap sebagai solusi penting untuk menyelesaikan berbagai
fenomena kerapuhan moral yang terjadi. Pendidikan karakter mempunyai kekhususan
yang sangat umum serta beraspek multikasus karena termasuk aspek-aspek yang
sampai sekarang dilakukan dan dibangun yang meliputi: [29]
a)
Pembangunan karakter merupakan sesuatu yang
sangat esensi sebagai upaya menumbuhkan dan membangun perilaku generasi muda.
b)
Pendidikan karakter berfungsi sebagai nahkoda
dalam pembentukan perilaku dan norma agar sesuai dengan ciri khas bangsa.
Kata
religius berasal dari kata religi yang artinya kepercayaan atau keyakinan pada
sesuatu kekuatan kodrati diatas kemampuan manusia. Kemudian religius dapat
diartikan sebagai keshalihan atau pengabdian yang besar terhadap agama.
Keshalihan tersebut dibuktikan dengan melaksanakan segala perintah agama dan menjauhi
apa yang dilarang oleh agama. Tanpa keduanya seseorang tidak pantas menyandang
perilaku predikat religius. Dan karakter religius secara umum diartikan sebagai sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Dalam pengertian ini jelas bawasannya karakter religius merupakan pokok pangkal terwujudnya kehidupan yang damai.[30]
Religius merupakan suatu
pemahaman nilai yang berkaitan dengan sesuatu yang bersifat ketuhanan atau
keagamaan. Nilai religius dapat dikatakan sebagai pengamalan internalisasi dan
aktualisasi seseorang terhadap nilai-nilai kepercayaan yang di yakini. Pada dasarnya nilai
ini akan menuntun dan menjadikan setiap individu memiliki karakter yang baik
karena setiap kepercayaan akan mengajarkan nilai-nilai kebajikan baik dalam
hubungan vertikal terhadap pencipta maupun horizontal terhadap sesama manusia.[31] Pendidikan agama dan pendidikan
karakter adalah dua hal yang saling berhubungan, nilai-nilai yang dikembangkan
dalam Pendidikan karakter di Indonesia didentifikasikan berasal dari empat
sumber, yaitu agama, pancasila, budaya dan tujuan Pendidikan nasional.[32]
Secara spesifik, pendidikan
karakter yang berbasis nilai religius mengacu pada nilai-nilai
dasar yang terdapat dalam agama (Islam). Nilai-nilai
karakter yang menjadi prinsip
dasar pendidikan karakter
banyak ditemukan dari beberapa
sumber, di antaranya
nilai-nilai yang bersumber
dari keteladanan Rasulullah Muhammad SAW yang terjewantahkan dalam sikap
dan perilaku sehari-hari
beliau, yakni:[33]
a.
Shiddiq adalah sebuah
kenyataan yang benar
yang tercermin dalam
perkataan, perbuatan atau tindakan dan keadaan batin. Pengertian shiddiq
dijabarkan ke dalam butir-butir:
1)
Memiliki sistem
keyakinan untuk merealisasikan visi,
misi dan tujuan
2)
Memiliki
kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, jujur, dan berwibawa,
menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia.
b.
Amanah adalah sebuah
kepercayaan yang harus
diemban dalam mewujudkan sesuatu yang
dilakukan dengan penuh
komitmen, kompeten, kerja keras
dan konsisten. Pengertian amanah dijabarkan ke dalam butir-butir:
1)
Rasa
memiliki dan tanggung jawab yang
tinggi
2)
Memiliki kemampuan
mengembangkan potensi secara
optimal
3)
Memiliki
kemampuan mengamankan dan menjaga kelangsungan hidup
4)
Memiliki
kemampuan membangun kemitraan dan jaringan
c.
Tabligh adalah sebuah
upaya merealisasikan pesan
atau misi tertentu
yang dilakukan dengan pendekatan
atau metode tertentu.
Jabaran pengertian ini diarahkan pada:
1)
Memiliki kemampuan
merealisasikan pesan atau
misi
2)
Memiliki kemampuan
berinteraksi secara efektif;
dan
3)
Memiliki kemampuan menerapkan pendekatan dan metodik
yang tepat.
d.
Fathanah adalah sebuah
kecerdasan, kemahiran, atau
penguasaan bidang tertentu yang mencakup kecerdasan
intelektual, emosional dan spiritual. Karakteristik jiwa fathanah meliputi arif
dan bijak, integritas
tinggi, kesadaran untuk
belajar, sikap proaktif, orientasi
kepada Tuhan, terpercaya
dan ternama, menjadi
yang terbaik, empati dan
perasaan terharu, kematangan
emosi, keseimbangan, jiwa
penyampai misi, dan jiwa
kompetisi. Sifat fathanah
dijabarkan ke dalam
butir-butir:
1)
Memiliki kemampuan
adaptif terhadap perkembangan
dan perubahan zaman
2)
Memiliki kompetensi
yang unggul, bermutu
dan berdaya saing
3)
Memiliki
kecerdasan intelektual, emosi, dan spiritual
Pembentukan karakter religius dapat dilakukan dengan
menumbuhkan kebiasaan religius
dalam kehidupan sehari-hari. Salah
satu metode yang
tepat dalam proses pembentukan karakter
religius adalah dengan
membangun kebiasaan yang
baik dan meninggalkan kebiasaaan
yang buruk dengan dasar bimbingan, latihan dan upaya yang keras. Karakter religius
dapat terbentuk dengan
baik apabila mendapat dukungan
yang baik dari semua ruang lingkup pendidikan termasuk orang tua sebagai lembaga
pendidik utama. Pendidikan karakter
religius dilakukan dengan membentuk pikiran, perkataan dan
perilaku yang berlandaskan nilai-nilai agama. Nilai-nila agama
dalam kehidupan sehari-hari dapat ditanamkan oleh orang tua melalui kegiatan persembahyangan, perilaku jujur, rasa
bersyukur dan kemampuan menghargai budaya serta keyakinan orang lain.[34]
Jadi,
yang dimaksud dengan istilah karakter religius ini adalah watak, tabiat, akhlak
atau kepribadian, sikap, perilaku seseorang yang terbentuk dan internalisasi
berbagai kebijakan yang berlandaskan ajaran-ajaran agama. Kebijakan tersebut
dibuktikan dengan melaksanakan perintah agama dan menjauhi larangan agama.
Sumber karakter religius ini merupakan ajaran agama islam yang di dalamnya
terdapat dua sumber nilai, yaitu nilai illahiyah yang berhubungan dengan Allah
SWT dan nilai insaniyah yang berhubungan dengan manusia. Jadi melalui
internalisasi tersebut siswa nantinya akan memiliki karakter religius yang
sesuai dengan perintah agama.
Karakter
religius adalah suatu penghayatan ajaran agama yang dianutnya dan telah melekat
pada diri seseorang dan memunculkan sikap atau perilaku dalam kehidupan
sehari-hari baik dalam bersikap maupun dalam bertindak yang dapat membedakan dengan
karakter orang lain.
Pendidikan
agama dan pendidikan karakter adalah dua hal yang saling berhubungan,
nilai-nilai yang dikembangkan dalam Pendidikan karakter di Indonesia
didentifikasikan berasal dari empat sumber, yaitu agama, pancasila, budaya dan
tujuan Pendidikan nasional.[35]
B. Kajian Hasil Penelitian Yang
Relevan
Secara umum penelitian ini membahas tentang
pengaruh pola asuh orang tua untuk mengetahui kenyataan dari penelitian ini,
diperlukan adanya pencarian dan penelusuran terhadap penelit yang sudah ada.
Dan terkait dengan permasalahan dari penelitian ini, maka telah dijumpai
beberapa hasil penelitian tersebut sebagai berikut:
1) Penelitian ini
dilakukan oleh Fitri Alfani, skripsi tahun 2016 dengan judul: Pengaruh Pola
Asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Karakter Religius Anak Di Dusun Tegal Sari
Desa Pasir Jaya Kecamatan Rambah Hilir Kabupaten Rokan Hulu, hasil penelitian
dapat disimpulkan bahwa Penelitian ini dilatarbelakangi dengan adanya
kemerosotan karakter-karakter anak bangsa. Terutama karakter religius
generasi muda saat ini. Tempat pertama dan paling utama untuk pembentukan
karakter religius anak yang paling tepat adalah keluarga. Oleh karena itu,
rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana pengaruh pola asuh orang
tua terhadap pembentukan karakter religius anak di Dusun Tegal Sari Desa Pasir
Jaya Kecamatan Rambah Hilir Kabupaten Rokan Hulu. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh pola asuh orang tua terhadap pembentukan karakter religius
anak di Dusun Tegal Sari Desa Pasir Jaya Kecamatan Rambah Hilir Kabupaten Rokan
Hulu. Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Instrumen
pengumpulan data yang digunakan yaitu angket yang terdiri dari 25 pertanyaan
tentang pola asuh orang tua (variabel X) dan 43 pertanyaan pembentukan karakter
religius anak (variabel Y) yang disebarkan kepada 34 responden muslim. Analisis
data dengan menggunakan regresi linear berganda. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan “terdapat pengaruh ola asuh orang
tua terhadap pembentukan karakter religius anak di Dusun Tegal Sari Desa Pasir
Jaya Kecamatan Rambah Hilir Kabupaten Rokan Hulu” diterima. Hal ini dibuktikan
dengan serangkaian uji regresi linear berganda antara variabel X dan Variabel
Y, diperoleh Fhitung 4,744 dan Ftabel 2,92 didapat dari
daftar distribusi Ftabel dengan N=34, pada taraf signifikan 5%, dengan
demikian Fhitung
2)
Penelitian ini dilakukan oleh Lela Siti Nurlaela,
skripsi tahun 2020 dengan judul: Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap
Pembentukan Karater Anak Pada Siswa Kelas III Mandrah Ibtidaiyah Tahfizhul
Qur’an Asasul Huda Ranjikulon, hasil penelitian menunjukkan Lingkungan keluarga
memiliki kaitan yang sangat erat dalam membentuk karakter seorang anak. Oleh karena itu, hendaknya orang
tua lebih berhati-hati lagi dalam mendidik seorang anak, agar anak memiliki
karakter yang baik. Penelitian ini dilaksanakan dengan maksud untuk
menganalisis secara ilmiah mengenai Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap
Pembentukan Karakter Anak pada Siswa Kelas III MI Tahfizhul Qur’an Asasul Huda
Ranjikulon Kecamatan Kasokandel Kabupaten Majalengka Tahun Pelajaran 2019/2020.
Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di MI Tahfizhul Qur‟an Asasul
Huda Ranjikulon Kecamatan Kasokandel Kabupaten Majalengka menunjukkan bahwa
adanya perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anak-anak di sekolah
diantaranya: 1) Kurangnya sikap-sikap religius yang ditanamkan dalam diri
anak-anak seperti berbicara kasar; 2) Saling mengejek antar sesama teman,
bahkan sampai kepada perkelahian. Metode penelitian yang digunakan adalah
metode deskriptif verifikatif yaitu penelitian yang
dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik
satu variabel atau lebih (independen) tanpa
membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel lain. Populasi dalam
penelitian ini siswa kelas III MI Tahfizhul Qur‟an Asasul Huda Ranjikulon
Kecamatan Kasokandel Kabupaten Majalengka yang berjumlah 22 siswa. Dari
populasi tersebut diambil sampel penelitian dengan menggunakan metode total
sampling. Dengan demikian jumlah sampel dalam penelitian ini adalah
sebanyak 22 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes dan
angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh orang tua berpengaruh
positif dan signifikan terhadap pembentukan karakter anak. Yang dibuktikan
dengan perolehan koefisien korelasi sebesar 0,389 dan tingkat signifikan
sebesar 0,073. Hal ini berarti nilai t hitung lebih besar dari t tabel. Dengan demikian
H0 ditolak dan H1 diterima yaitu terdapat pengaruh yang positif dan signifikan
antara pola asuh orang tua terhadap pembentukan karakter anak.[37]
3)
Penelitian ini dilakukan oleh Rindi Antika Ritma
Ratri, skripsi tahun 2018 dengan judul: Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap
religiusitas Anak Dalam Ibadah shalat Berjamaah Di Masjid Baitul Makmur
Grendeng Purwokerto. Kesimpulan: Keluarga adalah sebuah institusi pendidikan
yang utama dan bersifat kodrati. Kehidupan keluarga yang harmonis perlu
dibangun di atas dasar sistem interaksi yang kondusif sehingga pendidikan dapat
berlangsung dengan baik. Pendidikan dasar yang baik harus diberikan kepada
anggota keluarga sedini mungkin dalam upaya memerankan fungsi pendidikan dalam
keluarga. Untuk terjalin hubungan baik salah satu faktor yang mempengaruhinya
yaitu pemahaman terhadap norma agama. Hubungan antara orang tua dan anak tidak
hanya diukur dengan pemenuhan kebutuhan materiil saja, tetapi kebutuhan
spiritual merupakan ukuran keberhasilan dalam menciptakan hubungan tersebut.
Keluarga yang dipimpin oleh orang tua yang otoriter akan melahirkan kehidupan
keluarga yang berbeda dengan orang tua yang demokratis. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui bagaimana pola asuh orang tua dalam mendidik
religiusitas anak mengenai shalat berjamaahnya di Masjid Baitul Makmur Grendeng
Purwokerto. Peneliti mengambil responden sebanyak 42 anak usia sekolah.
Variabel independen yang terdapat dalam penelitian ini adalah pola asuh orang
tua (X) sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini adalah religiusitas
anak dalam ibadah shalat berjamaah (Y). Teknik pengumpulan data dalam
penelitian ini menggunakan kuesioner atau angket yang disebar kepada 42
responden. Metode analisis data dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif
untuk mengetahui distribusi frekuensi hasil temuan data dari lapangan.
Selanjutnya menggunakan
4) analisis regresi
linier sederhana yang berfungsi untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pola
asuh orangtua terhadap religiusitas anak dalam ibadah shalat berjamaah di
Masjid Baitul Makmur Grendeng Purwokerto. Hasil Penelitian yang diperoleh yaitu
ada pengaruh yang signifikan pola asuh orang tua terhadap religiusitas anak
dalam ibadah shalat berjamaah di Masjid Baitul Makmur Grendeng Purwokerto yaitu
sebesar 33,8%. Hal ini menunjukkan bahwa sebesar 33,8% variasi variabel
dependen (Y) dapat dijelaskan oleh variabel independen (X), artinya terdapat
pengaruh pola asuh orang tua terhadap religiusitas anak sebesar 33,8% sedangkan
sisanya 66,2% dipengaruhi oleh variabel lain selain independen (X) seperti
lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat dan faktor internal (pembawaan).[38]
Tabel 2.1 Matrik
Penelitian Relevan
|
No. |
Penulis |
Judul |
Persamaan |
Perbedaan |
|
1.
|
Fitri Alfiani |
Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Karakter Religius
Anak Di Dusun Tegal Sari Desa Pasir Jaya Kecamatan Rambah Hilir Kabupaten
Rokan Hulu |
Persamaan
dari penelitian ini adalah membahas tentang pengaruh pola asuh orang
tua terhadap karakter religius anak
dengan metode kuantitatif |
Perbedaan penelitian
ini dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah dari segi rancangan
penelitian, subyek dan teknik
pengumpulan data |
|
2.
|
Lela Siti Nur Laela |
Pengaruh
Pola Asuh Orang Tua terhadap Pembentukan Karater Anak Pada Siswa Kelas III
Mandrah Ibtidaiyah Tahfizhul Qur’an Asasul Huda Ranjikulon |
Penelitian
ini adalah sama-sama membahas tentang pengaruh pola asuh orang tua terhadap
pembentukan karakter anak dengan metode kuantitatif |
Perbedaan
penelitian dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah dari segi jenis
penelitian, subyek dan teknik
pengumpulan data |
|
3.
|
Rindi Antika Ritma Ratri |
Pengaruh
Pola Asuh Orang Tua terhadap religiusitas Anak Dalam Ibadah Shalat Berjamaah Di Masjid Baitul
Makmur Grendeng Purwokerto |
Penelitian ini
sama-sama membahas tentang pengaruh pola asuh orang tua terhadap religiusitas anak dalam
ibadah dengan metode kuantitaif |
Perbedaan penelitian
ini dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah
dari segi metode, rancangan penelitian, subyek dan teknik
pengumpulan data |
C. Kerangka Berpikir
Dalam penelitian ini dikembangkanlah
suatu konsep atau kerangka pikir dengan tujuan untuk mempermudah peneliti dalam
melakukan penelitiannya. Adanya kerangka pikir ini, maka tujuan yang akan
dilakukan oleh peneliti akan semakin jelas karena telah terkonsep terlebih
dahulu.
Melatarbelakangi masalah tersebut
terjadi di dalam sebuah keluarga. Pengaruh pola asuh orang tua terkhususnya ibu
dan ayah dalam mendampingi perkembangan anak sangatlah diperlukan untuk
membentuk anak yang mempunyai motivasi belajar yang baik. Jika anak mempunyai motivasi belajar yang baik maka akan
berdampak pada minat dan hasil belajar. Secara
skematis, kerangka berpikir dalam penelitian ini akan digambarkan sebagai
berikut:
POLA
ASUH ORANG TUA VARIABEL
X KARAKTER
RELIGIUS SISWA VARIABEL
Y
Gambar 2.1
Kerangka Berfikir
D.
Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban sementara
terhadap masalah penelitian, yang kebenarannya masih harus
diuji secara empirik.[39] Jadi hipotesis adalah kebenaran
yang berada di bawah (belum tentu benar) dan baru dapat diangkat menjadi
suatu kebenaran jika memang telah disertai dengan bukti-bukti.
Hipotesis yang peneliti ambil dari
penelitian ini ialah “Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Karakter
Religius Siswa Kelas III di SDIT IQRA’ 2 Kota Bengkulu”.
Adapun hipotesis yang peneliti
gunakan yaitu:
1)
Alternatif (Ha), terdapat pengaruh pola asuh orang tua
terhadap karakter religius siswa kelas III di SDIT IQRA’ 2 Kota Bengkulu.
2)
Hipotesis Nol (H0), tidak terdapat pengaruh pola
asuh orang tua terhadap karakter religius siswa kelas III di SDIT IQRA’ 2 Kota Bengkulu.
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan penelitian
kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang sudah cukup lama digunakan
sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian. Metode ini disebut
juga metode positivik karena berlandaskan pada filsafat positivisme. Metode ini
sebagai metode ilmiah/scientific karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah,
yaitu konkrit/empiris, obyektif, terukur, rasional, dan sistematis. Metode ini
juga disebut dengan metode discovery, karena dengan metode ini dapat ditemukan
dan dikembangkan berbagai iptek baru. Metode ini disebut metode kuantitatif
karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik.[40]
Berdasarkan dari tujuan penelitian,
desain dalam penelitian ini adalah korelasional yang menggunakan model hubungan sederhana
terdiri atas
satu variabel independen dan satu variabel dependen. Maka untuk mencari besarnya hubungan antara
X (pola asuh orang tua) dengan Y (karakter relegius) digunakan teknik korelasi.
B.
Tempat dan Waktu Penelitian
54
C. Populasi dan Sampel
Populasi
adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai
kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi bukan hanya orang tetapi juga obyek dan benda-benda
alam yang lain, dan juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang
dipelajari tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh
subyek atau obyek yang diteliti itu.[41] Populasi adalah kelompok yang dipilih dan digunakan oleh
peneliti karena kelompok itu akan memberikan hasil penelitian yang dapat digeneralisasikan.[42]
Dengan
demikian, populasi adalah kelompok yang dipilih yang terdiri dari obyek/subyek dan
digunakan oleh peneliti untuk dipelajari yang kemudian ditarik kesimpulannya. Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh
siswa kelas III di SDIT IQRA’ 2 Kota Bengkulu sebanyak
124 siswa dan 124 orang tua.
Tabel 3.1
Populasi Penelitian
|
No. |
Kelas |
Laki-laki |
Perempuan |
Jumlah
Populasi |
Jumlah
Populasi Orang Tua |
|
1 |
III A |
15 |
14 |
29 |
29 |
|
2 |
III B |
14 |
17 |
31 |
31 |
|
3 |
III C |
15 |
17 |
32 |
32 |
|
4 |
III D |
14 |
18 |
32 |
32 |
|
JUMLAH |
58 |
66 |
124 |
124 |
|
2. Sampel
Dalam penelitian kuantitatif, sampel penelitian
adalah bagian yang memberikan gambaran secara umum dari populasi. Sampel
penelitian memiliki karakteristik yang sama atau hampir sama dengan karakteristik
populasi, sehingga sampel yang digunakan dapat mewakili populasi yang diamati.[43]
Sampel
adalah sebagian atau wakil dari populasi yang akan diteliti dengan maksud dan
tujuan untuk megeneralisasikan hasil penelitian atau mengangkat kesimpulan penelitian
sebagai suatu yang berlaku bagi populasi.[44] Penelitian ini menggunakan rumus Slovin
untuk menghitung besarnya sampel dari populasi, yaitu :
Keterangan:
n = Jumlah sampel
N = Jumlah populasi
e = Nilai
kritis (bebas ketelitian) yang diinginkan dan persen kelonggaran
ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih bisa ditolirir,
tingkat signifikasi (0,05).
Teknik pengambilan sampel adalah probability sampling yang menggunakan simple random
sampling. Teknik ini merupakan teknik pengambilan sampel yang memberikan
peluang yang sama bagi setiap anggota populasi yang dipilih untuk menjadi
sampel. Dengan kata lain, sampling merupakan teknik
mengambil sampel yang dapat mewakili atau menggambarkan populasi. Dalam
penelitian ini teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling.
Simple random sampling digunakan tanpa memperhatikan strata karena populasi
dianggap homogen (sejenis). Dalam hal ini peneliti akan mengambil sampel secara
acak karena tiap individu dapat di ambil sebagai sampel dengan alasan tiap
individu memiliki kualitas dan kemampuan yang sama. Dengan kata lain,
populasinya adalah sama di mana setiap orang memiliki karakteristik yang
serupa. Teknik random samplingnya (sampel acak), yaitu peneliti memilih sampel
tiap kelas sebesar 25 % dari jumlah populasi per kelas. Di dalam populasi
subyek-subyeknya dianggap sama. Dengan demikian peneliti memberi hak yang sama
kepada setiap subjek untuk memperoleh kesempatan dipilih menjadi sampel.
Sedangkan cara yang digunakan adalah dengan cara undian, karena bagi peneliti
cukup sederhana dan kemungkinan kesalahan dapat dihindari. Sampel dalam penelitian ini adalah
sebanyak 31 siswa kelas III di SDIT IQRA’ 2
Kota Bengkulu.
Suharsimi
rikunto menjelaskan, apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik di ambil
semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika
jumlah subjeknya besar maka dapat diambil antara 10-15% atau 20-25%
atau lebih tergantung kepada. Kemampuan peneliti dilihat dari segi waktu,
tenaga dan dana, sempit atau luasnya wilayah penelitian dilihat dari subyeknya,
karena hal itu bergantung banyak sedikitnya data, besar kecilnya resiko yang
ditanggung peneliti. Dari uraian diatas maka penelitii menetapkan jumlah sampelnya
sebanyak 31 orang dari 124 siswa. Jumlah sampel tesebut diambil dengan cara,
jumlah siswa: 124 x 25% = 31 siswa. Penentuan sampel tersebut dengan anggapan
bahwa cukup mewakili populasi yang ada.
D.
Variabel
dan Indikator Penelitian
Variabel
penelitian adalah suatu atribut atau sifat nilai dari orang, objek kegiatan yang mempunyai
variasi tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.[45] Dalam penelitian
ini terdapat dua
variabel yaitu variabel
bebas (independent) yaitu variabel
yang mempengaruhi (X)
dan variabel terikat (dependent) yaitu variabel yang
dipengaruhi (Y).
a. Variabel Bebas (Independent)
Variabel ini sering disebut pengaruh
atau yang mempengaruhi variabel yang lain. Variabel bebas dalam penelitian ini
adalah “pola asuh orang tua” yang merupakan variabel X.
Adapun
indikator pola asuh orang tua, meliputi:
b) Cara orang tua mendidik dan membimbing anak
c)
Perhatian dan kasih sayang
d)
Suasana atau keadaan
b. Variabel Terikat (Dependent)
Variabel
terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat adanya
variabel bebas, maka berdasarkan landasan teori dan perumusan masalah yang menjadi variabel terikat
(dependent) dalam penelitian ini adalah
karakter religius siswa yang merupakan variabel Y. [46]Adapun
indikator karakter religius, meliputi:
a.
Adanya pengaruh dari orang lain
b.
Keinginan berhasil dalam belajar
c.
Adanya semangat dalam belajar
E. Teknik Pengumpulan Data
Dalam rangka mengumpulkan data dari lapangan penelitian, maka penulis
menggunakan beberapa teknik pengumpulan data. Adapun teknik yang digunakan
adalah sebagai berikut:
1. Observasi
Pengamatan
atau observasi adalah proses pengambilan data dalam penelitian dimana peneliti
atau pengamat melihat situasi penelitian. Teknik ini digunakan untuk mengamati
dari dekat dalam upaya mencari dan menggali data melalui pengamatan secara
langsung dan mendalam terhadap subjek dan objek yang diteliti. Dengan
observasi di lapangan peneliti akan lebih mampu memahami konteks data dalam
keseluruhan situasi social, jadi akan dapat diperoleh pandangan holistic atau
menyeluruh.[47] Tujuan penggunaan metode ini
adalah untuk mengamati pengaruh pola asuh orang tua terhadap karakter religius siswa kelas
III.
2.
Angket
Angket merupakan teknik pengumpulan
data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan
tertulis kepada sampel/responden untuk dijawabnya. [48]Angket yang akan digunakan pada
penelitian ini adalah angket tertutup dalam pengumpulan data. Angket tertutup
merupakan angket yang disediakan sedemikian rupa sehingga responden diminta
untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan karakteristik dirinya dengan
menggunakan tanda silang. Angket akan dibagikan kepada anak usia sekolah dasar. Skala pengukuran dalam
penelitian ini adalah menggunakan skala likert.
Menurut Gunarsa Singgih dalam
buku psikologi remaja, Pola asuh orang tua adalah sikap dan
cara orang tua dalam mempersiapkan anggota keluarga yang lebih
muda termasuk anak supaya dapat mengambil keputusan sendiri
dan bertindak sendiri sehingga mengalami perubahan dari keadaan
bergantung kepada orang tua menjadi berdiri sendiri dan bertanggung
jawab sendiri. Monks dkk memberikan pengertian pola
asuh sebagai cara, yaitu ayah dan ibu dalam memberikan kasih
sayang dan cara mengasuh yang mempunyai pengaruh besar
bagaimana anak melihat dirinya dan lingkungannya. Penelitian
menunjukkan bahwa pola asuh adalah penting dalam upaya
menyediakan suatu model perilaku yang lebih lengkap bagi anak.
Peran orang tua dalam mengasuh anak bukan saja penting menjaga perkembangan jiwa
anak dari hal-hal yang negatif, melainkan
juga untuk membentuk karakter dan kepribadiannya agar
jadi insan spiritual yang selalu taat menjalankan agamanya.[49]
Dengan menggunakan skala likert, maka variabel yang akan di
ukur dijabarkan menjadi indicator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan
sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrument yang dapat berupa
pernyataan. Jawaban
setiap item instrumen yang menggunakan skala likert dengan 4
kemungkinan jawaban. Bentuk skala Likert yang digunakan pada penelitian ini yaitu :
Tabel 3.2
Skor Alternatif Jawaban
|
Alternatif Jawaban |
Skor untuk
pertanyaan |
|
|
Positif |
Negatiif |
|
|
Selalu |
4 |
1 |
|
Sering |
3 |
2 |
|
Kadang-kadang |
2 |
3 |
|
Tidak pernah |
1 |
4 |
3. Dokumentasi
Dokumentasi
merupakan metode pengumpulan data dengan mempelajari barang-barang tertulis
berbagai jenis dokumen yang berkaitan dengan penelitian seperti foto-foto saat penelitian,
angket anak dan
profil.
4.
Instrumen Penelitian
Instrumen
pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti
dalam kegiatannya mengumpulkan data dan informasi agar kegiatan tersebut
menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Instrumen merupakan alat ukur yang
digunakan untuk mendapat informasi kuantitatif tentang variasi karakteristik
variabel secara obyektif. Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah
sebagi berikut:
-
Instrumen Angket
Instrumen
angket merupakan suatu alat untuk membantu dan memudahkan peneliti dalam
mengumpulkan data. Skala pengukuran yang akan digunakan dalam angket ini adalah
skala likert. Skala likert digunakan peneliti untuk mengetahui pola asuh orang
tua terhadap karakter religius siswa.
Untuk mengetahui pola asuh orang tua, peneliti mengajukan beberapa pernyataan
(dalam angket) yang harus dijawab oleh responden. Dari skor yang diperoleh,
maka peneliti dapat mengetahui bagaimana pola asuh orangtua berpengaruh pada
pembentukan karakter religius anak. Setiap item dalam angket pola asuh orang
tua dan karakter religius siswa ditetapkan empat pilihan jawaban (option)
dengan skor terendah dan tertinggi antara satu sampai empat. Angket juga harus memenuhi syarat validitas
dan reliabilitas.Instrument atau alat ukur yang digunakan harus tepat dan
terpercaya sebelum digunakan untuk mengambil data. Oleh sebab sebelum angket
digunakan dalam penelitian untuk memperoleh data, maka sebaiknya angket harus
memenuhi dua syarat yaitu valid dan reliabel.
-
Instrumen Dokumentasi
Instrumen dokumentasi merupakan suatu alat untuk
membantu dan memudahkan peneliti dalam mengumpulkan data berupa arsip-arsip
maupun dokumen yang berkaitan dengan penelitian.
-
Kisi-kisi
Instrumen
Kisi-kisi instrument merupakan pedoman atau panduan
dalam merumuskan pertanyaan-pertanyaan instrument yang diturunkan dari variable
yang akan diamati. Instumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket
pola asuh orang tua dan karakter religius anak yang terdiri dari 5 indikator
pernyataan dengan jumlah soal sebanyak 34 butir. Adapun kisi-kisinya sebagai
berikut:
Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrumen
|
No |
Variabel |
Sub.Variabel |
Indikator |
Deskriptor |
No item
soal |
|
|
Pola asuh Orang tua |
Pola asuh Orang tua (X) |
·
Tidak ada toleransi ·
Peraturan ·
Pemaksaan ·
Hukuman |
·
Kontrol terhadap anak bersifat kaku ·
Komunikasi bersifat memerintah ·
Penekanan pada pemberian hukuman ·
Disiplin pada orang tua bersifat kaku |
1,2,3,4,5 |
|
|
|
|
·
Tidak ada paksaan ·
Menghargai pendapat ·
Komunikasi yang baik ·
Bebas untuk melakukan sesuatu dengan ·
tidak melanggar |
·
Kontrol terhadap anak relative longgar ·
Komunikasi dua arah ·
Hukuman diberikan sesuai dengan tingkat kesalahan anak. ·
Disiplin terbentuk atas komitmen bersama. |
6,5,7,8,9,10 |
|
2 |
Karakter Religius Siswa |
Karakter Religius
Siswa (Y) |
·
Disiplin mengaplikasi kan akidah |
·
Merasa bahawa Allah selalu mengawasi ·
Tidak menyekutukan Allah dan mempercai pada hal yang ghaib |
11,12,13,14,15,16,17,18,19,20 |
|
|
|
|
·
Disiplin mengaplikasi kan ibadah |
·
Menjalankan ibadah wajib tepat pada waktunya (shalat lima
waktu , puasa Ramadhan) ·
Rutin membaca Al- Qur’an dan shalat berjamaah ·
Melakukan shalat dan puasa Sunnah dan mengeluarkan infaq ·
Berdoa sebulum dan sesudah beraktifitas |
21,22,23,24,25,2627,28 |
|
|
|
|
·
Disiplin mengaplikasi kan perilaku akhlakul Karimah |
·
berperilaku akhlakul karimah kepada orang lain |
29,30,31,32,33,34 |
F.
Teknik
Analisis Data
Dalam penelitian kuantitatif, analisis data merupakan
kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul.
Kegiatan dalam analisis data adalah : mengelompokkan data berdasarkan variabel
dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden,
menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk
menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis
yang telah dianjurkan.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik
analisis data kuantitatif. Adapun data kuantitatif ini di analisis menggunakan
analisis statistik. Analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini
adalah analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial.
Teknik
analisis data yang digunakan adalah analisis regresi sederhana. Analisis
regresi sederhana bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari suatu variabel
terhadap variabel lainnya. Pada analisis regresi suatu variabel
yang mempengaruhi disebut variabel bebas atau independent variabel, sedangkan variabel yang dipengaruhi disebut variabel
terkait atau dependent variabel. Rumus regresi linear
sederhana sebagai berikut:
Y = a + bX
Keterangan:
Y = Variabel
dependen (variabel terikat)
X = Variabel
independent (variabel bebas)
a =
Konstanta (nilai dari Y apabila X = 0)
b =
Koefisien regresi (pengaruh positif atau negatif)
1) Analisis Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif adalah statistik yang berkenaan
dengan metode atau cara mendeskripsikan, menggambarkan,menjabarkan, atau
menguraikan data sehingga mudah dipahami. Statistik deskriptif menggambarkan
kegiatan berupa pengumpulan data, penyusunan data, pengolahan data, dan
penyajian data dalam bentuk table, grafik, ataupun diagram, agar memberikan
gambaran yang teratur, ringkas, dan jelas mengenai suatu keadaan atau
peristiwa. Analisis statistik deskriptif digunakan peneliti untuk mengolah data
yang diperoleh. Pengolahan data bertujuan mengubah data mentah dari hasil
pengukuran menjadi data yang lebih halus sehingga memberikan arah untuk
pengkajian lebih lanjut. Data yang diperoleh secara langsung dari hasil
penelitian atau sumber-sumber lain (data sekunder) biasanya masih dalam bentuk
kasar dan mentah (raw data) dan tidak tersusun secara sistematis. Agar dapat
dibaca dengan mudah dan cepat, data dapat disajikan dalam bentuk daftar atau
table dan grafik atau diagram.25 Pengelolaan
data dalam penelitian ini digunakan untuk memberikan gambaran (deskripsi)
mengenai pola asuh otoriter, pola asuh demokratis karakter religius siswa usia
9-10 tahun. Adapun cara yang digunakan adalah sebagai berikut:
Distribusi frekuensi adalah suatu susunan data mulai
dari data terkecil sampai data terbesar yang membagi banyaknya data ke dalam
beberapa kelas.26
2.
Histogram
Histogram ialah grafik yang menggambarkan suatu
distribusi frekuensi dengan bentuk beberapa segi empat. Selanjutnya dapat
ditentukan kualitas pola asuh terhadap pembentukan karakter religius dengan
kategori sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah dengan
mengubah skor mentah menjadi skor standar 5 dengan acuan sebagai berikut:27
A (Sangat Tinggi)
M + 1,5 SD
B (Tinggi)
M + 0,5 SD
C (Sedang)
M – 1,5 SD
D (Rendah)
M + 1,5 SD
E (Sangat
Rendah)
Keterangan :
M : Mean (Rata-Rata Hitung)
SD: Standar Deviasi
2) Analisis Statistik Inferensial
Statistik Inferensial adalah teknik statistik yang
digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk
populasi. Statistik ini akan cocok digunakan bila sampel diambil dari populasi
yang jelas, dan teknik pengambilan sampel dari populasi itu dilakukan secara
random.28
G. Teknik
Validitas dan Realibilitas Data
1.
Uji Validitas
Validitas/kesahihan
adalah keadaan yang menggambarkan tingkat instrumen yang bersangkutan mampu
mengukur apa yang akan diukur.[50] Validitas ini menyangkut
akurasi instrument yaitu tes. Untuk mengetahui apakah tes yang disusun tersebut
itu valid/shahih, maka perlu diuji dengan korelasi antara skor (nilai)
tiap-tiap butir pertanyaan dengan skor total tes tersebut. Teknik korelasi yang
dipakai adalah teknik korelasi product moment untuk mengetahui
apakah nilai korelasi tiap-tiap item signifikan. Adapun rumus yang digunakan
sebagai berikut:
rxy = N∑XY – (∑X) (∑Y)
√{N∑X2
– (∑Y)2}{N∑Y2 – (∑Y)2}
Keterangan:
rxy : Angka indeks
korelasi “r” Product Moment (X.Y)
N : Jumlah Subyek (banyaknya
siswa)
∑XY : Jumlah hasil perkalian antara skor X dan
skor Y
∑X : Jumlah seluruh skor X
∑Y : Jumlah seluruh skor Y
2.
Uji Reliabilitas
Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang apabila digunakan beberapa
kali untuk mengukur obyek yang sama akan menghasilkan data yang sama.[51] Untuk mengukur reliabilitas
instrumen maka digunakan rumus Alpha, dengan bantuan program SPSS versi 16. Aadapun rumus Alpha adalah sebagai
berikut:
r11 =
r11 : reabilitas
instrument
k : banyaknya butir pertanyaan
HASIL PENELITIAN
A.
Gambaran Umum Lokasi
Penelitian
1.
Sejarah Berdirinya SDIT IQRA
2 Kota Bengkulu
SDIT
IQRA’2 Kota Bengkulu dan SDIT IQRA’1 Kota Bengkulu dahulunya bernama SDIT IQRA’
digagas oleh para pendiri Yayasan Al Fida ( yaitu M.Syhfan Badri. Dani Hamdani,
Hamdani Nasution,M. Syamlan dan Dede Kusyana) di Kota Bengkulu pada tahun 1999.
Pendiri Sekolah ini digerakkan oleh keperihatinan terhadap anak anak mereka
yang akan memasuki usia Sekolah Dasar
yang kesulitan untuk menemukan Sekolah yang berkualitas, baik dari sisi
pembinaan wawasan keilmuan maupun pembinaan mental, moral dan agama pada saat
itu telah ada TKIT Auladuna yang juga di bawah naungan Yayasan Al Fida.
Melihat
dari kondisi tersebut beberapa orang bersepakat untuk mengembangkan sebuah
Sekolah Dasar Islam Terpadu, yang akhirnya di beri nama SDIT IQRA’. Belajar
dari beberapa Sekolah yang menggunakan konsep Sekolah Islam Terpadu yang lebih
dahulu tumbuh di Sumatera ( Adzki-Padang), Jawa (Nurul Fikir-Depok) dan
sekitarnya, adapun profil sekolah sebagai berikut :
a.
Identitas Sekolah
Nama Sekolah : SDIT IQRA 2 KOTA BENGKULU
Nomor Pokok Sekolah Nasional : 10702568
54
Status Sekolah : Swasta
Alamat Sekolah : Jl. Merawan 19 RT.25 RW.07
RT/RW : 25 / 7 Dosun
Desa Kelurahan : Sawah Lebar
Kecamatan : Kec. Ratu Agung
Kabupaten : Kota Bengkulu
Provinsi : Prov. Bengkulu
Kode Pos : 38228
Lokasi Geografis : Lintang -3 Bujur 102
b. Izin dan Pendirian
SK Pendirian Sekolah :
421.2/2111/IV.DIKNAS
Tanggal SK Pendirian :
2007-07-16
Akreditasi :
A
Status Kepemilikan :
Swasta
SK Izin Operasional :
421.2/2111/IV.Diknas
Tgl SK Izin Operasional :
2007-09-04
Kebutuhan Khusus Dilayani :
Tidak ada
Luas Tanah Milik (m2) :
1
Luas Tanah Bukan Milik (m2) :
450000
2.
Visi dan Misi SD IT IQRA’2
Kota Bengkulu
Adapun visi dan
misi SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu adalah sebagai berikut :
a. Visi
Visi
merupakan gambaran masa depan terhadap suatu lembaga. Menentukan visi berarti
menentukan tujuan dan cita-cita yang ingin dicapai oleh suatu Sekolah. Adapun
Visi SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu adalah terwujudnya Generasi Islami, Berpretasi,
Mandiri dan Berwawasan Lingkungan,
indikator :
-
Terinternalisasinya peserta didik yang mampu
mengimplentasikan nilai-nilai imtaq.
-
Terciptanya kultur Sekolah yang memiliki kepedulian terhadap
nilai – nilai kehidupan bermasyarakat yang islami.
-
Terakomodirnya peserta didik yang berpretasi baik dalam
bidang akademi maupun non akademik.
-
Terlahirnya generasi Islam yang cerdas dan berakhlak mulia.
-
Terwujudnya pengelolaan Sekolah sesuai dengan konsep
manajemen berbasis sekolah.
-
Terselenggaranya system penilaian hasil belajar secara
efektif, objektif dan sistematis.
-
Optimalnya sumber dana dan daya dukung pendanaan sekolah.
-
Unggul dalam pretasi akademik
-
Unggul prestasi non akademik.
-
Unggul dalam etika, budi pekerti dan disiplin menuju kualitas
iman dan taqwa.
b. Misi
Misi
merupakan langkah-langkah dan strategi yang dilakukan untuk mencapai visi.
Sebagai lembaga pendidikan SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu memiliki misi tertulis dan
disesuaikan dengan kondisi sekolah. Adapun Misi Sekolah SDIT IQRA’2 Kota
Bengkulu sebagai berikut :
-
Membimbing pembentukan Aqidah yang lurus, Ibadah yang benar
dan akhlak yang mulia.
-
Menyelenggarakan pendidikan siswa yang berpretasi, mandiri
dan berwawasan lingkungan.
3.
Struktur Organisasi
Setiap lembaga pendidikan atau sekolah organisasi yang disusun secara
sistematis. Hal ini berfungsi untuk mengarahkan kegiatan – kegiatan kinerja
sesuai dengan bidang masing-masing adapun struktur organiasasi SDIT IQRA’2 Kota
Bengkulu sebagai berikut :
BAGAN STRUKTUR ORGANISASI SEKOLAH DASAR
ISLAM TERPADU (SDIT) IQRA' 2 KOTA
BENGKULU TAHUN PELAJARAN : 2022/2023
Dr. H. Dani Hamdani, M.Pd KETUA YAYASAN Gurniman Sutarno, M.Pd. Gr KEPALA SEKOLAH KOMITE SEKOLAH WAKA KURIKULUM Kustiningsih, S.Pd.SD WAKA KESISWAAN Reno Hendriyadi, S.Pd.I WAKA SAR. PRAS. Saepudin, S.Pd.I Suryanta PA, S.Pd WAKA HUMAS Yogi Trianto, S.T TATA USAHA & OPERATOR SEKOLAH BENDAHARA Solihati, A.Md BENDAHARA BOS Zazili Mustopa, S.Si KELOMPOK JABATAN KOORDINATOR Co. PAI Co. IBADAH Adi Susanto, S.Pd.I Co. PERPUSTAKAAN Naura Asyifah, S.I.Kom Co. LABORATORIUM Apni Marcholis, S.Kom Co. UKS Melissa Ria Nanda, S.Kep.Ners Co. PRAMUKA SIT Muhamad Solihin, S.Pd.I KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL/GURU WALAS I
A Mery Meilina Herawati, M.TPd WALAS I
B WALAS I
C Diwanti Bioti, S.Pd.Gr Asmaini, S.Pd WALAS I D Retnoning Tiyas, A.Ma WALAS IV
D Suriyani, S.Pd.I Endah Mardiana, S.Pd.Gr Rini Winingsih, S.Pd.Gr Liza Hidayati, S.Pd WALAS IV C WALAS IV B WALAS IV A WALAS II A WALAS II B WALAS II C WALAS II D Desi Astuti, S.Pd Eva Yulianti, S.Pd Sutiani Hujri, S.Pd Mustariani, S.Pd.I WALAS V
A Achmad Sukran Dinata, M.Pd WALAS V
B Efriyanti, S.Pd.I WALAS V C Nurlusia Dewi, S.Sos WALAS V D Lina Kusumadita, S.Pd
WALAS III
A Panoma Kristoper, S.Pd WALAS III
B Wijie Agnesia YR, S.Pd.I.Gr WALAS III C Nirda Usteti, S.Pd.I.Gr WALAS III D Rosdiana, S.Pd WALAS VI A Nurhafidzah, S.Pd.Gr WALAS VI B Nopiyanti, S.Si WALAS VI
C Mega Ambarita, S.Pd WALAS VI D WALAS VI E Mega Herawati, S.Pd Rima Maylestari, S.Pd
Gambar
4.1 Struktur Oraganisasi Sekolah MASYARAKAT SEKITAR SISWA PENJAGA SEKOLAH
B.
Gambaran Umum
Responden
Hasil penelitian yang akan dipaparkan mengenai tahapan-tahapan penelitian
dari awal sampai akhir. Tahapan awal dalam penelitian ini menjelaskan tentang
metode pengumpulan data sedangkan, tahapan akhir dari penelitian ini akan
memaparkan tentang hasil pengujian hipotesis. Adapun distribusi responden pada
penelitian ini berdasarkan jenis kelamin responden dapat dilihat pada tabel
berikut:
Tabel 4.1 Distribusi Jenis Kelamin Responden Siswa
|
No |
Jenis Kelamin |
N |
% |
|
1 |
Laki-laki |
15 |
48, % |
|
2 |
Permpuan |
16 |
52 % |
|
|
Jumlah |
31 |
100 % |
Sumber: Hasil Penyebaran
Angket SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu
Jumlah Responden
157mber:
Program Chart Microsoft Word 2010
Gambar 4.2
Grafik responden berdasarkan
jenis kelamin
Berdasarkan gambar di atas, dapat diketahui bahwa jumlah responden
yang laki-laki sebanyak 15 orang dengan presentase sebesar
48 % angka tersebut lebih sedikit dari pada jumlah responden perempuan dengan
jumlah 16 orang atau dengan presentase sebesar 52 %.
C.
Data Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu, dengan
subyek orang tua yang memiliki anak usia 9-10 tahun. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 31 orang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
pola asuh orang tua terhadap pembentukan karakter Religius anak di SDIT
IQRA’2 Kota Bengkulu. Penelitian ini merupakan penelitian korelasi yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan
antar variabel serta seberapa besar hubungan antar variabel tersebut.
Penelitian ini terdiri dari dua variabel bebas dan satu variabel
terikat.Variabel bebas terdiri dari
pola asuh (X) dan sedangkan variabel terikatnya adalah pembentukan karakter
religius (Y).
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner
berupa angket yang disebar
langsung kepada responden dan dokumentasi. Selanjutnya terkait dengan penyebaran angket kepada responden yang
berjumlah 31 orang, dengan jumlah pertanyaan
sebanyak 10 untuk variabel X dan 24 pertanyaan untuk variabel Y. Berikut akan diuraikan lebih lanjut mengenai hasil
penelitian masing-masing variabel setelah diolah dengan statistik :
Tabel 4.2 Hasil Angket Variabel X ,Dan Y
|
No |
Nama Responden |
Pola Asuh Orang
Tua (X) |
Pembentukan Karakter
Religus (Y) |
|
1 |
Perempuan |
19 |
47 |
|
2 |
Laki-Laki |
17 |
58 |
|
3 |
Perempuan |
23 |
60 |
|
4 |
Laki-Laki |
29 |
54 |
|
5 |
Perempuan |
25 |
54 |
|
6 |
Laki-Laki |
28 |
56 |
|
7 |
Perempuan |
22 |
50 |
|
8 |
Laki-Laki |
29 |
60 |
|
9 |
Perempuan |
27 |
55 |
|
10 |
Laki-Laki |
28 |
56 |
|
11 |
Perempuan |
21 |
54 |
|
12 |
Laki-Laki |
29 |
58 |
|
13 |
Perempuan |
25 |
51 |
|
14 |
Laki-Laki |
17 |
50 |
|
15 |
Perempuan |
23 |
50 |
|
16 |
Laki-Laki |
21 |
52 |
|
17 |
Perempuan |
25 |
53 |
|
18 |
Laki-Laki |
23 |
48 |
|
19 |
Perempuan |
20 |
55 |
|
20 |
Laki-Laki |
28 |
54 |
|
21 |
Perempuan |
25 |
51 |
|
22 |
Laki-Laki |
22 |
57 |
|
23 |
Perempuan |
22 |
49 |
|
24 |
Laki-Laki |
27 |
53 |
|
25 |
Perempuan |
27 |
57 |
|
26 |
Laki-Laki |
23 |
53 |
|
27 |
Perempuan |
30 |
51 |
|
28 |
Laki-Laki |
24 |
52 |
|
29 |
Perempuan |
21 |
42 |
|
30 |
Laki-Laki |
22 |
58 |
|
31 |
Perempuan |
21 |
48 |
D. Analisis Data Deskriptif
a. Hasil Angket Pola Asuh
Orang Tua (X)
Data pola asuh dikumpulkan dari
responden sebanyak 31 dari 124 responden
yang diambil. Dengan jumlah 10 pertanyaan dan kriteria jawaban dengan skor
1-4. Hasil jawaban
angket dari para responden disajikan dalam tabel 4.3 di atas.
Untuk lebih jelasnya dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Pola Asuh Orang Tua (X)
|
Statistics |
||
|
|
|
|
|
N |
Valid |
31 |
|
Missing |
0 |
|
|
Mean |
23.97 |
|
|
Median |
23.00 |
|
|
Std. Deviation |
3.582 |
|
|
Variance |
12.832 |
|
|
Range |
13 |
|
|
Minimum |
17 |
|
|
Maximum |
30 |
|
|
Sum |
743 |
|
|
Total_X |
|||||
|
|
|
Frequency |
Percent |
Valid Percent |
Cumulative Percent |
|
Valid |
17 |
2 |
6.5 |
6.5 |
6.5 |
|
19 |
1 |
3.2 |
3.2 |
9.7 |
|
|
20 |
1 |
3.2 |
3.2 |
12.9 |
|
|
21 |
4 |
12.9 |
12.9 |
25.8 |
|
|
22 |
4 |
12.9 |
12.9 |
38.7 |
|
|
23 |
4 |
12.9 |
12.9 |
51.6 |
|
|
24 |
1 |
3.2 |
3.2 |
54.8 |
|
|
25 |
4 |
12.9 |
12.9 |
67.7 |
|
|
27 |
3 |
9.7 |
9.7 |
77.4 |
|
|
28 |
3 |
9.7 |
9.7 |
87.1 |
|
|
29 |
3 |
9.7 |
9.7 |
96.8 |
|
|
30 |
1 |
3.2 |
3.2 |
100.0 |
|
|
Total |
31 |
100.0 |
100.0 |
|
|
Dari
data statistik dan histogram 4.3 di atas diperoleh skor tertinggi sebesar
30 dan skor terendah 17 dengan mean 23.97 dibulatkan menjadi 24, median
23.00 dan standar deviasi 3.582. Sedangkan
perbedaan skor tertinggi dan terendah adalah
13 dengan jumlah keseluruhan dari angket pola asuh adalah 743. Langkah selanjutnya yaitu menentukan kualitas pola asuh dengan kategori sangat baik, baik, sedang, kurang
baik, dan tidak baik dengan perhitungan sebagai berikut:
M + 1,5 SD =
24 + (1,5 x 3,5) = 24
+ 5 = 29
M + 0,5 SD =
24 + (0,5 x 3,5) = 24 + 4 = 28
M - 0,5 SD =
24 - (0,5 x 3,5) = 24- 1,75
= 22,25 dibulakan menjadi 22
M - 1,5 SD =
24 - (1,5 x 3,5) = 24- 5,25 =
18,75 dibulatkan menjadi 19
Dari
perhitungan data di atas diperoleh
data interval dan data kualifikasi sebagai berikut:
Tabel 4.4 Kategorisasi Tingkat Pola Asuh Orang Tua (X)
|
Kategori |
Interval Nilai |
F |
Persentase |
|
Sangat Baik |
>30 |
1 |
3,2% |
|
Baik |
28-29 |
6 |
19,3% |
|
Sedang |
22-27 |
16 |
51,6% |
|
Kurang Baik |
19-21 |
6 |
19,3% |
|
Tidak Baik |
<18 |
2 |
6,5% |
|
Jumlah |
31 |
100% |
|
Berdasarkan Tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa orang tua tidak berada dalam kategori
sangat baik yang memiliki nilai 3,2 % dengan
frekuensi 1 orang pada interval
nilai 30 ke atas, Sedang orang tua yang memiliki kategori baik mendapatkan persentase nilai yang tinggi yaitu sebanyak
19,3% dengan frekuensi 6 orang pada interval 28-29, orang tua yang memiliki kategori sedang sebanyak 51,6%
dengan frekuensi 16 orang pada interval
22-27, Orang tua yang memiliki kategori kurang baik sebanyak 19,3% dengan
frekuensi 6 orang pada interval 19-21 sedangkan orang tua pada kategori nilai yang tidak baik sebanyak
6,5% dengan frekuensi 2 orang pada interval
kurang dari <18.
Berdasarkan tabel 4.4 di atas dapat
ditarik kesimpulan bahwa pola asuh orang tua di SDIT
IQRA’2 Kota Bengkulu tergolong dalam hasil kata gori
baik.
b. Hasil Angket Karakter Religius Siswa (Y)
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Karakter Religius Siswa (Y)
|
Statistics |
||
|
|
|
|
|
N |
Valid |
31 |
|
Missing |
0 |
|
|
Mean |
53.10 |
|
|
Median |
53.00 |
|
|
Std. Deviation |
4.077 |
|
|
Variance |
16.624 |
|
|
Range |
18 |
|
|
Minimum |
42 |
|
|
Maximum |
60 |
|
|
Sum |
1646 |
|
|
Total_Y |
|||||
|
|
|
Frequency |
Percent |
Valid Percent |
Cumulative Percent |
|
Valid |
42 |
1 |
3.2 |
3.2 |
3.2 |
|
47 |
1 |
3.2 |
3.2 |
6.5 |
|
|
48 |
2 |
6.5 |
6.5 |
12.9 |
|
|
49 |
1 |
3.2 |
3.2 |
16.1 |
|
|
50 |
3 |
9.7 |
9.7 |
25.8 |
|
|
51 |
3 |
9.7 |
9.7 |
35.5 |
|
|
52 |
2 |
6.5 |
6.5 |
41.9 |
|
|
53 |
3 |
9.7 |
9.7 |
51.6 |
|
|
54 |
4 |
12.9 |
12.9 |
64.5 |
|
|
55 |
2 |
6.5 |
6.5 |
71.0 |
|
|
56 |
2 |
6.5 |
6.5 |
77.4 |
|
|
57 |
2 |
6.5 |
6.5 |
83.9 |
|
|
58 |
3 |
9.7 |
9.7 |
93.5 |
|
|
60 |
2 |
6.5 |
6.5 |
100.0 |
|
|
Total |
31 |
100.0 |
100.0 |
|
|
Gambar 4.4 Histogram Karakter
Religius Siswa (Y)
Dari data statistik dan histogram 4.4 di
atas diperoleh skor tertinggi sebesar
60 dan skor terendah 42 dengan mean 53.1 dibulatkan menjadi 53, median 53. dan standar deviasi 4.077.Sedangkan
perbedaan skor tertinggi dan terendah
adalah 18 dengan jumlah keseluruhan dari angket karakter religius
Siswa adalah 1646.
Langkah selanjutnya yaitu menentukan
kualitas karakter religius dengan
kategori sangat baik, baik, sedang, kurang baik, dan tidak baik dengan perhitungan sebagai berikut:
M + 1,5 SD =
53 + (1,5 x 4,0) = 53 + 6 = 59
M + 0,5 SD =
53 + (0,5 x 4,0) = 53
+ 2 = 55
M - 0,5 SD =
53 - (0,5 x 4,0) = 53
- 2 = 51
M - 1,5 SD = 53 - (1,5 x 4,0) = 53 – 6
= 47
Dari perhitungan data di atas diperoleh data interval dan data kualifikasi sebagai berikut:
Tabel 4.6 Kategori
Tingkat karakter religius Siswa (Y)
|
Kategori |
Interval Nilai |
F |
Persentase |
|
Sangat Baik |
>59 |
2 |
6,4% |
|
Baik |
55-58 |
9 |
29,03 % |
|
Sedang |
51-54 |
12 |
38,7 % |
|
Kurang Baik |
47-50 |
7 |
22,5% |
|
Tidak Baik |
<46 |
1 |
3,2 % |
|
Jumlah |
31 |
100% |
|
Berdasarkan tabel 4.7 di atas menunjukkan bahwa pembentukan karakter religius berada dalam kategori sangat
baik yang memiliki nilai 6,4% dengan
frekuensi 2 orang pada interval nilai 59 ke atas, Karakter religius yang memiliki kategori baik
mendapatkan persentase nilai sebanyak 29,03
% dengan frekuensi 9 orang pada interval
55-58, yang memiliki
kategori sedang sebanyak 38,7 % dengan frekuensi 12 orang pada interval
51-54, yang memiliki kategori kurang
baik sebanyak 22,5% dengan frekuensi 7 orang pada interval 47-50 sedangkan pada kategori nilai yang tidak baik
sebanyak 3,2 % dengan frekuensi 1 orang pada interval
kurang dari 47. Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa pembentukan karakter
religius di SDIT IQRA ‘2 Kota
Bengkulu masuk
dalam kategori baik.
1. Uji Prasyarat Analisis
Uji persyaratan dilakukan agar data
penelitian mempunyai kualitas yang cukup
tinggi, maka alat pengambilan data harus memenuhi syarat-syarat sebagai alat pengukur yang baik. Perhitungan variabel-variabel dilakukan dengan menggunakan aplikasi
SPSS16.0 for Windows.
2. Uji Validitas
Uji validitas instrumen
dilakukan untuk mengetahui valid/layak tidaknya instrumen
yang digunakan penulis
dalam penelitian ini. Uji validitas
dalam penelitian ini menggunakan analisis
korelasi Product Moment dengan ketentuan apabila korelasi
(Corrected Item-Total Correlation)
tiap faktor positif dan besarnya 0,3 keatas maka instrument tersebut
valid. Uji validitas
instrumen pola asuh orang tua terhadap pembentukan karakter religius anak berupa
angket dengan jumlah 34 butir soal
(10 butir soal untuk tiap variabel uji instrumen pola asuh orang tua dan 24 butir soal untuk uji instrumen
pembentukan karakter religius anak) yang disebar ke orang
tua. Pengujian validitas
dalam penelitian ini menggunakan program
SPSS for Windows 16.0.
Sedangkan hasil uji validasi disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 4.7 Hasil Uji Validitas
Instrumen Pola Asuh (X)
|
No |
Soal |
Keterangan |
|
1 |
Soal 1 |
Valid |
|
2 |
Soal 2 |
Valid |
|
3 |
Soal 3 |
Valid |
|
4 |
Soal 4 |
Valid |
|
5 |
Soal 5 |
Valid |
|
6 |
Soal 6 |
Valid |
|
7 |
Soal 7 |
Valid |
|
8 |
Soal 8 |
Valid |
|
9 |
Soal 9 |
Valid |
|
10 |
Soal 10 |
Valid |
Dari tabel 4.7 dan 4.8 tersebut menunjukkan bahwa 10 soal valid. Data di atas diperoleh dari persetujuan dari 2 dosen ahli konsultasi kepada dosen ahli tersebut
dan ada beberapa perbaikan dari beberapa soal, baik itu dari segi kalimat maupun dari indikator
soal. Maka soal tersebut bisa dikatan valid menurut dosen ahli.
Tabel 4.8 Hasil Uji Validitas Instrumen
Pola Asuh Orang Tua ( X )
|
No |
Soal |
Perason Correlation |
R Tabel (N=31), Taraf Signifikasi 5% |
Keterangan |
|
1 |
Soal 1 |
0,419 |
0,355 |
Valid |
|
2 |
Soal 2 |
0,621 |
0,355 |
Valid |
|
3 |
Soal 3 |
0,536 |
0,355 |
Valid |
|
4 |
Soal 4 |
0,470 |
0,355 |
Valid |
|
5 |
Soal 5 |
0,665 |
0,355 |
Valid |
|
6 |
Soal 6 |
0,708 |
0,355 |
Valid |
|
7 |
Soal 7 |
0,635 |
0,355 |
Valid |
|
8 |
Soal 8 |
0,759 |
0,355 |
Valid |
|
9 |
Soal 9 |
0,636 |
0,355 |
Valid |
|
10 |
Soal 10 |
0,542 |
0,355 |
Valid |
Tabel 4.8 di atas menunjukkan bahwa dari 10
soal uji instrumen di nyatakan valid.
Selanjutnya, soal dinyatakan valid dijadikan
instrumen untuk mengukur variabel karakter
religius, 10 soal tersebut mempunyai
nilai r hitung (Pearson Correlation) lebih besar dari r tabel dengan jumlah sampel 31 dan
taraf signifikansi 5 % yaitu 0,355. Dengan demikian, semua soal dapat dikatakan
valid.
Tabel 4.9 Hasil Uji Validitas
Instrumen Karakter Religius
Siswa (Y)
|
No |
Soal |
Perason Correlation |
R Tabel (N=31), Taraf Signifikasi 5% |
Keterangan |
|
1 |
Soal 1 |
0,484 |
0,355 |
Valid |
|
2 |
Soal 2 |
0,548 |
0,355 |
Valid |
|
3 |
Soal 3 |
0,471 |
0,355 |
Valid |
|
4 |
Soal 4 |
0,617 |
0,355 |
Valid |
|
5 |
Soal 5 |
0,403 |
0,355 |
Valid |
|
6 |
Soal 6 |
0,625 |
0,355 |
Valid |
|
7 |
Soal 7 |
0,604 |
0,355 |
Valid |
|
8 |
Soal 8 |
0,553 |
0,355 |
Valid |
|
9 |
Soal 9 |
0,510 |
0,355 |
Valid |
|
10 |
Soal 10 |
0,610 |
0,355 |
Valid |
|
11 |
Soal 11 |
0,733 |
0,355 |
Valid |
|
12 |
Soal 12 |
0,501 |
0,355 |
Valid |
|
13 |
Soal 13 |
0,638 |
0,355 |
Valid |
|
14 |
Soal 14 |
0,555 |
0,355 |
Valid |
|
15 |
Soal 15 |
0,423 |
0,355 |
Valid |
|
16 |
Soal 16 |
0,592 |
0,355 |
Valid |
|
17 |
Soal 17 |
0,727 |
0,355 |
Valid |
|
18 |
Soal 18 |
0,319 |
0,355 |
Tidak Valid |
|
19 |
Soal 19 |
0,573 |
0,355 |
Valid |
|
20 |
Soal 20 |
0,582 |
0,355 |
Valid |
|
21 |
Soal 21 |
0,626 |
0,355 |
Valid |
|
22 |
Soal 22 |
0,513 |
0,355 |
Valid |
|
23 |
Soal 23 |
0,583 |
0,355 |
Valid |
|
24 |
Soal 24 |
0,688 |
0,355 |
Valid |
1.
Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas digunakan untuk
mengetahui apakah indikator yang digunakan
dapat dipercaya sebagai alat ukur variabel, indikator dinyatakan reliabel apabila nilai cronbach’s alpha (α) yang didapat ≥
0,60. Hasil uji reliabilitas yang
dilakukan dengan menggunakan program SPSS
16.0 for Windows. Jika skala itu dikelompokkan ke dalam lima kelompok dengan rentang yang sama, maka ukuran kemantapan alpha
dapat diinterpretasikan sebagai berikut:1
a.
Nilai Alpha Cronbach’s 0,00 – 0,20 = kurang reliabel
b.
Nilai Alpha Cronbach’s 0,21 – 0,40 = agak reliabel
c.
Nilai Alpha Cronbach’s 0,41 – 0,60 = cukup reliabel
d.
Nilai Alpha Cronbach’s 0,61 – 0,80 = reliabel
e.
Nilai Alpha Cronbach’s 0,81 – 1,00 = sangat
reliabel
Pengujian instrument dilakukan pada item-item
yang valid dari setiap variabel penelitian. Pada variabel pola asuh terdapat
10 soal valid.
Dari hasil uji reliabilitas terhadap
instrumen penelitian diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.10 Hasil Uji Reliabilitas Soal Pola Asuh (X)
|
Case Processing Summary |
|||
|
|
|
N |
% |
|
Cases |
Valid |
31 |
100.0 |
|
Excludeda |
0 |
.0 |
|
|
Total |
31 |
100.0 |
|
|
a.
Listwise deletion based on all variables in the procedure. |
|||
|
Reliability Statistics |
|
|
Cronbach's Alpha |
N of Items |
|
.704 |
11 |
Dari gambar output
4.10 di atas, diketahui bahwa Alpha
Cronbach’s sebesar 0,704,
kemudian nilai ini dibandingkan dengan nilai rtabel dengan nilai N=31 dicari pada distribusi nilai rtabel
signifikansi 5% diperoleh nilai rtabel sebesar
0,355. Berdasarkan hasil uji reliabilitas nilai Alpha Cronbach’s = 0,704 > rtabel = 0,355 sehingga
tergolong di nilai antara 0,61– 0,80 maka hasil uji tersebut
dikatakan reliable atau terpercaya sebagai
alat pengumpul data dalam
penelitian.
. Tabel 4.11 Hasil Uji Reliabilitas Soal pembentukan karakter
religius (Y)
Reliability Statistics
|
Case Processing Summary |
|
||||
|
|
|
N |
% |
|
|
|
Cases |
Valid |
31 |
100.0 |
|
|
|
Excludeda |
0 |
.0 |
|
||
|
Total |
31 |
100.0 |
|
||
|
a.
Listwise deletion based on all variables in the procedure. |
|
||||
|
Reliability Statistics |
|||||
|
Cronbach's Alpha |
N of Items |
||||
|
.525 |
25 |
||||
Dari gambar output 4.11 di atas, diketahui bahwa Alpha Cronbach’s sebesar
0,525, kemudian nilai ini dibandingkan dengan nilai rtabel dengan nilai N=31 dicari pada distribusi nilai rtabel
signifikansi 5% diperoleh nilai rtabel sebesar
0,355. Berdasarkan hasil uji reliabilitas nilai Alpha Cronbach’s = 0,525 > rtabel = 0,355 sehingga tergolong di nilai antara 0,41 – 0,60 maka hasil uji tersebut dikatakan reliable
atau terpercaya sebagai alat pengumpul data dalam penelitian.
2.
Uji Normalitas
Tujuan dilakukannya uji normalitas adalah untuk
mengetahui apakah data populasi berdistribusi normal atau
tidak. Untuk menguji normalitas data, peneliti menggunakan Uji Normalitas One Sample Kolmogrov- Smirnov Test. Dengan metode pengambilan keputusan
sebagai berikut :
a.
Jika sig ≤ 0,05
maka data tidak berdistribusi normal.
b.
Jika sig > 0,05 maka data berdistribusi
normal.
Berikut ini adalah hasil uji normalitas variabel data dengan menggunakan bantuan program SPSS
16.0 Statistic for Windows.
Tabel 4.12 Hasil
Uji Normalitas Variabel
X-Y
|
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test |
||
|
|
|
Unstandardized Residual |
|
N |
31 |
|
|
Normal Parametersa |
Mean |
.0000000 |
|
Std. Deviation |
3.83390564 |
|
|
Most Extreme Differences |
Absolute |
.077 |
|
Positive |
.073 |
|
|
Negative |
-.077 |
|
|
Kolmogorov-Smirnov Z |
.428 |
|
|
Asymp. Sig. (2-tailed) |
.993 |
|
|
Test distribution is Normal. |
|
|
|
|
|
|
Berdasarkan tabel 4.12 di atas dapat diketahui
bahwa nilai signifikasi Asymp. Sig
(2-Tailed) berdistribusi normal dengan
nilai signifikasi X-Y sebesar
0,993 lebih besar dari 0,05. Hal ini dapat dibuktikan dengan dasar pengambilan keputusan jika sig ≤0,05 maka data tidak berdistribusi normal.Sebaliknya jika sig. >0,05 maka data berdistribusi normal.
3.
Uji Linearitas
Tujuan
dilakukannya uji linearitas adalah untuk mengetahui status linear tidaknya
suatu distribusi data penelitian. Pada uji linearitas, distribusi data memiliki
bentuk yang linear jika:
a.
Sig ≤ 0,05 maka hubungan antara dua variabel
tidak linear.
b.
Sig > 0,05
maka hubungan antara dua variabel
linear.
Berikut ini adalah hasil uji linearitas variabel
data dengan menggunakan bantuan program SPSS 16.0
Statistic for Windows.
Tabel 4.13 Hasil
Uji Linearitas Variabel
X-Y
|
ANOVA with Tukey's Test for Nonadditivity |
|||||||||
|
|
|
|
Sum of Squares |
Df |
Mean Square |
F |
Sig |
||
|
Between People |
590.935 |
30 |
19.698 |
|
|
||||
|
Within People |
Between Items |
13151.758 |
1 |
13151.758 |
1.3483 |
.000 |
|||
|
Residual |
Nonadditivity |
5.473a |
1 |
5.473 |
.553 |
.563 |
|||
|
Balance |
287.269 |
30 |
9.906 |
|
|
||||
|
Total |
292.742 |
30 |
9.758 |
|
|
||||
|
Total |
13444.500 |
31 |
433.694 |
|
|
||||
|
Total |
14035.435 |
61 |
230.089 |
|
|
||||
|
Grand Mean = 38,53 |
|
|
|
|
|
||||
|
a. Tukey's estimate of power to which
observations must be raised to achieve additivity = ,745. |
|
||||||||
Dari tabel output 4.13 di atas, diketahui
bahwa hasil uji linearitas variabel pola asuh terhadap pembentukan
karakter religius sebesar 0,563 lebih besar dari 0,05 hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan
linear yang signifikan antara variabel X (pola
asuh) terhadap Y(pembentukan karakter religius).
3. Uji Asumsi Klasik
a.
Multikolinearitas
Uji asumsi klasik dalam penelitian ini
menggunkan uji multikolinearitas yang bertujuan untuk menguji apakah dalam
model regresi ditemukan adanya korelasi yang tinggi atau sempurna antar
variabel independen. Berikut ini adalah hasil uji multikolinearitas variabel
data dengan menggunakan bantuan program SPSS 16.0 Statistic for Windows.
Tabel 4.14 Hasil
Uji Multikolinearitas Variabel X-Y
|
Coefficientsa |
||||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
t |
Sig. |
Collinearity Statistics |
|||
|
B |
Std. Error |
Beta |
Tolerance |
VIF |
||||
|
1 |
(Constant) |
43.814 |
4.815 |
|
9.100 |
.000 |
|
|
|
Pola Asuh X |
.387 |
.199 |
.340 |
1.949 |
.041 |
1.000 |
1.000 |
|
|
a. Dependent Variable: Karakter Religius
Y |
|
|
|
|
|
|||
Dari tabel 4.14 di atas menunjukkan bahwa
nilai dari tolerance dan VIF sama dengan variabel X-Y yaitu 1,000 dan 1,000.
Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam variabel X-Y tidak ada masalah
multikolinearitas. Artinya dalam model regresi ini ditemukan adanya korelasi
yang tinggi antar variabel.
b.
Heteroskedastisitas
Uji
heteroskedastisitas dalam penelitian ini menggunakan gambar scatterplots,
tujuan dari pada uji ini yaitu untuk menguji terjadinya perbedaan variabel
residual suatu periode pengamatan ke periode pengamatan lain. Adapun pedoman
yang digunakan untuk memprediksi ada tidaknya gejala heteroskedastisitas dalam
penelitian ini yaitu; tidak terjadi heteroskedastisitas apabila titik-titik
data penyebar di atas dan dibawahatau di sekitar angka 0, titik-titik tidak
mengumpul hanya diatas atau di bawah saja, penyebaran titik-titik data tidak
boleh membentuk pola bergelombang melebar kemudian menyempit dan melebar kembali.
Berikut hasil gambar scatterplots dengan menggunakan bantuan program Spss 16.0
Statistic for Windows :
Gambar 4.5 Karakter
Religius Siswa
Dari gambar
scatterplot 4.5 di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa titik data penyebar di
atas dan dibawah atau disekitar angka 0, titik- titik tidak mengumpul hanya di atas atau dibawah saja kemudian
penyebaran titik-titik data tidak membentuk pola bergelombang melebar kemudian
menyempit dan melebar kembali. Hal ini menjelaskan bahwa tidak terjadi
heteroskedastisitas dalam variabel X terhadap Y.
4. Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis untuk rumusan
masalah pertama sampai kedua menggunakan analisis regresi sederhana, sedangkan rumusan masalah
ketiga dengan melihat
perbedaan nilai Uji T (parsial) masing-masing variabel. Untuk lebih jelasnya sebagai berikut :
1.
Pengaruh pola asuh (X) terhadap karakter religius Siswa (Y)
Untuk
menguji pengaruh X terhadap Y menggunan uji regresi sederhana. Berikut hasil perhitungan
dengan menggunakan bantuan program Spss 16.0
Statistic for Windows:
a.
Regresi Sederhana
Model
pengujian melalui regresi
sederhana dilakukan dengan cara menganalisis pola asuh (X) terhadap
karakter religius siswa (Y). Mengenai hasil persamaan regresi
dapat dilihat sebagai
berikut.
Tabel 4.15 Hasil
Regresi Sederhana Pola Asuh X terhadap Y
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
T |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
43.814 |
4.815 |
|
9.100 |
.000 |
|
Pola Asuh |
.387 |
.199 |
.340 |
2.349 |
.041 |
|
|
Dependent Variable: Karakter Religius |
|
|
|
|||
Berdasarkan pada tabel 4.15 di atas,
maka dapat diperoleh hasil persamaan regresi sebagai berikut:
1) Y = a + b1X
Pembentukan Karakter religius (Y)
= 43.814 + (0,387)X
Dari persamaan regresi
di atas dapat diinterpretasikan sebagai
berikut:
a.
Nilai konstanta = 43,814. Hal ini menunjukkan apabila nilai pola asuh orang tua (X) di obyek penelitian sama dengan
nol, maka besarnya pembentukan karakter
religius anak (Y) sebesar
43,814
b.
Nilai koefisien b1 = (0,387). Hal ini menunjukkan
apabila nilai pola asuh orang tua (X) mengalami
kenaikan satu poin,
maka karakter religius anak
meningkat 0,387
2) Uji T. Untuk menguji
apakah secara parsial
signifikan atau tidak.
a.
Dalam penelitian
ini menggunakan perbandingan thitung dan ttabel dengan taraf signifikan 5% dan N 31,
sedangan tabel distribusi t dicapai pada α = 5% : 2 = 2,5% (uji 2 sisi) dengan derajat
kebebasan (df) n-k-1 = 31– 2 – 1 = 28 (n jumlah responden dan k adalah jumlah variabel independen). Hasil
diperoleh dari t tabel adalah = 2,36. Dari tabel diatas diperoleh
nilai thitung =2.349. Sementara
itu, untuk ttabel dengan taraf signifikansi 0,05 diperoleh nilai ttabel = 2,048.
Perbandingan antara keduanya
menghasilkan: thitung > ttabel (2,349>2,048). Nilai signifikansi t untuk variabel
pola asuh orang tua terhadap
pembentukan karakter religius
anak adalah
0,041 dan nilai tersebut
lebih kecil dari pada probabilitas 0.05 (0,041<0,05).
Sehingga dalam pengujian
ini menunjukkan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak. Hal ini
berarti bahwa ada pengaruh yang positif dan
signifikan antara pola asuh orang tua terhadap karakter religius Siswa di SD IT IQRA’2 Kota
Bengkulu
b.
Uji Koefisien Diterminasi
Setelah pengujian hipotesis, selanjutnya dilakukan uji koefisien
diterminasi untuk mengetahui seberapa besar prosentse
pengaruh X terhadap
Y yang diperoleh dari output regresi sederhana sebagai berikut:
Tabel 4.16 Hasil Koefisien Diterminasi X
|
Model Summaryb |
||||
|
Model |
R |
R Square |
Adjusted R Square |
Std. Error of the Estimate |
|
1 |
.340a |
.316 |
.085 |
3.89945 |
|
a. Predictors: (Constant), Pola Asuh X |
|
|||
|
b. Dependent Variable: Karakter Religius
Y |
|
|||
Hasil analisis korelasi sederhana dapat
dilihat pada Output Model Summary. Dari hasil analisis
di atas R square
adalah 0,340, R square dapat
disebut koefisien diterminasi yang dalam hal ini berarti
31,6 % terdapat kontribusi
atau pengaruh pola asuh terhadap
pembentukan karakter religius anak.
Sedangkan sisanya 68,4 % dapat dijelaskan oleh
sebab-sebab yang lain di
luar variabel penelitian.
Tabel 4.17 Hasil
Uji Hipotesis X dan terhadap Y
|
No |
Hipotesis Nol (Ho) dan Hipotesis alternative (Ha) |
T Hitung |
T Tabel |
Hasil Signifikansi |
Kesimpulan |
|
1. |
Ha: Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara pola
asuh terhadap karakter religius siswa di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu. Ho: Tidak ada pengaruh yang positif dan signifikan antara pola asuh
terhadap karakter religius siswa di SD IT
IQRA’2 Kota Bengkulu. |
2,349 |
2,048 |
2,349>2,048 = 0,05 sig = 0,041 |
Ha diterima Ho Ditolak |
Untuk
mengetahui perbedaan X terhadap Y dengan cara membandingkan hasil uji T (parsial) dari masing-masing variabel.
Berdasarkan tabel 4.18, hasil uji T variabel X terhadap Y menunjukkan nilai
Thitung>Ttabel dengan nilai 2,349>2,048 dengan sig 0,041.
E.
Pembahasan
a.
Rekapitulasi Data Hasil
Penelitian
Rekapitulasi hasil penelitian
dilakukan untuk memberi gambaran secara utuh dan menyeluruh mengenai hasil
penelitian, sehingga dapat ditentukan langkah- langkah tentang aspek-aspek mana
yang memerlukan pembahasan lebih lanjut. Rekapitulasi data Hasil penelitian
adalah sebagai berikut:
Tabel 4.18 Data
Hasil Penelitian Variabel X dan Y
|
No |
Variabel Penelitian |
Nilai THitung |
Tabel Pada tarap 5% |
Interprestasi |
Rsquare prosentase
pengaruh |
Hasil Penelitian (Kesimpulan) |
|
|
Pengaruh pola asuh orang terhadap
karakter religius siswa usia 9-10 tahun |
2,349 |
>2,048 |
Ha diterima |
31,6% sisanya 68,4% dijelaskan oleh sebab- sebab yang lain diluar variabel. |
Ada pengaruh pola asuh orang tua terhadap karakter religius siswa |
b.
Pembahasan Hasil Penelitian
Pengaruh pola asuh orang tua
terhadap karakter religius siswa usia
9-10 tahun di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu hasil penelitian menunjukkan nilai
Thitung 2,349, dengan nilai Ttabel 2,048 sehingga 2,349>2,048 yang berarti
Ha diterima. Dan nilai R square sebesar 31,6 % sisanya 68,4% dijelaskan oleh
sebab-sebab yang lain diluar variabel. Dari penjelasan diatas menunjukkan bahwa
terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara pola asuh orang tua
terhadap karakter religius siswa.
Hal ini mengungkapkan bahwa
lingkungan keluarga akan sangat berpengaruh terhadap kepribadian atau karakter
seorang anak terutama dari cara para orang tua mendidik dan membesarkan
anaknya. Jadi cara orang tua mendidik atau mengasuh anak juga merupakan faktor
utama dalam karakter religius anak, karena lingkungan keluarga merupakan
lingkungan utama dan pertama bagi anak dalam proses tumbuh dan berkembang. Pola
asuh merupakan pola asuh yang menuntut anak untuk memenuhi standar mutlak yang
ditentukan sepihak oleh orang tua. Hal ini ditunjukkan dengan sikap orang tua
yang selalu menuntut kepatuhan dari anak, mendikte, hubungan dengan anak terasa
kurang hangat, kaku keras dan komunikasi yang bersifat satu arah. Daan
kurangnya kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi dan bereksperimen sendiri.
Pola asuh hanya mengenal hukuman dan pujian dalam
berinteraksi dengan anak. Hukuman akan diberikan manakala anak tidak melakukan
sesuai dengan keinginan orang tua. Sedangkan pujian akan diberikan manakala
anak melaksanakan apa yang diinginkan oleh orang tuanya. Di SDIT IQRA’2 Kota
Bengkulu ini sendiri yang ditunjukkan dengan prosentase R square sebesar 31,6%.
Artinya sebanyak 31 % lebih orang tua di SD IT IQRA’2 Kota Bengkulu menerapkan
pola asuh yang dominan sifatnya memaksakan dalam pengasuhan anak. Pola
asuh sangat efektif dalam meningkatkan
karakter religius anak usia 9-10 tahun di SD IT IQRA’2 Kota Bengkulu, mengingat
tipe anak di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu sendiri cenderung berani terhadap orang
yang lebih tua. Sikap keras inilah yang nantinya, anak menjadi takut untuk
melakukan hal-hal yang buruk. Karena anak-anak tipe pengasuhan ini
cenderung memikirkan konsekuensi
yang akan didapatkannya apabila melanggar peraturan atau arahan
orang tuanya.
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
KESIMPULAN
Dari uraian yang telah peneliti
kemukakan di bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
Terdapat pengaruh yang positif
mengingat tipe anak di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu sendiri cenderung berani
terhadap orang yang lebih tua, Di SDIT IQRA’2 Kota Bengkulu ini sendiri yang
ditunjukkan dengan prosentase R square sebesar 31,6%. Artinya sebanyak 31 %
lebih orang tua di SD IT IQRA’2 Kota Bengkulu menerapkan pola asuh yang dominan
sifatnya memaksakan dalam pengasuhan anak.
Terdapat pengaruh yang positif dan
signifikan antara pola asuh orang tua
terhadap karakter religius anak
usia 9-10 tahun di SD IT IQRA’2 Kota Bengkulu yakni dengan nilai Thitung
2,349>2,048 yang berarti Ha diterima. Dannilai sig sebesar 0,41 dan nilai R
square sebesar 31,6 % sisanya 68,4% dijelaskan oleh sebab-sebab yang lain
diluar variabel.
B.
SARAN
1. Bagi Orang tua
88
2. Tokoh Masyarakat
Penelitian ini diharapkan bermanfaat
bagi tokoh masyarakat sebagai bahan acuan dalam pembinaan masyarakat.
3. Kepada Peneliti yang akan
datang
Hasil penelitian ini kepada peneliti
yang akan datang diharapkan bermanfaat sebagai petunjuk, arahan, maupun acuan
serta bahan pertimbangan dalam penyusunan rancangan penelitian yang lebih baik
lagi relevan dengan hasil penelitian ini.
Abidin Zaenal,dkk.2022.Pola
pembentukan karakter religius pada anak dalam Pendidikan Agama Islam Di Sekolah
menengah pertama taiyatul Falah ciampea Bogor.Jurnal Pendidikan Islam.
Adawiah, Rabiatul.2017.Pola Asuh
Orang Tua dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Anak.Jurnal Dosen Program PPKn
FKIP ULM Banjarmasin.
Alfiani Fitri dkk. 2016.Pengaruh Pola Asuh Orang Tua
Terhadap Pembentukan Karakter Religius Anak Di Dusun Tegal Sari Desa Pasir Jaya
Kecamatan Rambah Hilir Kabupaten Rokan Hulu.Jurnal Universitas Riau.
Ahsanu, Khaq Moh.2019.Membentuk
Karakter Religius Peserta Didik Melalui Metode Pembiasaan. Jurnal Prakarsa
Paedagogia.
Anisah, Ani Siti.Pola Asuh Orang Tua
Dan Implikasinya Terhadap Pembentukan Karakter Anak.Jurnal Pendidikan
Universitas Garut.
Ardi Irawan dan Arip Nurrahman.
Analisis Karakter Religius Siswa Sekolah Menengah Pertama.Al-Tadib:Jurnal
Kajian Ilmu Pendidikan.
Ayun,Qurrotu.2017.Pola Asuh Orang Tua
Dan Metode Pengasuhan Dalam Membentuk Kepribadian Anak.Jawa Tengah: IAIN
Salatiga.
Burhanuddin Ahmad dan Ahmad
Atabik.Prinsip dan Metode Pendidikan Anak Usia Dini.Jurnal Tarbiyah STAIN
Kudus.
Depag.2010.Al Qur’an dan Terjemahnya.
Depdikbud.1988.Kamus Besar Bahasa
Indonesia.Jakarta: Balai Pustaka.
Dewi Putu Ayu Septiari dan Ni Made
Sukerni.2022.Peran Orang tua Dalam Pembentukan karakter Religius Anak Usia 5-6
Tahun Melalui Pengenalan Mantram Puja Trisandyadi Masa Belajar Dari Rumah.Universitas
Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar:Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini.
Gunarso dan Gunarso
Y.S.1995.Psikologi Praktis:Anak, Remaja dan Keluarga.
Jakarta:Gunung Mulia.
Harbeng, Masni.Peran Pola Asuh
Demokrasi Orang Tua Terhadap Pengembangamn Potensi Diri dan Kreativitas Siswa.
Ismail.Pendidikan Karakter Berbasis
Religius (Suatu Tinjauan Teoritis).Jurnal Kajian Islam & Pendidikan.
Mary, Go Setiawan.2000.Menerobos
Dunia Anak.Bandung:Yayasan Kalam Hidup.
Muallifah dan Ilhamuddin.2011.Psikologi
Anak Sukses Cara Orang Tua Memandu Anak Meraih Sukses.Malang:Universitas
Brawijaya Press.
Muhammad Ilyas dan Alif
Achadah.2020.Aktulasi Pendidikan Karakter Religus Untuk Membentuk Perilaku Baik
Peserta Didik Di Madrasah Tsanawiyah Ash Sholihudin Dampit.Jurnal Pendidikan
Dan Pemikiran Islam.
Nurlaela, Lela siti dkk.2020.Pengaruh
Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Karakter Anak Pada Siswa Kelas III
Mandrasah Ibtidaiyah Tahfizhul qur’an Assul Huda Ranjikulon.Jurnal Universitas
Majalengka.
Ny.Y.Singgih D,Gunarsa dan Gunarsa
D.2007.Psikologi Remaja.Jakarta:Gunung Mulya.
Pardede, Dewi Lestari.2021.Hubungan
Pendidikan Dalam Keluarga Dengan Hasil Belajar Pkn Siswa Kelas Xi Sma Negeri
Sipahutar Taput I T.P 2021/2022.Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Medan.
Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional No.20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 2
Rakhamawati, Istina.2015.Peran
Keluarga Dalam Pengasuhan Anak.Jawa Tengah:SMP 1 Undaan Kudus.
Rahayu, Sripuji.2020.Pola Asuh Orang
Tua Dalam Pendidikan Karakter Religius Pada Remaja Di Dusun Nobowetan Kelurahan
Noborojo Kec.Argomulyo Kota Salatiga.
Ratri, Rindi Antika
Ritma.2018.Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap religiusitas Anak Dalam Ibadah
shalat Berjamaah Di Masjid Baitul Makmur Grendeng Purwokert. Program Studi
Pendidikan Agama Islam IAIN Purwokerto.
Roflin, Eddy,dkk.2022.Metode
Menghitung Besar Sampel Pada Penelitian,Kesehatan.Pekalongan Jawa
Tengah:PT.Nasya Ekpanding Management.
Saputra, Nofrans Eka,Yun,Nina Eka
Wati,Ramadani,Islamiyah.2020.Skala Karakter Religius Siswa SMA Implementasi
Nilai Utama Karakter Kemendikbud.Universitas Jambi: Jurnal Pengukuran Psikologi
dan Pendidikan Indonesia.
Slamet, Riyanto dan Aglis Andihta
Hatmawan.2020.Metode Riset Penelitian Kuantitatif Penelitian di Bidang Menejemen,Teknik,Pendidikan
dan Eksperimen.Yogyakarta: Grup Penerbitan CV Budi Utama.
Su’adah, Uky
Syauqiyyatus.2021.Pendidikan Karakter Religius Strategi Tepat Pendidikan Agama
Islam Dengan Optimalisasi Masjid.Jawa Timur: CV.Global Aksara Press.
Subagia, I Nyoman.2021.Pola Asuh
Orang Tua:Faktor, Implikasi Terhadap Perkembangan Anak.Bandung: Nilacakra.
Sugiyono.2018.Metode Penelitian
Pendidikan pendekatan Kuantitati
Kualitatif dan R&D.Bandung:
Alfabeta.
Suharsimi Arikunto.2013.Manajemen
Penelitian.Jakarta: Rineka Cipta.
Sukiyat.2020.Strategi Implementasi
Pendidikan Karakter.Surabaya: CV.Jakad Media Publishing.
Siti Muhayati dan Diana Ariswanti
Triningtyas.2014.Pengaruh Pola Asuh Orang Tua dan Interaksi Teman Sebaya
Terhadap Remaja Akhir Wajib Shaung Kifarat.Madiun:Jurnal Bimbingan Dan
Konseling.
Sri, Sugrastuti.2013.Seni Mendidik
Anak Sesuai Tuntunan Islam.Jakarta:Mitra Wacana Media.
Wandari LA. 2018.Pengaruh
Pola asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Karakter Religius Anak Usia 9-10 Tahun
Di Desa Watuagung Kecamatan watulimo Kabupaten Trenggalek.IAIN Tulungagung.
[1] Sipayung Regina, Pengaruh
Pola Asuh Orang Tua Dan Disiplin Belajar Terhadap Hasil belajar Siswa SD Kelas
V Di SD Negeri Muara Bolak 4 Kec. Sosorgadong,(Dosen Universitas Katolik ST
Thomas Medan, 2018).
[2] Depag, Al Qur’an dan
Terjemahnya, 2010
[3] Pardede Dewi Lestari, Hubungan Pendidikan
Dalam Keluarga Dengan Hasil Belajar Pkn Siswa Kelas Xi Sma Negeri Sipahutar
Taput I T.P 2021/2022,(Sekolah
Tinggi Ilmu Ekonomi Medan,2021),hal.2.
[4] Harbeng Masni, Peran
Pola Asuh Demokratis Orang Tua Terhadap Pengembangan Potensi Diri Dan
Kreativitas Siswa.
[5] Subagia I Nyoman, Pola Asuh
Orang Tua:Faktor, Implikasi Terhadap Perkembangan Anak, (Bandung: Nilacakra, 2021), hal.3.
[6] Syarbini Amirulloh, Model
Pendidikan Karakter Dalam Keluarga, (Jakarta: PT. Gramedia, 2014), hal.3.
[7] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 1988), hal. 54.
[8] Wandari LA, Pengaruh Pola
asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Karakter Religius Anak Usia 9-10 Tahun Di
Desa Watuagung Kecamatan watulimo Kabupaten Trenggalek, (IAIN Tulungagung:2018).
[9] Subagia
I Nyoman, Pola Asuh Orang Tua:Faktor, Implikasi Terhadap Perkembangan Anak, (Bandung: Nilacakra, 2021), hal.20.
[10] Tringningtyas Diana Ariswanti dan Siti Muhayati, Pengaruh Pola Asuh
Orang Tua Dan Interaksi Teman Sebaya Terhadap Remaja Akhir Wajib Shaum Kifarat,
(Madiun:Jurnal Bimbingan dan Konseling,2014), hal.4.
[11] Alfiani Fitri dkk, Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Karakter Religius
Anak Di Dusun Tegal Sari Desa Pasir Jaya Kecamatan Rambah Hilir Kabupaten Rokan
Hulu, (Universitas Riau:2016).
[12] Nurlaela Lela siti dkk, Pengaruh Pola Asuh Orang Tua
Terhadap Pembentukan Karakter Anak Pada Siswa Kelas III Mandrasah Ibtidaiyah
Tahfizhul qur’an Assul Huda Ranjikulon, (Universitas
Majalengka: 2020).
[13]
Ny.Y.Singgih D.Gurnarsa dan Gurnarsa,Singgih D, Psikologi Remaja,(Jakarta:Gunung
Mulia,2007), hal.109.
[14] Mary Go Setiawan, Menerobos Dunia Anak, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup,
2000), hal.
69-71.
[15] Muallifah dan Ilhamuddin, Psikologi
Anak Sukses Cara Orang Tua Memandu Anak Meraih Sukses, (Malang:Universitas
Brawijaya Malang,2011), hal.6
[16] Burhanuddin Ahmad dan Ahmad
Atabik, Prinsip Dan Metode Pendidikan Anak Usia Dini, (Jurusan Tarbiyah
STAIN Kudus)
[17] Anisah Ani Siti, Pola
Asuh Orang Tua Dan Implikasinya Terhadap Pembentukan Karakter Anak, (Fakultas
Pendidikan Islam dan Keguruan Universitas Garut: Jurnal Pendidikan Universitas
Garut), hal.73
[18] Gunarso dan Gunarso Y.S, Psikologi Praktis: Anak,
Remaja dan Keluarga, (Jakarta:Gunung
Mulia, 1995), hal.112.
[19] Rakhamawati Istina, Peran
Keluarga Dalam Pengasuhan Anak, (Jawa Tengah: SMP 1 Undaan Kudus,2015),
hal.7.
[20] Sitanggang Fitri Sandora,dkk,
Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kepribadian Siswa Pada Siswa Sekolah
Dasar, (Universitas Katolik Santo Thomas: Jurnal Basicedu,2021).
[21] Adawiah Rabiatul, Pola Asuh Orang
Tua dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Anak, (Dosen Program PPKn FKIP
ULM Banjarmasin:2017).
[22] Sri Sugiastuti, Seni Mendidik Anak sesuai
Tuntunan Islam, (Jakarta:
Mitra Wacana Media, 2013), hal. 37.
[23] Sri Sugiastuti, Seni Mendidik Anak sesuai
Tuntunan Islam, (Jakarta:
Mitra Wacana Media, 2013), hal. 37.
[24]Subagia I Nyoman, Pola
Asuh Orang Tua:Faktor, Implikasi Terhadap Perkembangan Anak, (Bandung:
Nilacakra, 2021),hal. 2.
[25]Sukiyat, Strategi Implementasi Pendidikan Karakter, (Surabaya: CV.Jakad Media Publishing, 2020).
[26] Undang-Undang
Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003 pasal 1 ayat (2)
[27] Wandari
LA, Pengaruh Pola asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Karakter Religius
Anak Usia 9-10 Tahun Di Desa Watuagung Kecamatan watulimo Kabupaten Trenggalek, (IAIN Tulungagung: 2018).
[28] Ardi Irawan dan Arip
Nurrahman, Analisis Karakter Religius Siswa Sekolah Menegah Pertama, (Al-Tadib:Jurnal Kajian Ilmu Kependidikan), Hal. 176-177.
[29] Muhammad Ilyas dan Alif Achadah.Aktulasi Pendidikan Karakter
Religius Untuk Membentuk Perilaku Baik Peserta Didik Di Madrasah Tsanawiyah Ash
Sholihudin Dampit.(Jurnal Pendidikan Dan pemikiran Islam.2020), Hal.126-127.
[30]Abidin
Zaenal,dkk, Pola pembentukan karakter religius pada anak dalam Pendidikan Agama Islam Di Sekolah menengah pertama taiyatul Falah ciampea
Bogor,(Jurnal Pendidikan Islam:2022),hal.18.
[31] Saputra Nofrans Eka,dkk, Skala
Karakter Religius Siswa SMA Impelemtasi Nilai Utama Karakter Kemendikbud, (Universitas
Jambi: Jurnal Pengukuran Psikologi dan Pendidikan Indonesia,2020), hal.58.
[32] Su’adah Uky Syauqiyyatus, Pendidikan
Karakter Religius Startegi Tepat Pendidikan Agama Islam Dengan Optimalisasi
Masjid, (Jawa Timur: CV. Global Aksara Pres, 2021) ,hal.2-3.
[33] Ismail,Pendidikan Karakter
Berbasis Religius (Suatu Tinjauan Teoritis),(Jurnal
Kajian Islam & Pendidikan),hal.6.
[34] Dewi Putu Ayu Septiari dan Ni Made Sukerni, Peran Orang tua Dalam Pembentukan karakter Religius Anak Usia 5-6 Tahun Melalui Pengenalan
Mantram Puja Trisandyadi Masa Belajar Dari Rumah,(Universitas
Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar:Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini,2022),hal.83.
[35] Su’adah Uky Syauqiyyatus, Pendidikan
Karakter Religius Startegi Tepat Pendidikan Agama Islam Dengan Optimalisasi
Masjid, (Jawa Timur: CV. Global Aksara Pres, 2021) ,hal.2-3.
[36] Alfiani Fitri, dkk,Pengaruh Pola Asuh Orang Tua
Terhadap Pembentukan Karakter Religius Anak Di Dusun Tegal Sari Desa Pasir Jaya
Kecamatan Rambah Hilir Kabupaten Rokan Hulu, (Universitas
Riau:2016).
[37] Nurlaela
Lela siti,dkk, Pengaruh Pola Asuh Orang Tua
Terhadap Pembentukan Karakter Anak Pada Siswa Kelas III Mandrasah Ibtidaiyah
Tahfizhul qur’an Assul Huda Ranjikulon, (Universitas
Majalengka: 2020).
[38] Ratri Rindi Antika Ritma,
Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap religiusitas Anak Dalam
Ibadah shalat Berjamaah Di Masjid Baitul Makmur Grendeng Purwokert, (Program
Studi Pendidikan Agama Islam IAIN Purwokerto: 2018).
[39] Cholid Narbuko Dan Abu Achmadi, Metodologi
Penelitian, hal.29.
[40] Sugiyono, Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta,
2018), hal.7.
[41]Sugiyono, Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung:
Alfabeta, 2018),
hal. 80.
[42]Sutanto Leo, Kiat Jitu
Menulis Skripsi, Tesis, dan Desertasi, (Jakarta: Erlangga,
2013), hal.102.
[43] Slamet Riyanto dan Aglis
Andhita Hatmawan, Metode Riset Penelitian Kuantitatif Penelitian di Bidang
Manajemen,Teknik,Pendidikan dan Eksperimen, (Yogyakarta:Grup Penerbitan CV
Budi Utama,2020), hal.12.
[44] Suharsimi Arikunto, Manajemen
Penelitian, (Jakarta:Renika Cipta,2013),hal.174.
[45] Sugiyono,
Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2018), hal. 39.
[46] Sugiyono,
Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2018,
hal. 39.
[47] Ibid, hal.228.
[48] Ibid, hal.142.
[49] Ayun,Qurrotu,Pola Asuh Orang Tua Dan Metode Pengasuhan Dalam
Membentuk Kepribadian Anak,(Jawa Tengah: IAIN Salatiga,2017),hal.5.
25 Subana,
et. All. Statistik Pendidikan, (Bandung
: Pustaka Setia, 2005), hal. 37
26 Ibid., hal. 37
27 Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip
dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2012),
hal.91
28 Sugiyono, Metode Penelitian
Pendidikan…., hal. 207
[50] Suharsimi
Arikunto, Manajemen Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), hal. 167.
[51] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif (Bandung: Alfabeta, 2018),
hal. 193.
Komentar