PENERAPAN METODE DISKUSI KELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN
PEMAHAMAN KONSEP BANGUN RUANG PADA KELAS
IV SDN 01 MERIGI SAKTI
Oleh :
AFRIZON KANEDI
ABSTRAK
Mata pelajran matematika
merupakan salah satu mata pelajaran yang dalam menguasainya memerlukan waktu yang lama dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain. Oleh
karena itu dalam mata pelajaran
matematika guru harus memeperhatikan metode dan keterampilan yang digunakan ,
dengan cara menciptakan lingkungan belajar agar siswa termotivasi untuk
belajar.tetapi temun pada siswa kelas IV SDN 01 Merigi Sakti menunjukan 60%
anak yang yang dapat mengetahui bangun ruang dari 20 siswa. Oleh karena itu
perlu diadakan penelitian yang membahas masalah untuk mendapatkan solusi
pemecahan masalahnya.
Penelitian ini merupakan
penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berusaha untuk memperbaiki prestasi
siswa yaitu dengan Penerapan Metode
diskusi Kelompok Untuk meningkatkan Pemahaman konsep Bangun Ruang pada Kelas IV
SDN 01 Merigi Sakti. Dengan peranan metode diskusi kelompok pemahaman konsep
bangun ruang meningkat menjadi 70% dari siswa 20 . pada siklus III nilai anak
sudah meningkat dari 60 % siklus I 70% dan siklus III 85% .
Dari hasil penelitian tersebut
dapat disimpulkan bahwa peranan, Penerapaan metode diskusi Kelompok untuk
konsep bangun Ruang kelas IV SD N 01 Merigi Sakti dapat mningkatkan prestasi
belajar siswa.
Kata Kunci : Diskusi Kelompok Pemahaman Konsep Bangun
Ruang
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Sekolah merupakan tempat siswa menerima pendidikan. Guru memeiliki peran
penting dalam medukung keberhasilan siswa terhadap proses belajar mengajar. Sebagai pemegang peran yang sangat penting , guru
dituntut untuk menguasai berbagai metode dan pendekatan mengajar serta terampil
dalam menggunakan alat peraga. Dengan kata lain kualitas pembelajaran
tergantung kepada kemampuan guru dalam mendukung secara sistematis dan sinergis
guru., kurikulum, bahan
belajar, media, fasilitas, sistem,
pembelajaran dalam menghasilkan proses dan hasil belajar yang optimal sesuai
dengan tuntutan kurikulum.
Mata pelajran matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dalam
menguasainya memerlukan
waktu yang lama dibandingkan dengan mata pelajafran yang lain. Oleh karena itu
dalam mata pelajaran
matematika guru harus memeperhatikan metode dan keterampilan yang digunakan ,
dengan cara menciptakan lingkungan belajar agar siswa termotivasi untuk
belajar.
Menurut Soetomo ( 1988:143) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil
belajar dapat digolongkan menjadi dua yaitu faktor interen dan faktor ekstern.
Faktor intern adalah faktror yang dapat menpengaruhi hasil belajar dari dalam
diri siswa atau faktor yang
membuat individu menjadi lebih baik
jasmani maupun rohani sehingga hasil belajar yang akan dicapai sangat rendah.
Faktor ekstern merupakan faktor yang
dapat mempengaruhi siswa yang berasal dari luar diri siswa seperti lingkungan
tempat tinggal siswa.
a)
Identifikasi Masalah
Pada umumnya guru dalam proses pembelajaran
matematika lebih banyak menggunakan metode
ceramah dari pada melibatkan siswa secara langsung
dalam proses pembelajaran. Sebingga hal ini menyebabakan siswa menjadi bosan serta
malas belajar yang akhirnya prestasi belajar siswa tidak memuaskan.Salah satu
upaya yang dapat diterapkan untuk meningkatkan motivasi siswa dan prestasinya
dalam mengikuti kegiatan belajar matematika dan
proses pembelajaran yaitu dengan
menggunakan dikusi kelompok.
Begitu pula yang terjadi di SD 01Merigi Sakti Dari
20 orang siswa yang ada di kelas IV SD 01Merigi Sakti maka sebanyak 20 orang
yang belum mencapai standar indicator pembelajaran > dari 7.
Kerja kelompok
dapat sebagai motivator bagi siswa sesama dengan teman-temannya utnuk
menanamkan konsep pemahaman pada pokok bahasan yang diajarkan .dengan metode
diskusi kelompok dalam pengajaran matematika merupakan suatu hal yang esensial,
mengingat perkembangan usia anak SD masih berada
dalam tahap emosional konkret. anak pada
masa ini sangat terkait pada hal-hal atau objek yang nyata.
b)
Analisis Masalah.
Dengan
menggunakan metode diskusi kelompok diharapakan dapat meningkatkan keberhasila
proses belajar mengajar baik penigkatan prestasi maupun peningkatan minat
khusunya pada mata pelajaran matematika di kelas pada SD N 01Merigi Sakti,
karena cara ini sesuai denga tahapan perkembangan pemikiran anak SD yang masih
menyenangi permainan.
1.2 Rumusan
Masalah
Berdasarkan
dengan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka rumusan masalah adalah
bagaimana cara penerapan metode diskusi kelompok untuk meningkatkan
pemahaman konsep bangun ruang pada siswa kelas IV SDN 01 Merigi Sakti.
1.3 Tujuan Penelitian
Untuk
mengetahui metode diskusi kelompok untuk meningkatkan pemahaman
konsep bangun ruang pada mata pelajaran matematika di kelas IV SDN 01 Merigi
Sakti Kabupaten Bengkulu Tengah.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
a. Mengidentifikasi
masalah pembelajaran matematika SDN
01 Merigi Sakti.
b. Menganalisis
dampak penerapan motode diskusi kelompok
untuk meningkatkan konsep bangun ruang.
c. Untuk
memenuhi tugas dari mata kuliah PKP pada Program Sarjana (S1) PGSD Universitas
Terbuka UPBJJ Bengkulu.
d. Penulis
mampu menyusun Program Rencana Perbaikan Pembelajaran, dengan proses bertanya
kepada siswa, siswa dengan guru dan
metode pembelajaran sehingga diharapkan proses pembelajaran lebih baik.
1.4 Manfaat
Penelitian
1. Manfaat
Bagi Guru
a) Guru
dapat pengalaman baru dalam pembelajaran.
b) Guru
dapat mengetahui secara langsung pengaruh dalam penggunaan motode diskusi kelompok untuk meningkatkan Pemahaman
konsep bangun ruang Dikelas IV SD N 01 Merigi Sakti.
2. Manfaat
Bagi siswa
a) Siswa
terlibat langsung
dalam proses
belajar mengajar,sehingga dapat meningkatkan motivsi atau semangat belajar.
b) Pengalaman
dan hasil belajar akan bertambah lebih lama dalam pemikiran
siswa.
c) Penerapan
metode diskusi kelompok dalam proses
belajar mengajar akan
mempermudah siswa untuk memahami suatu konsep yang di sampaikan oleh guru.
3.
Manfaat Bagi Sekolah
a.
Dapat meningkatkan kwalitas pendidikan yang lebih
baik bagi SDN 01
Merigi Sakti Kabupaten Bengkulu Tengah.
b.
Menemukan inovasi baru dalam pendekatan, metode,
dan keterampilan mengajar pada pelajaran matematika.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
KAJIAN PUSTAKA
3.1 Pengertian Belajar Mengajar dan Prestasi Belajar
Belajar merupakan tindakan dan prilaku siswa
yang komplek. Sebagai tindakan maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa
adalah penentu terjadi atau tidaknya proses belajar (Raka,Joni,1985).
Belajar adalah suatu perilaku pada saat
orang-orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Dan sebaliknyan, bila
ia tidak belajar maka responnya akan menurun. (Skinner dalam Joni, 1985).
Mengajar adalah proses menciptakan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem
lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling terkait dan saling
mempengaruhi. Diantaranya tujuan intruksional, materi, guru siswa dan sarana
prasarana serta jenis kegiatan (Gaynor, Frank, 1964). Mengajar pada dasarnya
merupakan usaha untuk menciptakan kondisi atau system lingkungan yang menjadi awal terjadinya proses
belajar (Djaya Disastro, Yusuf, 1985). Dalam proses belajar mengajar terdapat
beberapa komponen yang saling berinteraksi dan saling mempengaruhi sebagai
sebuah sistem. Karena
sifat saling mempenaruhi yang bervariasi, maka setiap peristiwa belajar
memiliki “profil” yang unik sehingga mencapai hasil belajar yang berbeda pula
(Lulu, Azwar dalam Hamalik, 1986).
Disisi lain, (Chalizah, Hasan dalam Joni 1985) membagi pengertian
mengajar menjadi tiga poin, yaitu:
1.
Mengajar menyampaikan ilmu kepada peserta didik.
2.
Mengajar berarti menanamkan pengertian kepada
peserta didik.
3.
Mengajar berarti aktivitas mengatur ligkungan
sebaik mungkin dan menghubungkan dengan peserta didik sehingga terjadi proses
belajar mengajar.
4.
Pengertian hasil/prestasi belajar siswa adalah
hasil kegiatan belajar siwa
5.
banyak perubahan setelah belajar selesai jika
dibandingkan sebelum terjadi kegiatan proses belajar mengajar (K. Davies dalam
Turdjai, 1995).
6.
Prestasi dapat dinilai dengan dua cara yaitu
kualitatif (dengan menggunakan kata-kata : kurang, cukup, baik, baik sekali)
atau yang sering diwakili dengan simbol A, B, C, D. yang kedua adalah
kuantitatif yaitu dengan menggunakan angka skala nilai/angka seperti 1-10 atau
1-100 (Daryanto dalam Hamalik, 1986).
Karakteristik guru dan lingkungan psiko-sosial
kelas sangat mempengaruhi hubungan sosial antar siswa. Hubungan sosial yang
kurang baik antar siswa dapat menganggu kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu,
guru hendaknya memberi kesempatan kepada siswa untuk lebih mengenal
teman-temannya, sehingga mereka merasa sebagai satu kesatuan. Menurut Suciati
dkk (2005:5.10) menyatakan bahwa rasa satu kesatuan siswa hanya akan tumbuh
apabila guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja dalam kelompok, baik
dalam kerja kelompok maupun dalam belajar kelompok.
Dalam kegiatan kelompok siswa harus
belajar menerima pendapat siwa lain dan mendorong siswa lain untuk mengemukakan
pendapatnya. Melalui kegiatan kelompok siswa akan saling mambantu, bukan saling
mengejek atau saling menjatuhkan. Dalam kegiatan kelompok siswa belajar
menerima serta menghargai kekurangan dan kelebihan masing-masing. (Suciati dkk,
2005:5.10)
Berkenaan dengan kegiatan kelompok ini, Weber dalam Suciati dkk
(2005:5.10) mengemukakann enam hal yang perlu diperhatikan guru dalam mengembangkan
dan melaksanakan kegiatan kelompok.
3.2 Fungsi kepemimpian
Fungsi
Kepemipinan mengacu pada upaya untuk memperlancar tercapainya tujuan kegiatan
kelompok. Guru hendaknya mengembangkan kegiatan kelompok yang tidak didominasi
oleh seseorang atau beberapa orang siswa, tetapi yang memberikan kesempatan
kepada semua kelompok untuk berpartispasi dan bekerja sama dalam mengerjakan
tugas kelompok. Apabila kegiatan kelompok didominasi oleh anggota tertentu,
kerja sama antar anggota tidak akan terjadi.
Kemampuan berkomunikasi
mengacu kepada kemampuan verbal dan non-verbal, dalam menyampaikan pendapat
kepada orang lain dan menangkap pendapat orang lain. Guru hendaknya memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menyatakan perasaan dan pikiran mereka serta
bebas dan dapat dipahami siswa lain. Kegiatan kelompok akan berhasil apabila
semua anggota kelompok memahami kemampuan ini.
Menurut Sojoeno dan Liza Erviyanti (2005:6), bahwa ada beberapa manfaat
pembelajaran menggunakan diskusi kelompok, yaitu:
- Dapat
melibatkan siswa secara aktif ikut berfikir dalam memecahkan masalah yang
sedang dihadapi dalam proses belajar mengajar.
- Dapat
memperjelas bagi siswa untuk menguasai materi yang akan dipelajari.
3. Dapat
memotivasi siswa lebih giat belajar.
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
3.1 Subjek,
Tempat, Dan Waktu Penelitian, pihak yang membantu
Penelitian ini sebagai langkah untuk memperbaiki pembelajaran mata
pelajaran matematika di SDN 01 Merigi Sakti Kabupaten Bengkulu Tengah, dalam
upaya meningkatkan keaktifan hasil belajar siswa. Subjek dari penelitian ini
adalah siswa kelas IV berjumlah 20 orang yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 8 orang siswa perempuan. Siwa kelas IV ini
memiliki kemapuan yang merata. Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 23
April 2014 – 26 Mei 2014.
Tabel
3.1: Waktu Pelaksaan Perbaikan Pembelajaran
|
No
|
Waktu
Pelaksanaan
|
Mata
Pelajaran
|
Siklus
|
Ket
|
|
1.
|
19 Mei 2014
|
Matematika
|
Siklus 1
|
RP
|
|
2.
|
21 Mei 2014
|
Matematika
|
Siklus II
|
RPP 1
|
|
3.
|
26 Mei 2014
|
Matematika
|
Siklus III
|
RPP 2
|
Pihak yang membantu dalam penelitian ini adalah
bapak Adi Siswanto,A.Ma.Pd. selaku kepala sekolah SDN 01 Merigi Sakti, Ibu
Nurhayati,M.Pd selaku supervisor1 dan ibu Elsi Puryani,S.Pd selaku supervisor2.
3.2 Deskripsi
Per Sklus Pembelajaran
- Siklus
1
- Perencana
tindakan
Pada
tahap ini peneliti mempersiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk
pelajaran Matematika dengan metode diskusi kelompok dalam
pembelajaran, yaitu:
·
Membuat satuan pelajaran.
·
Menyiapkan perangkat yang digunakan dalam
pembelajaran berupa media gambar.
- Pelaksanaan
tindakan 1
Pelaksanaan tindakan yang dilakukan oleh peneliti meliputi :
- Kegiatan Awal (
5 Menit)
- Guru mengucapkan salam
- Mengecek kehadiran siswa
- Mengkondisikan siswa untuk siap belajar
- Kegiatan inti
(30 Menit )
- Dengan
bimbingan guru siswa menunjukkan bangun ruang balok dan kubus
- Siswa diminta
untuk mengukur bangun ruang yang ada
- Guru
menjelaskan dengan rumus volume kubus dan balok
- Siswa diminta
maju kedepan untuk menghitung volume balok dan kubus
- Kegiatan Penutup ( 5 Menit )
- Guru bersama siswa menyimpulkan
pelajaran
- siswa mengerjakan soal latihan
- Observasi
Tahap observasi adalah tahapan pengamatan yang dillakukan
oleh teman sejawat terhadap proses dan hasil pembelajaran Matematika yang
dilaksanakan oleh peneliti di kelas IV SDN 01 Merigi Sakti. Pada tahap observasi ini
dimana melihat dan meneliti tingkah laku siswa saat proses belajar dilakukan.
Setelah bermusyawarah dengan teman sejawat peneliti dapat membuat perbaikan
pada pembelajaran selanjutnya.
Table 2. Lembaran Observasi Pada Siklus
I
|
No
|
Aspek Observasi
|
Kemunculan
|
Komentar
|
|
|
Ada
|
Tidak
|
|||
|
1
|
Guru
memberikan apersepsi
|
ü
|
|
Guru menyampaikan apresepsi
|
|
2
|
Guru
memberikan motivasi
|
|
ü
|
Guru sudah memberikan motivasi, tetapi
blum maksimal
|
|
3
|
Guru
menyampaikan tujuan pembelajaran
|
|
ü
|
Guru blum menyampaikan tujuan
pembelajaran dengan maksimal
|
|
4
|
Guru
menjelaskan materi
|
|
ü
|
Guru belum dapat menjelaskan materi
dengan baik
|
|
5
|
Guru
membagi siswa menjadi beberapa kelompok secara hetrogen
|
ü
|
|
Guru
dapat membagi siswa dalam kelompok secara hetrogen
|
|
6
|
Guru
menjelasakan langkah-langkah kegiatan belajar kelompok
|
|
ü
|
Guru belum dapat menjelaskan
langkah-langkah kegiatan belajar kelompok dengan baik
|
|
7
|
Guru
membimbing siswa dalam kerja kelompok
|
ü
|
|
Guru sudah dapat membimbing siswa
dalam kerja kelompok
|
|
8
|
Guru
memberikan kesempatan bertanya kepada siswa
|
|
ü
|
Guru belum dapat melibatkan seluruh
siswa dalam kegiatan bertanya
|
|
9
|
Guru
melibatkan seluruh siswa dalam menyimpulkan pelajaran
|
|
ü
|
Guru belum dapat melibatkan seluru siswa dalam menyimpulkan
pelajaran
|
|
10
|
Guru
memberikn evaluasi
|
|
ü
|
Guru sudah memberikan evaluasi tetapi
masih banyak kesulitan siswa
|
- Refleksi
Pelajaran matematika memerlukan pemahaman dan memerlukan banyak latihan mengerjakan
soal. Peneliti berpendapat metode ceramah yang sering digunakan cepat
mengundang rasa bosan pada siswa. Kebosanan itu dapat menurunkan minat belajar
dan prestasi belajar siswa. Kendati telah dilaksanakan rencana tindakan 1, akan
tetapi pelaksanaanya kurang optimal. Maka untuk meningkatkan
lagi hasil dan keaktifan siswa perlu diadakan siklus berikutnya dengan
menggunakan metode yang memancing minat belajar siswa dan meningkatkan
perhatian belajar yang menyebabkan pengelolaan kelas menjadi lebih baik dan
diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam rangka tindakan
perbaikan selanjutnya.
- Siklus II
1.
Perencana Tindakan 2
Peneliti melaksanakan proses pembelajaran dengan mengoptimalkan proses
pembelajaran yang berlangsung. Yaitu dengan membuat proses belajar mengajar
yang dapat meningkatkan pemahaman siswa dengan menggunakan pengalaman siswa
sebagai topik masalah.
2.
Pelaksanaan tindakan 2
- Kegiatan Awal
-
Apersepsi : guru membimbing siswa melakukan demonstrasi
untuk menghitung volume ember dengan gelas satuan berisi air
-
Guru
menjelaskan bahwa air yang berada didalam ember merupakan volume sebagai
penanaman konsep tentang volume
- Kegiatan inti
-
guru
menyuruh siswa menyebutkan contoh yang ada dilingkungan sekitar
-
guru
membimbing siswa melakukan demonstrasi gelas satuan yang dimasukkan kedalam
ember kemudian guru menjelaskan bahwa yang berada didalam ember itu merupakan volume
-
guru
membentuk kelompok kerja siswa
-
guru
membagikan LKS dan kubus satuan sebagai media
-
siswa
melaporkan hasil diskusi didepan kelas
-
Dengan
bimbingan guru siswa menunjukkan bangun ruang balok dan kubus
- Kegiatan akhir
-
Guru
bersama siswa menyimpulkan pelajaran
-
Siswa
mengerjakan soal latihan
3.
Observasi
Pada pelaksanaan siklus II ini Penelitian berkolaborasi dengan teman
sejawat dalam kegiatan pengamatan selama proses belajar mengajar berlangsung.
Pada pengamatan siklus kedua ini
peneliti menemukan sudah ada perubahan pada siswa dan juga kekurangan dan kelemahan
pada bebarapa siswa berupa Perhatian siswa kurang dalam proses pembelajaran dan beberpa hasil evaluasi siswa
rendah .
Table 3. Lembaran Observasi Pada Siklus
II
|
No
|
Aspek Observasi
|
Kemunculan
|
Komentar
|
|
|
Ada
|
Tidak
|
|||
|
1
|
Guru
memberikan apersepsi
|
ü
|
|
Guru menyampaikan apresepsi
|
|
2
|
Guru
memberikan motivasi
|
ü
|
|
Guru sudah memberikan motivasi, siswa
ddengan baik
|
|
3
|
Guru
menyampaikan tujuan pembelajaran
|
ü
|
|
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
dengan maksimal
|
|
4
|
Guru
menjelaskan materi
|
ü
|
|
Guru sudah dapat menjelaskan materi
dengan baik
|
|
5
|
Guru
membagi siswa menjadi beberapa kelompok secara hetrogen
|
ü
|
|
Guru
dapat membagi siswa dalam kelompok secara hetrogen
|
|
6
|
Guru
menjelasakan langkah-langkah kegiatan belajar kelompok
|
|
ü
|
Guru belum dapat menjelaskan
langkah-langkah kegiatan belajar kelompok dengan baik
|
|
7
|
Guru
membimbing siswa dalam kerja kelompok
|
ü
|
|
Guru sudah dapat membimbing siswa
dalam kerja kelompok
|
|
8
|
Guru
memberikan kesempatan bertanya kepada siswa
|
|
ü
|
Guru belum dapat melibatkan seluruh
siswa dalam kegiatan bertanya
|
|
9
|
Guru
melibatkan seluruh siswa dalam menyimpulkan pelajaran
|
|
ü
|
Guru belum dapat melibatkan seluru siswa dalam menyimpulkan
pelajaran
|
|
10
|
Guru
memberikn evaluasi
|
ü
|
|
Guru sudah memberikan evaluasi
|
4.
Refleksi
Berdasarkan hasil pengamatan dan evaluasi, peneliti menlihat ada
perubahan-perubahan yang signifikan pada diri siswa. Hampir seluruh siswa dapat
aktif dalam proses belajar mengajar dan hasil
belajar siswa juga meningkat jauh dari pada sebelum diadakan tindakan
perbaikan yang dapat dilihat dari nilai yang diperoleh.
- Siklus
III
1.
Perencana Tindakan 3
Peneliti
melaksanakan proses pembelajaran dengan mengoptimalkan
Proses
pembelajaran yang berlangsung. Yaitu
dengan membuat proses belajar mengajar yang dapat meningkatkan pemahaman siswa
dengan mengguanakan pengalaman siswa sebagai topik masalah.
2.
Pelaksanaan tindakan 3.
1. Kegiatan awal
-
apersepsi,
guru membimbing siswa mmelakukan demonstrasi untuk menghitiung volume ember
dengan gelas satuan
-
guru
mnjelaskan bahwa air yang berada di dalam ember merupakan volume sebagai
pemahaman konsep bangung ruang
2. Kegiatan inti
-
guru
menyuruh siswa menyebutkan contoh bangun ruang yang ada disekitar
-
guru
membimbing siswa melakukan demonstrasi
-
guru
menjelaskan bahwa jumlah air yang ada didalam ember itu merupakn volume
-
guru
membentuk kelompok siswa untuk mengerjakan LKS
-
guru
membimbing siswa melaporkan hasil kerja kelompok
-
guru
memberikan pertanyaan penjajakan untuk mengetahui kemampuan siswa
3. Kegiatan akhir
-
guru
bersama siswa menyimpulkan pelajaran
-
guru
memberikan soal latihan
3.
Observasi
Pada pelaksanaan siklus III dilaksanakan terhadap
kegiatan belajar mengajaar yang sedang berlangsung dengan yang telah dibuat.
Selama pelaksanan kegiatan belajaar mengajar observasi ilakukan oleh pengamat
yaitu teman sejawat, teman sejawat memberikan (v) pada aspek yang diamati.
Table 4. Lembaran Observasi Pada Siklus
III
|
No
|
Aspek Observasi
|
Kemunculan
|
Komentar
|
|
|
Ada
|
Tidak
|
|||
|
1
|
Guru
memberikan apersepsi
|
ü
|
|
Guru menyampaikan apresepsi
|
|
2
|
Guru
memberikan motivasi
|
ü
|
|
Guru sudah memberikan motivasi, dengan
baik
|
|
3
|
Guru
menyampaikan tujuan pembelajaran
|
ü
|
|
Guru sudah menyampaikan tujuan
pembelajaran dengan maksimal
|
|
4
|
Guru
menjelaskan materi
|
ü
|
|
Guru dapat menjelaskan materi dengan
baik
|
|
5
|
Guru
membagi siswa menjadi beberapa kelompok secara hetrogen
|
ü
|
|
Guru
dapat membagi siswa dalam kelompok secara hetrogen
|
|
6
|
Guru
menjelasakan langkah-langkah kegiatan belajar kelompok
|
ü
|
|
Guru sudah dapat menjelaskan
langkah-langkah kegiatan belajar kelompok
|
|
7
|
Guru
membimbing siswa dalam kerja kelompok
|
ü
|
|
Guru sudah dapat membimbing siswa
dalam kerja kelompok
|
|
8
|
Guru
memberikan kesempatan bertanya kepada siswa
|
ü
|
|
Guru dapat melibatkan seluruh siswa
dalam kegiatan bertanya
|
|
9
|
Guru
melibatkan seluruh siswa dalam menyimpulkan pelajaran
|
ü
|
|
Guru dapat melibatkan seluru siswa
dalam menyimpulkan pelajaran
|
|
10
|
Guru
memberikn evaluasi
|
ü
|
|
Guru sudah memberikan evaluasi
|
Refleksi
Berdasarkan
hasil pengamatan dan evaluasi, peneliti melihat ada perubahan-perubahan yang
signifikan pada diri siswa. Hampir seluruh siswa telah dapat aktif dalam proses
belajar megajar dan hasil belajar siswa yang telah meningkat jauh daripada
sebelum diadakan tindakan perbaikan yang dapat di lihat dari nilai yang
diperoleh.
3.3 Instrumen Tes
Dari pengamatan selama tiga siklus
terjadi kemajuan dalam pembelajaran. Terutama dalam siklus II, proses perbaikan
pembelajaran mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa, terutama dalam
penggunaan Metode diskusi kelompok. Hal ini disebabkan ketika proses perbaikan
pembelajaran berlangsung aktif dan tidak monoton.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
1. Lembaran
Observasi
Lembaran observasi digunakan untuk
mengetahui peranan guru dan kegiatan dalam proses mengajar sebagai umpan balik
dalam melaksanakan proses belajaar mengajaar.
2. Lembaran
Tes
Menurut Zainul Asnawi, Mulyana Agus
: 2005 ) tes hasil belajar di bentuk suatu alat ukur yang paling banyak
digunakan untuk mengetahui keberhasilan seseorang dalam proses belajar mengajar
suatu program pendidikan.
3.5 Teknik Analisi Data
1. Nilai
Rata-rata
Rata-rata tes
formatif dapat dirumuskan:

Dengan :
=
Nilai rata-rata
Σ X = Jumlah nilai
siswa
Σ
N = Jumlah siswa
2. Prsentase
ketuntasan secara Klaksial
∑X
P :
N
Ket :
P :
Ketuntasan Belajaar Klasikal
∑X :
Jumlah siswa yang nilainya dikatakan tuntas
N :
jumlah siswa
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi
Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
I.
Hasil Per
Siklus
Dari penelitian yang telah
dilaksanakan oleh peneliti pada mata pelajaran matematika di kelas IV SDN 01 Merigi
Sakti Kabupaten Bengkulu Tengah, maka
diperoleh hasil sebagai berikut:
1. Siklus 1
1. Perencanaan
Sesuai dengan perencanaan yang telah disepakati, peneliti membuat skenario
pembelajaran mata pelajaran matematika
dengan menggunakan menerapkan diskusi kelompok.
2.
Pelaksanaan
Pada kegiatan awal pembelajaran, guru mengecek kehadiran siswa yang
dilanjutkan dengan apersepsi dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang
produktif untuk memotivasi siswa.
Adapun
pelaksanaan tindakan 1 sesuai dengan perencanaan yang dibuat dalam rencana pembelajaran, yaitu:
·
Menjelaskan materi-materi pokok bahasan
pembelajaran sesuai dengan yang direncanakan.
·
Melakukan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan
yang direncanakan
·
Memberikan contoh soal, lalu siswa disuruh
menjawabnya.
·
Melakukan pritest, apapun hasilnya guru harus memberikan pemahaman dan motifasi.
·
Mengamati kegiatan atau aktifitas siswa dalam
mengikuti pembelajaran.
·
Mengevaluasi hasil belajar untuk mengetahui sejauh
mana tingkat kemampuan siswa dalam pemahaman materi.
Adapun hasil
dari evalusi tersebut adalah:
Table 4.1: Rekapitulasi hasil belajar siswa
Mata pelajaran Matematika kelas IV SDN 01 Merigi
Sakti
|
No
|
Nama Siswa
|
Nilai
|
Ketrangan
|
|
|
Tuntas
|
Tidak Tuntas
|
|||
|
1
|
Purnama
Andi Putra
|
8.1
|
√
|
|
|
2
|
Lisa
Astuti
|
4.8
|
√
|
|
|
3
|
Dea
Susanti
|
7.0
|
√
|
|
|
4
|
Badrin
Kaspari
|
5.4
|
√
|
|
|
5
|
Marina
|
7.0
|
√
|
|
|
6
|
Nabila
Sasmita Sari
|
7.1
|
√
|
|
|
7
|
Dwi
Purwanto
|
5.8
|
√
|
|
|
8
|
Alif
Afriansyah
|
7.0
|
√
|
|
|
9
|
Nurul Azizah.
F
|
7.0
|
√
|
|
|
10
|
Devo
Wanto
|
5.7
|
√
|
|
|
11
|
Wulandari
|
7.3
|
√
|
|
|
12
|
Gunawan
|
4.9
|
|
√
|
|
13
|
Lia
Febriyanti
|
7.0
|
√
|
|
|
14
|
Joni
Leo Renaldo
|
7.1
|
√
|
|
|
15
|
Davit
Horizon
|
5.4
|
|
√
|
|
16
|
Dodi
Saputra
|
5.8
|
|
√
|
|
17
|
M.Rian
Pranata
|
5.8
|
|
√
|
|
18
|
Ardiles
Saputra
|
7.2
|
√
|
|
|
19
|
Yuan
Angga Winata
|
7.1
|
√
|
|
|
20
|
Agus
Jutami
|
7.7
|
√
|
|
|
Jumlah
|
130.2
|
12
|
8
|
|
|
Rata-rata
|
65.1
|
|
|
|
Nilai rata-rata:
X = ∑X = 65.1.=6.51
N=10
Keterangan:
X = Nilai rata-rata
∑X = Jumlah nilai yang diperoleh
siswa
N = Jumlah siswa.
Dari data
diatas dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata
dari 20 orang siswa padasiklus I adalah 6.51, sedangkan untuk ketuntasan belajar klasikal diperoleh dengan
meneggunkan rumus :
Jumlah siswa
yang memperoleh
Nilai 7 ke atas
K
etuntasan belajar klasikal= X 100 %
Jumlah siswa
Ketuntasan belajar klasikal = 12 : 20 X 100% = 60 %
Jadi dari data tersebut diperoleh ketuntasan belajar klasikal sebesar 60 %
- Siklus
II
- Perencanaan
Pada tahap pelaksanaan siklus
II ini,peneliti menyiapkan rencana pembelajaran. Peneliti juga menyiapkan
komponen lainnya yang lebih terencana tanpa meninggalkan komponen yang telah
ditetapkan dalam siklus I.
Adapun
kegiatan dalam perencanaan pada siklus II ini adalah:
·
Menyiapkan
rencana pembelajaran.
·
Menyusun
instrumen pengajaran dengan alat peraga.
·
Menggunakan
metode pengajaran yang lebih bervariasi agar siswa tidak jenuh.
- Pelaksanaan
Pelaksanaan yang dilakukan
oleh peneliti pada siklus II ini yaitu guru mengkoordinasi kelas kearah situasi
belajar yang baik, kemudian guru melakukan apersepsi dengan mengingatkan materi
yang telah disampaikan, dan menyampaikan tujuan pelajaran.
Kegiatan selanjutnya yang
dilakukan oleh peneliti adalah menjelaskan materi yang dipelajari secara
singkat, selanjutnya siswa diajak menemukan konsep dengan bantuan gambar yang
ada pada karton. Kemudaian siswa berdiskusi tentang gambar bangun
ruang yang ada untuk di tarik kesimpulannya.
Pada saat peneliti memberikan
penjelasan, peneliti menghubungkan metode bervariasi sesuai dengan rencana.
Selanjutnya peneliti memberikan motivasi dan perhatian khusus kepada siswa yang
pasif dan meningkatkan keikutsertaan siswa dalam penggunaan diskusi
kelompok. Setelah kesimpulan ditarik, peneliti memberikan kesempatan untuk bertanya
tentang hal-hal yang belum mereka pahami.
Diakhir pembelajaran siswa
diberikan evaluasi untuk pemantapan materi dan untuk melihat hasil yang telah
mereka dapatkan selama PBM.
Adapun hasil belajar siswa
pada siklus II dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.2 : Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa
Mata Pelajaran Matematika Kelas IV SDN No 01
Merigi Sakti
Kabupaten Bengkulu Tengah Tahun 2014.
|
No
|
Nama Siswa
|
Nilai
|
Keterangan
|
|
|
Tuntas
|
Tidak Tuntas
|
|||
|
1
|
Purnama
Andi Putra
|
7.9
|
√
|
|
|
2
|
Lisa
Astuti
|
7.0
|
√
|
|
|
3
|
Dea
Susanti
|
7.0
|
√
|
|
|
4
|
Badrin Kaspari
|
6.5
|
√
|
|
|
5
|
Marina
|
7.0
|
√
|
|
|
6
|
Nabila Sasmita Sari
|
7.2
|
√
|
|
|
7
|
Dwi Purwanto
|
6.4
|
√
|
|
|
8
|
Alif Afriansyah
|
7.0
|
√
|
|
|
9
|
Nurul Azizah. F
|
7.0
|
√
|
|
|
10
|
Devo Wanto
|
7.0
|
√
|
|
|
11
|
Wulandari
|
6.3
|
|
√
|
|
12
|
Gunawan
|
7.3
|
√
|
|
|
13
|
Lia Febriyanti
|
7.6
|
√
|
|
|
14
|
Joni Leo Renaldo
|
7.7
|
√
|
|
|
15
|
Davit Horizon
|
7.5
|
√
|
|
|
16
|
Dodi Saputra
|
6.2
|
|
√
|
|
17
|
M.Rian Pranata
|
7.2
|
√
|
|
|
18
|
Ardiles Saputra
|
7.1
|
√
|
|
|
19
|
Yuan Angga Winata
|
6.7
|
|
√
|
|
20
|
Agus Jutami
|
5.1
|
|
√
|
|
Jumlah
|
138.7
|
14
|
6
|
|
|
Nilai Rata-rata
|
69.35
|
|
|
|
Nilai rata-rata:
X = ∑X = 69.4.=6.94
N=10
Keterangan:
X = Nilai rata-rata
∑X = Jumlah nilai yang diperoleh siswa N = Jumlah siswa.
Dengan melihat tabel diatas bahwa hasil belajar siswa telah mengalami
peningkatan. Dari data tersebut hasilnya sudah cukup baik kendati belum
memenuhi indikator ketuntasan pembelajaran dengana rata-rata 6.94.
Ketuntasan belajar klasikal pada siklus II meningkat yaitu dari 60% meningkat menjadi 70%
Jumlah siswa
yang memperoleh
Nilai 7 ke
atas
K
etuntasan belajar klasikal= X 100 %
Jumlah siswa
Ketuntasan belajar klasikal = 14 : 20 X 100% = 70%
Jadi dari data tersebut diperoleh ketutasan
belajar klasikal sebesar 70%.
- Siklus III
- Perencanaan
Pada tahap pelaksanaan siklus
III ini, peneliti menyiapkan rencana pembelajaran. Peneliti juga memepersiapkan
komponen lainnya yang lebih terencana tanpa meninggalkan komponen-komponen yang
telah diterapkan dalam siklus II. Adapun kegiatan yang direncanakan pada siklus
III ini adalah.
·
Menyiapkan
rencana pembelajaran.
·
Menyusun
instrumen pengajaran dengan diskusi kelompok.
·
Menyiapkan
alat peraga yang lebih divariasikan lagi.
·
Menggunakan
metode pengajaran yang lebih bervariasi agar siswa tidak jenuh.
- Pelaksanaan
Pada kegiatan awal
pembelajaran, guru mengecek kehadiran siswa yang dilanjutkan apersepsi dengan
memberikan pertanyaan-pertanyaan yang produktif untuk memotivasi siswa.
Adapun pelaksanaan tindakan
III sesuai dengan perencanaan yang dibuat dalam rencana pembelajaran, yaitu :
·
Menjelaskan
materi-materi pokok bahan pelajaran sesuai dengan yang direncanakan.
·
Melakukan
kegiatan belajar mengajar sesuai dengan yang direncanakan.
·
Memberikan
contoh soal, lalu siswa disuruh menjawabnya.
·
Melakukan
pritest apapun hasilnya guru harus memberikan pemahaman dan motivasi.
·
Mengamati
kegiatan atau aktivitas siswa dalam mengikuti pelajaran.
·
Mengevaluasi
hasil belajar untuk mengetahui sejauh mana tingkat kemampuan siswa dalam memahami
materi.
Adapun hasil dari evaluasi tersebut adalah :
Tabel 4.3 : Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa
Mata Pelajaran Matematika Kelas IV SDN No 01
Merigi
Sakti Kabupaten
Bengkulu Tengah Tahun 2014.
|
No
|
Nama Siswa
|
Nilai
|
Keterangan
|
|
|
Tuntas
|
Tidak Tuntas
|
|||
|
1
|
Purnama
Andi Putra
|
8.0
|
√
|
|
|
2
|
Lisa
Astuti
|
7.0
|
√
|
|
|
3
|
Dea
Susanti
|
7.2
|
√
|
|
|
4
|
Badrin Kaspari
|
7.0
|
√
|
|
|
5
|
Marina
|
8.0
|
√
|
|
|
6
|
Nabila Sasmita Sari
|
7.3
|
√
|
|
|
7
|
Dwi Purwanto
|
6.5
|
√
|
|
|
8
|
Alif Afriansyah
|
8.0
|
√
|
|
|
9
|
Nurul Azizah. F
|
7.4
|
√
|
|
|
10
|
Devo Wanto
|
7.5
|
√
|
|
|
11
|
Wulandari
|
7.1
|
√
|
|
|
12
|
Gunawan
|
7.8
|
√
|
|
|
13
|
Lia Febriyanti
|
8.0
|
√
|
|
|
14
|
Joni Leo Renaldo
|
7.9
|
√
|
|
|
15
|
Davit Horizon
|
7.5
|
√
|
|
|
16
|
Dodi Saputra
|
6.2
|
|
√
|
|
17
|
M.Rian Pranata
|
7.2
|
√
|
|
|
18
|
Ardiles Saputra
|
7.1
|
√
|
|
|
19
|
Yuan Angga Winata
|
7.1
|
√
|
|
|
20
|
Agus Jutami
|
5.1
|
|
√
|
|
Jumlah
|
144.9
|
17
|
3
|
|
|
Nilai Rata-rata
|
72.5
|
|
|
|
Nilai
rata-rata:
X = ∑X = 72.5.=7.25
N=10
Keterangan:
X = Nilai
rata-rata
∑X =
Jumlah nilai yang diperoleh siswa
N =
Jumlah siswa.
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata dari 20 orang siswa pada siklus III adalah 7.25. Sedangkan untuk ketuntasan hasil balajar kalsikal pada siklus III
meningkat dengan sangat signifikan menjadi 85 %.
Jumlah siswa
yang memperoleh
Nilai 7 ke
atas
Ketuntasan
belajar klasika l= X 100 %
Jumlah siswa
Ketuntasan
belajar klasikal = 17 : 20 X 100% = 85 %.
- Refleksi
Kualitas pembelajaran dengan
menggunakan alat peraga dikatakan berhasil, dapat dilihat dari nilai hasil
belajar siswa maupun nilai keaktifan siswa yang meningkat dari setiap siklus
pembelajaran. Sebelum penerapan diskusi kelompok nilai rata-rata belajar siswa dalam pembelajaran matematika sangat
rendah.
Dari penelitian yang dilakukan
peneliti yang berlangsung sebanyak tiga siklus dengan mneggunakan penerapan
metode diskusi kelompok dapat meningkatkan minat
(motovasi) dan prestasi belajar siswa. Pada siklus I nilai hasil evaluasi
rata-rata 6.5. Kemudian meningkat pada
siklus II yaitu 6.9. Mengalami peningkatan kembali pada siklus III menjadi 7.25. Dari siklus ke siklus tampak ada peningkatan.
Berdasarkan peningkatan nilai
tersebut dapat dikatakan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan alat
peraga dapat dikatakan berhasil, karena penerapan diskusi kelompok dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep pembelajaran
matematika. Keberhasilan PBM tersebut tidak terlepas dari kemampuan dan
kerjasama peneliti dalam memanfaatkan berbagai komponen yang tersedia untuk
menggali kreatifitas siswa, karena bagimanapun pintarnya seorang guru tanpa
disertai kompetensi guru dalam menggali kreatifitas siswa, PBM tidak akan
optimal.
Peningkatan nilai setiap siswa
dari setiap siklus tidak konsisten, artinya pada siklus pertama ada siswa yang
lebih tinggi dari siklus ke dua, ataupun sebaliknya. Namun secara umum nilai
pada siklus ke tiga sudah mencapai di atas lulus yakni nilai 7.00.
Ketidak
konsistenan pencapaian nilai dapat disebabkan :
·
Perbedaan
materi PBM.
·
Ketertarikan
siswa dalam penyampaian materi yang di sajikan.
·
Kesiapan
siswa dalam mengikuti PBM.
·
Kompetensi
guru dalam melaksanakan PBM.
Berkaitan dengan Penelitian
Tindakan Kelas yang dilakukan sebanyak tiga siklus dapat disimpulkan bahwa
hipotesis dapat terjawab. Adapun hipotesis yang
dimaksud adalah bahwa minat dan hasil pembelajaran matematika dapat meningkat
jika pembelajaran dilaksanakan dengan menggunkan penerapan metode diskusi kelompok.
Table 4.4: Perbandingan
Nilai Evaluasi Siswa
Mata Pelajaran Matematika kelas IV SDN 01 Merigi
Sakti 2014
|
No
|
Nama Siswa
|
Siklua I
|
Siklus II
|
Siklus III
|
|
1
|
Purnama
Andi Putra
|
8.1
|
7.9
|
8.0
|
|
2
|
Lisa Astuti
|
4.8
|
7.0
|
7.0
|
|
3
|
Dea
Susanti
|
7.0
|
7.0
|
7.2
|
|
4
|
Badrin Kaspari
|
5.4
|
6.5
|
7.0
|
|
5
|
Marina
|
7.0
|
7.0
|
8.0
|
|
6
|
Nabila Sasmita Sari
|
7.1
|
7.2
|
7.3
|
|
7
|
Dwi Purwanto
|
5.8
|
6.4
|
6.5
|
|
8
|
Alif Afriansyah
|
7.0
|
7.0
|
8.0
|
|
9
|
Nurul Azizah. F
|
7.0
|
7.0
|
7.4
|
|
10
|
Devo Wanto
|
5.7
|
7.0
|
7.5
|
|
11
|
Wulandari
|
7.3
|
6.3
|
7.1
|
|
12
|
Gunawan
|
4.9
|
7.3
|
7.8
|
|
13
|
Lia Febriyanti
|
7.0
|
7.6
|
8.0
|
|
14
|
Joni Leo Renaldo
|
7.1
|
7.7
|
7.9
|
|
15
|
Davit Horizon
|
5.4
|
7.5
|
7.5
|
|
16
|
Dodi Saputra
|
5.8
|
6.2
|
6.2
|
|
17
|
M.Rian Pranata
|
5.8
|
7.2
|
7.2
|
|
18
|
Ardiles Saputra
|
7.2
|
7.1
|
7.1
|
|
19
|
Yuan Angga Winata
|
7.1
|
6.7
|
7.1
|
|
20
|
Agus Jutami
|
7.7
|
5.1
|
5.1
|
|
Rata-rata
|
6.51
|
6.94
|
7.25
|
|
|
Ketentuan Nilai Klasikal
|
60 %
|
70 %
|
85%
|
|
Grafik Nilai Rata-rata Mata Pelajaran Matematika
dari Siklus I, II dan III

Dari tabel diatas setelah
dilakuakn evaluasi mata pelajajaran matermatika pada kelas IV SDN 01 Merigi
Sakti Kabupaten Bengkulu Tengah, dilakukan
pebaikan pada siklus I, siklus II, dan siklus III, terlihat peningkatan hasil
rata-rata nilai siswa dari siklus I sebesar 6.94, selanjutnya meningkat pada siklus II menjadi 6.51, dan akhirnya pada siklus III meningkat lagi menjadi 7.25.
Sedangkan ketuntasan belajar klasikal pada siklus I adalah 60%,
meningkat pada siklus II menjadi 70%, dan akhirnya meningkat lagi menadi 85% pada siklus III.
4.2 Pembahasan
1. Siklus I
Berdasarkan Hasil diskusi
peneliti dengan teman sejawat maka dapat disimpulkn bahwa kegiatan yang
dilakukan peneliti dapat dikatan cukup, walaupun telah mengalami peningkatan
namun belum mencapai indikator keberhasilan seperti yang diharapakan peneliti
ini.
Pada tindakan pertama ini
kekurangan yang muncul pada pembelajaran pertama adalah:
·
Masih banyak
siswa yang belum aktif dalam mengikuti pelajaran.
·
Masih ada
siswa yang takut untuk bertanya.
·
Anak kurang
dapat menjawab soal secara keseluruhan.
·
Masih ada
siswa yang mendapat nilai dibawah 7,00.
·
Guru kurang
optimal dalam membimbing siswa bekerja secara kelompok, sehingga masih ada
siswa yang kurang kerjasamanya dalam kelompok.
·
Pengelolaan
kelas belum optimal, beberapa siswa masih sibuk dengan aktifitasnya
masing-masing yang tidak berkaitan dengan materi pelajaran.
Adapun kelebihan pada tindakan I adalah :
·
Dalam proses
belajar mengajar siswa termotivasi dan semangat dalam mengikuti pelajaran.
·
Kesriusan dan
keaktifan siswa dalam mengikti proses belajar mengajar meningkat. Hal ini dapat
dilihat dari berkurangannya siswa yang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing.
·
Siswa lebih
senang belajar dengan diskusi kelompok.
·
Prestsi
belajar siswa telah mengalami peningkatan dibandingkan dengan sebelum mengalami
tindakan.
Pada siklus pertama ini,
rata-rata hasil belajar siswa adalah 6.51, indikator pembelajaran yang harus dicapai 7. Ini berarti rata-rata
nilai siswa masih jauh dari indikator dan untuk ketuntasan belajar klasikalnya
adalah 60%.
2.Siklus II
Pada tindakan kedua ini kekurangan yang muncul pada pembelajaran pertama
adalah :
·
Masih ada
siswa yang belum aktif dalam mengikuti pelajaran.
·
Masih ada
siswa yang takut untuk bertanya.
·
Masih ada
siswa yang mendapat nilai dibawah 7,00.
·
Pengelolaan
kelas belum optimal beberapa siswa masih sibuk dengan aktifitasnya masng-masing
yang tidak berkaitan dengan materi pelajaran.
Adapun kelebihan pada tindakan II adalah :
·
Dalam proses
belajar mengajar siswa termotivasi dan semangat mengikuti pelajaran.
·
Keseriusan
dan keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran meningkat. Hal ini
dapat dilihat dari berkurangnya siswa yang sibuk denga katifitasnya
masing-masing.
·
Siswa lebih
senang belajar dengan berdiskusi sesama teman.
·
Prestasi
belajar siswa telah mengalami peningkatan dibandingkan dengan sebelum mengalami
tindakan.
Pada siklus II ini hasil evaluasi rata-rata meningkat dari 6.51 pada siklus I menjadi 6.94 pada siklus II. Dan untuk ketuntasan belajar klasikalnya meingkat dari
60% menjadi 70%.
3.Siklus III
Kualitas pembelajaran dengan
menggunakan metode diskusi kelompok pada pemahaman konsep bangun ruang dikatakan berhasil, dapat dilihat dari nilai hasil belajar siswa maupun
nilai keaktifan siswa yang meningkat dari setiap siklus pelajaran. Sebelum
penerapan ketrampilan metode diskusi kelompok nilai rata-rata belajar siswa dalam pembelajaran matematika sangat
rendah.Dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti yang berlangsung sebanyak
tiga siklus dengan menggunakan metode diskusi dapat meningkatkan minat (
motvasi) dan prestsi belajar siswa. Pada siklus I hasil ecvaluasi rata-rata 6.51 kemudian meningkat menjadi
6.94 pada siklus II, dan akhirnya pada siklus III meningkat lagi menjadi 7.25. Dan untuk ketuntasn belajar klasikalnya meningkat dari 60% pada siklus
I menjadi 70% pada siklus II, dan akhirnya menjadi 85% ada siklus III.
Berdasarkan penigkatan nilai
tersebut dapat dikatakan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan metode
diskusi kelompok dapat dikatakan berhasil, karena penggunaan metode
diskusi dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap
konsep-konsep pembelajaran matematika. Keberhasilan PBM tersebut tidak terlepas
dari kemampuan dan kerjasama peneliti dalam memanfaatkan berbagi komponen yang
tersedia untuk menggali kreatifitas siswa, karena bagimanapun pintarnya seorang
guru tanpa disertai kompetensi guru dalam menggali kreatifitas siswa, PBM tidak
akan optimal. Dari
data-data yang telah peneliti peroleh, maka kesimplan dari penelitian ini bahwa
dengan menggunakan alat peraga pada mata pelajaran matematika dapat
meningkatkan minat belajar siswa sekaligus meningkatkan prestsi belajar siswa.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian dan
pembahasan yang penulis uraikan di atas maka dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut:
1.
Bahwa dengan
menggunakn metode diskusi kelompok meningkatkan pemahaman konsep
bangun ruang dalam pembelajaran matematika dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan minat belajar siswa
sekaligus meningkatkan hasil bealajar siswa yang terlihat pada pingkatan
persentase dan rata-rata pada setiap siklus.
2.
Dari
penelitian yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil: Pada siklus I rata-rata
nilai belajar siswa adalah 6.51 meningkat
menjadi 6.94 disiklus II , dan meningkat
kembali menjadi 7.25 di siklus
III. Begitu juga dengan peersentase ketuntasan belajar siswa, pada siklus I
persentasenya 60.%, Meningkat menjadi 70% siklus II, meningkat kembali menjadi 85% pada siklus III.
5.2. Saran Tindak Lanjut
Dalam kesempatan ini
penulis menyarankan terutama kepada :
1.
Guru diharapkan dapat
menerapkan metode diskusi kelompok pada
bangun ruang dalam pembelajaran Matematika, karena cara ini meningkatkan hasil
belajar siswa.Guru hendaknya secara
penuh kesadaran harus selalu mencoba dan berusaha untuk memperkuat hasil penelitian
ini. Dengan melakukan penelitian lebih lanjut tentang penerapan Penggunaan metode diskusi kelompok meningkatkan
pemahaman konsep bangun ruang dalam pembelajaran matematika.
2.
Diharapkan dapat memvariasikan
Pelajaran yang akan dibahas sehingga dapat menarik minat siswa untuk belajar.
3.
Kepala Sekolah hendaknya terus
memberikan dorongan dan dukungan bagi guru agar selalu melakukan penelitian
guna meningkatkan dan memajukan sistem pembelajaran, sehingga pembelajaran yang
bermutu dapat terlaksana dan menghasilkan mutu pendidikan yang baik.
4.
Untuk para pendidik, dalam menyampikan suatu materi
pembelajaran khususnya pada mata pelajaran matematika hendaklah menggunakan metode diskusi kelompok meningkatkan pemahaman konsep
bangun ruang dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan
minat belajar siswa sekaligus meningkatkan prestasi belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Andayani,
dkk. 2007. Pemantapan
kemampuan profesional. Jakarta: Universitas Terbuka.
Depdikbud. 1994. Kurikulum
pendidikan dasar. Jakarta: Depdikbud.
Djaya Disastro, Yusuf. 1981. Metode
Metode Mengajar. Bandung: Angkasa.
Gaynor, Frank. 1964. Perkembangan
dan Belajar Peserta Didik. Jakarta: Depdikbud.
Sudjarwo. 1989. Beberapa Aspek Perkembangan
Sumber Belajar. Jakarta: Media Utama
Jhonson dan Rising. 1972. Pengelolaan
Belajar. Surabaya: Usaha Nasional.
Oemar, Hamalik. 1986. Strategi
Belajar Mengajar. Bandung : pustaka Maharya.
Raka, Joni. 1985.
Dasar-Dasar Interaksi Belajar.Jakarta: Suara Karya.
Soetomo,dkk. 1988.Dasar-Dasar
Interaksi Belajar. Surabaya: Usaha Nasional.
Sudjana, Nana. 1992. Cara
Belajar Siswa Aktif. Bandung: Sinar Jaya.
Sudjana dan Rivai. 1984. Cara
Belajar Mengajar Siswa Aktif Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung:
Sinar Baru.
UU SPN Nomor 20. 2003. Sistem
Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara.
Komentar